Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 166. Sekretaris Pilihan Khanif


__ADS_3

Keesokan harinya, lagi-lagi Rania berangkat ke kantor dengan di antar oleh Reyhan.


Setibanya ia di sana, Rania bertemu dengan Lisa di lobi kantor. Tentu saja Lisa memandang tidak suka padanya. Karena gara-gara Rania, ia tidak dapat melihat Khanif beberapa hari belakangan ini.


Bahkan dengan terang-terangan ia menyindir Rania dengan kata-kata yang tidak Rania sukai seperti saat ini.


"Jika saja pak Khanif tidak datang menyelamatkan kamu, pasti pak Khanif akan ada di kantor setiap hari."


"Itu adalah kecelakaan. Siapa juga yang dapat menduga kalau hal seperti itu dapat terjadi?"


"Harusnya kamu lebih peka dong. Ah, sudahlah! Ngomong sama kamu kayak ngomong sama orang tidak tau terima kasih."


Lisa pun berlalu meninggalkan Rania dengan berjalan cepat ke arah lift karyawan yang terbuka. Sedang Rania kian memperlambat langkah kakinya. Ia memang sudah menduga kalau pastinya akan ada seseorang atau beberapa orang yang akan menyalahkannya atas kejadian yang terjadi pada Khanif.


Namun ia tidak menyangka kalau sakitnya akan seperti ini. Ia bahkan hampir saja menitihkan air matanya jika saja seseorang dari belakangnya tidak memanggil namanya.


Sontak saja Rania menghentikan langkah kakinya. Lalu sebelum berbalik, ia sempat menghapus air matanya yang tertahan di sudut matanya.


"Davina. Ada apa?"


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Saat jam tepat pukul 10, kamu datang keruanganku, ya," pinta Davina.


"Apa yang ingin kamu sampaikan?"


"Nanti juga kamu akan tau sendiri. Baiklah, aku duluan ya."


Davina pun pergi meninggalkan Rania yang terdiam sejak perkataan Davina barusan.


Sungguh kata-kata itu sangat menganggu pemikiran Rania. Bahkan sangat terganggunya, Rania selalu saja melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia juga bahkan merasa kalau jam tangannya itu berjalan lebih lama dari biasanya.


Apa karena jam tangannya telah rusak atau apa karena ia menunggu? Ah sepertinya pertanyaan kedua lebih masuk akal, pikirnya dalam hati.


Rania pun mencoba melupakan kejadian di lobi tadi dengan melanjutkan perkerjaan yang tidak sempat ia selesaikan kemarin.


Saat waktu telah menujukkan pukul 10 tepat, Rania pun menyimpan hasil kerjanya, lalu pergi meminta izin pada May untuk bertemu dengan Davina.


Setelah mendapatkan izin, Rania bergegas keruangan Davina yang ada dilantai 20.


Saat ia sudah ada didepan lift karyawan, Rania pun menekan tombol lift dan tidak lama kemudian, pintu lift perlahan-lahan terbuka menampilkan beberapa orang yang ada didalam sana.

__ADS_1


Namun saat ia hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam, ia melihat tidak ada tempat untuknya lagi. Jadi, ia kembali memundurkan dirinya dan meminta maaf pada karyawan lainnya.


Ia pun kembali menunggu, namun karena kehabisan waktu, Rania pun memilih untuk menggunakan lift kaca saja. Lagi pula, ia sudah tau kode liftnya dan pastinya juga, ia akan cepat sampai di ruangan Davina.


Dengan keinginan yang pasti, ia lalu menggunakan lift kaca itu. Sebenarnya dalam perjalanan menuju lift kaca tadi, ia berharap dapat bertemu dengan Khanif didalam sana. Namun harapan tetaplah harap saat ia tidak mendapati seseorang berada disana.


Dulu, beberapa waktu yang telah ia lewati, ia selalu berharap agar ia tidak bertemu dengan Khanif di lift kaca maupun di lift karyawan. Ia seperti tidak menginginkannya. Namun saat ini, ia sepertinya ingin sekali berpapasan dengannya di lift manapun, tapi harapan itu tidak dapat terwujud. Rania tentu saja sedih.


Ia pun menghela napas panjang nan berat sebelum keluar dari lift kaca menuju ruangan Davina sudah ada didepan mata.


Sesampainya disana, Rania lantas mengetuk pintu ruangan Davina. Setelah mendengar kata masuk dari dalam, Rania pun memutar knop dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana.


