
Rania terbangun. Ia begitu terkejut saat mengetahui kalau kepalanya kini sudah tersandar di bahu Khanif.
Ia tidak tau sudah berapa lama ia tertidur didalam pesawat hingga ia tidak menyadari kalau bahu Khanif menjadi sandaran empuk kepalanya saat ia tertidur.
Malu, tentu saja. Rania perlahan-lahan membuka matanya. Lalu sedetik kemudian ia menarik kepalanya menjauh dari Khanif
"Maaf, pak. Saya tidak sengaja," katanya yang tidak enak. Pasti bahu Khanif sudah terasa pegal, pikirnya dalam hati.
"Tak apa. Melihat kamu tertidur begitu nyenyak, membuat saya tidak enak untuk membangunkanmu hanya gara-gara kepalamu yang tersandar di bahuku," ujar Khanif.
Rania lantas tersenyum canggung. Ia lalu mengedarkan pandangannya untuk melihat teman kerja dan keluarga Khanif yang ikut pulang hari ini.
Namun bukannya merasa lega, ia bahkan merasakan panik seketika.
"Mereka semua kemana?" tanyanya.
"Mereka baru saja keluar. Pesawat kita tumpangi ini telah mendarat."
"Apa!" pekik Rania.
"He'em. Kalau begitu, kita keluar sekarang. Ayo, kamu keluarlah lebih dahulu."
Dengan tanpa minat dan bibir yang ditekuk, Rania pun berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari pesawat yang diikuti oleh Khanif dibelakangnya.
---
Setelah mengambil koper mereka masing-masing, Rania dan Khanif pun berjalan ke ruang penjemputan. Namun sesampainya disana, Rania mendapat kabar kalau papanya akan terlambat untuk menjemputnya.
Mau tak mau, Rania pun mengedarkan pandangannya sekali lagi untuk mencari bangku yang bisa ia duduki.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Rania pun mulai melangkahkan kakinya menuju kursi panjang nan kosong di sebelah kirinya.
Baru saja beberapa langkah, Rania dibuat heran saat Khanif masih saja mengikutinya. Ia lalu menolehkan wajahnya pada Khanif.
"Kenapa bapak belum juga pulang?" tanyanya.
"Saya ingin menemanimu sampai papamu datang menjemputmu."
"Bapak tidak usah menemani saya disini. Disini banyak orang yang berlalu lalang, kok. Jadi bapak bisa tenang dan pulang dengan perasaan lega."
"Tak apa. Saya juga tidak mempunyai pekerjaan hari ini."
"Bapak pulang saja lebih dahulu. Papa pasti akan segera tiba," katanya sedikit memaksa karena merasa tidak enak pada Khanif.
"Saya sudah katakan tak apa," ujar Khanif. Ia lalu melanjutkan dalam hati dengan wajah yang tersenyum lucu, "apa menjaga calon istri tidak boleh?"
"Kenapa bapak tersenyum?" tanya Rania membuat Khanif tersentak kaget.
"Oh! Tidak apa-apa." Ia lalu mengalihkan pembicaraan mereka dengan lanjut mengatakan, "saya pergi dulu sebentar. Kamu jangan kemana-mana ya."
Entah mengapa Rania malah menganggukkan kepalanya yang sebenarnya tidak diinginkannya.
"Baiklah saya pergi dulu."
__ADS_1
"Iya, pak."
Khanif pun berdiri dari tempat duduknya, lalu mulai menjauh dari hadapan Rania.
Rania yang ditinggal sendiri pun kembali mengecek notifikasi ponselnya. Ia ingin melihat apakah papa telah mengirimkan pesan lagi atau tidak. Tapi harapan tetaplah harapan saat ia tidak mendapati pesan apapun dari papa. Ia lantas menghela napas pelan nan pendek.
Saat ia tengah melamun, ia dikejutkan dengan Khanif yang menyodorkan sebuah botol air mineral tepat didepannya.
"Minum ini dulu," ujar Khanif seraya memberikannya.
Tangan Rania pun terulur untuk mengambilnya, lalu berkata "terima kasih, pak."
"Hem. Sama-sama."
"Kalau bapak sudah mau pergi silakan saja. Pasti tidak lama lagi papa akan datang."
"Tak apa. Tidak baik meninggalkanmu disini sendirian. Nanti apa kata papamu tentangku," ujar Khanif seraya duduk disamping Rania. "Lagi pula, mama dan Davina juga sudah pulang lebih dahulu dan mama juga sudah tau kalau saya menemanimu disini. Jadi mama pasti tidak khawatir kalau saya pulang telat."
Rania mengangguk-anggukkan kepalanya pelan tanda mengerti. "Kalau begitu terima kasih."
"Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Lupakan saja," kata Khanif singkat yang sebenarnya ingin menanyakan tentang lamarannya beberapa hari yang lalu, namun ia tidak ingin melanjutkannya karena takut Rania akan merasa canggung setelahnya dan mungkin saja akan berusaha menjauh darinya.
"Bagaimana apanya, pak?" tanya Rania begitu penasaran. Pasalnya, Khanif begitu tiba-tiba bertanya dan begitu tiba-tiba juga memutuskan pembicaraannya.
"Apa?" tanya Rania semakin tidak mengerti arah pembicaraan Khanif.
"Waktu di pesawat tadi, wajahmu begitu pucat."
"Oh itu." Sambil mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. "Saya sudah tidak apa-apa, pak. Bahkan saya bisa tertidur lelap setelahnya," kekeh Rania kecil.
"Syukurlah kalau begitu."
"Seperti papa tidak lama lagi akan datang."
Baru saja beberapa menit berkata seperti itu, kini sosok paruh baya yang sudah dari tadi ditunggunya sudah terlihat berjalan ke arah mereka.
Melihatnya, sontak membuat Rania berdiri, lalu sedetik berikutnya, ia berlari ke arah sosok pria paruh baya yang tidak lain adalah papanya.
"Maaf papa telat datang menjemputmu, sayang," ujar papa.
"Tak apa, pa. Rania ngga sendiri kok. Pak Khanif menemani Rania nungguin papa datang."
Pandangan papa lalu teralih melihat sosok yang mendekati mereka.
"Assalamualaikum, om," sapa Khanif.
"Waalaikumsalam, nak Khanif. Terima kasih sudah menemani anak om disini."
"Sama-sama, om," ujar Khanif sambil tersenyum membuat papa juga ikut tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah. Om dan anak om pulang dulu."
"Iya, om."
"Terima kasih," kata Rania tulus pada Khanif.
Khanif menganggukkan kepalanya. Lalu, Papa dan anak perempuannya itu pun berlalu dari tempat tunggu di bandara. Tidak terkecuali dengan Khanif yang juga ikut pulang ke rumahnya.
***
Keesokan paginya, Khanif bangun begitu pagi dengan senyuman hangat yang terbit diwajahnya seperti sinar matahari pagi ini yang begitu bersahaja dan membawa kehangatan.
Setelah menyelesaikan semua kewajibannya dan sarapan pagi, ia pun berlalu menuju ke kantor. Memulai hari bekerja dengan sekretaris barunya.
Saat mobilnya baru memasuki pelantaran kantor, dari kejauhan ia dapat melihat Rania yang di antar oleh sang papa. Khanif lalu mempercepat laju mobilnya untuk segera menyusul Rania yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam kantor.
Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera berlalu dari sana.
"Rania," panggil Khanif saat ia baru saja menginjakkan kakinya ke dalam kantor.
Rania yang tinggal sedikit lagi mencapai lift, sontak berbalik. Ia melihat Khanif dengan pandangan heran. Namun semua tidak bertahan lama saat ia tidak sengaja melihat teman-teman kerjanya yang juga ikut melihatnya. Sungguh, ia begitu terkejut.
Rania pun secepat mungkin mendekati Khanif. Agar Khanif tidak membuat ulah lagi yang dapat membuatnya merasa malu.
"Selamat pagi," sapa Khanif setelah Rania sampai didekatnya.
"Mau bapak apa, sih!" seru Rania.
"Tidak ada. Hanya ingin manggil nama kamu saja."
"Bapak pasti bercanda!"
"Baiklah-baiklah. Saya manggil kamu karena saya ingin lebih dekat dengan kamu. Apa salah?"
Langkah kaki Rania terhenti. Ia tidak menyangka Khanif akan terus mengejarnya meski ia pernah menolaknya dengan alasan yang ia buat-buat.
"Simpan saja kata-kata Bapak itu pada yang lain. Karena saya tidak akan berpengaruh."
"Tak apa kalau kamu tidak percaya saat ini, tapi sebisa mungkin kakak akan membuat kamu percaya."
Rania terdiam. Khanif menyebut dirinya kakak? Apaan ini, bukannya Khanif sendiri yang mengatakan kalau dirinya bisa dipanggil seperti itu jika tidak dalam perkerjaan? Lagi pula ia belum menyetujui panggilan itu.
"Kenapa kamu berdiri saja di situ?" tanya Khanif membuat Rania tersadar.
Ia lalu berjalan mendekati Khanif lagi. Ah, tidak! Ia berjalan karena ingin pergi ke ruang kerjanya segera.
Saat ia sudah ada didepan Khanif, Rania kembali berkata, "lakukan saja kalau kalau bapak mampu!" Ia lalu pergi meninggalkan Khanif yang senyum-senyum sendiri.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...
__ADS_1