Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 176. Aku Tidak Menunggumu


__ADS_3

Halo semua. Bagaimana hari-hari kalian? semoga menyenangkan ya, aamiin.


Aku cuma mau bilang, kalau aku uda baca semua komentar kalian. untuk itu, aku sangat berterima kasih pada kalian karena telah memberikan dukungan kalian pada cerita ini.


oh iya, untuk komentar yang mengatakan aku up lagi, maaf ya untuk saat ini aku tidak bisa wujudkan karena saat ini aku sibuk banget. jadi perhari itu hanya bisa up 1 bab aja. semoga aja dilain waktu aku bisa up 2 atau 3 bab, aamiin.


Dan terima kasih juga yang udah berikan like dan vote-nya. dukungan kalian itu sangat berharga buat aku. terima kasih, ya.


Baiklah, selamat membaca ya 🤗


...***...


"Kenapa kakak membawaku kesini lagi?"


"Aku ingin memperbaiki kesalahan yang telah ku perbuat dulu ditempat ini."


"Kesalahan apa?" tanya Rania tidak mengerti.


Tanpa menjawab apa-apa, Khanif lantas mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.


Sebuah beda pipih seperti benda tipis yang ada didalam laci meja belajar Rania.


"Bukannya ini suratku?" tanya Rania tidak mengerti.


Mengapa surat pernyataan perasaannya dulu untuk Khanif ada padanya? Rania sungguh tidak mengerti, kecuali jika Reyhan bekerja sama dengan Khanif untuk mengambil surat ini di laci meja belajarnya.


Namun meski telah menerka, ia masih tetap ingin bertanya pada Khanif.


"Kenapa surat ini bisa ada ditangan kakak?"


"Ini surat yang berbeda."


"Mana bisa? Surat ini persis dengan suratku yang dulu. Gambar bunga di pojok kanan adalah buktinya."


"Aku tau. Sampai saat ini, aku masih mengingat bentuk, warna, dan isi surat yang kamu berikan padaku dulu. Sedikitpun aku tidak pernah melupaknnya."


"Jangan bercanda, kak."


"Kalau tidak percaya, kamu bisa membuktikannya sendiri. Coba kamu melihatnya dengan rinci."


"Baiklah." Rania lantas membuka isi surat itu dan mulai membaca isinya.


Semua kata-kata dalam isi surat itu seperti apa yang telah ia tuliskan dulu yang berbeda hanyalah gaya tulisannya. Tentu saja berbeda karena Khanif lah yang menulis semua isi surat itu.


Namun ketidak percayaan Rania tidak sampai disitu. Ia bahkan memperhatikan segalanya. Mulai dari tanda titik dan koma yang ia pakai sampai tata letak dari kata-kata.


"Ini ... ini ...," katanya seakan tidak percaya.


"Aku menuliskan surat ini kembali hanya untuk membuat kamu percaya kalau selama ini di hatiku hanya ada kamu seorang," ujar Khanif membuat Rania berkaca-kaca.

__ADS_1


Ia sungguh tidak menyangka Khanif bahkan melakukan hal ini agar membuatnya kian percaya bahwa selama ini perasaannya pun terbalas meski tanpa ungkapan balasan isi hati Khanif kala itu.


"Terima kasih karena telah menungguku sampai selama ini," ujar Khanif.


Rania lantas menghapus air matanya yang kini bersabar di pelupuk matanya.


"Aku tidak menunggumu," elak Rania seraya berusaha keras agar pipinya tidak memerah lagi.


"Tak apa. Aku juga tidak mempercayainya." Kekeh Khanif kemudian.


Karena tidak ada bahan elakan lagi, akhirnya Rania berkata, "aku ingin pulang." Agar Khanif tidak tambah membuat pipinya merona atau malah sebaliknya membuat ia kesal yang bisa mengakibatkan hubungan mereka bisa terasa canggung.


"Ayo," ujar Khanif pada akhirnya.


Khanif pun membawa Rania pulang. Lagi pula, mereka telah pergi lama sejak mereka kabur dari rumah tanpa sepengetahuan kedua orang tua mereka.


***


Sesampainya mereka di rumah Rania kembali, Khanif tentu saja langsung di sidang oleh mama karena telah membawa kabur Rania dari pengawasan mereka.


"Lihat! Kedua calon mempelai ini telah kabur dari acara lamaran mereka dan baru kembali saat keputusannya telah selesai. Ini pasti ulah Khanif," ujar mama Adelin mendelik pada Khanif yang malah membuat Khanif maupun Rania jadi tertawa.


"Aku hanya mengajak Rania kesuatu tempat, ma. Kalau tidak percaya, tanya aja sama Rania."


"Iya, ma. Apa yang dikatakan oleh kak Khanif benar kok," bela Rania.


"Ma ...," rengek Khanif tanpa sadar.


