
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya seseorang disamping kanan Khanif.
Khanif tersentak kaget. Ia lalu menoleh pada orang yang telah menegurnya. Orang itu menaikkan salah satu alisnya meminta jawaban Khanif yang juga belum ada.
"Kenapa diam?"
"Oh, saya ... saya ...."
"Kamu kenapa?" Orang tadi pun mengikuti arah pandangan Khanif. Melihatnya, dia ikut tersenyum.
"Anak saya seperti anak kecil, bukan?"
Sekali lagi Khanif tergagap. Ia tidak menyangka Papa Rudy akan mengatakan hal itu padanya. Ia mengira akan mendapatkan hal sebaliknya karena telah memandangi Rania.
"Dia terlalu keras kepala jika disuruh untuk beristirahat. Jadi, saya membiarkannya melakukan apapun yang diinginkannya." Papa Rudy lalu beralih pada Khanif. "Oh iya, kita masuk ke rumah dulu, biar enak bicaranya. Lagi pula ada yang ingin om tanyakan padamu," ajak Papa Rudy.
Khanif mengangguk. Ia pun mengikuti langkah kaki Papa Rudy. Saat mereka tinggal sedikit lagi sampai dipintu rumah, Papa Rudy menghentikan langkah kakinya tepat didepan Rania.
"Udah dulu diberi makan ikan-ikannya. Lihat siapa yang datang berkunjung."
Rania melihat Khanif. Ia pun bersikap biasa saja dan kembali memberi makan ikan-ikan peliharaannya.
"Ntar Rania nyusul pa. Nanggung ini. Sisa sedikit lagi."
Papa Rudy menggelengkan kepalanya. Melihat Rania yang telah menekuni hobinya lagi.
"Mari masuk," ajak Papa Rudy. Khanif mengangguk, ia pun mengikuti Papa Rudy masuk ke dalam rumah.
Baru saja Khanif dipersilakan duduk, Rania terlihat masuk ke dalam rumah dengan bantuan kruk yang tidak pernah lepas dari tangannya.
"Pagi, pak."
"Pagi. Gimana keadaanmu?"
"Mulai membaik. Mungkin besok sudah bisa masuk kantor."
"Masuk kantor apaan. Tidak boleh, sampai kakimu sembuh," terang papa.
__ADS_1
Rania lalu menoleh pada papa. Ia pun berjalan pelan menghampirinya.
"Pa, jangan kayak kak Reyhan dong. Masa Rania harus tinggal dirumah terus. Rania kan punya kewajiban juga," bujuk Rania.
"Papa punya kewajiban yaitu tidak bisa membuat dirimu bandel."
Rania terkekeh.
"Kamu masih memberi izinkan pada putri saya?"
"Tentu saja pak. Dia bisa datang setelah kakinya sembuh."
Rania menatap Khanif tidak percaya. Bagaimana bisa dia mendukung ucapan papanya. Dia seperti tidak takut kalau perusahaannya akan rugi karena memberi gaji buta pada karyawannya.
Tentu saja Rania bisa beranggapan begitu. Karena setahu Rania, izin sakit ringan yang diberikan oleh perusahaan Khanif hanya selama tiga hari saja tidak lebih. Namun beberapa detik setelahnya, Rania makin tidak percaya akan apa yang dikatakan selanjutnya oleh papanya.
"Panggil saja, om. Jangan sungkan."
Rania menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka papa akan membuat Khanif memanggilnya om. Apa hubungannya dengan Khanif sampai memanggil papanya dengan panggilan om. Keluarga jauh saja tidak!
Tidak lama kemudian, Papa Rudy teringat akan ajaknnya pada Khanif ke ruangan tamu ini.
Khanif mengingatnya dengan jelas. "Jaga anak saya baik-baik, jika saat pulang nanti, saya mendapati ada satu luka saja di tubuhnya, saya tidak akan segan-segan berurusan denganmu."
"Iya om, Khanif ingat. Ini sebab Khanif datang karena ingin menceritakannya langsung pada om."
Papa tersenyum. Ia pun menunggu Khanif berbicara.
"Saya secara khusus datang kesini untuk meminta maaf pada, om. Karena sudah tidak menepati janji Khanif pada om."
Rania memberi kode pada Khanif agar tidak memberitahu kejadian sebenarnya pada papa. Namun, Khanif tidak memperdulikan kode Rania karena ia sudah bertekad akan berkata jujur.
"Sebab Rania menjadi seperti ini karena saya tidak becus dalam menjaganya."
