Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 105. Sudah Terlambat


__ADS_3

"Bukannya mama udah bilang kalau ada yang ingin kamu lakuin jangan ditunda-tunda!" ujar mama dengan nada suara yang tinggi. "Kamu dengar sih, nak!" ucap mama kembali saat mama tidak mendapati sahutan Khanif.


Bukannya langsung menjawab, Khanif malah refleks menjauhkan ponselnya dari telinganya seraya menggosok pelan telinganya karena terkejut dengan nada suara mama. Setelah beberapa saat, Khanif pun kembali mendekatkan ponselnya ke telinganya. "Iya, ma. Khanif dengar. Malah sangat jelas sekali."


"Pokoknya, mama tidak ingin tahu. Kamu harus segera menyelesaikan keinginan mama."


"Ma, semuanya sudah tidak ada artinya lagi. Jelas-jelas Zaky sudah melamar Rania."


"Dasar anak nakal. Sebelum nak Rania dibawa ke penghulu, kamu masih bisa berusaha. Apa susahnya sih, berusaha!"


Khanif pusing memikirkan keinginan sang mama. Sungguh, ia tidak bisa berbuat seperti keinginan mama. Biar bagaimana pun, ia tidak akan berbuat hal yang dapat membuat dirinya tenggelam terlalu dalam.


Bagus saja kalau Rania mengerti perasaannya. Kalau tidak? Sama saja kalau dirinya mempermalukan diri sendiri. Biarlah mama kesal padanya kali ini. Pasti cepat atau lambat mama akan mengerti maksudnya.


"Khanif akan lihat nanti," ujar Khanif pada akhirnya. "Ma, Khanif sudahi dulu ya. Khanif mau lanjut metik buah."


"Hem. Pokoknya, kamu pikirkan lagi perkataan mama tadi."


"Iya, nanti Khanif pikirkan. Baiklah, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Khanif pun lanjut memetik strowberry hingga keranjangnya hampir penuh dengan buah. Setelahnya Khanif  menyudahinya dan bergegas menuju mobilnya. Sesekali ia terlihat membalas senyum saat para pekerja menyapanya ataupun tersenyum padanya. 


Sesampainya disana, Khanif menaruh keranjang buah ditempat duduk sampingnya. Lalu ia memutari mobil - masuk ke pintu sebelah dan mulai menjalankan mobil menuju penginapan agar ia bisa bersiap sebelum pulang ke rumah. Mengingat kata rumah, ia harus bersiap mendengarkan ceramah panjang dari mama.


Bukannya Khanif tidak menyukai saat mama memberinya nasehat. Hanya saja, sering kali mama berbicara panjang lebar namun Khanif tidak dapat menerimanya. Seperti perkataan mama tadi tentang masa depannya.


Saat Khanif sibuk dengan pemikirannya sendiri, ponselnya kembali berdering. Tangannya pun terulur mengambil handsfree dan memasangnya ke telinga lalu pandangannya kembali terfokus pada jalanan yang ia lewati.


"Iya, ma."


"Mama dengar dari Davina, kamu pulang sore ini."


"Iya, ma. Ini Khanif lagi dijalan menuju penginapan agar bisa bersiap-siap."


"Pulangnya terus kerumah, kan?" tanya mama memastikan. Pasalnya, sejak Khanif membeli apartemennya beberapa bulan yang lalu, Khanif sudah jarang tinggal dirumah. Itu pun Khanif tinggal jika Khanif sedang rindu dengan masakan mama seperti beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Iya, tapi cuma sebentar aja."


"Loh kok gitu. Tahu begini mama ngga akan setuju kalau kamu beli apartemen itu." Mama bersungut kesal nan mengerutkan bibir diujung sana.


"Bukannya Khanif ingin. Tapi Khanif sengaja karena apartemen itu dekat dengan tempat kerja. Jadi semua pekerjaan Khanif jadi mudah."


"Mama tahu. Tapi setidaknya, jangan jadikan apartemen itu sebagai rumah utamamu. Duh, anak ini. Mama jadi kesal saja."


Khanif terkekeh.


"Baiklah, mama akan datang menjemputmu di bandara. Nanti infokan saja kapan jelasnya kamu berangkat."


"Mama ngga usah repot-repot, Khanif bisa sendiri."


"No! Pokoknya kamu tunggu saja mama dan jangan lupa infokan sama mama. Baiklah, mama sudahi dulu. Mama mau lanjut ke kantor dulu."


