
Sesampainya Rania di depan kantor. Hampir semua pasang mata karyawan melihat ke arahnya. Rania tentu saja sudah tau mengapa mereka terus saja melihatnya. Apalagi kalau bukan tentang lamaran Khanif kemarin.
Mereka pasti sudah mendengar berita tentang lamaran Khanif padanya. Secara, di dalam reuni kemarin, ada beberapa karyawan yang ikut hadir dalam acara itu. Tentu saja mereka adalah anak reuni sekolah Nusa dan tentunya juga, mereka pasti melihat dengan jelas aksi Khanif kemarin.
Namun Rania tidak akan mempermasalahkannya. Ia tau, cepat atau lambat mereka juga akan tau.
Setelah pamitan pada Reyhan, Rania pun bergegas masuk ke dalam kantor.
Belum juga ia mencapai lift karyawan, sudah ada beberapa karyawan yang mendatangi dirinya untuk memberikan selamat kepadanya. Hal itu pun sukses membuat Rania menghentikan langkah kakinya.
"Selamat ya, Ra. Aku ngga nyangka banget loh kamu telah di dalam sama pak Khanif," ujar salah seorang karyawati yang ia kenal bertugas di divisi perencanaan.
"Selamat juga ya, Ra. Moga hubungan kalian bisa segera diresmikan," kata seseorang lagi.
Beberapa orang pun melakukan hal yang sama dan dengan jawaban yang sama pula, Rania mengatakan pada mereka.
"Terima kasih, ya."
"Aku udah ngga sabar nungguin kamu dan pak Khanif berdiri di pelaminan," kekehnya kemudian yang membuat Rania merona malu.
"Ehem," dehem seseorang dari belakang mereka.
Perlahan, tapi pasti, mereka pun sama-sama berbalik melihat siapa yang telah berdehem tadi.
"Pak Khanif ...," ujar mereka yang menghentikan langkah kaki Rania. Mereka tiba-tiba saja tergugup, sedang Rania tersenyum kecil.
"Kami ... kami ...."
"Kami mau mengucapkan selamat sama bapak dan Rania," katanya kemudian.
"Terima kasih," balas Khanif. "Kalau begitu kalian bisa lanjut kerja lagi," ujarnya kemudian membuat mereka berangsur bubar dan pergi ke divisi mereka masing-masing.
"Dan kamu, casi harus kembali kerja juga,"
"Casi?" tanya Rania tanpa sadar menaikkan satu alisnya.
"Calon istri maksud aku," katanya pelan saat seseorang lewat didekat mereka.
Bukannya Khanif takut berbicara keras, tapi karena ia harus membedakan jam kerja dan jam pribadi.
"Ini masih pagi-pagi. Anda mau buat saya jadi diabetes, ya."
"Diabetes?" tanya Khanif yang kini menaikkan satu alisnya tanpa sadar karena tidak mengerti maksud perkataan Rania barusan.
"Iya karena ucapan bapak barusan terlalu manis buat aku."
Khanif terkekeh pelan. Ternyata Rania bisa juga membalas dirinya.
__ADS_1
"Baiklah. Nyonya ...," ujar Khanif sengaja memotong ucapannya, sebelum ia kembali melanjutkannya dengan perkataan lain. "Kita harus segera pergi. Kalau tidak, akan semakin banyak orang yang akan menahan kita disini dengan ucapan selamat dari mereka."
"Bukannya itu bagus?"
"Hem. Tentu saja bagus, tapi tidak bagus kalau kita melupakan kewajiban kerja kita."
"Anda benar. Baiklah. Kita pergi sekarang!" seru Rania dengan nada memerintah.
Ia pun jalan lebih dahulu mendahului Khanif.
Setibanya mereka di depan lift kaca, saat Rania hendak menekan kode yang akan membawa mereka ke lantai dua satu, Khanif lebih dahulu maju hendak menekannya.
Sontak hal itu membuat Rania menahan lengan Khanif seraya berkata, "biar aku saja, pak."
"Tidak perlu."
Khanif lalu kembali maju dan menekan kode lift.
Setelah lift terbuka, Khanif lebih dahulu masuk dan disusul oleh Rania.
Sama seperti tadi, Khanif pun kembali menekan kode tutup pada lift. Setelahnya, lift kaca itu pun membawa mereka ke lantai dua satu.
