Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 140. Panggil Saya, Kakak!


__ADS_3

Halo selamat sore. Soal kemarin maaf ya, anggap saja kemarin itu contoh kalau Khanif melamar Rania 😅


Baiklah, Selamat Membaca 🤗


...***...


Rania telah selesai membersihkan dirinya. Ia saat ini tengah menuju rumah makan untuk sarapan bersama semua orang. Saat dirinya baru saja menginjakkan kakinya ke ruang makan, tatap matanya bertubrukan dengan netra mata hazel Khanif. Seketika itu Rania teringat akan mimpinya semalam. Ia lalu menggelengkan kepalanya kecil - mencoba untuk menghilangkan pemikiran yang menurutnya aneh.


"Rania, kamu tidak apa-apa?" tegur Davina.


"Aku ngga papa, mbak. "


Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju meja makan dan kemudian mengambil tempat duduk tepat disamping Davina.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Khanif membuat Rania tersentak.


"Sa ... saya tidak apa-apa. Pak."


"Kalau kamu merasa tidak enak, kamu bisa beristirahat hari ini. Besok adalah hari peresmian vila. Tidak baik saja kalau kamu tidak ikut hadir."


"Saya baik-baik kok, pak."


"Atau begini saja. Farah dan Davina bertugas pagi ini untuk menyapa para tamu yang datang. Kamu dan Lisa, bertugas sore nanti. Biar kalian semua mempunyai waktu istirahat masing-masing. Dan ya, jangan khawatir. Rahayu dan beberapa karyawan lainnya turut hadir dalam peresmian vila. Jadi mereka akan ikut membantu disini."


"Itu ide yang bagus," komentar Davina.


"Baiklah, sepertinya makanannya akan segera dingin kalau kita tidak segera memakannya."


Mereka semua pun mengangguk, lalu perlahan mulai menyendokkan makanan masuk ke piring masing-masing. Saat Rania hendak mengambil sebuah lauk, tidak disangka Khanif juga ingin mengambilnya. Karena terkejut, sendok saji yang sedang di pegang oleh Rania terlepas begitu saja.


"Kamu beneran tidak apa-apa?" tanya Khanif khawatir. Pasalnya, ia melihat Rania seperti tidak bersemangat seperti hari-hari biasanya. Apa karena perkataannya semalam? Jika ya, Khanif tidak menyesal telah mengatakannya karena dengan begitu, ia tau kalau Rania masih tetap memikirkan keputusannya.


"Saya tidak apa-apa ..., pak," katanya begitu canggung.


"Kalau begitu, kita lanjut makan lagi."


Setelah sarapan bersama, mereka semua pun mulai melakukan tugas mereka. Tinggal beberapa jam lagi, para tamu akan mulai berdatangan.


Meski tidak mendapat tugas pagi, Rania dan Lisa terlihat membantu Davina dan Farah. Mereka berdua begitu kompak menata bunga di atas meja para tamu. Sedang Davina dan Farah berada di bagian penjemputan, menunggu pada tamu berdatangan.


Tidak lama setelah itu, para tamu yang mereka tunggu mulai berdatangan. Terlihat satu persatu mobil mulai masuk ke dalam halaman vila. Petugas parkir yang ada disana pun telah bersiap dari tadi.


Khanif yang memang hanya memperhatikan segala aktifitas mereka pun pergi menghampiri Rania. Namun Khanif merasa aneh. Semakin ia berjalan mendekati Rania, Rania sepertinya terlihat berjalan menjauh.


Ya, dugaan Khanif memang benar. Rania memang sengaja menghindarinya dengan berjalan menjauh seraya berpura-pura untuk mengerjakan hal lainnya. Namun, bukan Khanif namanya kalau ia tidak segera mendatangi Rania.


"Kamu kenapa seperti sengaja menjauh begitu," ujar Khanif langsung.


Rania menolehkan wajahnya pada Khanif, lalu tersenyum tanpa salah.


"Bapak salah sangka sama saya. Saya itu tengah menyusun bunga di meja ini. Kalau meja ini telah selesai di tata, otomatis kan saya pindah lagi, pak."


"Sudah selesai, seperti meja itu?" tunjuk Khanif pada meja di belakangnya.


"Oh, iya. Meja itu kelewatan pak," ujar Rania lagi-lagi tersenyum yang kian menambah kecurigaan Khanif.

__ADS_1


Rania lalu berjalan ke meja ke meja yang ditunjuk oleh Khanif.


"Bukannya aku tugaskan kamu sore nanti."


"Oh itu, masih tetap berlaku kok, pak. Cuma kan ini masih pagi, dari pada ngga ada yang di perbuat, mending bantu-bantu mereka."


"Jadi, bagimana persiapannya?"


"Sudah selesai, pak. Tinggal menunggu para tamu datang saja."


Khanif mengangguk-anggukan kepalanya. "Mama saya baru datang sore nanti. Saya harap kamulah yang menemani mama saya melihat sekitaran vila."


Rania tertegun. Ia tidak menyangka Khanif akan mengatakan hal seperti itu padanya. Tunggu! Kenapa harus dirinya? Davina yang jelas adalah anak angkat mama Adelin tidak diberikan tugas seperti itu pada Khanif.