"Mama mau ...." Belum juga Khanif menyelesaikan pertanyaannya, mama sudah lebih dahulu memutus sambungan teleponnya. "Mama mau apa datang ke kantor?" ujar Khanif melengkapi perkataannya meski telponnya dengan mama sudah tidak tersambung lagi.


Kepala yang semula baik-baik saja tiba-tiba berubah sakit. Tangannya pun terulur untuk memijit pelipisnya sejenak. Sepertinya ia harus beristirahat meski sebentar, sebelum dirinya menyiapkan kopernya dan balik ke kota kelahiran.


***


Mama baru saja tiba dipelanataran kantor saat ia melihat Rania keluar seorang diri. Entah Rania mau kemana, tapi mama tidak tunggu lama saat memanggilnya. Mendengar ada seseorang yang menyebut namanya, Rania mengedarkan pandangannya mencari sosok suara yang tidak asing lagi di telinganya.


"Tante," ujar Rania saat tahu kalau Mama Adelia lah yang memanggilnya. Pantas saja Rania merasa familiar. Rania lantas mendekat. "Tante, apa kabar?"


"Alhamdulillah baik. Nak Rania gimana?"


"Alhamdulillah baik juga, tan. Tante ada perlu apa kemari? Siapa tahu Rania bisa bantu."


"Nak Rania pengertian sekali. Iya tante kesini karena mau ngajakin kamu untuk temenin tante ke bandara."


"Tante mau keluar kota?"


"Ngga. Ini  anak tante pulang hari ini. Nah, tante kan mau jemput dia, tapi tante sendirian kalau disana. Makanya tante ngajakin kamu biar tante ada teman bicara saat nungguin dia tiba."


"Pak Khanif pulang hari ini?"

__ADS_1


"Kamu ngga diberitahu sama dia?" tanya Mama Adelin membuat Rania terdiam seraya menampilkan senyuman simpul. Pasalnya, untuk apa juga Khanif memberitahu waktu kepulangannya pada Rania?


"Nak Rania!" panggil Mama Adelin seraya mengibaskan tangannya didepan wajah Rania yang tidak merespon pertanyaannya.


"Iya, tan."


"Mau ya temani, tante."


"Insya Allah, tan," kata Rania membuat Mama Adelin tersenyum.


"Baiklah. Kalau gitu tante pulang dulu. Nanti tante akan datang menjemputmu lagi."


Rania mengangguk. Mama pun pergi dari sana dan kembali ke rumah - menyiapkan makanan kesukaan Khanif. Sedangkan Rania tiba-tiba saja menjadi tidak percaya diri untuk bertemu dengan Khanif. Meski ada Mama Adelin bersamanya, tapi entah mengapa ia merasa aneh jika dirinya yang ikut pergi menjemput Khanif di bandara nanti.


Ia berharap agar video lamarannya yang mendadak dengan Zaky tidak sampai pada Khanif. Sungguh, ia tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa. Apa ia harus bersikap pura-pura tidak tahu atau menujukkan wajah yang selalu tersenyum? Kedua opsi itu tidak membuat Rania menjadi tenang.


"Aduh, gawat. Kenapa malah tinggal disini sih! Pasti mbak may bakalan marah," ujar Rania tersadar kalau ia tengah disuruh oleh May untuk membelikannya brownies dan minuman kopi. Namun saat bertemu Mama Adelin, Rania menjadi lupa dan malah tinggal diam memikirkan sikapnya nanti saat bertemu Khanif.


Secepat mungkin pun Rania kembali melangkahkan kakinya menuju tempat tujuannya. Saat Rania sampai di toko brownies seberang jalan, lagi-lagi ada seseorang yang memanggilnya. Rania heran, kenapa hari ini ada-ada saja orang memanggil namanya. Lagi-lagi Rania berbalik dan mendapati seorang wanita tengah jalan kearahanya.


"Hai, Ra. Mau beli brownies juga?" tanya Tasya basa-basi.


"Iya, kak."


"Selamat ya. Aku ngga nyangka kalau kamu bakal duluan dari pada aku," ujar Tasya bermaksud pada Rania yang telah dilamar lebih dahulu dari pada dirinya.


"Kakak bisa saja. Kalau kakak mau, aku bisa kenalin teman. Biar kita bisa samaan," ujar Rania sambil tersenyum kecil. Biarlah hari ini ia menjahili Tasya sedikit.


"Ngga deh, aku udah punya seseorang. Tinggal tunggu peka aja."


"Kenapa ngga kakak aja yang mulai?"


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2