Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 11. Kecurigaan Rania


__ADS_3

Hai semua, selamat sore.


Sesuai janji saya sebelumnya, maka saya akan up 3 bab hari ini. Terima kasih yang telah memberikan vote-nya pada cerita ini.


Selamat membaca 😉


...***...


Beberapa hari telah berlalu. Rania kembali mendapat tugas dari sang mama untuk ke pasar membeli bahan-bahan dapur yang sudah habis. Saat Rania baru saja memarkirkan motornya, ia kembali melihat pencopet remaja itu. Rania lalu melambaikan tangannya, bermaksud untuk memanggil pencopet remaja itu mendekat.


Pencopet remaja yang memang sudah kapok akan tindakan Rania waktu itu pun takut-takut mendekati Rania yang makin gencar melambaikan tangannya.


"Kamu tidak pernah mencopet lagi kan?"


"Iya kak, tidak pernah."


"Bagus." Rania lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Ini buat kamu, ambillah sebagai hadiah dariku," ujar Rania seraya memberikan selebar uang berwarna biru.


"Terima kasih kak."


"Sama-sama. Ingat jangan mencopet lagi. Masih banyak pekerjaan yang bisa kamu kerjakan. Apalagi kamu masih muda, kekuatanmu masih banyak. Akan sia-sia saja sisa hidupmu kalau kamu hidup hanya menjadi seorang pencopet," ujar Rania memberikan nasihat.


"Iya kak. Saya akan berusaha mencarinya."


Setelahnya, Rania dan pencopet remaja itu pun berpisah disana. Dalam hati Rania berdoa, agar apa yang tadi dikatakan oleh remaja itu benar adanya.


...***...


Rania tersentak kaget. Entah sudah berapa lama Rania tertidur sampai saat ia membuka mata, seluruh ruangan tidurnya telah terang oleh sinar matahari. Rania lantas buru-buru beringsut dari tempat tidur menuju jendela kamar hendak membukanya.


Saat jendela kamarnya telah terbuka lebar, seketika ia merasa silau akan cahaya matahari yang tampak sudah meninggi. Rania lalu beralih pada jam dindingnya.


"Astagfirullah, aku kesiangan. Mana belum sholat lagi," ujar Rania sambil menepuk jidatnya.


Rania pun buru-buru masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Belum juga ada beberapa detik didalam kamar mandi, Rania kembali keluar dari sana dengan senyum malu-malu yang tersinggung diwajah mulusnya.


"Mungkin inilah tanda kalau orang sudah dicintai shalat. Orang berhalangan aja masih diingatkan."


Rania tersenyum kala mengingat percakapannya pada salah seorang temannya dulu.

__ADS_1


"Gimana tanda kalau sholat udah mencintai kita?"


"Gampang banget. Meski kamu sedang sibuk atau pun lagi berhalangan, kamu  akan terus diingatkan sholat tepat waktu."


Rania tersenyum lagi kala mengingatnya. Namun senyumannya itu seketika pudar saat mengetahui dirinya sudah hampir terlambat untuk masuk kantor. Rania pun kembali buru-buru masuk kedalam kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor.


Sekitar tiga puluh menit, Rania sudah keluar dari kamar. Ia sudah siap untuk berangkat ke kantor. Saat melewati ruangan tengah, Mama Dahlia yang baru dari dapur menghentikan langkah kaki anaknya.


"Sarapan dulu nak. Baru ke kantor."


Rania berbalik melihat mama. "Rania makan dikantor aja ma. Rania udah telat banget. Kenapa mama ngga bangunin Rania?"


"Mama udah dari tadi ngetukin pintu kamar kamu. Tapi tetap ngga ada jawaban. Mama rasa kamu kelelahan, jadi mama biarkan saja kamu mendapat tidur yang lebih."


Disaat yang sama, Rania merasa senang dan sedih secara bersamaan. Rania senang karena mama begitu memperhatikannya dan Rania sedih tatkala karena kasih sayang mamanya yang kelewat itu bisa membuatnya ketinggalan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Meski begitu, Rania tidak akan mengomentari tindakan mamanya karena itu semua akibat dirinya yang terlambat tidur hingga membuatnya terlambat bangun juga.


"Ma, Rania pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Cepat pulang ya."


Rania mengendarai motornya begitu tenang seperti biasa. Namun, tiba-tiba ketenangannya itu hilang tatkala ia melihat Khanif sedang mengendarai mobilnya juga. Mereka bertemu di lampu merah karena Rania menghentikan motornya tepat disamping mobil Khanif yang tengah berhenti juga.


Tidak ingin ketahuan, secepatnya Rania memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak ingin Khanif melihatnya. Apalagi ia tau, saat ini ia sudah terlambat untuk masuk ke kantor. Habislah dirinya kalau sampai Khanif menolehkan wajahnya ke samping.


"Jangan sampai pak Khanif melihatku," rapal Rania dalam hati sambil menutupi wajahnya dengan tangannya sebelah kanan.


