
"Apa mama sudah tahu akan hal ini?"
Rania menggelengkan kepalanya pelan. "Belum, maka dari itu Rania minta sama kakak buat hapus videonya sebelum mama lihat."
"Adik ceroboh."
"Kakak tidak akan membuat perhitungan dengan Zaky kan?"
"Untung adik mengingatkan kakak. Besok, kakak akan mendatanginya."
"Duh, kakak. Zaky adalah lelaki yang baik. Selama ini, dia yang selalu membantu Rania. Jadi, Rania mohon untuk tidak membuat perhitungan padanya. Lagipula, itu adalah hak dia."
"Benar dia mempunyai hak itu. Tapi dia tidak mempunyai hak untuk melamar kamu di tempat umum. Bahkan sampai membuat video itu tersebar luas."
"Kakak salah paham. Bukan Zaky yang membuat video itu sampai tersebar, melainkan pengujung yang ada disana. Sungguh!" ujar Rania sambil mengangkat kedua jarinya.
"Baiklah, kakak percaya tapi kakak ingin tahu jawaban apa yang adik berikan sama Zaky?" tanya Reyhan menatap serius pada Rania yang tiba-tiba saja terdiam.
Rania tahu, pasti Reyhan akan menanyakan hal itu. Pasalnya, didalam video Rania dan Zaky tidak terdapat jawaban Rania akan lamaran Zaky padanya karena Rania sudah lebih dahulu meminta pada setiap orang disana untuk tidak memvideo dirinya dan Zaky lagi.
Saat Rania baru akan menjawabnya, sudah lebih dahulu mama memanggil nama nya. Rania lantas tersenyum sumringan karena ia bisa lepas dari pertanyaan kakaknya.
"Jawab pertanyaan kakak dulu, baru adik boleh pergi!"
"Kak, nanti Rania jawab ya! Rania janji," katanya sambil menaik-naikkan ke dua alisnya.
"Kakak mau sekarang!"
"Nanti Rania jelaskan. Atau kakak mau mama menunggu lama? Kalau mau, Rania akan cerita sekarang. "
"Baiklah, kakak akan menunggumu malam ini, disini!"
"Siap, pak bos!"
Rania pun berlalu meninggalkan Reyhan. Ia baru bisa mengelus dada dan bernapas lega saat dirinya sudah menjauhi Reyhan. Sungguh, ia merasa kalau Reyhan tadi sedang menginterogasi dirinya.
Meski pertanyaan Reyhan biasa-biasa saja, tak ayal pertanyaan semacam itu membuat jantung Rania berdegup kencang hingga membuat dirinya merasa keringat dingin tak karuan.
"Loh, kok belum ganti baju, sayang?" tanya mama saat mendapati Rania masih mengenakan pakaian yang sama seperti pagi tadi.
"Iya, ma. Rania tadi duduk menemani kak Rey disamping rumah."
"Anak itu ...," gerutu mama karena seharusnya Reyhan membiarkan adiknya bersih-bersih terlebih dahulu sebelum dirinya mengajak Rania bercakap ditempat kesukaannya. "Gih, pergi bersih-bersih dulu. Terus sudah itu, temani mama didapur."
"Siap, ma."
Rania pun berlalu menuju kamarnya. Saat ini ia benar-benar ingin segera membersihkan diri dari kepenatan dan gerah yang masih dirasakannya.
__ADS_1
Setelah Rania telah selesai membersihkan dirinya. Ia kemudian berlalu menuju dapur untuk membantu mama membuat makan malam untuk mereka nanti.
Namun belum juga Rania sampai di dapur, Reyhan sudah lebih dahulu menahan langkah kaki Rania untuk mengingatkannya, "kakak tunggu, sebentar ya," katanya membuat Rania mengangguk.
"Sayang, coba lihat ikan yang mama goreng, udah masak belum?" kata mama saat Rania baru saja sampai didapur.
"Iya, ma."
"Apa yang tadi adik bicarakan sama kakak?" tanya mama membuat Rania tertegun.
"Itu ... hanya pembicaraan bisa aja, ma. Oh, iya. Besok Rania mau ke kantor kakek."
"Kok tiba-tiba? Ada perlu apa kesana?"
"Pak Khanif ingin menjalin kerjasama dengan kakek."
"Hem, nak Khanif anak yang baik. Mama yakin, kakekmu pasti menyetujui kerjasama ini."
"Tapi dengan proses yang panjang," kekeh Rania.
