
Hai, aku datang lagi nih.
Selamat membaca ya 🤗
...***...
"Kamu masih mau melihat-lihat?"
Rania mengangguk mengiyakan. Saat Khanif hendak melangkahkan kakinya mengikuti kemauan Rania, Khanif jadi teringat suatu hal. Apa karena kesenangan ini sampai ia melupakan hal sepenting itu? Kalau ya, Khanif berani mengakui dan berani mengambil konsekuensinya.
Namun bagaimana bisa ia dapat melupakan hal sepenting itu? Apalagi ia biasa mengerjakannya sekali dalam seminggu. Sungguh, dengan mudah ia lupakan jika bersama Rania.
Khanif dengan penuh penyesalan karena tidak bisa lagi menemani Rania berjalan-jalan disekitar sini. Ia lantas  melihat Rania hendak mengatakan rasa penyesalannya itu.
"Rania," panggil Khanif membuat Rania melihat kearahanya.
"Iya pak."
"Saya minta maaf, sepertinya saya tidak bisa menemanimu berjalan-jalan lagi."
"Hah!"
"Saya baru ingat kalau hari ini adalah hari jumat," ujar Khanif disertai senyuman menawan. Rania bahkan dibuat salah tingkah karenanya.
"Ah, iya. Tidak apa, pak. Kalau gitu kita pulang saja. Gantungan kunci ini sudah cukup kok. Oh iya. Sebelum pulang, bagaimana kalau membeli beberapa kue dan minuman dulu buat makan-makan di penginapan?"
"Ide yang bagus. Ayo."
Rania mengangguk. Mereka pun menuju ke kios yang menjual makanan dan minuman yang menjual makanan khas asal daerah dingin itu.
Tidak sia-sia Rania mengajak Khanif membelinya karena sebelum Rania membelinya, penjual kue dan minuman itu membuat Rania dan Khanif mencobanya terlebih dahulu.
"Enak," ujar Rania.
"Bu, saya beli kuenya dua puluh ribu dan minumannya pun begitu," ujar Khanif.
Khanif pun mengeluarkan uangnya dari dompet dan membayarnya. Setelah membayar, mereka lalu kembali ke penginapan.
Baru saja mereka tiba, Khanif sudah berlalu masuk ke dalam kamar inapnya. Didalam kamar, Khanif mulai bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya tiap hari jumat. Sedangkan Rania bergegas mencari keberadaan Davina untuk sama-sama menikmati kue dan minuman khas daerah dingin ini.
Rania mengetuk pintu kamar Davina, tapi tidak ada jawaban. Rania lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Davina.
"Assalamualaikum, mbak. Mbak dimana?"
"Waalaikumsalam, qku di lantai atas. Mau kesini?"
Rania mengangguk cepat, namun secepat itu pula Rania menyadarinya. Untuk apa ia mengangguk kalau Davina tidak bisa melihatnya. Rania pun menggantinya dengan kata-kata.
"Iya, mbak. Aku akan kesana dengan beberapa teman ngobrol. Tunggu aku, jangan kemana-mana."
Rania memutuskan sambungan telponnya dan bergegas menuju lantai atas penginapan. Sesampainya disana, Rania menuju tempat Davina berada.
__ADS_1
"Bagaimana perjalananmu ke pasar?"
"Seru. Aku tidak menyangka akan sebanyak itu tempat foto disana. Kalau bisa dibilang disana bukalah pasar, tapi lebih mirip tempat wisata."
"Hem, aku sependapat denganmu. Awal aku kesana, aku mengira kalau tempat itu bukan pasar. Tapi setelah diberitahu oleh pak Khanif, aku jadi heran saat mengetahuinya."
"Oh iya. Ini cobalah, aku membelinya saat berada disana."
"Terima kasih."
Sepanjang hari itu, mereka menghabiskan dengan saling mengobrol. Barulah mereka kembali ke kamar masing-masing saat mereka ingin menunaikan salat dan beristirahat siang.
...***...
Keesokan harinya seperti rencana mereka sebelumya, mereka sudah bersiap dari pagi sekali. Mulai dari bukti yang telah disiapkan sampai menunggu kedatangan seorang penanggung jawab yang baru untuk vila Khanif.
Bukannya Khanif tidak ingin memecat penanggung jawab waktu hari ditemuinya itu, namun Khanif tidak ingin menambah musuh yang bisa kapan saja mencelakakan mereka karena ketidakpuasan akan pekerjaannya yang dihentikan begitu saja.
Dari pada mendapat masalah dan dendam, Khanif lebih memilih mencari seorang penanggung jawab lagi yang sudah sangat dipercayainya. Bukan pula Khanif takut padanya. Hanya saja, jika ada jalan keluar yang lebih nyaman menurutnya, ia akan lebih memilih jalan itu dari pada menyesal dikemudian hari.
Setelah menunggu beberapa menit, orang yang ditunggu pun menampakkan dirinya.
"Maaf saya begitu lambat, pak," ujar seorang lelaki bernama Tama.
"Tak apa. Kami juga baru saja selesai bersiap. Baiklah, kita berangkat sekarang."
Mereka semua mengangguk. Tama pun masuk kedalam mobilnya sendiri dan melaju mengikuti mobil Khanif dari belakang. Sesampainya mereka disana, lagi-lagi mereka ditahan oleh penanggung jawab gadungan itu. Tapi tidak lagi, Khanif tidak akan membayarnya melainkan dialah yang harus membayarnya dari sekarang.
Tama yang tidak terima akan perkataan itu langsung saja mengherdiknya, "beraninya kalian meminta uang pada milik vila ini!"
Penanggung jawab yang bernama Gino, lelaki paruh baya dengan perut buncitnya itu tertawa keras hingga membuat para pengunjung disana melihat mereka semua yang masih berada di gerbang masuk.