Setelah beberapa detik berlalu, Lampu merah berubah menjadi hijau. Akhirnya Rania dapat bernafas lega. Ia bahkan tidak sadar saat ia tersenyum begitu merekah. Tidak tunggu lama lagi, Rania secepatnya melajukan motornya menuju kantor. Jalan yang biasa ia jalani, kini telah berubah pada kondisi seperti ini karena Rania lebih memilih jalan tercepat untuk sampai dikantor mendahului Khanif, meski jalan yang ditempuh sedikit berkelok-kelok dari jalan biasanya.


Rania tiba tepat saat mobil Khanif baru memasuki halaman kantor yang luas. Ia lalu berlari masuk kedalam kantor dengan sangat terburu-baru walau ia tau, sikap terburu-buru itu tidaklah baik. Tapi mau bagaimana lagi, jika Rania tidak seperti itu, maka Khanif akan mendapati dirinya terlambat masuk kantor.


Saat Rania tiba didepan lift kaca, Rania tersentak kaget saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundaknya dari belakang. Perlahan ia membalikkan badannya dengan wajah yang tertunduk, takut melihat wajah Khanif - orang yang dikiranya tengah memegang pundaknya ini.


"Kamu kenapa Rania?" tanya pemilik tangan itu.


Rania mendongak, ia terkejut melihat orang yang tengah berdiri didepannya. Lalu sedetik kemudian, Rania tampak kesal kepadanya. Rania ingat betul, sebelum dirinya mencetak (print) kontrak kerja sama Khanif, wanita dihadapannya ini sempat berada didekatnya.


Entah mengapa wanita bernama Farah pergi menemui dirinya - yang saat itu sedang mengerjakan berkas kontrak kerja sama. Secara kebetulan juga ia tiba-tiba hendak ke kamar kecil. Karena Farah adalah karyawan kantor, Rania pun mempercayai Farah untuk menunggunya sofa dekat meja kerjanya.

__ADS_1


Namun saat Rania kembali, ia sudah tidak mendapati Farah berada disana. Dari sanalah kecurigaan Rania bermula, kalau Farah lah yang telah menjadikannya kambing hitam untuk membuat Khanif tidak percaya padanya. Bahkan hampir membuat perusahaan mereka bekerja menjadi bangkrut.


"Hei." Farah mengibaskan-ngibaskan tangannya didepan wajah Rania yang menatap dirinya tajam, seperti hendak melahapnya hidup-hidup. "Rania, kamu ngga papa kan?" tanya Farah sambil mengguncang tubuh Rania pelan, agar Rania tersadar.


"Kemana kamu saat aku baru kembali dari kamar kecil?" tanya Rania penuh selidik. Ia ingin membuktikan diri kalau dirinya tidak bersalah dengan melebihkan satu angka nol didalam berkas kerja sama Khanif.


"Aku ... aku ... balik ke meja kerjaku karena aku mendapat telepon yang tiba-tiba."


"Kamu ngga lagi bohongkan?" tuduh Rania penuh selidik.


"Ten ... tentu saja. Untuk apa aku bohong sama kamu. Tidak ada gunanya juga kan buatku."


"Terus kenapa kamu sampai gugup sampai segitunya kalau tidak ada yang coba kamu sembunyikan. Coba kamu jelaskan padaku!" kekuh Rania semakin yakin kalau Farah lah yang telah membuat dirinya menjadi bermasalah dengan Khanif.


Farah pun berdehem untuk meredakan kegugupannya. Ia lalu melanjutkan pembelaannya, "itu karena kamu menanyaiku begitu tiba-tiba. Apa aku tidak boleh terkejut?" tanyanya seperti menantang.


"Kalau aku ngga lagi terburu-buru, aku akan masih lanjut menanyaimu. Tapi sayang, kamu beruntung kali ini," ujar Rania sebelum meninggalkan Farah yang kesal dengan kata-kata Rania.


"Kamu kira aku takut! Farah ngga akan pernah nyerah, Rania. Ingat itu!" gumam Farah angkuh.


Farah lalu berjalan ke lift lain. Padahal ia ingin sekali merasakan naik lift kaca dengan memanfaatkan keberadaan Rania. Tapi semua usahanya gagal, tatkala Rania menanyainya hal yang tidak penting baginya.


Sementara didalam lift, Rania terus menggerutu. Mulai dari kejadian waktu di lampu merah sampai pertemuan singkatnya dengan Farah. Teman kantor yang terkenal akan kesombongannya. Memikirnya, membuat Rania mendesah berat.


Tidak lama kemudian, lift khusus yang ia naiki telah sampai di lantai tempatnya bekerja selama seminggu percobaan. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari lift. Saat ia hendak mencapai meja kerjanya, lagi-lagi langkah kakinya terhenti saat ia mendengar sesorang memanggil dirinya.


"Rania."


"Jangan buat aku menanyaimu lebih parah lagi ya!"


Rania berbalik, ia begitu terkejut melihat siapa yang telah memanggilnya.


"Aduh, gawat ini," ujarnya dalam hati  menggerutuki kecerobohannya karena terlalu menuruti kekesalannya tadi. Rania lantas menutup mulutnya dan kembali berbalik menuju meja kerjanya secepat mungkin.


...To be continued...


Ada yang bisa tebak siapa dia?


Tinggalkan jejak Like, Komen dan Vote, ya 🤗

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2