Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 95. Kenapa Harus Cemburu?


__ADS_3

"Restu? Siapa yang diberikan restu?" tanya seseorang dibelakang mereka.


Rania menoleh, ia melihat David mendekat. Lalu kemudian, ia kembali menolehkan wajahnya kepada Dian dan memberikan kode mata pada Dian agar Dian tidak membicarakan perkataan yang ditanyakan oleh David barusan.


"Siapa yang diberikan restu?" ulangnya bertanya saat David telah sampai ditengah-tengah mereka.


"Kamu salah dengar kali, Dav. Aku bilang pak Restu. Itu, loh manajer bagian investasi."


David pun langsung ber-o ria. Ia kemudian pamit ke meja kerjanya sendiri tanpa menganggu percakapan kedua wanita itu lagi. Rania yang merasa kalau David sudah tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka, kian mendekat ke arah Dian.


"Hampir aja ketahuan," ujar Rania pelan.


"Iya, Ra. Kayaknya kita harus kerja lagi deh. Mungkin tadi itu adalah teguran buat kita karena asik bercerita disaat jam kerja begini," ujarnya terkikik geli diikuti oleh Rania.


"Baiklah, semangat kerja!"


Dian mengangguk. Rania pun pergi ke meja kerjanya sendiri dan memulai mengerjakan tugasnya lagi.


***


"Udah selesai?" tanya mama Adelin yang kembali mendatanginya karena hendak mengajak Rania pergi berbelanja sesuai perkataannya pagi tadi.


"Iya tan. Rania baru aja selesai," balas


Rania yang baru saja selesai menginput tugasnya saat mama Adelin kembali mendatanginya diruangan. Rania lalu membereskan kertas-kertas yang berserakan diatas mejanya.


"Bisa kita pergi sekarang?"


"Iya, tan."


Rania pun beranjak dari tempat duduknya. Saat ini, Rania tidak kaget lagi. Bahkan saat ini ia lebih terkesan malu karena hampir semua pasang mata yang ada di ruangan keuangan melihat dirinya yang dihampiri oleh mama Adelin. Wanita yang menjadi ibu dari atasan mereka.


Siapa yang tidak malu jika ibu utama dari perushaan ini menghampiri dirinya dan berbicara seakan mereka sudah mengenal cukup lama sebelumnya.


Ia juga merasakan takut. Ia takut kalau mereka akan beranggapan yang tidak-tidak padanya, seperti menganggap dirinya sengaja dekat-dekat dengan mama Adelin agar dapat mempunyai hubungan dengan Khanif. Hubungan yang lebih dari sekedar atasan dan bawahan.

__ADS_1


Sungguh Rania tidak ingin sampai hal itu terjadi padanya. Namun, sepertinya anggapan seperti itu sangat sulit untuk ia hilangkan saat ini. Sebab, seperti yang mereka lihat, mama Adelin merangkulnya seperti menganggap Rania sebagai putrinya sendiri.


Ah, Rania sebenarnya ingin hal itu menjadi kenyataan, tapi jika keadaan seperti ini, dilihat oleh banyak pasang mata sepanjang mereka jalan, Rania lebih baik memilih tidak saja untuk saat ini.


Bukan karena apanya! Cepat atau lambat, ia pasti akan menjadi bahan pembicaraan lagi. Jujur saja, Rania tidak ingin lagi menjadi topik terhangat dikantor ini. Apalagi ia juga tahu, ia tidak dapat menahan bibir ataupun jempol masing-masing orang untuk tidak menyebarkan berita tidak sedap tentangnya. Huft, Rania sampai bimbang dibuatnya.


Lamunan Rania sepanjang jalan terbuyarkan saat mereka sudah sampai didepan pintu masuk kantor. Rania dengan jelas melihat siapa lelaki yang baru saja menghentikan laju mobilnya tepat dihadapannya dengan mama Adelin.


Ya, dia adalah Khanif. Rania tidak menyangka kalau Khanif akan ikut dengan mereka berbelanja. Namun sepertinya anggapan Rania salah lagi saat Rania dengan jelas mendengar penjelasan antara anak dan ibu saat mereka sudah berada didalam mobil bersamanya.


"Loh, kok kamu yang nyetir? Pak dadang mana?" tanya mama Adelin saat Khanif sudah melajukan mobilnya menjauhi area kantor.


"Khanif punya tugas dadakan untuk pak dadang, makanya Khanif yang nyetir sekalian Khanif mau pulang juga."


"Kalau gitu sekalian aja luangkan waktumu sejenak untuk mama."


"Maaf, ma. Khanif harus mempersiapkan kebutuhan Khanif selama Khanif pergi."


"Mau pergi kemana lagi?"