"Anak kecil seperti kalian tidak mudah membodohiku."
"Baiklah, kita lihat sampai kapan kepercayaan diri bapak bisa bertahan."
Tidak lama setelah perkataan Khanif yang terdengar santai tapi penuh misteri didalamnya itu, terlihatlah mobil suv masuk ke dalam vila Khanif. Mobil itu dengan santainya masuk tanpa dihalang-halangi seperti mobil Khanif saat ini karena Gino tahu pemilik mobil suv itu.
Tanpa menunggu ocehan Khanif selanjutnya, Gino pergi meninggalkan Khanif dan menuju ke mobil yang barusan masuk.
"Siapa orang yang kamu tahan digerbang?" tanya lelaki paruh baya yang tadi dengan santainya melajukan mobilnya masuk ke dalam vila.
"Oh itu, hanya sekumpulan anak ingusan yang mengatakan sebuah kebohongan, pak. Mereka kira saya percaya saat salah seorang dari mereka mengatakan pemilik vila ini. Mereka kira saya orang ...."
Belum juga Gino menyelesaikan kata-katanya, lelaki paruh baya itu sudah memotongnya, "apa yang barusan kamu bilang?"
"Anak ingusan yang mencoba membohongi saya, pak."
"Bukan, bukan itu. Kata-kata berikutnya!"
"Salah seorang dari mereka katakan pemilik vila ini."
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu terbelalak kaget mendengarnya. Secepat mungkin ia menghampiri mereka yang masih tertahan di pintu gerbang. Namun sebelum itu, Lelaki paruh baya yang tidak lain adalah Gunawan, paman Khanif, mengherdik Gino.
"Orang bodoh! Percuma kamu saya percayakan kalau tidak bisa membedakan yang mana pemilik yang mana bukan," umpatnya. "Masalah ini belum selesai. Saya akan membuat perhitungan denganmu!" lanjutnya dengan nada mengancam dan jari telunjuk yang tertujuk tepat didepan wajah Gino yang ketakutan.
Semakin Gunawan mendekat kearah Khanif, semakin Gunawan mencari alasan yang masuk akal. Namun, sayangnya seberapa banyak pun alasan yang telah dipersiapkan pamannya, Khanif tidak akan mempercayainya lagi.
"Oh Khanif, kenapa kamu baru tiba," ujar Gunawan basa-basi setelah sampai didekat mereka. "Mari masuk, ayo ... Ayo...," lanjutnya.
Khanif berjalan bersama Pamannya sedangkan Rania, Davina dan Tama masuk kembali kedalam mobil untuk memarkirkannya didalam.
"Maaf, sepertinya dia tidak tahu kalau kamu adalah pemilik vila ini. Padahal sebelumnya paman sudah memberitahukan kalau kamu akan datang. Dia sungguh pelupa."
"Mungkin kerjanya bagus sehingga paman masih memberinya kepercayaan meski ingatannya tidak baik," ujar Khanif memujinya atau malah sebaliknya. Gunawan bisa memilih salah satunya.
"Jangan memuji saya berlebihan."
"Kalau paman menganggapnya sebagai pujian, maka anggap seperti itu saja."
Gunawan diam. Ia tau maksud dari perkataan Khanif padanya. Gunawan pun buru-buru mengubah topik pembicaraan.
"Lihatlah, tidak lama lagi vila ini akan selesai dibangun."
Khanif menoleh, lalu kembali lagi melihat jalanan didepannya seraya berkata, "jika paman lupa, maka saya akan mengingatkannya."
"Lupa? Lupa apa?"
"Sepertinya paman benar-benar lupa. Baiklah, sebagai keponakan yang berbakti kepada pamannya, saya akan memberitahukan paman." Khanif diam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya lagi. "Seharusnya pembangunan vila disini sudah selesai sejak saya datang kesini dan seharusnya tinggal menunggu peresmian saja."
Gunawan gelagapan. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Rania yang sudah ada dibelakang Khanif bersama Davina dan Tama sangat terkejut mengetahui kepribadian Khanif yang saat ini tengah dimainkannya, yakni seolah memuji tapi nyatanya malah sebaliknya. Rania benar-benar semakin kagum dengan Khanif. Ia tidak menyangka Khanif akan memilih kata-kata terbaik dari yang terbaik.
Melihat Gunawan, sepertinya dia tidak mempunyai kata-kata yang ingin dikatakan lagi, Davina pun menyarankan agar mereka duduk di kursi santai dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan lagi. Mereka semua menyetujui usul Davina dan berjalan menuju kursi santai terdekat.
Sesampainya ditempat duduk yang dituju, sepertinya Gunawan sudah mempunyai keberanian lagi. Keberaniannya bisa dilihat dengan cara saat Gunawan memulai percakapan lagi.
"Oh iya, ngomong-ngomong mereka berdua siapa? Kenapa paman baru melihatnya!"
"Wanita disamping Davina itu adalah calon kandidat sekretaris Khanif, paman. Sedangkan disampingnya lagi adalah Tama."
Rania dan Tama pun bergantian memperkenalkan diri pada Gunawan. Namun Tama belum memberitaukan apa urusan ia hingga datang ke sini karena ia tahu, pasti cepat atau lambat, Khanif akan memberitahu pamannya juga.
"Kalian anak muda yang pantas membantu Khanif memajukan perusahaan."
"Perkataan paman benar sekali. Jadi, untuk itu saya menunjuk Tama sebagai penanggung jawab utama disini."
"Apa!" seru Gunawan tanpa sadar.
...To be continued ...
Nah kan, paman Gunawan terkejut juga.
Semoga yang like/vote/komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...