
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga kita semua mendapat berkahnya. Aamiin 🤲
...***...
Mereka pun kembali berjalan menuju vila. Tapi ditengah perjalanan, Khanif menghentikan langkah kakinya hingga membuat Rania juga ikut menghentikan langkah kakinya. Rania lantas menoleh pada Khanif yang sudah lebih dahulu menolehkan wajahnya.
"Ada apa pak?" tanya Rania.
Khanif ragu untuk mengatakannya, jadi ia hanya berkata, "tidak ada apa-apa."
"Tapi sepertinya ada yang menganggu pemikiran, bapak."
"Hem."
"Apa itu?"
Khanif diam sejenak sebelum ia kembali melanjutkan perkataannya. "Setelah beberapa hari ini, saya merenung. Saya sadar kalau selama ini kamu terus memanggilku 'bapak atau pak' jika kita hanya berdua seperti ini. Baik itu urusan kantor atau bukan," jelas Khanif. "Ya tentu saja kalau urusan kantor memanggil saya dengan panggilan formal adalah hal yang biasa, namun jika memanggil saya disaat bukan urusan kantor itu mulai terdengar aneh ditelinga saya."
"Jadi bapak mau gimana?" tanya Rania.
Khanif melihat Rania serius. Ia lalu mengatakan apa yang selama ini menganggu pemikirannya. "Bisa kah kamu memanggilku tanpa embel-embel 'pak' jika kita hanya berdua saja dan tanpa urusan kantor?"
Rania terdiam. Ia tidak tau harus menanggapinya seperti apa. Apakah ia harus senang atau malah bersikap biasa saja. Pasalnya, sudah lama sekali ia meninggalkan panggilan 'kakak' pada Khanif. Apakah hanya dalam semenit ia bisa merubahnya? Ia ragu akan bisa melakukannya saat ini.
Khanif tau kalau Rania kembali canggung dan kemungkinan tidak dapat menjawab permintaan kecilnya malam ini, akhirnya Khanif pun memilih untuk memberikan waktu untuk Rania. Biar bagaimana pun, keadaan dulu dan sekarang sudah sangat jauh berbeda. Apalagi status tingkat kerja mereka juga telah berubah jauh.
Dulu sebagai ketua osis dan anggota, sekarang sebagai atasan di dunia kerja dan karyawan biasa. Sangat berbeda jauh bukan!
"Kamu tidak perlu menjawab saya hari ini, saya akan menunggu saat kamu sudah siap," ujar Khanif sambil tersenyum untuk mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa aneh. "Udara kian dingin saja. Tidak baik kalau kita terlalu lama disini tanpa jaket yang tebal. Ayo," ajak Khanif kemudian.
Rania mengangguk. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat menginap masing-masing dalam keadaan hening. Semilir angin yang dingin pun kian menyapu kulit Rania. Mereka berjalan dalam diam seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.
Barulah saat mereka sampai didepan vila yang ditempati Khanif, Khanif baru mengatakan, "selamat malam dan mimpi indah." Sambil tersenyum.
"Selamat malam juga," balas Rania tanpa embel-embel 'pak' yang biasanya ia gunakan.
__ADS_1
Mereka pun berpisah ditengah udara yang kian membuat tubuh kedinginan. Rania berlari kecil sambil menenteng sebuah tas kecil. Sesampainya didepan pintu vila, Rania menoleh sekilas pada vila yang ditempati Khanif. Rania terkejut karena Khanif belum juga masuk ke dalam.
"Kenapa Anda belum masuk?"
"Aku hanya ingin melihatmu masuk lebih dahulu."
"Ka ... kalau begitu, saya duluan."
Khanif tersenyum. Rania pun hilang dari pandangannya. Ia lalu masuk ke dalam vila juga.
Didalam, Rania tidak lantas masuk ke dalam kamar. Ia berhenti tepat dibelakang pintu dengan merenungkan kejadian barusan.
"Mimpi apa aku semalam sampai pak Khanif mengatakan hal itu?" gumam Rania seraya menepuk-nepuk pipinya tak percaya - takut kalau ini semua hanya khayalannya saja. Tapi saat pipinya begitu sakit setelah ia tepuk, ia sadar kalau saat ini adalah nyata.
Tidak ingin ada yang melihat aksi anehnya tadi, Rania lalu buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
Ia kini bersandar dibelakang pintu dengan memegang dada yang berdegup kencang. Ia juga baru tersadar kalau sebelum masuk tadi, Khanif menggunakan 'aku' bukannya 'saya' seperti biasanya Khanif katakan untuk menunjukkan dirinya.
