Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 13. Percaya Padaku


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya Khanif khawatir, tetapi Rania tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Kamu tidak apa-apa?" ulang Khanif.


"Aku ... aku tidak apa-apa," ujar Rania canggung. "Tapi hatiku yang tidak apa-apa saat ini,"lanjutnya dalam hati.


"Kalau kamu merasa tidak sehat, kamu bisa izin hari ini."


"Bapak lagi sakit jugakah?" tanya Rania balik. Pasalnya, baru kali ini Khanif begitu perhatian padanya.


"Kamu memperhatikan saya?" tanya Khanif sengaja seraya menoleh pada Rania.


Segera Rania terbatuk-batuk disusul dengan tawa yang menggema di dalam lift kaca ini. Satu yang Rania tidak tau, sebenarnya Khanif sengaja bertanya seperti itu agar Rania segera bungkam sesudahnya.


Namun ternyata dugaannya salah saat Rania kembali melanjutkan perkataannya, "tentu saja kalau bapak sebagai atasan kami. Satu nol saja, hampir membuat perusahaan ini bangkrut. Apalagi bapak yang menjadi sakit. Entahlah, apa jadinya saham perusahaan bapak kalau tersebar berita seperti itu," kekeh Rania diakhir katanya.


Baru saja Khanif ingin membalas perkataan Rania, suara dentingan lift membuat Khanif bungkam. Khanif lalu berjalan duluan meninggalkan Rania yang masih berusaha menahan kekehannya.


Khanif menoleh. "Perhatikan berkas yang kamu pegang. Setelahnya, berikan saya rincian kesimpulannya. Saya tunggu satu jam lagi," ujar Khanif membuat Rania melongo tapi Rania segera menguasi keadaan kembali.


"Bukannya bapak menyuruh saya istirahat?"


Sebelum masuk betul kedalam ruangannya, Khanif berbalik melihat Rania. Lalu berkata, "Melihat cara tertawamu tadi, saya rasa kamu sudah sehat kembali."


Khanif tersenyum kecil yang Rania tangkap seperti hendak memberinya pelajaran saja.


"Cepat, saya tunggu 45 menit lagi ...," lanjut Khanif dengan nada suara yang tidak menginginkan bantahan ataupun alasan lain.


"Pak ...."


Belum juga Rania menyelesaikan kata-katanya, Khanif sudah lebih dahulu meninggalkan Rania. Rania menghela nafas berat. Ia tidak menyangka, aksi tertawanya yang ia lakukan dengan sengaja tadi malah membuatnya mendapatkan tugas dadakan seperti ini. Ini seperti keadilan baginya yang terlalu bersemangat dalam menertawakan Khanif.


Meski begitu, Rania tetap heran dengan sifat Khanif yang tiba-tiba berubah tanpa kode awal ataupun pemberitahuan. Sifat Khanif itu tidak bisa ia perhitungkan ataupun pelajari dalam waktu singkat, seperti yang biasa ia lakukan pada orang lain. Kadang Rania merasa Khanif itu baik sekali, kadang kala juga terasa dingin sampai ingin membekukannya saja. Ya, dan jangan lupa - terkadang Khanif juga bisa begitu menjengkelkan. Apalagi dengan perintah-perintah yang seperti tidak masuk akal dan tidak ingin dibantah.


Memikirkan semua sifat Khanif, membuat kepala Rania berdenyut nyeri. Ia pun mendudukan dirinya di kursi kerjanya sambil memperhatikan berkas yang harus segera ia periksa. Sesaat ia ragu untuk membuka berkas itu. Namun karena tidak ingin lebih membuang waktu lagi, Rania pun akhirnya membuka berkas itu juga.

__ADS_1


Ia lalu membuka isi keseluruhan berkas dan mulai membacanya. Rania tercengang melihatnya. Ia tidak menyangka isi berkas ini ternyata berisikan informasi yang akan mereka kunjungi nanti di kota M. Sungguh, ia tidak pernah melihat informasi sedetail ini. Mulai dari rencana pulang-pergi, bahkan sampai suasana dan apa yang sedang terjadi di kota M. Seakan saat membacanya, Rania seperti berada di kota M saat ini.


Bukannya ia kurang update dalam hal ini. Hanya saja, ia terlalu sibuk untuk mengurusi hal yang bukan menjadi bagiannya dulu. Selama ia bekerja diperusaahaan ini, ia hanya terfokus pada angka-angka yang terpampang di layar komputernya maupun di lembaran informasi keuangan perusahaan sebagai tugas seorang akuntan tidak ada hal lainnya lagi.


Selesai dengan keterkejutannya, ia pun mulai memerinci semua isi berkas tersebut untuk Khanif. Ia begitu senang saat apa yang telah ia kerjakan begitu memuaskan mata.


Seperti dugaannya, Khanif membaca berkas yang sudah dirinci itu dengan lancar dan mudah. Bahkan dalam waktu singkat, Khanif sudah selesai membacanya dan menilainya. Berbeda dengan Rania tadi - yang harus membaca serta keseluruhan dan menilainya untuk mendapatkan kesimpulannya.