"Iya," balas mama ikut terkekeh. "Begitulah kakekmu. Dia ingin menjalin kerjasama dengan orang yang benar-benar dapat bekerja sama dengannya. Baik dalam sikap maupun tindakan."
"Tapi karena kerjasama ini, Rania malah harus ikut besok dengannya. Padahalkan tugas Rania sebagai sekertaris penggantinya bukan Rania lagi ."
"Bukannya bagus, berarti kamu sangat dipercayainya."
Rania cemberut nan memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang lagi ngambek. "Ya, tapikan dia punya Farah."
"Sekertaris pak Khanif selama seminggu kedepan."
Mama mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Memang jauh sebelumnya, Rania sudah pernah menceritakan kalau dirinya masuk ke dalam calon kandidat Khanif dan dua orang lainnya.
Rania juga pernah cerita kalau mereka bertiga akan saling bergantian tugas untuk menjadi sekretaris Khanif semalam seminggu. Namun, Rania tidak pernah mengatakan nama-nama yang ikut dalam pencalonan sekretaris itu. Barulah saat ini Rania mengatakannya. Itupun hanya seorang yang bernama Farah. Satunya lagi, mama belum mengetahuinya.
"Mama katakan, berarti kinerja adik waktu menjadi sekretaris itu baik, jadi nak Khanif mengajak adik lagi."
Rania menghela nafas pelan. Mama tidak tahu saja apa rencana Khanif dengan sengaja mengikutkan dirinya dalam pertemuan besok. Apalagi sepertinya dalam rencana Khanif, Khanif ingin menjadikan Rania sebagai pemulus hubungannya dengan kakek, pikir Rania yang sebenarnya tidak benar.
"Lihat saja besok, pasti pak Khanif menyesal telah membawa saya," gumam Rania tersenyum penuh kemenangan.
"Sayang ..." teriak mama seraya mendekati Rania yang tengah melamun disaat sedang menggoreng ikan. "Sayang, jangan melamun. Tuh, lihat, ikannya hampir gosong."
"Ma, Rania minta maaf. Rania ngga sengaja."
"Udah, ngga papa. Kamu atur piring dan makanan aja dimeja. Biar mama yang lanjutkan sisanya."
"Iya, ma."
__ADS_1
Rania jadi kacau karena memikirkan rencana Khanif. Apa karena ia telah menduga yang tidak-tidak pada Khanif sehingga dirinya seperti ini. Tahu begini jadinya. Rania akan diam saja tadi, menikmati dirinya yang tengah membantu mama didapur.
Dengan sedikit tidak bertenaga, Rania pun meninggalkan mama didapur seorang diri dan mulai mengatur tatanan piring dan makanan yang telah matang.
Reyhan yang baru tiba dengan sebuah apel ditangannya yang telah digigitnya separuh, jadi heran melihat tingkah adiknya itu.
"Adik kenapa?"
Rania mengalihkan pandangannya pada Reyhan, namun ia tidak mau menanggapi pertanyaan Reyhan barusan. Entahlah, ia merasa ingin diam saja - fokus dalam kerjanya saat ini.
"Hem, sepertinya kakak mencium ada bau yang tidak biasa disekitar sini."
Rania menoleh pada Reyhan yang masih saja asik memakan apelnya sambil sengaja mengajaknya bicara meski Rania tetap saja diam. Namun itu hanya bertahan sebentar saat Reyhan tiba-tiba menjahili Rania dengan mengatakan, "apa Khanif sudah melihat video itu," katanya tersenyum jail.
"Kakak! Bisa diam tidak?"
"Kakak kan bertanya, siapa suruh adik diam saja."
"Ma ...," rengek Rania seperti anak kecil saat memanggil mama agar Reyhan tidak mengganggunya lagi.
"Kak, jangan ganggu adikmu. Lebih baik kakak cari kesibukan lain."
"Rey ngga gangguin adek, ma. Adek yang gangguin kakak," bela Reyhan yang masih saja bercanda.
"Sudah, kalian berdua sama saja, masih seperti anak kecil," lerai mama tanpa mendukung salah satu dari mereka.
"Tapi kakak duluan, ma."
"Setelah makan, kakak bertugas membersihkan meja!"
Rania tersenyum lucu mendengarnya.
"Adik jangan senang dulu," kata mama. "Tugas adik cuci piring setelah makan!"
Kini gantian Reyhan yang tertawa.
"Siap, ma," kata Reyhan lalu menoleh pada Rania. "Iya kan, dik."
"No!"
"Sudah, mau mama tambahkan lagi?"
"Tidak, ma." Sontak Rania dan Reyhan mengatakannya.
"Bagus!"
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...