
Kakatua yang selalu sigap pun tidak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Kakatua lalu menarik pelatuknya dan melunculah sebuah peluru dari sniper yang terarah pada lelaki itu.
"Aaa ...," teriak Rania.
"Rania!" panggil Khanif dan Reyhan bersamaan dengan tangan terulur kedepan.
Rania terjatuh, begitu pula lelaki berkepala plontos yang tadi menahannya. Rania kaget saat ia mendapati warna merah disekitar lengannya.
Rania lantas menoleh dengan pandangan terkejut, ia melihat dari pundak lelaki itu, cairan merah segar merembes keluar membuat baju yang dikenakan oleh lelaki itu menjadi merah.
Ya, Rania tidak mengalami luka apa pun. Ia hanya terkejut - saat dengan jelas peluru itu lewat tepat disamping wajahnya. Sedikit saja ia bergerak, maka bisa dipastikan kalau ia lah yang terkena peluru tersebut.
Tentu saja Rania terkejut. Itu sebabnya ia berteriak dan langsung merasa pusing. Khanif yang dekat dengan Rania seketika berlari kearahanya. Ia menangkap Rania sebelum Rania benar-benar ambruk ke tanah.
"Rania ... Rania." Khanif mengguncang tubuh Rania. Ia berniat untuk menyadarkan Rania dari rasa keterkejutannya.
Rania mendongkak, ia melihat Khanif begitu dekat dengannya. Tanpa sadar, air matanya kembali merembes keluar. Rania begitu takut akan apa yang barusan terjadi barusan padanya. Ia seperti sedang bermimpi buruk saja.
Khanif yang melihat Rania masih larut dalam pemikiran kacaunya, langsung saja menenangkan Rania dan beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan pisau lipat yang tadi diberikan Reyhan untuk membuka ikatan tali di tangan Rania.
"Sudah jangan takut, kami semua sudah ada disini menyelamatkanmu. Kini kamu sudah bebas."
Rania melihat Khanif sebentar. Lalu ia pun beralih pada Reyhan yang berjalan terburu-buru mendekatinya.
"Rania," panggil Reyhan khawatir.
Rania bangkit, meski kakinya sakit saat berpijak, Rania tetap berusaha mengiikis jarak diantara mereka.
"Kakak." Rania memeluk Reyhan sangat erat. "Rania takut," cicitnya yang semakin menenggelamkan wajahnya ke dada Reyhan.
Reyhan mengusap-usap kepala Rania, lalu berkata, "jangan takut, sekarang kakak disini. Kakak tidak akan membuat orang-orang ini melukaimu lagi." Janji Reyhan membuat Rania merasa terlindungi.
Rania lalu mengangguk-anggukan kepalanya dan semakin mencari tempat ternyaman dipelukan Reyhan. Namun, Rania lagi-lagi kembali menangis. Ia bahkan sampai sesegukan dipelukan Reyhan. Entah Rania menangis karena masih dihinggapi rasa ketakutan atau menangis karena sudah dapat bertemu kembali dengan kakaknya.
Entahlah, Rania sendiri tidak tau pasti, yang pasti ia rasakan saat ini adalah ia merasa nyaman berada dipelukan sang kakak dan ingin menumpahkannya lewat air mata.
Melihat interaksi keduanya, membuat Elang, Macau dan Kakatua yang baru selesai mengikat semua penjahat, sengaja berdehem agar Reyhan dan Rania sadar akan situasi yang mereka alami sekarang.
Mereka seperti bermaksud menggoda Reyhan yang terkenal tidak pernah dekat dengan seorang wanita mana pun. Sedangkan Khanif, ia lebih memilih melihat para penjahat yang telah diikat oleh Elang dan Macau dari pada melihat pemandangan yang membuat hatinya yang tiba-tiba terasa nyeri.
Reyhan dan Rania masih asik dalam dunia mereka sendiri. Namun saat deheman teman-temannya semakin sering, Reyhan tahu. Mereka pasti bermaksud menyadarkannya atau lebih tepatnya menggodanya.
Meski merasa di sindir dengan deheman anggotanya, Reyhan tak sedikitpun gentar untuk melepaskan pelukannya pada Rania. Malah ia semakin tidak ingin melepaskan pelukannya. Jika saja Rania tidak mendorong dirinya sedikit menjauh darinya, pasti saat ini mereka masih berpelukan. Menuntaskan rasa kekhawatiran yang ada.
