Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 15. Ketahuan!


__ADS_3

Tak lama setelah kepergian pelayan wanita, dari arah belakang ada sesosok lelaki yang mengenali Rania.


Lantas lelaki yang melihat Rania  memanggilnya, "Rania."


Rania menolehkan kepalanya ke belakang. Ia begitu terkejut melihat sosok lelaki yang saat ini semakin berjalan mendekat padanya. Seketika berdiri dari tempat duduknya dan membalikkan badan sepenuhnya. Lalu dengan canggung, ia memanggilnya pelan, "Papa."


Zaky juga sama terkejutnya dengan Rania. Namun sudah seperti berpengalaman, Zaky menanggapinya santai saja. Sedangkan Rania kian meremas jari-jarinya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan papanya disini.


Bukan karena apa Rania bisa terkejut, hanya saja - hal seperti ini adalah yang pertama kali baginya. Bertemu dengan sang papa saat dirinya sedang bersama seorang lelaki. Bahkan bertemu di tempat makan.


Papa Rudy yang tau perasaan Rania, langsung saja tersenyum untuk menghilangkan rasa kekhawatiran anaknya.


"Papa," ujar Rania sekali lagi, saat sang papa telah berdiri didekatnya.


"Lanjutkan saja makan siang kalian. Papa sudah mau pulang juga," ujar Papa Rudy.


Rania mengangguk. Sungguh, seakan bibirnya terkunci walau hanya sepatah kata pun yang keluar. Entahlah, ia sendiri tidak tau. Bahkan setelah Papa Rudy pergi, Rania masih tidak bisa berkata apa-apa.


"Rania," tegur Zaky sambil menyentuh tangan Rania, yang malah membuat Rania tersentak kaget kembali.


"Ah, ya?"


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Hem, iya."


Perlahan Rania dan Zaky kembali duduk. Menunggu pesanan makanan mereka. Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang.


Rania memakan makannya dalam diam. Begitu pula dengan Zaky. Mereka seakan kehabisan kata-kata untuk sekedar berbicara pendek. Jadi, sampai makan siang mereka habis, tak ada satupun kata yang terdengar dari mulut mereka masing-masing. Yang terdengar hanyalah, suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahut-sahutan.


"Kali ini biar aku yang membayar makananmu," ujar Zaky memecahkan kebisuan diantara mereka.


"Tidak, terima kasih, Zak," tolak Rania halus. Karena menurutnya, ia tidak mempunyai hak pada Zaky, sehingga Zaky harus membayar serta makannya. "Aku tau, kamu ingin sekali membayarkan makanku setiap kali kita makan bersama. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya."


Zaky mengangguk. Ia tau, seberapa kuat pun ia membujuk Rania, Rania tetap tidak akan membuatnya membayar tagihan makan siangnya.


"Baiklah, aku harap lain kali aku bisa."


Rania tersenyum menanggapi. Ia pun berjalan duluan ke arah kasir dan disusul oleh Zaky kemudian dibelakangnya. Mereka telah membayar masing-masing tagihan mereka. Wanita penjaga kasir itu pun tidak heran lagi, sewaktu pertama kali Rania dan Zaky makan disini dan membayar tagihan makan masing-masing.

__ADS_1


"Kamu masih memikirkan tentang papamu tadi?" tanya Zaky setelah mereka keluar dari resto.


Tanpa menyembunyikan apa-apa, Rania mengangguk membenarkan.


"Tapi tak apa. Saat ini pun waktu makan siang oleh semua orang. Jadi, ngga ada salahnya," hibur Rania disaat hatinya kacau.


"Tunggu disini, aku akan mengambil mobil dulu."


Belum juga Zaky mendapat jawaban dari Rania, ia sudah berlalu meninggalkannya menuju mobil yang terparkir manis disamping resto.


"Tunggu," sekali lagi Zaky mengatakannya. "Aku akan membukakan kamu pintu."


"Tidak usah, aku akan masuk sekarang juga."


Baru saja Zaky hendak keluar dari mobil untuk membukakan pintu buat Rania, Rania sudah lebih dahulu membukanya dan mengambil tempat duduk disamping kemudi. Zaky lantas melajukan mobilnya menuju perusahaan tempat Rania bekerja.


Disisi lain, Khanif yang baru saja makan siang dirumahnya, ia kini telah melajukan mobilnya menuju kantor juga.


Sekali lagi, tanpa ada yang menduga, lagi-lagi Rania dan Khanif bersampingan kendaraan di lampu merah menuju kantor. Namun bedanya, saat ini Rania tengah berada didalam mobil Zaky, berbeda dengan pagi tadi. Saat dirinya berada dikendaraan roda duanya sendiri.


Lebih berbedanya lagi, saat pagi tadi hanya Rania yang mengetahui keberadaan Khanif. Namun sekarang, Khanif pun sudah mengetahuinya juga. Bahkan tanpa disangka lagi, saat ini iris mata coklat Rania bertatapan langsung dengan iris mata hazel Khanif.


