Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 157. Kecolongan Lagi


__ADS_3

Sore harinya, lomba mencari bendera kecil yang telah di sembunyikan di ranting pohon yang berbeda-beda pun akan segera di mulai.


Para anggota divisi yang telah berada pada kelompoknya masing-masing pun telah bersiap dari tadi.


Terlihat dari mereka yang telah berganti baju dengan pakaian training sehingga bisa membuat mereka lebih leluasa bergerak untuk mencapai bendera yang sengaja di simpan secara acak di pohon yang berbeda.


Tidak ketinggalan pula sepatu kets dan perlengkapan lainnya pun telah mereka siapkan untuk perlombaan sore ini.


Setelah mereka semua diberi peta penyebaran, mereka semua pun mulai berpencar satu sama lain mengikuti kelompok masing-masing.


David yang menjadi ketua dari kelompok ke dua pun memberikan arah pada Rania dan Dian untuk berbelok ke arah kanan sesuai dengan peta yang telah dilihatnya saat ini.


"Kita udah lama berjalan, tapi baru satu bendera kecil yang kita dapatkan," ujar Dian yang mulai merasa lelah seraya menunjukkan bendera kecil berwarna merah yang baru mereka dapatkan.


"Kita kan baru berjalan beberapa menit, Di. Masa kamu udah capek gitu," ujar Rania.


"Lah, kamu bagus. Langsing, ngga banyak lemak kayak aku, jadi kamu pasti merasa ringan saat berjalan," ujar Dian membuat Rania jadi terkekeh pelan.


"Lemak apanya? Malahan kamu bisa di katakan lebih langsing dari aku. Jadi kamu tuh yang seharusnya ngga lelah."


"Jujur Ra ... aku udah capek banget nih."


Merasa kalau Dian dan Rania berada jauh dibelakangnya, membuat David mau tidak mau menolehkan seluruh tubuhnya.


Ia lantas menggelengkan kepalanya pelan sesaat ia melihat mereka ternyata jauh darinya. Bahkan mereka kini telah bersandar di batang pohon yang ada didekat mereka.


"Kalian cepatlah jalan. Biar kita bisa menjadi juara dan cepat menyelesaikan perlombaan ini," ujar David memberikan mereka semangat.


Namun bagaimana pun itu, tidak bisa membuat Dian bergerak sedikit pun kecuali Rania yang sudah mulai berdiri kembali.


"Aku janji, kalau kita berhasil menyelesaikan perlombaan ini, aku akan mentraktir kalian makan siang nanti."


Mendengarnya, membuat Dian kembali menjadi antusias.


"Baiklah. Aku mau seminggu berturut-turun makan siang kamu yang traktir."


"Aku setuju," ujar David.


"Eh, kalian ajak deh. Aku ngga ikut."


"Yah, Ra. Lumayan tau dapat gratisan makan siang."


"Udah ngga papa."


"Baiklah. Kalau gitu, biar aku aja yang dapat traktiran David."


"Bisa kita jalan lagi kalau begitu?" ujar David.

__ADS_1


"Hem. Bisa. Ayo, aku sudah tidak sabar menyelesaikan perlombaan ini dan menjadi yang pertama dan terbanyak dalam mendapatkan bendera untuk memenangkan perlombaan ini," katanya dengan semangat yang mengebu-ngebu.


Dian pun kembali melangkahkan kakinya menuju David yang tersenyum di depannya.


Mereka lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari bendera kecil berwarna merah. Bendera kecil khusus kelompok mereka.


Setelah lama berjalan dan mencari bendera kecil di sekitaran pohon yang mereka lewati, mereka tidak akan lama lagi menyelesaikan perlombaan ini dan bisa menjadi kelompok pemenang dari perlombaan ini.


Lihat saja, tas kecil yang Dian pegang hampir terisi penuh dengan bendera yang telah mereka dapatkan disepanjang jalan. Bahkan tinggal berjalan sedikit lagi, mereka akan sampai ditempat berkumpul yang telah ditetapkan oleh panitia lomba.


Namun semua itu menjadi jauh bagi Rania saat David dengan sengaja berjalan lama dengan Dian dibelakangnya.


"Kenapa kalian lama sekali jalannya. Kita hampir jadi juara loh!" ujar Rania saat mereka tidak juga menyusulnya segera.


"Ra, kamu lihat. Pacarku ini hampir pingsan dibuatnya. Jadi, aku akan menemaninya berjalan lambat," ujar David.


"David benar, Ra."


