Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 132. Absurd


__ADS_3

Rania baru saja hendak duduk di kursi kerjanya saat Davina memanggilnya lewat interkom kantor. Ia pun hanya menaruh tasnya dan bergegas ke ruangan Davina.


Sesampainya Rania di depan ruangan Davina, Rania mengetuk pintu sebentar lalu kemudian memutar knop pintu dan melenggang masuk ke dalam ruangan Davina. Didalam ruangan Davina sudah ada Lisa dan Farah, dua orang wanita yang masuk ke dalam calon sekretaris Khanif.


Lisa dan Farah sontak menoleh ke belakang saat mendengar Rania mengatakan, "maaf, saya terlambat."


"Tak apa. Mereka juga baru datang. Sini duduk," ajak Davina.


Sebelum Lisa memalingkan kepalanya kembali, ia mencebik tidak suka akan kedatangan Rania. Awalnya ia berharap agar Rania agak telat masuk kantor hari ini, jadi otomatis dengan begitu, Rania juga akan telat datang ke ruangan Davina. Tapi, sepertinya keberuntungan masih memihak pada Rania. Lihat sekarang, Rania sudah duduk manis diantara mereka dengan senyuman di wajah.


"Maaf memanggil kalian pagi-pagi ke sini. Pasti kalian punya banyak kerjaan, apalagi Farah yang telah meninggalkan kerjaannya selama seminggu belakangan ini."


"Anda tenang saja, saya ngga masalah kok. Malah dengan begitu, saya dapat pengalaman baru," ujar Farah.


"Ya, kamu benar," timpal Davina. "Baiklah, karena semua sudah ada disini, saya hanya ingin mengatakan kalau kalian akan berangkat ke kota M pada hari rabu pagi. Kita akan pergi bersama nanti. Jadi, selama dua hari kedepan, saya harap kalian jaga kesehatan kalian dan siapkan perlengkapan kalian. Apalagi pakaian-pakaian hangat, kalian jangan sampai lupa membawanya,"


"Iya, aku denger disana dingin sekali," timpal Lisa.


"Ya. Maka dari itu, hal yang paling awal kalian masukkan ke dalam koper adalah pakaian hangat," ujar Davina sambil melihat Lisa. "Selain itu, kita berada disana selama beberapa hari. Kalian ingatkan kalau pemilihan sekretaris diantara kalian akan diadakan disana."


"Iya, mbak," jawab Rania.


"Tentu," jawab Farah dan Lisa hampir bersamaan dengan Rania.


"Maka dari itu, kita akan tinggal disana sampai peresmian vila dan pemilihan sekretaris selesai. Oh, iya. Terkait ini, pak Khanif telah mempercayakan saya sebuah surat yang berisi nama sekretarisnya kelak. Untuk itu, desas-desus apapun yang kalian dengar kemudian, kalian tidak perlu menanggapinya lagi," jelas Davina.


"Oh iya, mbak. Kita akan ketemu dimana nanti?"


"Saya hampir saja lupa! Kita akan bertemu di bandara saja."


"Iya, mbak."


"Kalian boleh kembali ke kerjaan, kalian. Kalau ada informasi terbaru dari pak Khanif, saya akan segera mengabari kalian."


"Iya," jawab mereka bertiga.


Setelahnya, mereka bertiga pun keluar dari ruangan Davina. Farah lebih dahulu keluar disusul dengan Lisa dan Rania. Saat mereka baru saja memasuki lift, Lisa mulai mengeluarkan perkataan dari isi hatinya.

__ADS_1


"Aku rasa, kelak aku yang akan menjadi sekretaris, pak Khanif. Kerjaanku baik dan hubungan sosialku sesama karyawan juga baik," katanya bangga.


"Hem, itu menurut kamu, belum tentu menurut orang lain begitu. Intinya, kamu jangan terlalu berharap," timpal Farah.


Baru saja Lisa ingin membalas perkataan Farah yang tidak enak terdengar di telinganya, Farah sudah lebih dahulu keluar dari lift karena ia telah sampai dilantai, dimana ruangannya berada.


"Huh, dasar! Emang kamu juga bisa menang dari aku? Baik aja ngga, sok-sokan mau jadi sekretaris pak Khanif!" gumam Lisa kesal.


Lisa terus saja menggerutu sepanjang waktu. Ia tidak terima akan perkataan Farah. Apa Farah kira, dia adalah calon sekretaris Khanif yang serba bisa?