Mama lalu sengaja berdehem untuk menyadarkan Khanif kalau semua pasang mata tertuju padanya.


Tentu saja Khanif menjadi malu. Namun ia mampu menutupinya kemudian dengan berkata, "Bagaimana bisa pertemuan kami harus di batasi. Saat ini kan Rania sudah menjadi sekretaris Khanif. Otomatis kita akan lebih sering bertemu."


"Ya. Kalau dalam pekerjaan mama bisa maklumi. Kalau tidak, ya mama ngga akan izinkan kalian untuk sering bertemu satu sama lain jika kalian belum sah." Mama lantas menolehkan wajahnya ke arah mama Dahlia untuk meminta persetujuannya. "Bagaimana jeng Lia?" tanya mama Adelin.


"Ide jeng bagus juga. Kami sekeluarga pasti setuju."


Sudah! Mama Adelin dan mama Dahlia sudah kompak untuk membuat Khanif harus berusaha lebih giat lagi.


"Baiklah. Jeng, mas Rudy. Kami pulang dulu."


"Kalian hati-hatilah," ujar mama Dahlia.


"Ayo pulang," seru mama Adelin pada Khanif yang seperti tidak ingin pulang dari rumah Rania.


"Sayang, ayo pulang," seru mama Adelin membuat Khanif mau tidak mau mengikuti perkataannya.


Khanif lantas mengangguk mengiyakan. Lalu ia beralih pada Rania.


"Aku pulang dulu, ya."

__ADS_1


"Hem. Hati-hati dijalan."


Sesaat Khanif telah pergi meninggalkan Rania, mama lantas pergi ke dekat Rania untuk mengatakan sesuatu.


"Nak Rania maafin mama yang membatasi pertemuan kalian, ya," ujar mama Adelin seraya mengelus pipi Rania sayang.


"Ngga papa kok, ma."


"Mama melakukannya karena kamu terlalu berharga untuk anak mama yang satu itu mendapatkanmu dengan begitu mudah," kekeh mama Adelin kemudian hingga membuat Rania juga ikut terkekeh. "Jadi mama membantumu untuk mempersulit Khanif sedikit sebelum kamu jadi mantu mama."


"Rania ngga keberatan kok, ma. Malahan Rania harus berterima kasih pada mama karena membantu Rania. Terima kasih, ma."


"Sama-sama sayang. Baiklah, mama pulang dulu."


"Iya, ma."


Selanjutnya, mama pun masuk ke dalam mobil bersama papa yang sudah lebih dahulu berada disana.


Setelahnya, mama lantas melambaikan tangannya sebelum pak supir melajukan mobilnya menuju rumah Khanif.


***


Keesokan harinya dikantor, Khanif maupun Rania benar-benar menjaga jarak diantara mereka. Mulai Khanif yang tidak terlalu memanggil Rania untuk keruangannya seperti hari-hari yang telah lalu, sampai Rania yang hanya memberikan dokumen pada Khanif lalu pergi meninggalnya setelah tugasnya selesai.


Mereka benar-benar menjaga jarak diantara mereka seperti perkataan mama Adelin kemarin.


Bagaimana tidak. Sebenarnya mereka tidak ingin menjaga jarak diantara mereka. Hanya saja mama Adelin sengaja menempatkan seorang mata-mata diantara mereka dan mata-mata itu tak lain adalah Davina.


Tentu saja! Siapa lagi yang dapat dengan bebas melihat gerak-gerik mereka di kantor ini, jika bukan Davina!


Bahkan tanpa mama dan Rania ketahui, sebenarnya Khanif sudah berusaha membujuk Davina untuk berpihak padanya, seperti saat ini.


"Ayolah, dek. Jangan bilang-bilang sama mama lagi, ya. Apa kamu tega melihat kakak tersiksa seperti ini hanya untuk bertemu dengan Rania?" ujar Khanif saat Davina mengantarkannya sebuah dokumen perjanjian kerjasama.


"Ya, mau bagaimana lagi kak. Davina juga ngga bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantu kakak," ujar Davina. Ia lalu kembali berkata. "Harusnya kakak senang loh dengan keputusan mama."


"Alasannya?"


"Ya, karena dengan begitu, mama ingin menguji kesetiaan kakak dan Rania. Mama ingin melihat bagaimana kalian bisa bertahan satu sama lain dalam jangka waktu yang lama," ujar Davina membuat Khanif terdiam. Ia berpikir dalam hati kalau perkataan Davina barusan ada benarnya juga.


"Baiklah. Kamu lanjut kerja kalau gitu."


Davina lantas menganggukkan menganggukkan kepalanya pelan. Lalu kemudian, ia pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Khanif.


...To be continued. ...


...Jangan lupa like, vote dan komen sebagai balasan atas cerita ini ya....


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2