"Sudah mendapat jadwal kerjaku sama Davina?" tanya Khanif.
"Belum, pak. Setelah sampai, aku akan keruangannya sebentar."
"Iya, pak."
Setelahnya, tidak ada lagi percakapan diantara mereka sampai Khanif masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Berbeda dengan Rania, ia segera bergegas ke ruangan Davina untuk meminta jadwal kerja Khanif selama seminggu ke depan. Ah, tidak. Ia harus meminta jadwal kerja Khanif selama dua minggu kedepan.
Sesampainya didepan ruangan Davina, Rania lantas mengetuk pintu kerja Davina. Sesaat Rania mendengar suara Davina yang mengatakan masuk, Rania pun memutar knop pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Davina.
"Pagi, Dav," sapa Rania.
"Pagi, juga. Kamu ingin mengambil jadwal kerja pak Khanif, kan?"
"Iya."
Davina mengangguk. Ia pun mengambil sebuah map diatas mejanya dan memberikannya pada Rania.
"Ini jadwal kerja pak Khanif selama seminggu ini" ujarnya.
"Pak Khanif bilang, beliau ingin jadwal kerjanya untuk satu minggu berikutnya juga."
Awalnya Davina heran dan bertanya-tanya mengapa Khanif sampai meminta jadwal kerjanya untuk satu minggu kedepannya. Namun setelah mengingat kalau minggu keduanya pernikahan Khanif dengan Rania, membuat Davina senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Ia pun tiba dengan ide jahil di kepalanya.
"Aduh, gimana ya. Aku belum membuat jam kerja pak Khanif pada minggu berikutnya. Kalau mau, kamu bisa menunggu dulu disini. Biar aku mengerjakannya."
"Tapi ..."
"Atau begini saja. Untuk minggu keduanya, biar aku saja yang akan mengantarkannya langsung sebentar."
"Iya, lebih baik seperti itu. Baiklah, aku pergi dulu. Terima kasih ya."
"Hem, sama-sama."
Sekeluarnya Rania dari ruangan Davina, Davina bergegas menghubungi Khanif untuk meminta penjelasan dari Khanif yang meminta jadwal kerjanya untuk dua minggu kedepan.
Khanif yang saat itu tengah memeriksa sebuah proposal lantas menghentikan kegiatannya saat ia mendengar intercom-nya berbunyi.
"Hem, ada apa?" tanya Khanif sengaja men-speaker intercom-nya.
"Aku ingin bicara, namun bukan perihal kerja."
"Hem, katakan saja," ujar Khanif kembali mengerjakan proposal bisnisnya.
"Kakak sengajakan menyuruh Rania mengambilkan jadwal kerja kakak untuk dua minggu kedepannya?" ujar Davina membuat Khanif menghentikan pekerjaannya.
Khanif lalu bersandar di kursi kebesarannya, sebelum ia menjawab pertanyaan Davina. "Iya, kakak sengaja. Kenapa?"
"Ya, tidak apa-apa sih. Cuma, kesengajaan kakak itu belum aku buat," katanya sambil terkekeh pelan. "Tapi kakak tenang saja, aku akan segera membuatnya."
"Kesengajaan apa yang ingin Anda buat?" tanya Rania
Tiba-tiba saja Khanif terkejut dengan kedatangan Rania yang mendadak. Ia bahkan tidak dapat menjawab pertanyaan Rania barusan. Seakan bibirnya terkunci walau hanya berkata satu kata pun.
"Pak, pak Khanif?"
"Itu ... itu rahasia."
"Baiklah," kata Rania singkat. "Ini jadwal kerja bapak satu minggu kedepan. Untuk minggu keduanya, Davina akan mengantarkannya nanti langsung pada bapak. Kalau tidak ada lagi, saya akan pergi sekarang," ujar Rania begitu dingin dengan kembali menggunakan kata 'saya'.
Rania pun pergi meninggalkan Khanif dengan perasaan kesal. Bahkan Se-keluarnya ia dari ruangan Khanif, Rania tanpa sadar menghentak-hentakkan kakinya tanpa sadar.
"Baiklah. Itu mau kakak. Aku juga bisa punya rahasia," katanya dalam hati sebelum berlalu menuju meja kerjanya.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1