Hello, Lisa katakan tidak. Lihat saja, belum juga jadi sekretaris Khanif, Farah sudah begitu sombong. Apalagi kalau sudah jadi - entahlah, mungkin sikap sombong Farah sudah sampai ditingkatan terakhir.


Berbeda dengan Lisa, Rania hanya diam saja sedari tadi. Ia hanya diam melihat angka yang tertera disamping pintu lift yang kian menurun.


Barulah saat lift sampai di lantai tempat ruangan kerja divisi keuangan berada, Rania baru bersuara.


"Lis, saya duluan ya," ujar Rania sebelum melangkahkan kakinya keluar dari lift.


"Hem," katanya malas.


Meski wajah Lisa terlihat masam, Rania tetap saja tersenyum sebelum berbalik menuju ruangan kerjanya.


Hari berlalu dengan cepat, tak terasa kalau hari ini adalah hari rabu. Hari dimana Rania dan teman kantor lainnya akan berangkat ke kota M. Seperti kata Davina yang mengharuskan mereka datang sebelum sejam dari penerbangan mereka, Rania pun meminta tolong pada papa untuk mengantarkannya ke bandara segera. Setelah papa memasukkan koper Rania di bagasi mobil, papa pun mengantar Rania ke bandara.


"Berapa lama disana?"


"Minggu udah pulang kok, pa."


"Papa sudah menghubungi kakakmu, kalau kamu mau kesana hari ini. Kalau ada waktu luang, kakakmu akan mengajakmu jalan-jalan."


"Loh, kok diberitahu si, pa! Rania kan mau beri kejutan sama kak Rey."


Papa tertawa. Ternyata anak perempuannya ini tidak mengetahui kalau dimana pun ia berada, Reyhan akan selalu mengetahui keberadaannya.


"Ya percuma saja diberitahu, sayang kalau kakakmu sudah tau keberadaanmu tanpa kamu beritau."


"Loh, kok bisa!" ujar Rania terkejut. "Atau jangan-jangan kak Rey sadap hp Rania, ya? Atau kak Rey punya mata-mata," ujar Rania mengada-ngada.

__ADS_1


"Tidak sayang. Kakakmu cuma menghubungkan gps kamu saja di ponselnya, tidak lebih. Papa harap kamu tidak salah paham sama kakak kamu. Kakakmu sengaja melakukannya untuk menjaga keamananmu."


Rania lalu teringat kejadian beberapa minggu yang lalu saat ia di sekap disebuah pondok kecil yang berada ditengah hutan oleh pengedar narkoba. Ia paham sekarang, hal ini pasti dilakukan Reyhan untuk melindunginya. Siapa yang tau kejadian yang dulu tidak akan terulang lagi nantinya. Apalagi sepertinya bandar narkoba itu memiliki koneksi yang luas. Lebih baik Rania berjaga-jaga. Dengan begitu, ia tidak akan membuat semua orang terdekatnya menjadi lebih khawatir.


"Iya, papa benar. Baiklah, Rania pura-pura saja tidak tau tentang gps itu."


"Itu baru putri, papa."


Rania tersenyum. Papa pun menambah laju kendaraannya menuju bandara. Di bandara itu sendiri, sudah ada Davina dan Lisa. Mereka berdua tengah menunggu kedatangan Rania dan Farah yang sampai saat ini belum juga ada kabarnya.


Lagi-lagi Lisa sudah kesal, katanya dalam hati, "kalau tau begini, aku bakalan datang paling akhir saja. Biar mereka merasakan ngga enaknya namanya menunggu."


"Mereka kapan datangnya, sih!" ujarnya yang tidak bisa ditahannya dalam hati lagi.


"Mereka pasti sudah ada dijalan. Tunggu saja sebentar lagi."


"Mau sampai kapan!"


"Nah, itu Rania datang," ujar Davina berjalan mendekati Rania.


"Maaf, mbak. Pasti mbak udah lama nunggunya."


"Ngga juga, Ra. Pesawanya masih lama kok berangkatnya."


"Oh, iya. Farah mana, mbak?"


"Dia mungkin tiba sebentar lagi."


Tidak dalam kedatangan Rania, Farah terlihat dengan dengan membawa sebuah koper berukuran besar. Sesampainya Farah didekat mereka semua, Davina pun mengusulkan untuk segera chek in agar mereka tidak perlu lagi membawa koper dan hanya menunggu informasi keberangkatan di ruang tunggu saja.


"Iya, mbak. Lagian kita sudah datang semua."


"Ayo!"


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2