Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 154. Persiapan Lokakarya


__ADS_3

"Tapi kenapa pak Khanif terlihat berbeda ya?" ujar Rania teringat akan perilaku Khanif tadi.


"Berbeda apanya?" tanya Dian tak mengerti.


"Ya beda aja. Dia terlihat cuek gitu."


"Mungkin pak Khanif sudah bosan mengejar ...."


Belum juga Dian menyelesaikan perkataannya, sudah lebih dahulu Rania memotongnya dengan berkata, "mana ada!" Dengan nada suara yang melengking hingga membuat teman-teman seruangan mereka melihat mereka dengan pandangan heran dan alis yang tertaut seperti meminta jawaban.


Rania dan Dian yang mengetahui kalau teman seruangan tengah melihat mereka pun hanya dapat tersenyum canggung.


"Kamu sih, Ra. Langsung nge gas gitu."


"Iya, iya tau, tapi kamu kan ngga perlu berkata seperti itu. Buat aku tambah kacau tau."


"Ya, maaf juga. Aku kan cuma bercanda. Siapa tau pak Khanif cuek begitu karena mungkin lagi kecapean."


Rania berpikir, perkataan Dian ada benarnya juga. Lagi pula, beberapa hari ini Khanif selalu berangkat pagi ke kantor dan pulang malam dari kerja seperti kata teman-temannya yang tidak sengaja ia dengar.


Bahkan beberapa hari ini juga, ia hanya beberapa kali melihat Khanif, itu pun mereka tidak berpapasan secara langsung karena Rania hanya melihat Khanif dari jauh saja.


Tapi ....


Tapi Rania pikir, seharusnya Khanif tidak seserius itu juga dalam mencueki dirinya.


Apa Khanif sudah bosan mengejarnya seperti kata Dian yang sengaja ia potong atau Khanif sudah mendapat pengganti dirinya?


Bagaimana kalau dua pertanyaan itu terbukti benar? Apa ia benar-benar akan menyesal kali ini karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan oleh Khanif?


"Rania," panggil Dian menyentakkan lamunan sesaat Rania.


"Iya, kenapa?"


"Kamu ngga bawa kendaraan lagi?" tanya Dian merubah topik pembicaraan mereka.


"Iya. Aku tadi diantar sama kak Rey."


"Kalau gitu ikut sama kami saja," ajak Dian.


"Kami siapa?"


"Aku dan David. Mau, ya."


"Emm, baiklah."


Mereka pun menyudahi percakapan singkat mereka itu.


***

__ADS_1


Seperti kata Dian beberapa jam yang lalu, saat ini Rania dan Dian sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Setelah meja kerja mereka telah rapi, mereka pun ikut pulang seperti teman-teman seruangan mereka yang sudah lebih dahulu pulang.


Saat mereka tengah menunggu kedatangan David yang tengah mengambil mobilnya di parkiran, tanpa disangka mobil Khanif terlihat memasuki halaman kantor.


Rania tentu saja tersenyum karena melihat Khanif. Bahkan sampai Khanif terlihat berjalan ke arahnya, senyuman itu tidak pernah luntur dari wajah ayu-nya.


"Pak Khanif, sore pak," sapa Dian.


"Sore."


Saat Rania hendak menyapa Khanif juga, Khanif sudah lebih dahulu berlalu dari hadapan mereka tanpa menyapanya dan tidak melihatnya sedikitpun.


Rania tentu saja kecewa dengan perilaku Khanif barusan. Ia seperti merasa kalau Khanif tidak memperdulikan keberadaannya di sisi Dian.


Ia awalnya ingin menegur lebih dahulu, namun melihat Khanif hanya melewatinya saja. Rania memilih untuk diam.


Lagi pula, David sudah tiba didepan mereka dengan mobil yang akan mengantarnya pulang ke rumah.


Rania pun masuk ke dalam mobil David dengan perasaan campur aduk.


Bagimana kalau perkataan Dian sebelumnya terbukti benar?


"Rania, kamu ngga papa kan?" tanya Dian lagi-lagi menyadarkan Rania.


"Ngga, papa kok."


"Lalu kenapa kamu diam saja?"


"Ah, iya ya," ujar Dian tersadar. "Bagaimana kalau kita membahas tentang lokakarya saja," usul Dian.


"Itu boleh juga," balas David.


"Jadi, gimana persiapanmu untuk pergi lokakarya, Ra?"


