Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
100. Informasi Penting Dari Reyhan


__ADS_3

Siang ini, kantor tempat Rania bekerja menjadi gempar karena sebuah berita yang tiba-tiba dari bagian informasi. Para karyawan yang mendapat informasi dari divisi informasi pun berbondong-bondong membuka informasi tersebut. Betapa terkejutnya mereka setelah membaca semua informasinya.


Sangking terkejutnya, bahkan ada beberapa karyawan merasa menyesal atas perlakuan dan perkataan mereka pada Davina tempo hari dan hari-hari sebelumnya. Sungguh mereka sangat menyesal. Namun penyesalan selalu datang belakangan. Mereka sudah tidak dapat memperbaiki perkataan mereka yang dulu.


Mereka yang pernah mencela Davina seperti merasa tidak enak hati setelah mengetahui berita siang ini. Pasalnya, berita siang ini adalah berita yang menyangkut persoalan Davina tempo hari. Berita yang berisikan tentang Davina yang sengaja mendekati Khanif agar Khanif dapat masuk ke dalam kehidupannya.


Tanpa disangka lagi, saat mereka sibuk membaca berita itu, Davina dengan santai melewati mereka yang sibuk melihat ponsel masing-masing karena Davina belum tahu apa yang mereka baca. Barulah saat ia sampai dimeja kerjanya, ia membuka grup chat karyawan kantor dan mendapati berita tentangnya.


Baru saja Davina berdiri dari tempat duduknya, suara ketukan di pintu ruangannya mulai terdengar. Beberapa karyawan wanita yang sempat mengatainya dulu pun ragu-ragu membuka pintu ruangan Davina saat Davina mengatakan masuk pada mereka. Perlahan namun pasti, salah seorang wanita membuka pintu.


"Masuklah," seru Davina lagi.


Terlihatlah lima orang wanita mulai melangkahkan kakinya masuk sampai ke depan meja Davina dengan kepala tertunduk. Davina tahu penyebab mereka semua seperti ini. Namun Davina tetap berpura-pura tidak tahu saja dengan bertanya, "ada perlu apa kalian datang ke ruangan saya?"


Wanita berbaju kemeja kotak-kotak yang tadi membuka pintu pun mendonggakkan kepalanya melihat Davina. "Kami datang kemari berniat untuk meminta maaf sama mbak Davina, karena pernah berbuat salah pada mbak."


Davina tersenyum. "Tak apa. Saya sangat senang kalian sudah dapat mengatahui dimana letak kesalahan kalian. Tapi ..." Davina diam sejenak membuka keempat wanita lainnya mendonggakkan kepalanya ikut melihat Davina. "Tapi lain kali dan seterusnya, kalian tidak boleh bersikap seperti ini lagi pada orang lain."


Salah seorang diantaranya pun berkata, "iya mbak, kami minta maaf. Tidak sepatutnya kami membicarakan teman kantor kami sendiri."


"Aku sudah memaafkan kalian dan aku harap, kalian tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lain."


"Iya mbak, kami akan pastikan itu. Maaf jika baru-baru ini kami bersikap tidak baik pada mbak," ucap salah seorang lagi.


"Baiklah. Kalian bisa pergi sekarang."

__ADS_1


Kelima karyawan wanita itu pun menganggukan kepalanya lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan Davina dengan perasaan masing-masing yang telah lega karena telah meminta maaf pada Davina yang telah mereka bicarakan.


Sedang Davina, ia masih saja tersenyum saat mengetahui kalau masalahnya sudah selesai. Meski Khanif sedang tidak ada disini, ia tetap saja harus berterima kasih padanya saat pulang nanti.


***


"Bapak kenapa?" tanya Tama yang selalu bersama Khanif kemanapun Khanif pergi melihat-lihat bangunan vila.


"Tidak apa-apa," ujar Khanif sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia kemudian melanjutkan perkataannya, "saya ingin lihat-lihat dulu disekitar sini. Jadi kamu bisa melanjutkan tugasmu."


"Baik, pak."