Reyhan melihat satu persatu anggotanya yang balas melihatnya dengan pandangan jahil. Reyhan tahu, pasti mereka beranggapan kalau Rania adalah wanita pertama yang menaklukkan hati beku seorang Reyhan yang terkenal dengan pria tanpa wanita.
Nyatanya, mereka sepertinya telah salah paham padanya dan Rania. Mereka beranggapan Rania adalah seorang wanita yang mampu membuat Reyhan betah berlama-lama dengannya dan Rania pula yang menjadi wanita pertama yang diperhatikan Reyhan melebihi dirinya sendiri. Bahkan mungkin menjadi wanita terakhir di kehidupan romantis Reyhan.
Ya, Reyhan tahu. Mereka menduga semuanya karena ia tidak pernah terlihat sangat dekat dengan seorang wanita mana pun kecuali Rania. Meski ada-ada saja wanita yang mencoba merebut dan mencairkan hatinya yang beku, tapi hati Reyhan masih tertutup rapat pada makhluk bumi bernama wanita kecuali mama dan Rania. Ya, Reyhan tahu semua itu.
Tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut, akhirnya Reyhan memilih untuk menjelaskan kesalahpahaman ini agar mereka diam dan tidak menggodanya lagi dengan adiknya sendiri.
"Kalian jangan salah paham terus," ujarnya sambil melihat satu persatu anggotanya.
__ADS_1
Ia ingin melihat bagaimana ekspresi wajah yang ditampilkan dari pandangan yang tertuju padanya. Reyhan pun kemudian melanjutkan perkataannya. Ia ingin semuanya menjadi jelas mulai dari sekarang. "Dia adalah adik kandungku, Rania," ujarnya sambil mengelus lembut kepala Rania.
Elang, Macau maupun Kakatua tercengang mendengarnya. Ia tidak menyangka, ternyata gadis ini adalah adik dari atasan mereka. Pantas saja mereka sangat dekat bak sisi koin yang saling membelakangi namun berada ditempat yang sama. Mereka bahkan mengira kalau Reyhan dan Rania berjodoh karena memiliki kemiripan wajah.
Sedangkan Khanif jadi sangat terkejut. Ia seketika menoleh pada mereka, lalu bergantian melihat Rania dan Khanif yang memang memiliki kemiripan wajah. Sungguh ia tidak menyangka kalau mereka adalah sepasang adik-kakak.
Dulu Khanif menduga kalau mereka adalah sepasang teman yang lebih bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih, jika melihat bagaimana cara mereka berinteraksi.
Namun, ternyata dugaannya salah besar dan keliru. Entah bagaimana ia harus bersikap pada Reyhan yang pernah ia peringatkan untuk menjaga Rania saat pergi bersamanya kala itu. Khanif masih ingat percakapan singkat terkait Rania di warung makan seafood.
"Saya harap Anda betul-betul menjaganya," ujar Khanif.
"Anda jangan khawatir. Saya akan menjaganya. Kalau anda tidak percaya, saya berjanji pada Anda kalau saya akan menjaga Rania melebihi menjaga diri saya sendiri," ujar Reyhan.
Ah, Khanif baru sadar akan ucapan Reyhan yang terdengar serius. Khanif lalu kembali memperhatikan mereka.
"Kalian tidak menyangka bukan. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh lagi," kekeh Reyhan.
Mereka semua yang ada disana pun tersenyum malu-malu. Lalu tanpa disangka lelaki berkepala plontos itu itu tiba-tiba menyahut, "jika dari awal saya tahu kalau dia adalah adikmu, maka kamu dan adikmu tidak akan selamat."
"Simpan saja kata-katamu di pengadilan untuk membela diri," seru Kakatua.
"Apa maksudmu membela diri, jelas-jelas dia telah bersalah dengan menculik seorang wanita dan menyembunyikan narkoba begitu banyak," komentar Macau.
"Tentu saja, dia harus mendapatkan hukumannya yang setimpal," tambah Elang.
"Baiklah, semua sudah selesai," ujar Reyhan melihat semua anggotanya. Pandangan Reyhan lalu terhenti pada Elang. "Elang," panggilnya.