Pertemuan kedua iris mata itu membuat kedua orang tersebut sama-sama terkejut. Namun Khanif masih bisa mengendalikan rasa keterkejutannya. Sementara Rania, langsung saja salah tingkah. Karena salah tingkahnya itu, Rania langsung memutuskan kontak matanya pada Khanif dan buru-buru menaikkan kaca jendela mobil.


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa," Rania tersenyum agar Zaky tidak bertanya lebih lanjut.


"Apa karena kamu masih memikirkan pertemuanmu tadi dengan papamu?"


Rania menjawab singkat, "tidak,"


Lampu merah telah berganti menjadi warna hijau. Zaky kembali melajukan mobilnya menuju tempat kerja Rania. Selama perjalanan itu, tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Hingga mobil sampai dipelanataran tempat kerja Rania, barulah terjadi percakapan. Itupun hanya percakapan singkat.


"Terima kasih," ujar Rania.


"Iya, sama-sama."


"Baiklah, aku masuk kerja dulu."

__ADS_1


Setelahnya, Rania membuka seat belt-nya dan berlalu keluar dari mobil. Awalnya Zaky lagi-lagi ingin membukakan pintu mobil buat Rania, hanya saja Rania menahannya. Rania tidak ingin menjadi mencolok disaat orang-orang kantor telah kembali dari makan siang.


Beda halnya sebelum pergi tadi. Ia memang sengaja melakukannya, agar Lisa percaya, kalau dirinya memang telah menunggu jemputan Zaky dan agar Lisa percaya, kalau dirinya tidak terlalu berharap pada Khanif untuk menawarkan tumpangan padanya untuk kedua kalinya.


Saat dirinya keluar dari mobil Zaky, ia melihat mobil Khanif baru saja memasuki halaman kantor. Tanpa tunggu lama, Rania segera pergi dari sana. Ia tidak ingin satu lift dengan Khanif untuk saat ini. Namun sepertinya niatan itu harus ia letakkan sedalam-dalamnya saat ia harus berpapasan dengan Lisa lagi.


"Aku lihat mobil pak Khanif baru saja memasuki halaman kantor. Apa kamu sengaja menghindarinya karena kamu merasa bersalah padanya?" tanya Lisa yang tidak begitu penting bagi Rania.


"Aku juga melihatnya, namun sayang. Aku tidak mempunyai pemikiran aneh seperti itu," ujar Rania sepertinya tidak harus menjelaskannya lebih jauh.


"Oh, lihat pak Khanif datang."


Khanif terlihat memasuki gedung kantor. Lisa pun menunduk hormat begitu pula Rania yang baru saja membalikkan badannya.


"Siang pak," sapa Lisa dengan senyuman yang sengaja ia buat menawan, agar Khanif bisa sedikit meliriknya.


"Siang," balas Khanif melihat Lisa sekilas. Meski hanya sekilas, Lisa sangat begitu senang. Berbeda dengan Rania yang melihat ekspresi Lisa itu, ia tersenyum lucu. Bagaimana tidak, Lisa seperti anak kecil yang mendapat permen.


Memikirkan itu, membuat Rania cepat-cepat beristigfar dalam hati. Sungguh ia tidak mempunyai niatan seperti itu.


Lamunan Rania buyar, saat Khanif memanggilnya, "Rania, apa yang kamu tunggu. Cepat ikut aku."


Selalu saja, Khanif membuatnya terkejut. Ia sendiri heran dengan dirinya itu. Namun tanpa memikirkannya lebih jauh, ia mengikuti langkah kaki Khanif yang sudah terlihat menjauh. Setelah sampai didepan lift kaca, Rania maju dan menekan kata sandi lift yang akan membawa mereka naik ke lantai dua puluh satu.


Setelah terbuka, mereka pun masuk ke dalam. Keadaan sempat hening beberapa detik sebelum Khanif berkata, "besok kita berangkat jam 9 pagi."


"A ... apa pak?"


"Siapkan saja keperluanmu yang lain saat pulang kantor. Sisanya, serahkan pada saya."


Sebelum Rania sempat berbicara, Khanif sudah lebih dahulu keluar dari lift. Sementara Rania menghela nafas berat. Ia lupa kalau ia harus berangkat ke kota M bersama Khanif hari rabu ini.


Rania menepuk jidatnya. Belum masalah satu kelar, masalah yang lain telah muncul. Entah, apa yang akan dikatakannya nanti pada kedua orang tuanya. Apalagi tadi, papanya sempat mendapati dirinya makan siang dengan seseorang lelaki.


"Kuat Rania. Kamu harus kuat," gumamnya dalam hati.


Rania pun kembali sibuk dalam pekerjaannya.


...To be continued. ...

__ADS_1


Semoga yang berikan like/vote/komen diberikan kesehatan dan rezeki yang lancar, aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2