Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 118. Saya Tidak Akan Memaksa


__ADS_3

"Hem. Dimata saya, kalian berdua adalah anak muda yang memiliki potensi besar. Sama-sama kreatif dan berenergik," kata kakek sambil secara bergantian melihat mereka berdua. "Namun meski begitu, saya hanya akan memilih salah satu diantara kalian. Jadi, saya memutuskan untuk memberikan kalian berdua kesempatan dalam menunjukkan kemampuan kalian lagi. Dengan kata lain, saya ingin kalian membuat proposal baru dan menunjukkannya kepada saya. Saya akan menunggu hasil dari kalian. Baiklah, selamat bekerja!" kata kakek sebelum meninggalkan mereka.


Seperginya kakek, tinggallah mereka berempat di dalam ruangan rapat.


"Presentasi Anda sangat baik tadi," ujar Khanif.


"Tentu saja. Dari awal saya sudah menebaknya. Hanya saja, saya tidak menyangka kalau Anda akan ikut berpartisipasi dalam hal ini. Apalagi dalam membawa rasa kekeluargaan," ujar Rian sambil melihat Rania.


Ya, Rian tentu tahu siapa Rania. Karena sebelum ia ingin bekerja sama dengan perusahaan teh hujo milik kakek, Rian sudah lebih dahulu mencari tahu selat belut kehidupan kakek. Untuk itulah, ia tidak ragu saat mengatakannya.


"Anda sepertinya telah salah paham. Wanita yang ada disamping saya ini adalah sekretaris saya."


"Anda jangan bergurau," sindir Rian. "Saya tahu betul kalau saat ini yang menjadi sekretaris Anda adalah Farah."


Khanif tersenyum saat mendengarnya.


Terkejut? Tentu saja Khanif tidak terkejut. Ia bahkan sudah menduga kalau hal ini pasti akan terjadi. Karena Khanif sudah tahu hubungan Farah dan Rian dari jauh-jauh hari. Sama seperti Rian mencari informasi tentang kakek, begitu pula dengan Khanif saat mencari tahu tentang Rian.


Sedang Rania, pada awalnya ia memang merasa pernah melihat Rian di suatu tempat. Namun ia lupa dan merasa ragu kalau ia pernah melihatnya. Tapi saat Khanif mengatakan nama Farah barusan, ia kini tahu dimana ia pernah bertemu dengannya dan ia juga tahu kalau lelaki yang bernama Rian ini adalah lelaki yang ambisus. Rania dapat menduganya saat ia tidak sengaja mendengar percakapan Rian dan Farah sewaktu di dirinya berada di parkiran bioskop bersama Zaky.


"Saat ini Farah sedang sakit, jadi saya memberinya izin untuk beristirahat sementara waktu," jelas Khanif.


Ya, apa yang dikatakan oleh Khanif benar, saat ini Farah tengah sakit, jadi dirinya memberikan izin padanya. Untuk itulah ia memilih Rania untuk menemaninya alih-alih meminta Lisa menemaninya.


 


"Baiklah, kami pergi dulu. Sampai jumpa dipertemuan berikutnya."


Khanif pun lebih dahulu keluar dari ruangan rapat bersama Rania. Rian yang masih berada disana pun terlihat marah. Ia bahkan mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Lalu sedetik kemudian, ia menggebrak meja hingga menimbulkan suara yang keras. Sekretaris Rian pun berusaha menenangkannya.


"Kamu kembali lebih dahulu ke kantor!" ujar Rian sebelum meninggalkan sekertarisnya.


***


"Rania," panggil Khanif


Mendengar namanya dipanggil, Rania menolehkan wajahnya pada Khanif setelah tadi pandangannya terarah pada jalanan didepan mereka.


"Iya, pak," jawabnya.


"Jam hampir menujukkan waktu istirahat kantor. Bagaimana kalau kita singgah makan dulu."


"Emm, terserah bapak saja."


"Baiklah," ujar Khanif. "Apa ada tempat yang ingin kamu datangi?"


"Tidak ada. Bapak saja yang pilih tempatnya, saya mengikut saja."

__ADS_1


"Baiklah."


Khanif pun melajukan mobilnya menuju tempat yang ingin didatanginya bersama Rania. Sesampainya mereka disana, Khanif memberhentikan mobilnya tepat dipintu masuk restoran. Baru setelahnya, ia pun memberikan kunci mobilnya pada petugas valet yang ada disana.


"Ayo, masuk," ajak Khanif.


Rania mengangguk. Ia pun mengikuti langkah kaki Khanif masuk ke dalam restoran bergaya modern ini. Saat Khanif mendapatkan tempat duduk, tak lupa ia menarikkan kursi untuk Rania. Rania yang diperlakukan seperti itu pun hanya bisa terdiam malu-malu dengan tindakan tidak terduga oleh Khanif.