Mama Adelin menghela nafas panjang. Ia seperti tidak ingin kalau Khanif sampai pergi meninggalkannya lagi. Meski bukan dalam artian selamanya, tapi sebagai orang tua, mama Adelin tidak ingin saja kalau anak sulungnya ini tidak ada didekatnya.


"Khanif cuma dua hari saja disana. Senin ini, Khanif udah balik, kok, ma," ujar Khanif menjelaskan.


"Harus! Kalau lebih dari itu, mama akan menjewer telingamu."


Khanif terkekeh. Ia tahu mama tidak benar-benar mengancamnya dengan perkataan seperti itu. Khanif pun kembali fokus menyetir mobil sampai di depan rumahnya.


Di sana, Davina sudah menunggu mereka. Setelah Khanif keluar, pak dadang menggantikan Khanif menyetir mobil dan mulai membawa ketiga wanita berbeda usia itu ke pusat perbelanjaan yang telah ditujunya.


Selama perjalanan, Rania tidak terlalu ikut dalam percakapan antara anak dan ibu angkat itu karena pikiran Rania saat ini sedang berada pada ucapan Khanif barusan. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, "apa Lisa akan ikut bersama pak Khanif ke kota M?"


Memikirkan kondisi itu membuat Rania seperti tidak terima saja. Ia tidak terima kalau Lisa ikut dengan Khanif ke kota M. Ia tidak terima kalau nantinya Lisa menerima perlakuan yang sama dengannya saat ia dan Khanif berada di kota M. Ia tidak terima kalau nanti Lisa diajak jalan-jalan oleh Khanif ketempat yang pernah mereka kunjungi dan lebih tidak terimanya lagi kalau Lisa mendengarkan suara lembut Khanif saat Khanif sedang melaksanakan sholat maupun sedang membaca Al-Qur'an.


Huft, ia seperti tidak terima semuanya. Tapi jika mengingat apa yang terlintas didalam hatinya barusan, ia terdengar seperti seorang wanita yang sedang cemburu pada pasangannya. Ah, kenapa jadi seperti ini, Padahalkan Rania tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Khanif.

__ADS_1


"Ada-ada saja," gerutunya dalam hati seraya menggelengkan-gelengkan kepalanya saat dirinya menyadari pemikiran aneh yang barusan terlintas dikepalanya.


"Nak Rania, kamu kenapa?" tanya mama Adelin khawatir saat mama Adelin tidak sengaja melihat Rania menggeleng-gelengkan kepalanya.


Rania dengan kikuk menjawab, "Rania tidak apa-apa, tan."


"Tante mungkin terlalu bersemangat mengajak nak Rania hingga ngga bisa istirahat dulu walau sejenak."


"Ngga kok, tan. Bener! Malah Rania bersyukur karena tante ngajak Rania pergi berbelanja. Awalnya Rania ingin pergi belanja sehabis pulang kantor, tapi ada ajakan dari tante, Rania ikut deh," ujar Rania disertai senyumannya. Davina yang ada di kursi depan pun tersenyum kecil melihat kedekatan mama Adelin dan Rania.


Sekian lama mereka berada didalam mobil, akhirnya mereka sampai juga di pusat perbelanjaan. "Dadang, kemungkinan kami lama. Jadi kamu pulang duluan. Nanti saya hubungi lagi kalau kami udah mau pulang," ujar mama Adelin pada sopir rumahnya.


"Iya, bu."


Setelah mengatakannya, ketiga wanita berbeda usia itu pun masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Pertama, mereka pergi ke toko-toko pakaian hingga alas kaki. Disana, mereka mulai memilih-milih pakaian yang hendak mereka beli.


"Ma, Davina sama Rania ke toko sebelah dulu ya. Dav mau lihat-lihat pakaian kantor."


Mama mengangguk. Rania dan Davina pun keluar dari toko teman mama berada, lalu berpindah ke toko sebelahnya yang memang menjual pakaian-pakaian kantor dan berbagai macam perlengkapan lainnya seperti tas dan sepatu. Saat Rania sedang asik memilih-milih pakaian, Davina yang melihat ada sepatu yang menarik pun mengajak Rania untuk melihatnya sebentar.


"Gimana sepatu ini, bagus tidak?" tanya Davina seraya menujukkan sebuah sepatu pantofel yang cantik pada Rania.


"Bagus, kok."


"Baiklah, aku pilih yang ini aja."


Selagi Davina berbicara dengan penjaga toko, Rania mengedarkan pandangannya untuk mencari sebuah sepatu untuknya juga. Namun saat dirinya tengah mendengarkan pandangannya ke rak-rak sepatu, tanpa sengaja ia melihat seseorang yang sangat ia kenali.


Mencoba membenarkan apa yang tengah dilihatnya, Rania pun melangkahkan kakinya mendekati sosok yang coba ia kenali itu. Namun saat ia sudah mendekat, ia malah terlihat terkejut.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2