
"Baiklah, karena sudah ada disini. Kenapa kita tidak melihat sesuatu yang bisa dibeli. Siapa tau ada sesuatu yang membuat kamu tertarik."
"Anda benar. Ayo, kita kesana. Mungkin saja rasanya tidak afdol kalau kita tidak berbelanja apapun disini."
Khanif dan Rania pun pergi berjalan-jalan ke dalam pasar yang terlihat seperti bukan pasar itu. Disana, mereka mulai melihat apa-apa saja yang mampu menarik perhatian mereka. Setelah berjalan dari kios ke kios, mata Rania berbinar, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Rania lantas berjalan mendekat.
"Berapa harganya ini bu?" tanya Rania pada wanita paruh baya yang menjual gantungan kunci bentuk gajah.
"Harganya lima puluh ribu, nak."
Mendengarnya, Khanif pun langsung membuka dompetnya, hendak memberikan uang pada ibu penjual itu. Namun saat Khanif sudah mengambil uangnya yang berwarna merah, Rania malah menahannya dengan memegang lengannya. Lalu Rania mengajak Khanif menjauh sebentar.
"Kenapa?"
"Bapak yang kenapa! Kenapa tidak meminta kurang dulu, baru membeli."
"Apa kamu tidak melihat penjualnya yang sudah tua, hingga kamu mau menawarnya lagi?"
Rania terdiam, ia lalu menoleh ke belakang melihat wanita paruh baya yang rambutnya sudah hampir memutih dengan melihatnya sambil tersenyum. Rania pun kembali lagi melihat Khanif.
"Bapak benar. Baiklah, tak perlu menawar lagi."
Mereka pun kembali menemui ibu penjual itu.
"Saya pilih ini saja, bu," ujar Rania sambil mengambil gantungan kunci berbentuk gajah itu.
Khanif lalu memberikan uangnya.
"Apa tidak ada uang pas, nak?" tanya ibu penjual itu. Pasalnya, uangnya tidak cukup jika harus mengembalikan uang kembalian Khanif.
Khanif lalu melihat isi dompetnya yang tidak memiliki uang yang pas untuk dibayarkan pada ibu penjual gantungan kunci itu.
"Saya ambil ini saja, jadi uangnya pas."
Ibu itu mengangguk. Khanif tersenyum, ia lalu mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk bebek lagi.
"Terima kasih nak."
Setelah mendapatkannya, mereka pun berjalan menjauh dan mencari lagi apa-apa yang bisa membuat mereka suka. Sambil melihat-lihat, Rania kembali mengajak Khanif berbincang.
"Emm pak," ucap Rania pelan.
__ADS_1
Khanif menoleh. "Ada apa?"
"Kalau boleh tahu, gantungan kunci yang satunya untuk Davina?"
Jujur saja, Rania begitu penasaran saat Khanif mulai mengatakan ingin membeli gantungan kunci lainnya. Ia penasaran pada siapa gantungan kunci itu akan berlabuh. Ia menduga Khanif akan memberikan gantungan kunci itu pada Davina.
Namun, nyatanya dugaannya salah saat Khanif mengatakan, "oh ini." Sambil melihat gantungan kunci berbentuk bebek itu. Khanif tersenyum. "Saya membelikannya bukan untuk Davina."
Rania mengangguk. Sepertinya Khanif ingin memberikan gantungan kunci itu pada orang lain. Tapi, pada siapa? Rania bertanya-tanya dalam hati. Namun tak urung membuatnya kambali bertanya pada Khanif. Karena bisa saja Khanif menuduhnya cemburu lagi.
Meski dalam ucapan ia mengatakan ia tidak cemburu, tapi ia tidak tahu dalam hatinya berkata cemburu atau tidak karena ia sendiri tidak memahaminya juga.
"Rania," panggil Khanif. Rania menoleh padanya.
"Apa kamu lapar?"
"Sedikit."
"Dingin-dingin begini enaknya makan bakso. Kebetulan disana ada yang menjualnya," tunjuk Khanif pada warung bakso yang berada diujung pasar. Khanif menoleh pada Rania, lalu melanjutkan perkataannya,"ayo mampir dulu. Sebelum berkeliling lagi."
"Tapi Davina? Dia ...."
"Tak apa, dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya saat lapar. Ayo!"
"Kita duduk disana saja," tunjuk Khanif pada sudut ruangan yang masih kosong tanpa pembeli.
Rania mengangguk. Ia pun mengikuti langkah kaki Khanif. Belum juga Rania sampai ditempat duduk yang ditunjuk Khanif tadi, Rania malah menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa?" tanya Khanif. Khanif melihat arah pandangan Rania dan mengetahui maksud kediaman Rania.