"Maaf, aku telat."


"Tak apa. Silakan duduk."


Sementara Rania duduk, Davina membuka laci meja kerjanya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah surat yang telah disimpannya sebelum pemilihan sekretaris Khanif diadakan di kota M.


"Aku memanggilmu kesini untuk memberikan kamu surat keputusan dari pak Khanif," ujar Davina seraya memberikan suratnya pada Rania.


"Ini surat apa, Dav?" tanya Rania setelah menerimanya.


Rania menganggukkan kepalanya. Ia lalu membuka surat yang membuatnya penasaran beberapa waktu lalu.


Secara perlahan-lahan, ia mulai membaca isi surat tersebut. Dalam membacanya, ia memperhatikan semua detail isinya. Mulai dari tanggal penulisan hingga tanda tangan Khanif yang tertera didalamnya.


Bagaimana tidak, ia tidak menyangka kalau isi surat ini adalah isi surat yang mengatakan siapa yang menjadi sekretaris Khanif sebenarnya.


Rania bahkan sampai menbekap bibirnya tak percaya.


"Mbak ini ...."


Davina tersenyum. "Ya, surat ini berisikan siapa yang menjadi sekretaris Khanif sebenarnya. Kamu jelas mengingat siapa yang memberikan pak Khanif surat pemilihan sewaktu kita di kota M," ujar Davina membuat Rania menganggukkan kepalanya.


Ia jelas tau siapa yang memberikan surat keputusan sekretaris Khanif sewaktu di kota M. Siapa lagi kalau bukan Rahayu.


Ah, Rania baru ingat tentang percakapan mereka sebelum mereka berangkat ke kota M beberapa waktu lalu.


"Baiklah, karena semua sudah ada disini, saya hanya ingin mengatakan kalau kalian akan berangkat ke kota M pada hari rabu pagi. Kita akan pergi bersama nanti. Jadi, selama dua hari kedepan, saya harap kalian jaga kesehatan kalian dan siapkan perlengkapan kalian. Apalagi pakaian-pakaian hangat, kalian jangan sampai lupa membawanya,"

__ADS_1


"Iya, aku denger disana dingin sekali," timpal Lisa.


"Ya. Maka dari itu, hal yang paling awal kalian masukkan ke dalam koper adalah pakaian hangat," ujar Davina sambil melihat Lisa. "Selain itu, kita berada disana selama beberapa hari. Kalian ingatkan kalau pemilihan sekretaris diantara kalian akan diadakan disana."


"Iya, mbak," jawab Rania.


"Tentu," jawab Farah dan Lisa hampir bersamaan dengan Rania.


"Maka dari itu, kita akan tinggal disana sampai peresmian vila dan pemilihan sekretaris selesai. Oh, iya. Terkait ini, pak Khanif telah mempercayakan saya sebuah surat yang berisi nama sekretarisnya kelak. Untuk itu, desas-desus apapun yang kalian dengar kemudian, kalian tidak perlu menanggapinya lagi," jelas Davina.


"Kenapa juga aku baru sadar," guman Rania pelan, namun masih dapat dengar oleh Davina hingga membuat tersenyum.


"Aku rasa kamu juga pasti telah mengetahui kenapa pak Khanif sampai melakukan hal seperti ini," ujar Davina membuat Rania menganggukkan kepalanya pelan.


Awalnya, Rania tidak terlalu percaya dengan omongan mereka semua. Namun setelah Davina memberikannya surat keputusan ini, kini Rania percaya apa yang mereka katakan sebelumnya.


Meski sebelumnya Rania tidak tau mengapa Khanif melakukan hal ini, namun pada akhirnya ia mengetahuinya juga.


Tentu saja Khanif ingin menangkap basah Farah dalam membantu saingan dalam dunia bisnisnya atau lebih tepatnya Khanif ingin menangkap basah Farah dalam membantu pacarnya.


"Baiklah. Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Soal pengambilan alih sebagai sekretaris pak Khanif, akan dilakukan besok pagi di ruangan rapat."


"Apa pak Khanif sendiri yang akan meresmikan jabatan sekretaris ini?"


"Aku tidak tau. Pak Khanif hanya memberikan aku tugas ini."


Rania diam.


"Kalau begitu aku pamit undur diri."


"Hem."


Rania pun segera berlalu dari sana menuju ruangannya sendiri.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2