Khanif mengangguk-anggukan kepalanya melihat hasil kerja Rania yang terbilang baik saat mengetahui kalau Rania masih tahap percobaan menjadi sekretarisnya. "Kerja bagus, Rania. Kamu bisa keluar sekarang," ujar Khanif tanpa melihat Rania.


Rania mendengarnya, namun ia tak kunjung meninggalkan Khanif sesuai perkataan Khanif barusan. Khanif yang tidak mendengar suara pamit Rania pun segera mendonggakkan kepalanya melihat Rania dengan pandangan heran.


"Ada yang perlu kamu katakan?" tanya Khanif.


"Iya pak."


Rania mengatakannya begitu tegas hingga membuat Khanif mengesampingkan kerjaannya saat ini.  Khanif yang menduga kalau Rania ingin mengatakan hal yang serius pun mengajak Rania ke sofa.


"Kita duduk di sofa saja," ajak Khanif.


"Silakan duduk."


Setelah Rania duduk, Khanif kembali melanjutkan pertanyaanya, "apa yang ingin kamu katakan?"


"Bapak sudah tau berita yang tersebar antara saya dan bapak di perushaan ini?"


"Hem, sudah. Kenapa?"


Rania heran dengan tanggapan Khanif yang terbilang santai itu. Ia lalu mengatakan apa yang terlintas didalam pikirnya saat ini, "bapak tidak merasa terganggu? Bapak tidak marah?"


Khanif tersenyum lucu melihat Rania yang begitu kesal. Rania yang melihatnya bertambah heran. Ia lalu merasa curiga pada Khanif.


"Atau bapak menyukai gosip murahan itu?" tuduh Rania penuh selidik.


Khanif kini tertawa kecil, ia tidak menyangka Rania bisa mempunyai pemikiran aneh seperti itu.

__ADS_1


"Rania ... Rania. Saya sudah berpengalaman dengan berita seperti itu. Jadi untuk apa saya marah? Apalagi untuk hal sepele macam itu. Sudahlah Rania, jangan lagi membuat saya sakit perut," ujar Khanif bermaksud pada Rania yang terus saja membuatnya tertawa dan akan berujung pada sakit perut.


Khanif lalu melanjutkan dengan serius karena tidak ingin membuat Rania makin kesal. "Saya sama sepertimu, Rania. Saya pun tidak menyukai gosip murahan seperti itu. Tapi satu yang pasti, kita tidak bisa menutup satu persatu mulut seseorang dengan menjajalkan kebenarannya pada semua orang karena sebanyak apapun kita berusaha, pasti ada juga yang tidak mempercayainya. Itu adalah satu hal yang pasti. Saat ini, yang bisa kita lakukan hanya menutup mata dan telinga dari semua berita itu. Selama kita melakukannya, maka semuanya akan seperti angin lewat aja. Percaya padaku."


Rania diam, apa yang dikatakan Khanif benar adanya. Kita tidak bisa membuat seseorang berhenti membicarakan kita meski itu adalah sesuatu yang tidak benar. Kita juga tidak bisa membuat orang-orang bungkam dalam membicarakan kita, karena setiap orang mempunyai mulut tersendiri. Mereka mempunyai hak untuk berkata apa-apa yang terlintas dibenak mereka. Namun dibalik hal itu, mereka juga pantas mendapatkan hal yang setimpal dengan apa yang mereka bicarakan.


Jika mereka membicarakan kebaikan, maka kebaikan akan menghampiri mereka. Namun jika keburukan, maka keburukan pula yang akan menghampiri mereka.


Satu yang pasti, biarlah orang berbicara sesuka hatinya, namun Rania tidak akan pernah membalas dengan hal yang sama pada mereka karena menurutnya, jika ia melakukan hal yang sama pada orang-orang yang telah menyebarkan berita yang tidak benar seperti itu, jadi apa bedanya ia dengan mereka? Tentu saja tidak ada.


Rania pun menanggapi penjelasan Khanif yang lumayan panjang itu, "bapak benar. Kita tidak bisa membuat orang-orang berhenti membicarakan kita, meski itu hal yang salah."


"Saya harap kamu tidak memperdulikan omongan mereka lagi."


Rania mengangguk mengerti. Tapi satu hal yang Rania tidak ketahui. Yakni, Khanif mempunyai cara tersendiri untuk mengatasinya. Tanpa Rania ketahui, Khanif sempat tersenyum misterius.


"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, kamu bisa keluar sekarang karena saya masih mempunyai banyak pekerjaan. Begitu pula denganmu."


Rania mencebik, ia tidak suka pada pribadi Khanif yang kembali seperti orang yang tidak ingin mendengar bantahan. Rania lalu berdiri dari tempat duduknya, terus menunduk hormat. Setelahnya, ia pun pergi meninggalkan Khanif.


Namun lagi-lagi, belum juga Rania memutar knop pintu dan membukanya, Khanif kembali memanggilnya.


"Rania."


Dengan tanpa minat untuk berbalik, akhirnya Rania tetap juga memilih berbalik karena kesopanan.


"Ia pak."


"Rania ...."


...To be continued....


Besok insya Allah dilanjut lagi ya. Tinggalkan jejak like, komen dan vote 😉


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2