"Maksudnya?" tanya Papa Rudy memancing Khanif untuk berkata banyak.
Khanif pun mulai menceritakan saat ia tidak becus menjaga Rania hingga Rania hilang dari pandangannya dan terjatuh dari kuda. Ia juga menceritakan Rania yang diculik oleh sekelompok orang.
__ADS_1
Rania yang mendengarnya pun merasa cemas akan reaksi papa nanti. Ia tidak sanggup mendengar suara terkejut papa kala menanggapi perkataan Khanif.
Namun anehnya, saat Khanif telah selesai menjelaskan, Papa tidak menunjukan gejala-gejala akan marah besar karena telah mengetahui cerita yang baru didengarnya ini.
Tentu saja hal itu membuat Rania heran dan bertambah heran saat sedetik berikutnya, Papa malah tersenyum merekah Khanif. Ia menepuk pahanya bangga seraya mengatakan, "kamu memang pemuda yang bertanggung jawab. Tidak salah saya mempercayakan anak saya pada lelaki sepertimu."
Rania mendekat ke papanya. "Papa ngga marah karena Rania tidak memberitahu kejadian sebenarnya pada papa?"
"Untuk apa papa marah sama pemuda ini. Ia telah berkata jujur. Kalau sama kamu dan kakakmu, Papa akan memberi perhitungan."
"Papa ...." Rania memulai aksi memelasnya lagi meski itu didepan Khanif dan ada kemungkinan Khanif akan mengatakan kalau dirinya manja. Biarlah Rania tidak peduli. Toh, ia bermanja pada papanya sendiri.
"Baiklah, om pergi dulu. Sepertinya ada hal yang ingin kalian bicarakan."
Khanif mengangguk, Rania malah melotot pada papanya. Bagaimana bisa papa se-santai ini kala berhadapan dengan Khanif. Teman-teman yang lainnya pun ditanyai habis-habisan oleh papa, bahkan pada teman perempuannya. Seperti bertanya tentang mereka tinggal dimana, sama siapa, dan lain sebagainya.
Bukannya papa adalah orang yang ingin tahu semua informasi pribadi dari teman-teman Rania. Hanya saja, hal ini papa lakukan demi kebaikan Rania sendiri. Perbedaan sikap itulah yang diherankan oleh Rania. Papa bisa begitu saja melewatkan aksi mengorek informasi yang biasa dilakukannya hanya karena seorang lelaki bernama Khanif.
"Memangnya apa nilai plus Khanif dimata papa? Sehingga papa bersikap biasa saja pada khanif?" tanya Rania dalam hati seraya terus mencari kelebihan Khanif.
Setelah mencari tidak ada yang ia dapatkan, Rania kembali berpikir dan kali ini ia mendapatkannya yakni, ia berpikir kalau khanif mendapatkan nilai plus dari papanya karena Khanif telah mengizinkan dirinya untuk tidak bekerja sampai kakinya benar-benar sembuh total. Memikirkannya, opsi ini cukup bisa mempengaruhi pandangan papa. Apalagi jika hal tersebut menyangkut kesehatan Rania.
Rania sudah menduganya. Namun meski sudah menduganya, ia tetap saja salah karena bukan hal itu yang membuat papa memberikan nilai plus di diri Khanif, melainkan karena Khanif telah berkata jujur padanya.
Papa Rudy sebenarnya telah mengetahui kejadian ini oleh bawahannya yang ada di kota M. Bawahannya yang juga berprofesi sebagai seorang tentara, memberitahunya hal yang sangat penting ini.
Bagaimana tidak, kalau dirinyalah komandan angkatan darat yang mempunyai tanggung jawab disana. Jadi meski Reyhan maupun Rania menyembunyikan keadaan sebenarnya agar ia tidak cemas, cepat atau lambat papa pasti akan mengetahuinya juga. Sehingga itulah yang menjadi nilai plus dimata papa Rudy karena Khanif berbicara jujur padanya.
Satu hal yang pasti. Papa menyukai orang-orang yang berkata jujur dan salah satunya adalah Khanif. Itulah sebabnya papa Rudy meminta Khanif untuk memanggilnya om.
Rania melihat Khanif, ia melihatnya dengan tatapan menyelidik, apa Khanif mempunyai motif lain selain memberitaukan semuanya pada papanya? Tentu saja Rania harus menanyakannya pada Khanif.
"Bapak punya maksud lain datang kesini?"
...To be continued...
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...