"Terima kasih," ujar Rania seraya mendudukkan dirinya dikursi.


"Sama-sama," balas Khanif dengan tersenyum. Khanif pun melambaikan tangannya pada salah seorang pelayan restoran.


Sesampainya pelayan restoran itu didekat mereka, pelayan itu memberikan mereka menu makananya.  "Silakan Anda lihat-lihat,"


"Beef steak black paper sauce. Minumannya jus jeruk saja," kata Khanif pada pelayan restoran. Setelah itu, Khanif pun beralih pada Rania untuk menanyakan pesanannya. "Kamu ingin pesan apa?"


"Saya, charsiu ayam nasi hainan. Kalau minumannya, sama saja dengan bapak."


"Baiklah," ujar Khanif menyetujui. Khanif pun kembali berbicara pada pelayan restoran itu. "Kami pesan itu saja."


"Baik, tuan," katanya seraya mencatat. "Oh iya, restoran kami tengah mengadakan sebuah event. Jika Anda memesan makanan penutup, maka restoran kami akan memberikan sebuah tiket nonton untuk kalian," info pelayan itu saat Khanif tidak memesan makanan penutup untuk mereka.


Khanif tersenyum, ia lalu melihat Rania sebelum kembali melihat pelayan itu dan bertanya, "emm, restoran kalian mengadakan event ini dalam rangka apa?"


"Kami mengadakannya dalam rangka ulang tahun ke 5 restoran kami, tuan."


"Baiklah, kami pesan Custard, Belgian waffle dan Tiramisu. Itu saja," ujar Khanif tanpa melihat buku menu lagi.


"Mohon tunggu pesanan Anda."


"Hem, terima kasih."


Seperginya pelayan restoran itu, Rania mendelik pada Khanif yang mengambil keputusan sendiri tanpa menunggu jawabannya.


"Kenapa?" tanya Khanif.


"Kenapa bapak memesan begitu banyak makanan?"


"Ya tidak apa-apa. Selama mendapat gratis juga tidak ada salahnya. Lagi pula saya juga ingin mencoba makanan yang ada disini," ujar Khanif seraya menyadarkan tubuhnya disandaran kursi.


"Lalu, bagaimana dengan tiket nontonnya?"


"Kita akan pergi nonton."


"Bapak kira saya mau?"


"Jika kamu tak mau, tak apa. Saya tidak bisa memaksa. Saya bisa meminta Davina menemani saya menonton."

__ADS_1


"Kalau Davina sibuk?"


"Kalau begitu, kamu saja yang ambil tiket itu. Siapa tahu, kamu mau pergi dengan orang lain."


Rania terdiam. Ia kini merasa egois mementingkan diri sendiri.


"Saya tidak bermaksud begitu," ujar Rania menjelaskan. "Baiklah, kita pergi nonton bersama."


Khanif tersenyum. Ia tidak menyangka kalau Rania mau mengubah keputusannya. Padahal, ia awalnya berniat kalau Rania tidak mau nonton bersamanya, Khanif akan memberikan saja kedua tiket itu pada Rania. Siapa tahu Rania ingin pergi menonton dengan orang yang di pilihnya sendiri.


"Baiklah, saya akan menjemputmu nanti," ujar Khanif kemudian.


Rania mengangguk sebagai jawaban.


Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba. Pelayan yang tadi telah mencatat pesanan mereka tadi, kini telah menyajikan pesanan mereka yang sudah terlihat menggoda selera dengan bau yang tak kalah harumnya.


"Selamat menikmati," ujar pelayan restor itu sebelum mengundurkan diri.


"Terima kasih," balas Khanif.


Setelah pelayan itu pergi, Khanif dan Rania pun menikmati makanan mereka. Mereka menikmati makanannya dengan tenang. Selama makan pun, diantara mereka tidak ada yang bercakap hingga makanan mereka tanda tak tersisa.


"Tunggulah disini," ujar Khanif seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Bapak mau membayarnya?" tanya Rania.


"Tidak."


"Lalu bapak mau kemana?"


"Saya mau bertemu manager restoran ini. Kamu mau ikut?"


Rania menggelengkan kepalanya cepat. Ia mengira Khanif akan pergi membayar makanan mereka. Pasalnya, seperti kebiasannya jika makan bersama orang lain, meski orang lain itu ingin membayarkan makanannya, Rania masih tidak terbiasa akan hal itu. Khanif pun meninggalkan Rania.


Pelayan yang tadi melayani Khanif dan Rania pun pergi menghampiri Khanif saat ia melihat Khanif baru saja beranjak dari tempat duduknya.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanyanya.


"Ya, saya mau bertemu manajer restoran ini."


Seketika wajah pelayan itu memucat. Pasalnya, ia takut kalau ada pelayanannya tidak disukai oleh khanif sehingga Khanif akan mengadukannya pada atasannya. Apalagi dirinya seorang karyawan baru disini.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2