"Menurut saya, mbak Davina lebih cocok jika harus menemani ibu Adelin. Pastinya, Bu Adelin lebih nyaman kalau berbicara dengan mbak Davina."


"Kalau di bilang nyaman, pastinya. Tapi mama saya ingin kamu yang menemaninya. Kalau kamu keberatan, saya akan menghubunginya."


"Tidak perlu, pak. Biar saya saja kalau begitu."


"Terima kasih."


"Kalau begitu saya kesana dulu, pak."


Baru saja Rania hendak menjauh, Khanif sudah lebih menghentikan langkah kakinya, "tunggu!"


Rania lanjut menoleh.


"Kenapa kamu terlihat aneh pagi ini? Seperti mencoba menghindari saya!" tuduh Khanif.


"Panggil saya, kakak!"


"Rania ... Rania," panggil Khanif bermaksud untuk menyadarkannya seraya mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Rania.


"Maaf, pak. Saya tidak begitu fokus."


Ah ternyata, Rania kembali teringat akan mimpinya semalam dimana Khanif sangat memaksa dirinya memanggilnya kakak.


"Apa yang tadi bapak katakan?"


"Sudah, lupakan. Kamu begini karena tentang ucapan saya semalam?"


Rania diam. Khanif tau kalau perkataannya semalam sangat berpengaruh perilaku Rania pagi ini.


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Saya mengerti kalau hal ini terlalu mengejutkan mu. Tapi saya yakin kalau suatu saat saya akan mendengarnya lagi."


"Seberapa yakin saya akan memanggil bapak dengan sebutan kakak kembali?"


"Seyakin saat kamu baru saja mengatakannya." jawab Khanif sambil tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu saya pergi dulu."


Khanif pun pergi meninggalkan dirinya. Ia tersadar kalau dirinya sudah menyebutkan kata 'kakak' didepan Khanif. Pasti hatinya kini sedang berbunga-bunga, duga Rania. Lihat saja, jalannya begitu santai seperti tidak ada anak tangga yang ia lewati.


Lisa yang baru kembali dari kamar kecil sengaja menyenggol lengan Rania yang diam terpaku.


"Apa yang dikatakan pak Khanif sama kamu?" tanyanya.

__ADS_1


"Kamu melihatnya?"


"Tentu saja. Coba katakan."


"Oh itu. Ibu Adelin baru akan datang sore nanti. Pak Khanif menyuruh kami untuk memperhatikan beliau."


"Ibu Adelin mau datang juga?" pekiknya kegirangan.


"Iya, kenapa emangnya?"


"Kamu gimana sih, jika ingin mendapatkan hati anaknya, dekati dulu ibunya. Itu adalah sebuah rumus mempercepat suatu pendekatan yang serius. Ah, sudahlah. Kenapa juga aku membagi ilmu sepenting ini padamu. Kamu pasti tidak membutuhkannya, secara kamu sudah mendapatkan hati lelaki yang pernah mengajakmu makan siang," ujar Lisa panjang lebar.


Lisa pun pergi meninggalkan Rania untuk mengerjakan pekerjaannya yang ia tinggalkan tadi. Sedang Rania, menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Lisa. Tanpa sengaja, matanya bertubrukan dengan Khanif yang tengah melihatnya. Khanif lantas melambai-lambaikan tangan kearahnya seraya tersenyum.


Lisa yang juga tidak sengaja melihat hal itu pun ikutan melambaikan tangannya pada Khanif seraya membalas senyuman Khanif yang ia kira tujukan untuknya.


Khanif yang melihat Lisa membalas lambaian tangannya bukan Rania, langsung saja menurunkan tangannya seraya menggelengkan kepalanya kecil. Ia lalu berbalik - kembali berjalan ke tempat tujuannya yang tidak lain ke gerbang penjemputan.


"Pak Khanif kenapa begitu?" gumam Lisa membuat Rania menoleh.


Rania tersenyum lucu melihat tingkah Lisa yang sepertinya kecewa.


"Apa lihat-lihat," kata Lisa garang seperti anak kecil yang permennya di rebut oleh anak kecil lainnya. Ia lalu pergi meninggalkan Rania dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Eh, tunggu!"


"Apa?" katanya masih tidak bersahabat.


"Aku ngga mood lagi. Aku mau ke kamar dulu."


Seperginya Lisa, Rania kembali terkikik geli melihat tingkah Lisa yang tak urungnya seperti anak kecil.


"Apa yang kamu ketawakan?"


"Astagfirullah, pak Khanif. Sejak kapan bapak ada disini?" ujar Rania seraya memegang dadanya dengan wajah yang terkejut.


"Baru saja. Apa yang kamu ketawakan?" ulang Khanif.


"Oh itu. Bukan apa-apa, pak."


Khanif mengangguk. "Pekerjaanmu sudah selesai disini?"


"Sudah, pak."


"Kalau begitu ikut saya sebentar."


"Kita mau kemana, pak?" tanya Rania dengan pandangan horor. Pasalnya, ia teringat akan mimpinya semalam.


"Rahasia!"


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2