"Tenang saja. Saya akan duduk disamping lelaki itu. Biar kamu duduk di ujung saja dan makan dengan tenang."
Rania tersenyum. Setelah Khanif mengatakannya, Rania pun kembali mengikuti Khanif. Tidak lama setelah mereka duduk, pelayan warung menghampiri mereka untuk mencatat pesanan.
"Dua mangkuk bakso super," kata Khanif pada pelayan warung itu.
Seperginya pelayan itu, Rania memanggil Khanif dengan suara pelannya, "pak!"
"Hem, kenapa?"
"Sepertinya saya tidak bisa menghabiskan makanan sebanyak itu," cicit Rania.
__ADS_1
"Tenang saja, pasti kamu akan mengatakan kalau kamu mau minta tambah lagi," ujar Khanif santai.
Rania melotot. Apa benar perkataan Khanif? "Baiklah, kita lihat saja sebentar," kata Rania dalam hati.
Dengan sabar mereka menunggu pesanan. Hingga terlihatlah pelayan yang tadi kembali menghampiri mereka dengan nampan berisi dua mangkuk bakso super.
"Terima kasih," ujar Khanif.
Pelayan itu mengangguk dan segera berlalu dari hadapan mereka. Rania dan Khanif pun mulai meracik bakso yang ada dihadapan mereka masing-masing. Rania memberikannya kecap manis, jeruk nipis dan saus cabai yang banyak hingga kuah baksonya berwarna merah.
Sedangkan Khanif, ia sedikit berbeda dengan Rania. Walau tetap memberikan kecap, jeruk nipis dan saus cabai, tapi saus cabai yang diberikan Khanif tidak terlalu banyak. Bahkan bisa dikatakan, pedasnya bukanlah apa-apa bagi orang pecinta pedas seperti Rania.
Ya, Khanif bukanlah orang yang menyukai makanan pedas. Untuk itulah, kuah bakso Khanif tidak se-merah kuah bakso Rania dan tidak se-pedas kuah bakso Rania juga.
Selesai dengan racikan sendiri, Khanif dan Rania pun mulai menyantap makanan mereka dengan nikmat sampai habis tak tersisa.
Bahkan sepertinya perkataan Khanif tadi pada Rania benar adanya, karena Rania sepertinya masih berniat ingin menambah makannya walau pun porsi makanan yang kecil. Namun, Rania begitu malu pada Khanif, jika harus menambah lagi. Jadi, Rania pun mengurungkan niatnya itu. Biarlah, makannya cukup sampai disini juga. Lain kali, jika ada waktu, pasti Rania akan mengunjungi warung bakso ini lagi.
Memikirkannya, membuat Rania mempunyai rencana kalau dirinya punya waktu luang nanti, Rania akan mengajak Reyhan kemari. Meski - mungkin Reyhan telah pernah datang kemarin. Tapi tak apa, Rania akan tetap mengajak Reyhan kemari. Sekaligus membuat kenangan diantara mereka berdua dengan berselfi ria seperti yang telah dilakukannya dengan Khanif tadi.
Teringat akan Khanif, Rania celigak-celiguk mencari keberadaan Khanif. Entah dimana sekarang Khanif berada. Rania pun beranjak dari sana mencari keberadaan Khanif yang hilang tiba-tiba saat ia baru saja menghabiskan makannya.
"Ternyata pak Khanif lagi terima telpon rupanya," ujar Rania setelah melihat Khanif tengah menelpon seseorang diluar warung bakso.
Sambil menunggu Khanif selesai menelepon seseorang, Rania pun pergi ke kasir untuk membayar biaya makanan mereka. Ya, inilah salah satu kebiasaan Rania. Ia tidak ingin dibayarkan oleh lelaki siapapun kecuali papa dan Reyhan.
Selesai membayar, Rania pergi menghampiri Khanif yang disaat yang tepat pula Khanif menyudahi telponannya.
"Tunggu sebentar, saya bayar dulu makan kita."
"Tidak usah pak, saya sudah membayarnya."
Khanif heran, sungguh ia baru pertama kali mendapatkan gadis seperti Rania. Tidak ingin membuat Rania kecewa, Khanif pun tidak mengomentari aksi Rania tadi.
"Kamu masih mau melihat-lihat?"
Rania mengangguk mengiyakan. Saat Khanif hendak melangkahkan kakinya mengikuti kemauan Rania, Khanif jadi teringat suatu hal. Apa karena kesenangan ini sampai ia melupakan hal sepenting itu?
...To be continued ...
Apa yang dilupakan oleh Khanif, ya?
__ADS_1
Semoga yang like/vote/komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲
...By Siska C...