Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 188. Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Hai selamat sore semua. Jadi gini, besok aku ada rencana buat up-date cerita ini 2 BAB. Hanya saja ada syaratnya. Jika kalian mau, Kalian juga harus memberikan timbal balik untuk dua BAB itu. Jadi, Timbal Baliknya yaitu kalian harus memberikan Hadiah Poin pada Cerita ini. Aku cuma butuh 15 ORANG aja kok buat beri hadiah. Jadi kalian para pembaca harus bekerja sama untuk membuat cerita ini bisa up date 2 BAB besok.


Nih, yang belum tau cara memberikan hadiah, simak TATA CARA dibawah ini ya.



setelah kalian berada diakhir cerita, seperti pada gambar di bawah ini yang ada lingkaran putihnya, Kalian klik aja itu. πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡





setelah kalian klik bundaran putih itu, maka akan muncul gambar di bawah ini πŸ‘‡πŸ‘‡



INI UNTUK PEMEBERIAN POIN BUNGA..



Kalian lihat tanda panah hitam itu kan. nah, kalian klik itu lalu ada pilihan pemberian hadiah. ada angka 1, 5 dan 10. Untuk Poin bunga, kalian klik angka 10 seperti pada gambar di bawah ini.



Lalu kalian klik Berikan yang ada tanda panah hitamnya itu.



ini untuk Poin KOPI YA



Kalian klik dulu Poin KOPI, lalu tanpa memilih berapa jumlah Poin, kalian langsung aja klik Kolom BERIKAN.



Setelah itu, selesai deh. Gampang dan Mudah kan!


Jadi tunggu apa lagi jika ingin besok aku up 2 BAB?


Aku tunggu sampai besok ya.


Ok segitu aja Informasi dari aku. Selamat membaca dan Memberi Hadiah! πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


^^^***^^^


Malam harinya, acara kembali dilanjutkan dengan resepsi pernikahan Khanif dan Rania yang dilaksanakan di salah satu hotel milik Khanif.


Dengan baju pengantin wanita bermodel Princess Ball Gown warna peach dengan motif bunga kecil berwarna emas, membuat Rania bak putri jadi pada zaman ini.


Khanif yang juga tak kalah tampannya membuat mereka berdua terkesan seperti seorang pangeran dan seorang putri raja.


Sungguh, mereka berdua terlihat mewah dan elegan di malam resepsi pernikahan mereka ini.


Meski acara resepsi terkesan santai, namun tak memungkiri siapa saja yang melihat mereka akan merasa kagum dan memuji mereka berdua.

__ADS_1


Bahkan karena santainya, Khanif maupun Rania tidak sungkan untuk ikut berbaur bersama para tamu undangan ataupun teman dan keluarga yang mengajak mereka berbicara. Seperti saat ini.


"Selamat ya, Rania. Kami ngga nyangka loh kamu bakal bersama pak Khanif," ujar salah seorang teman se-divisinya dulu.


"Jangankan kamu, aku pun juga ngga nyangka banget," timpal salah seorang temannya lagi.


"Iya, sama aku juga. Emm, Ngomong-ngomong, kamu udah kenal pak Khanif sebelum bekerja di kantor, ya?" tanya salah seorang lagi.


"Hem, iya. Aku dan kak Khanif teman sekolah saat di sma, tapi beda tingkatan. Aku dikelas satu, dia dikelas tiga."


Ketiga wanita itu lantas mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Pasti seru sekali masa sma kamu dan pak Khanif."


"Tidak juga. Semasa sma kami hanya berstatus sebagai adik dan kakak kelas saja. Tak lebih," jelas Rania membuat ketiga wanita itu lagi meganggukkan kepalan mereka mengerti.


"Baiklah, kalau begitu kami kesana dulu."


"Iya, kalian harus menikmati acara ini ya."


Seperginya ketiga teman Rania, Khanif yang masih bercakap dengan temannya kuliahnya pun datang menghampiri Rania untuk memperkenalkan Rania pada teman-temannya.


"Sayang," panggil Khanif kedua kalinya dengan memakai kata 'sayang'.


Tentu saja Rania yang membelakangi Khanif menjadi deg-degan karena panggilan barusan.


Meski mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri beberapa jam yang lalu, tapi panggilan Khanif barusan masih meninggalkan kesan menggelitik didalam hati Rania. Sungguh, ia belum terbiasa Khanif memanggilnya seperti itu.


Perlahan, tapi pasti. Rania pun membalikkan badannya menghadap Khanif.


"Teman-teman aku ingin melihat kamu. Ayo, aku kenalkan."


Untuk kesekian kalinya, Rania dibuat deg-degan dengan tindakan Khanif, saat Khanif mengambil tangannya untuk ia genggam.


Sungguh, lagi-lagi jantung Rania berdegup kencang seperti ia telah berlari maraton berkilo-kilo meter. Apa ini rasanya seorang wanita yang tidak pernah sekalipun disentuh oleh seorang lelaki kecuali lelaki di keluarganya?


Sesampainya mereka didekat teman-teman Khanif, Khanif lantas memperkenalkan Rania pada teman-teman seperjuangannya sewaktu kuliah.