"Ya, ya, baiklah. Dari pada aku jadi obat nyamuk diantar kalian," ujar Rania membuat Dian terkekeh pelan.


"Kalau kamu mau, kamu bisa jalan lebih dahulu. Yang ku lihat di peta, kita tidak lama lagi akan sampai. Kamu tinggal jalan lurus kedepan, lalu setelah mendapat pertigaan jalan, kamu belok kiri, lalu terus berjalan hingga kamu menemukan halaman luas vila. Disekitar situ, ada tempat finis perlombaan ini."


"Baiklah. Kalau begitu aku jalan lebih dahulu. Kalian harus cepat menyusul."


"Ok, ok. Kamu semangat!" ujar Dian seraya mengangkat tangannya, lalu mengepalnya untuk memberikan Rania semangat.


***


Sementara itu, terlihat Khanif yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke lokasi lokakarya.


Awalnya ia berniat untuk berangkat keesokan harinya, namun saat pertemuan bisnisnya yang berlangsung cepat, ia pun merubah niatnya itu untuk berangkat ke kota B hari ini juga.


Setelah menyiapkan semua keperluannya selama disana dan telah meminta izin pada mama dan papa untuk pergi ke kota B, Khanif pun mulai melajukan mobilnya pergi ke kota B.


Dengan kecepatan sedang, Khanif melajukan mobilnya begitu santai. Namun semua itu tidak bertahan lama saat di pertengahan jalan ia mendapat telpon dari Reyhan.


Khanif lalu memasang handsfree di telinganya, lalu menerima panggilan masuk dari Reyhan.


"Reyhan. Iya, ada apa?"


"Apa Rania sedang bersama kamu saat ini?" tanya Reyhan terdengar aneh di telinga Khanif.


"Tidak."


"Aku sudah meneleponnya berulang kali, tapi ponselnya tidak pernah diangkatnya. Lokasinya juga tidak terlihat lagi."


"Mungkin Rania sedang sibuk menyelesaikan perlombaan mereka, Rey."

__ADS_1


"Lomba?" beo Reyhan.


"Iya. Rania pasti sudah cerita sama kamu kalau dia dan karyawan divisi keuangan lainnya, sedang berada di kota B dalam rangka mengadakan lokakarya bulanan."


"Ya, aku tau."


"Mungkin karena lomba itu Rania tidak mengangkat teleponmu."


"Tidak. Rania tidak pernah seperti itu. Meski sibuk, adikku pasti akan meluangkan waktunya walau sedetik dan lokasinya juga pasti bisa aku lacak."


Khanif yang mulai merasa tidak enak dengan perkataan Reyhan barusan pun lantas bertanya, "ada apa? Kenapa suara kamu terdengar khawatir?"


"Tak apa. Kamu kirimkan saja lokasi tepatnya dimana lokakarya itu diadakan," ujar Reyhan tetap tenang meski hatinya kini sudah tidak karuan.


"Baiklah."


Khanif pun menghentikan laju mobilnya, lalu mengambil ponselnya di dasboard mobil untuk mengirimkan lokasi tempat lokakarya diadakan.


"Terima kasih," ujar Reyhan setelah pesan Khanif telah masuk di ponselnya.


Saat Reyhan hendak memutuskan sambungan teleponnya, Khanif secepat mungkin berkata, "tunggu!"


"Hem, iya?"


"Kenapa kamu meminta lokasi Rania?"


"Aku hanya ingin bertemu dengan adikku saja."


"Bukannya saat ini kamu sedang berada di rumahmu? Kamu pasti telah bertemu dengan Rania sebelumnya," ujar Khanif. Ia kemudian menambahkan dengan nada yang penuh selidik. "Ada apa sebenarnya dengan Rania?"


Reyhan menghela napas panjang. Ia kemudian mulai mengatakan penyebab ia meminta lokasi Rania padanya.


"Kamu masih ingat Alex?"


"Hem. Tentu saja, kenapa dengannya?"


"Alex adalah kakak dari David."


"Apa?" pekik Khanif. "Tidak mungkin, Reyhan. Aku lah yang menerima David menjadi karyawan di perusahaan dan sebelum itu, pastinya profilnya sudah lebih dahulu ku ketahui sebelum aku menerimanya," jelas Khanif tanpa keraguan karena ia sudah membaca keseluruhan profil David sebelum ia menerima David sebagai karyawannya.


"Aku tau, tapi dia telah memalsukan identitasnya dengan sangat baik."


Khanif syok. Sekali lagi ia kecolongan karena Alex.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2