"Aku belum menyiapkan apapun."


"Loh, kok bisa? Kita tinggal dua hari lagi loh akan pergi. Lagi pula ada yang berbeda dari lokakarya kita kali ini!"


"Apa yang berbeda?" tanya Rania.


"Kata teman-teman, kali ini pak Khanif akan ikut serta untuk mendengarkan langsung ide-ide kita."


Rania berbinar. Ia kembali bersemangat saat mendengar nama Khanif disebutkan.


"Jadi dulu pak Khanif ngga pernah ikut gabung dalam lokakarya kalian?" tanya David.


"Hem, iya. Pak Khanif hanya menunggu hasil dari ide kami saja," ujar Dian membuat David mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kalian biasanya naik apa ke tempat tujuan kalian?" tanya David kemudian.

__ADS_1


"Naik bis. Biar kami beramai-ramai jadi perjalanan ngga terasa membosankan nantinya."


"Tapi Pak Khanif berangkat bersama kita kan?" tanya Rania tiba-tiba.


"Iya, tapi sepertinya pak Khanif bawa mobil sendiri deh nantinya. Eh tunggu," ujarnya mengingat-ingat. "Sepertinya pak Khanif akan berangkat pada hari minggu pagi deh!"


"Dimana kamu mendengarnya?"


"Aku sempat mendengar teman-teman berbincang-bincang yang katanya pak Khanif akan ikut lokakarya tapi, pak Khanif hanya akan datang pada hari minggu saja."


Rania menghela napas pendek.


"Emang bisa bawa mobil sendiri?" tanya David tiba-tiba.


"Iya, bisa. Beberapa waktu yang lalu, teman-teman yang dulunya sering bawa mobil sendiri kini lebih memilih naik bis bersama kami. Katanya biar ngga bosan selama dalam perjalanan," jelas Dian. "Oh, iya. Kamu mau naik apa kalau jadi kesana, Ra?" tanya Dian.


"Naik bis aja sama teman-teman lainnya."


"Bagaimana kalau kita naik mobil aku," usul David.


"Boleh tuh. Sekali-kali kita pergi ke lokakarya naik mobil pribadi," ujar Dian sambil terkekeh pelan.


"Rania, kalau kamu mau, kamu bisa ikut sama kita. Biar Dian ada yang nemenin bicara."


"Ntar aku pikirkan lagi."


Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mobil yang dibawa oleh David pun sampai didepan rumah Rania.


Rania lantas keluar dari mobil, lalu mengatakan terima kasih sebelum ia berlalu masuk ke dalam rumahnya.


Berbeda dengan Rania yang sudah bisa untuk beristirahat, Khanif saat ini masih sibuk dengan sebuah dokumen proposal didepannya.


Namun meski sibuk melihat dan membaca proposal bisnisnya itu, Khanif tidak terlalu fokus dalam mengerjakannya.


Bagaimana tidak, ia masih terbayang-bayang akan pertemuan tidak disangkanya dengan Rania didepan kantor.


Sebenarnya ia ingin mengajak Rania berbicara meski pun sebentar, namun saat ia kembali teringat akan percakapan Rania dan Dian yang tidak sengaja ia dengar, ia jadi mengurungkan niatnya itu karena ia tidak ingin Rania merasa terganggu maupun merasa tidak enak.


Apalagi bukan hanya mereka saja yang ada disana, melainkan ada beberapa karyawan lainnya yang juga baru akan pulang.


Ah, lagi-lagi Khanif merasa tidak fokus. Ia pun menutup berkas porosal didepannya dan lebih memilih menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya.


Dalam diamnya itu, Khanif teringat kalau minggu ini divisi keuangan akan mengadakan giliran lokakarya bulanan. Ia juga baru teringat kalau dalam lokakarya itu, dirinya harus ikut serta dengan mereka. Mendengarkan ide-ide yang baik dan mengimplementasikannya jika ide tersebut dapat menguntungkan perusahaan.


Meski dalam lokakarya itu ia akan sering bertemu Rania, ia akan sebisa mungkin untuk menghindarinya agar Rania bisa lebih fokus dalam lokakarya ini.


Sesaat Khanif tersadar, ia pun kembali melanjutkan membuka proposal yang tadi sempat kerjakannya. Ia ingin segera menyelesaikannya sebelum pulang ke rumah untuk mengistirahatkan diri.


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2