Tama pun berlalu dari hadapan Khanif. Sedangkan Khanif kembali melanjutkan aksi melihat-lihat. Ia memang tidak salah memilih Tama sebagai kepala pengawas yang baru. Sejak ia menugaskan Tama, Khanif sudah mulai tahu menahu tentang Detail pembangunannya dan pemakaian uangnya untuk apa saja.


Bahkan para pekerjaannya sudah terlihat lebih bersemangat lagi dan tentunya para pengunjung yang belum waktunya untuk datang pun sudah tidak terlihat lagi. Ia sungguh beruntung memiliki orang kepercayaan seperti Tama yang tidak tamak akan uang dan kedudukan.


Meski janji temunya dengan Reyhan masih beberapa menit lagi, tapi Khanif tidak ingin membuat orang lain menunggunya. Ia pun berlalu keluar dari kamar setelah ia tadi menyambar kunci mobil diatas nakas dan jaket tebalnya digantungan belakang pintu.


Baru saja ia keluar dari tempatnya menginap, hawa dingin nan sejuk langsung saja menerpa kulit Khanif. Khanif lalu masukkan satu tangannya yang bebas ke dalam kantong jaketnya untuk membuat tangannya menghangat seperti tubuhnya yang sudah hangat karena jaketnya.


Ia berjalan tergesa ke dalam mobilnya.  Setelah memasukkan kunci dan menghidupkan mobilnya, ia melaju menuju tempat janjiannya dengan Reyhan.


Seperti dugaannya. Ia sampai lebih awal ditempat yang dituju. Saat keluar dari mobil, lagi-lagi Khanif memasukkan tangannya, tapi kini bukan satu lagi. Melainkan kedua-duanya.


Sesaat masuk kedalam tempat makan khusus sari laut itu, Khanif bisa merasakan sedikit kehangatan. Khanif lantas mengedarkan pandangannya mencari meja yang kosong agar nantinya ia bisa berbicara dengan leluasa dengan Reyhan.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, ia melihat Reyhan dan para anggotanya masuk ke dalam. Khanif pun mengangkat tangannya satu agar Reyhan cepat melihatnya. Tidak tunggu lama, Khanif melihat Reyhan mulai melangkahkan mendekatinya dengan para anggota lainnya mengambil tempat duduk ditempat lainnya. Jadi, Khanif dan Reyhan tetap berbicara berdua.


"Silahkan duduk," ujar Khanif yang dijawab anggukan kepala oleh Reyhan.


Entah mengapa Reyhan bisa sampai mengatahui keberadaannya di kota M saat ini. Padahal, ia tidak pernah memberitaukan kedatangannya padanya.


Khanif lupa. Pastinya Reyhan melacak keberadaannya dengan koneksi yang ia punya dan sepertinya Reyhan melakukan hal itu karena ada sesuatu yang penting yang ingin dikatakan padanya.


"Sepertinya yang akan kamu katakan sangatlah penting," ujar Khanif.


"Ini soal Alex."


"Bukannya masalahnya sudah selesai?" tanya Khanif heran. Pasalnya, ia sudah tahu kalau Alex sudah ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Namun, baru tadi Reyhan mengatakan kalau masalah Alex belum selesai.


"Sebelum memasukkan Alex ke dalam penjara, aku sempat membuat Alex mengaku. Ia mengakui kalau dirinya punya orang suruhan untuk melakukan kejahatan lainnya." Reyhan diam sejenak untuk melihat reaksi Khanif. Namun, sepertinya Khanif tidak mau untuk menyela. Reyhan pun kembali melanjutkan perkataannya, "saya mengajakmu bertemu untuk mengatakan hal ini agar setidaknya kamu sudah bisa berhati-hati juga."


"Ya. Terima kasih atas informasimu. Saya akan lebih berhati-hati lagi. Tentang Rania, saya jamin keselamatannya akan terjaga selama dikantor."


"Terima kasih."


"Baiklah, sepertinya pembicaraan tadi sangat penting. Jadi, biar saya mentraktirmu makan malam ini."


Reyhan tersenyum. Khanif pun mengangkat tangan kanannya untuk memanggil seorang pelayan agar mencatat pesanan mereka semua.


...To be continued ...

__ADS_1


...Jangan lupa, like, vote dan komen ya!...


...By Siska C...


__ADS_2