"Dia adalah istriku Rania."


"Hai, perkenalkan aku Rian," kata seorang lelaki berjas navy.


Lalu secara bergantian, teman-teman Khanif yang lainnya pun ikut memperkenalkan diri pada Rania.


Tentu saja hanya memperkenalkan diri tanpa menyentuh tangan. Ya, semua karena Khanif telah mengatakan pada mereka sebelum ia pergi memanggil Rania tadi.


Ia sempat mengatakan kalau mereka tidak boleh bertingkah macam-macam pada istrinya. Seperti kelakuan Dean siang tadi.


Ah, jika mengingat hal itu, Khanif kembali mengingat kejadian siang hari setelah Rania membersihkan dirinya.


Mereka saat itu terlihat canggung satu sama lain. Untung saja keadaan itu tidak bertahan lama karena mama Dahlia datang memanggil mereka untuk makan siang bersama dan dilanjutkan Khanif yang mengobrol dengan keluarga Rania sampai sore harinya karena ia dan Rania harus bergegas ke hotel tempat resepsi akan di laksanakan.


Ah, sudahlah. Semua gara-gara kejahilan Dean. Namun Khanif heran, sampai saat ini anak jahil itu belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Kemana dia? Kenapa belum datang?" tanya Khanif dalam hati seraya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dean.


Belum sampai semenit, Dean sudah tiba. Lihat anak jahil itu menepuk pundak Khanif seperti Khanif bukanlah raja semalam ini.

__ADS_1


"Cariin aku pastinya."


"Hem. Kenapa baru tiba?"


"Biasa, aku jalannya lama-lama biar bisa lirik sana sini. Siapa tau ada yang bisa nyangkut juga," ujar Dean. Ia lalu beralih pada Rania yang masih bercakap dengan teman-teman Khanif yang lainnya untuk meminta pendapat. "Iya kan, dik Rania."


Rania yang tidak tau apa-apa hanya mengernyit heran dibuatnya dan mengedikkan bahu tidak tau.


Dean pun hanya bisa berpura-pura cemberut karena Rania tidak mendengarkan perkataannya barusan.


"Tak apa dik Rania. Kakak tau kalau kamu sudah berpaling hati diriku," ujar Dean membuat Rania terkikik geli.


Sejak kapan hatinya pernah dimiliki Dean?


"Jangan ganggu istriku lagi, Dean."


"Eh, iya, iya, pak suami."


Dean dan yang lainnya pun kembali melanjutkan percakapan mereka. Sedang Khanif dan Rania kembali berbaur dengan tamu lainnya.


Hingga tanpa disangka, mereka bertemu dengan Tasya - wanita yang masih menyukai Khanif meski Khanif sudah memiliki seorang istri.


"Selamat ya, Khanif. Aku ngga nyangka banget kalian bisa bersama."


"Hem. Kamu benar," respon Khanif, sedang Rania hanya dapat tersenyum kecil.


"Padahal sedikit lagi, ya kita bisa bersama," katanya sendu.


"Kamu harus melupakannya saat ini. Pastinya, kamu bisa mendapatkan lelaki yang dapat mengerti dirimu."


"Ah, iya. Kamu benar juga," ujar Tasya. Ia lalu kembali melanjutkan perkataannya, namun hanya dalam hatinya. "Mungkin aku tidak akan pernah lagi menemukan sosok lelaki seperti kamu lagi."


Tasya melihat Khanif dengan pandangan sendu. Biar bagaimana pun ia sangat mencintai khanif, tapi ia bukanlah wanita perebut suami orang dan tidak akan pernah ia lakukan sampai kapanpun.


Meski dulu ia begitu gencar merebut Khanif dari Rania, namun saat ini sudah berbeda. Status Khanif sudah menjadi suami Rania dan mungkin tidak akan pernah berubah sampai kapan pun.


Lagi pula, ia juga seorang wanita yang bisa sakit hati jika seseorang merebut suaminya. Untuk itulah, ia sadar kalau perasaan cintanya pada Khanif harus ia hilangkan dan mencari cinta yang baru, yang bisa membuat ia bahagia sampai nanti.


Sadar kalau ia telah lama berbicara, Tasya dengan bercanda seraya berkata, "baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Aku rasa ada baiknya kalau aku mencicipi hidangan yang ada disini. Siapa tau aku bisa ketularan nantinya seperti kalian." Ia tersenyum sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


***


Tak terasa tiga jam telah berlalu, Rania sudah sangat lelah berjalan-jalan menyambut para tamu undangan yang hadir dan tentunya memberikan mereka selamat atas pernikahan ini.


Khanif yang tau kalau wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu sudah sangat lelah pun akhirnya pergi kedekat Rania untuk membisikkan sebuah kata-kata.


"Sayang," panggilnya pelan.


Namun saat ia Rania sudah bisa mengendalikan rasa deg-degannya dengan mengatakan, "iya."


"Bagaimana kalau kita pergi lebih dahulu dari tempat ini?" tanya Khanif membuat Rania membulatkan matanya tanpa sadar.


...To be continued...


Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin


JANGAN LUPA BERI HADIAH, YA. BIAR BESOK BISA UP 2 BAB

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2