Apa ini? Perubahan Khanif begitu tiba-tiba. Rania seperti mempunyai firasat kalau beberapa hari kedepannya akan ada terjadi dengan dirinya. Tapi apa itu, ia sendiri juga tidak dapat menduganya.
...***...
"Untung ada disini," katanya begitu senang.
Farah lalu kembali naik ke tempat tidur. Ia lantas memakai selimut yang telah disediakan, tapi ia tetap merasa dingin.
"Tau begini aku bakalan bawa banyak selimut. Mana hidung mampet lagi," gerutunya.
Hingga ia tiba-tiba teringat kalau ruang tengah - tempat mereka semua berkumpul tadi terasa lebih hangat dibanding kamarnya yang dingin ini. Farah lantas melepas selimut yang tadi diambilnya didalam lemari dan hanya menyisakan selimutnya saja sebelum ia berlalu keluar dari kamar.
"Ah, hangatnya," ungkap Farah setelah berada di ruangan tengah. Farah lantas melangkahkan kakinya menuju sofa panjang. Ia berencana akan tidur malam ini disini.
Namun, belum juga ia tertidur lelap, ia di kagetkan dengan suara pekikan Lisa, hingga membuat semua orang jadi terkejut Davina dan Rania yang mendengarnya pun buru-buru keluar dari kamar masing-masing. Mereka ingin melihat apa yang membuat Lisa sampai memekik seperti itu.
"Ada apa?" tanya Rania.
__ADS_1
"Itu ... itu," tunjukknya pada sofa panjang. "Bukan hantu kan?" tanyanya takut-takut saat melihat ada sebuah kain putih yang ada diatas sofa.
"Dimana hantunya?" tanya Farah tiba-tiba seraya bangun dari tidurnya. Ia celigak-celiguk mencari, namun yang ia dapati hanya Rania, Lisa dan Davina yang kini melihatnya. Seakan tersadar, Farah lalu mengatakan, "kamarku terasa sangat dingin. Makanya aku lebih memilih tidur disini."
"Kok bisa, kamar kami baik-baik saja," ujar Rania heran. Pasalnya, kamarnya begitu hangat. Bahkan tanpa selimut pun, ia bisa tertidur dengan nyenyak.
"Kamu belum mengaktifkan penghangat ruangannya?" tanya Davina memastikan.
"Penghangat ruangan?" beo Farah tidak mengerti.
"Iya, penghangat ruangan. Di vila ini, kita bebas mau tidur dengan suhu hangat atau dingin. Jika kamu benar-benar ingin merasakan suasana di kota ini, kamu bisa tidak menggunakan penghangat ruangan. Tapi kalau kamu tidak tahan akan dingin, kamu bisa menggunakannya. Tinggal setel saja rasa hangat yang kamu inginkan, kamu bisa tidur dengan nyenyak," jelas Davina.
"Saya tidak tau kalau ada hal seperti ini, mbak."
Tiba-tiba Lisa menyahut, "maaf mbak. Ini kelalaian saya karena lupa memberitaunya."
Farah lantas melihat Lisa dengan pandangan kesal. Ia pastikan kalau ini adalah akal-akalan Lisa untuk membalas dendam padanya. Tapi tak apa, dengan begini. Nilai Lisa pasti telah turun dimata Davina.
"Tak apa. Lupa itu adalah hal biasa. Tapi kalau sering lupa, itu adalah hal yang mengkhawatirkan," ujar Farah seperti mengejek.
Lisa balik melihat Farah kesal. Tindakannya yang sengaja berpura-pura lupa adalah pilihan yang tepat.
"Ya tau. Namanya juga kelewatan," ujar Lisa.
"Baiklah. Sepertinya tidak ada masalah lagi. Kalian bisa kembali ke kamar kalian masing-masing," jelas Davina. Ia lalu beralih pada Farah. "Ayo, aku akan menujukkan tempat penghangat ruangannya."
"Iya, mbak."
Farah bangkit dari tempat duduknya dan bergegas mengikuti Davina yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamar inapnya. Saat ia melewati Lisa, ia berhenti sejenak disampingnya. Ia lalu berkata, "tidak semudah itu kamu manjahili aku. Tunggu saja kedepannya, jika kamu berani macam-macam lagi sama aku! Aku tidak akan tinggal diam!"
Mendengarnya, membuat Lisa mencebik tidak suka. "Emang aku takut?" gumamnya setelah Farah pergi.
Lisa pun masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sedang Rania lebih awal masuk ke dalam kamarnya tadi. Ia kembali merenung kejadian sejam yang lalu. Hingga tanpa sadar kalau ia mulai terbawa ke alam mimpi.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...