"Saya percayakan kamu untuk menyelesaikan masalah disini." Reyhan lalu kembali beralih pada Macau dan Kakatua. "Kalian."
"Siap kapten," ujar mereka berdua dengan tubuh yang di buat berdiri tegap dengan tangan berada disisi kanan dan kirinya, seperti Elang tadi.
"Kalian bantu Elang disini. Macau bertugas menghubungi markas untuk membantu kalian membereskan tempat ini dan untuk Kakatua, terus awasi tempat ini sampai semua selesai."
Serentak mereka berkata, "siap laksanakan tugas." Mereka bertiga pun memberikan hormat pada Reyhan dan Reyhan balas memberikan mereka hormat, setelah tangan Reyhan turun dari membalas hormat pada anggotanya, barulah mereka bertiga juga menurunkan tangan mereka yang memberi hormat tadi.
"Kalau ada keperluan lagi. Hubungi saya karena saat ini saya ingin membawa adik saya kerumah sakit dulu."
"Siap! Kami tidak akan mengecewakan Anda."
Reyhan pun mengangkat Rania.
"Kak, aku masih bisa jalan," bisik Rania yang sudah ada di gendongan Reyhan.
"Jalan setelah kamu pulih betul."
"Kakak," rujuk Rania.
"Kamu kira kakak tidak memperhatikan cara jalanmu tadi?"
"Maaf."
"Tidurlah, jangan banyak berpikir lagi."
__ADS_1
Rania diam, ia tau pasti Reyhan mengetahuinya. Ia pun hanya bisa mengikuti kemauan Reyhan yang terus saja berjalan menjauh dari rumah ditengah hutan pinus ini. Sedangkan Khanif tetap diam mengikuti langkah kaki Reyhan.
Ditengah perjalanan, Rania sudah tertidur pulas dalam gendongan kakaknya. Ia merasa damai dan merasa seperti terayun-ayun.
"Dia sudah tertidur," ujar Reyhan sekilas melihat Rania seperti bayi yang dengan tenang tertidur di gendongan papanya.
Khanif tau, Reyhan mengatakan hal itu padanya. Khanif lalu merasa, ia sepertinya harus meminta maaf.
"Saya minta maaf atas perkataan saya tempo hari."
"Tak apa. Saya mengerti mengapa kamu bisa berkata seperti itu. Jika tidak salah tebak, kamu pasti sudah berjanji pada papa saya untuk menjaga Rania."
"Tebakan Anda benar."
"Panggil saja saya Rey atau Reyhan."
"Terima kasih telah mempercayai saya."
"Tidak, seharusnya saya yang harus berterima kasih padamu karena telah menjaga adik saya selama disini," ujar Reyhan.
"Saya gagal."
"Tidak, kamu malah berhasil. Terima kasih."
Setelah beberapa saat, mereka terdiam satu sama lain. Hingga Reyhan teringat akan satu hal.
"Oh iya. Saya harap kamu menyembunyikan masalah ini dari papa saya."
Khanif diam. Ia seperti tidak ingin menuruti ucapan Reyhan barusan.
"Papa sangat menyayangi Rania. Bahkan kami biasa rebutan untuk mendapatkan perhatian Rania."
"Dan kamu selalu menang."
"Tentu saja. Saya melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian Rania."
Sepanjang jalan itu, Reyhan membahas masa kecil mereka. Bagaimana ia sangat menyayangi Rania dan bagaimana ia berusaha mendapatkan dan merebut perhatian Rania dari papanya sendiri.
Cerita Reyhan berhenti saat tiba-tiba Reyhan menghentikan langkah kakinya karena mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat ke arah mereka. Khanif yang tidak tahu apa-apa malah bertanya, "kenapa kamu berhenti?"
"Jangan ribut," ujar Reyhan dengan suara pelan.
...To be continued ...
HAI HAI, Aku punya kabar gembira loh buat kalian. Jadi gini, mulai besok tgl 07-13 Feb ini, insya Allah, aku bakalan up 3 bab perhari karena list pengajuan crazy up aku udah dimulai.
Jadi, tetap pantengin cerita ini ya 🤗 dan tetap semangat membacanya 💪
Semoga kalian yang like,vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, aamiin 🤲
Sampai jumpa besok dengan 3 bab-nya 💪
...By Siska C...
__ADS_1