
Tiba-tiba papa menghentikan laju mobilnya.
"Pa?"
"Mama tidak kesal lagi?"
"Papa bercanda?"
Papa tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya.
"Papa sengaja mau buat mama jantungan kan!" tuduh mama.
"Untuk apa papa sengaja? Mama aneh."
Rania dan Reyhan pun ikut menimpali, "mama aneh!"
Tiba-tiba mama berseru, "besok pagi kalian tidak akan mendapat serapan!"
***
Seperti perkataan mama semalam, pagi ini papa, Reyhan dan Rania hanya duduk memandang meja makan yang kosong tanpa sarapan pagi yang biasa mama buat. Mereka semua menghela napas panjang. Sedangkan mama yang melihat ke tiga orang yang disayanginya itu cemberut, jadi senyum-senyum sendiri. Biar mereka rasakan kalau ucapan mama semalam bukalah main-main.
Sebenarnya jauh didalam lubuk hati mama, mama tetap ingin membuatkan ke tiga orang yang disayanginya itu sarapan pagi. Namun kala mengingat tawa pecah mereka semalam, ditambah dengan kekesalannya sama papa yang bercanda berlebihan, membuat mama sengaja telat bangun pagi. Hingga jadilah seperti sekarang.
Rania? Rania bukanlah gadis yang pintar memasak. Meski begitu, ia masih bisa diandalkan jika hanya memasak mie instan saja ataupun mendadar telur mata sapi. Namun, pagi ini Rania tidak bisa diandalkan untuk memasak kedua jenis makanan itu karena papa dan Reyhan tidak terbiasa memakannya.
Disaat seperti ini, Rania ingin sekali pintar memasak. Jika ia sudah sembuh nanti, ia akan mulai belajar memasak dan menunggangi kuda. Ya, dua hal itu akan ia lakukan. Mereka semua pun berangsur pergi dari sana menuju ke kesibukan masing-masing.
Belum sampai beberapa menit, Rania melihat kakaknya keluar dari kamar dengan celana cargo panjang dan jaket lorengnya. Rania pun lantas mendekat.
"Kakak mau kemana?" tanya Rania.
Reyhan menoleh. "Kakak mau bertemu teman lama."
"Ikut," rengeknya sambil menampilkan puppy eye-nya agar Reyhan mengizinkannya ikut meski dirinya masih menggunakan tongkat.
"No!" Dengan tegas Reyhan menolak. Ia lalu melanjutkan perkataannya, "lain kali kakak akan membawamu jalan-jalan."
"Janji?"
"Kakak janji. Baiklah, kakak pergi dulu."
Rania mengangguk. Reyhan pun berlalu dari hadapan Rania setelah mengusap kepalanya sayang. Ia bergegas menuju motor ninja-nya lalu mulai melajukannya menuju tempat pertemuannya dengan teman masa sma-nya, yakni Abraham atau orang biasa memanggilnya Abra. Setelah melajukan motornya cukup lama, akhirnya kendaraan beroda dua itu telah terparkir manis diparkiran cafe tempat pertemuannya dengan sahabatnya itu.
Reyhan lalu turun dari motornya. Saat ia hendak masuk kedalam cafe, secara kebetulan matanya menangkap dua orang wanita yang saling berhadapan. Satu wanita lainnya terus tertunduk. Sementara wanita lainnya sedang memarahinya. Tanpa disangka, wanita yang tengah marah-marah ke wanita didepannya langsung saja menyiram air dikepala wanita yang masih tertunduk itu.
Kejadian tersebut sangat cepat dan tak bisa Reyhan tebak sehingga ia tidak bisa menyelamatkan wanita yang kini menangis dalam diam. Reyhan melangkahkan kakinya secepat yang ia bisa. Sesampainya ia didekat kedua wanita itu, Reyhan mendorong pelan bahu wanita yang tidak merasa bersalah sama sekali itu.
__ADS_1
"Kau!" herdiknya tertahan. "Pergi dari sini sebelum saya melakukan hal lebih dari ini," ancam Reyhan.
Wanita itu seketika takut. Dia pun berlalu dari hadapan Reyhan dan wanita yang telah disiraminya itu. Seperginya wanita yang menurutnya gila itu, Reyhan berbalik melihat wanita yang satunya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
Seketika ia tersadar kalau ia telah salah bertanya. Reyhan pun lantas membuka jaket lorengnya dan memasangkan ke tubuh wanita yang basah itu. Wanita itu kaget saat ada sebuah benda asing melekat di tubuhnya. Perlahan wanita itu mendongkak kepalanya untuk melihat siapakah yang telah berbaik hati telah menolongnya saat ini.
Wanita itu terkejut melihatnya dan begitu pula Reyhan. Secara bersamaan, wanita itu memanggil Reyhan dengan sebutan 'paman' membuat Reyhan terkekeh.
"Ternyata kamu, Maira. Pakailah, agar kamu tidak kedinginan," ujar Reyhan seraya membenarkan letak jaketnya karena sempat miring akibat Maira yang terkejut tadi.
Wanita yang bernama Maira itu pun kian merapatkan jaket yang telah diberikan Reyhan padanya seraya berkata, "terima kasih."
Reyhan mengangguk. Ia pun menawarkan diri untuk mengantar Maira pulang. Namun dengan tenang Maira menolaknya.
"Tidak usah paman, saya naik angkot saja."
Lagi-lagi Reyhan terkekeh mendengar Maira memanggilnya dengan sebutan paman. Ya, mereka memang paman dan keponakan, tapi semua hubungan keluarga itu telah jauh sekali sehingga menurut Reyhan, Maira tidak pantas lagi memanggilnya dengan sebutan paman.
"Mengapa paman tertawa?" tanya Maira polos.
"Tak apa. Saya sedang ingin saja. Mari, saya antar kamu pulang. Tidak baik seorang wanita pulang naik angkot dengan wajah yang basah seperti ini.
Mau tidak mau, Maira pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Reyhan. Maira lalu mengikuti langkah kaki Reyhan yang panjang. Sesampainya didekat motor Reyhan, Reyhan menyuruh Maira untuk menaiki motornya.
"Saya tidak mempunyai helm," ujar Maira.
Reyhan pun masuk ke dalam cafe. Tidak akan kemudian, ia kembali dengan tangan kosong. Namun Maira heran, Reyhan tidak berjalan ke arahnya melainkan ke arah lain. Setelah mengetahui tindakan Reyhan, Maira kembali menundukkan wajahnya.
"Helm ini milik teman saya," ujar Reyhan seraya menunjukkan sebuah helm full face. "Kalau tidak keberatan, kamu pakai helm saya saja."
Maira mengangguk. Ia pun memakai helm full face milik Reyhan. Sedangkan Reyhan memakai helm milik temannya.
"Terima kasih sebelumnya," ujar Maira.
"Sama-sama. Naiklah, saya akan mengantarmu pulang."
Maira mengangguk. Ia pun naik ke motor ninja Reyhan. Maira yang tidak pernah berdua dengan lelaki dimotor pun sedikit canggung dengan kedekatan mereka. Namun Maira segera menepisnya. Biar bagaiamana pun mereka tetaplah paman dan keponakan.
Maira lalu sedikit memegang baju Reyhan agar ia tidak jatuh nantinya. Namun tanpa disangka, Reyhan melajukan motornya dengan kecepatan yang membuat Maira mau tidak mau merapatkan dirinya. Namun Maira tahu, ia tetap menjaga jarak dengan menempatkan tasnya diantara mereka sebelum ia naik tadi. Untung saja ia sudah memikirkannya sebelumnya. Jadi, kecemasannya sedikit berkurang karena hal itu.
***
Sore harinya, mereka keluarga kecil papa Rudy harus pergi ke bandara untuk mengantarkan Reyhan kembali ke kota M dalam mengambang tugasnya. Saat hampir berpisah, Papa memberikan anaknya pesan perpisahan.
"Hati-hati selama disana, son!" ujar papa seraya memeluk anak sulungnya yang mengikuti jejak profesinya sebagai seorang tentara.
__ADS_1
"Iya pa."
Mama pun maju untuk memeluk Reyhan juga serta memberinya nasehat agar selama berada dalam tugas, Reyhan selalu berhati-hati dalam keadaan apapun dan menjaga pola makannya meski sedang sibuk.
"Pasti, ma. Reyhan akan berhati-hati dan memperhatikan pola makan Reyhan. Reyhan pasti akan sangat merindukan masakan mama." Reyhan tersenyum sedih kala mengetahui ia akan jauh dari keluarganya lagi. Mama pun mengelus lembut bahu anaknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Reyhan janji akan kembali dengan selamat."
"Pasti sayang. Mama akan menunggu kedatanganmu."
Reyhan lalu beralih pada adik yang masih dianggapnya kecil itu. Reyhan pun kembali ke kebiasaan buruknya menurut Rania, yakni mengacak rambut Rania hingga berantakan.
"Pasti kakak akan merindukan hal ini juga," ujar Reyhan membuat Rania cemberut. Namun detik berikutnya, Rania sudah menyelusupkan kepalanya kedekapan Reyhan.
"Rania juga," ujarnya terisak pelan.
"Udah nangis-nya, ya."
Rania masih saja membenamkan kepalanya ke dada Reyhan.
"Sayang, kakak udah mau berangkat."
Rania perlahan memundurkan dirinya.
"Kakak hati-hati disana. Jaga kesehatan dan jangan lupa untuk selalu menghubungi Rania."
Reyhan mengangguk. "Pasti!" Reyhan pun beralih pada papa mamanya.
"Pa, ma, Reyhan pamit. Papa, mama dan adik jaga kesehatan selama Reyhan pergi."
"Pasti, son."
Sedangkan mama dan Rania hanya mampu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Reyhan pergi dulu."
Papa, mama dan Rania melambikan tangan saat Reyhan masuk ke tempat check in. Rania menghela nafas, pasti akan sangat lama lagi buat bertemu dengan kakak lelakinya itu.
"Jangan cemberut gitu, ah. Kan papa masih disini."
"Tapi pasti akan pergi juga, kan!" ujar Rania sedih.
Papa diam, cepat atau lambat pasti ucapan Rania akan terbukti benar. Tidak ingin membuat anaknya tambah bersedih, papa mengajak mama dan Rania pun makan di sebuah restoran dekat sini.
Saat memasuki pintu masuk restoran, tiba-tiba saja arah pandang Rania tidak sengaja mengarah pada sebuah meja makan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Rania dapat dengan jelas melihat siapa orang yang sedang berada disana. Seketika hatinya berdenyut nyeri. Mengapa disaat seperti ini, ia malah mendapati pemandangan yang tidak enak.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C ...