Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 197. Hadiah untuk Istri Tercinta


__ADS_3

Tidak terasa mereka sudah empat hari berada di kota M. Selama mereka berada di kota ini, Rania dan Khanif sudah beberapa kali mengunjungi tempat wisata yang ada di kota M ini.


Seperti pergi mengunjungi wisata hutan pinus, taman bunga, pasar wisata yang pernah mereka datangi sampai kebun teh yang ada di kota ini juga.


Bahkan karena keseruan itu, Rania sudah lupa akan kejutan yang pernah Khanif katakan saat mereka baru saja tiba. Sungguh, Rania sudah melupakan kejutan Khanif itu.


Tentu saja hal itu membawa keuntungan buat Khanif karena dengan begitu, ia bisa semakin membuat Rania terkejut dan pastinya merasa speechless nantinya.


Setelah persiapan kejutan untuk Rania telah siap, Khanif pun segera pergi ke vila untuk mengajak Rania ke tempat yang ingin ia tunjukkan.


"Kita mau kemana kak?" tanya Rania saat Khanif tiba-tiba memakainya cardigan rajutnya tebal.


"Masih ingat dengan perkataan kakak saat kita baru tiba disini?"


"Ya, ampun. Aku baru ingat. Kakak mau beri aku kejutan kan?"


"He'em."


"Lalu mana kejutannya?" tanya Rania mengira jika kejutan yang dimaksudkan oleh Khanif berbentuk kado.


"Kejutannya tidak ada di sini, ma chérie. Ayo ikut saja. Kakak ingin menujukkannya padamu."


"Baiklah," ujar Rania seraya menggandeng tangan Khanif sambil tersenyum senang.


Mereka pun pergi ke tempat yang ingin Khanif beri kejutan untuk Rania. Saat mereka tinggal sedikit lagi sampai di kebun stroberi, Rania malah menghela napas panjang hingga membuat Khanif menoleh padanya.


"Kenapa?"


"Pasti kakak ingin mengajakku petik stroberi kan?"


Khanif terkekeh pelan.


"Bisa di bilang begitu."


"Aku kira kakak akan berikan kejutan apa," ujar Rania seraya memanyunkan bibirnya tanpa sadar.


"Sudah. Jangan cemberut gitu. Nanti kita ngga jadi pergi lagi."


Seketika Rania tersenyum lebar menampilkan gigi kelincinya.


Sesampainya mereka disana, Khanif pun mengambil keranjang buah. Sedang Rania bertugas untuk memetik stroberi yang sudah matang.


"Petik buahnya segini saja," ujar Khanif saat keranjang buah mereka hampir penuh.


"Kenapa kak?"


"Tak apa. Ini saja sudah cukup."


"Baiklah. Kalau sudah tidak ada lagi, kita pulang saja ke vila."


"Siapa bilang kita akan ke sana?"


"Lalu kakak mau kemana?"


"Ma chérie. Petik stroberi ini bukan termaksud kejutan."


"Jadi?"


"Sinu tutup mata dulu, baru kita ke tempat kejutan."


"Tutup mata lagi?" tanya Rania tak percaya.


"Iya, ma chérie."

__ADS_1


Rania lantas pergi ke dekat Khanif.


Setelah mata Rania tertutup, Khanif pun membawa Rania ke tempat tujuannya dengan berjalan pelan nan penuh kehati-hatian.


Dengan berpegangan pada Khanif, Rania tidak lagi merasa takut terjatuh karena ia kini lebih percaya pada sosok lelaki yang tengah menuntunnya dalam berjalan ini.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Khanif telah sampai ditempat tujuannya.


Rania yang merasa kalau mereka telah lama berhenti berjalan, lantas bertanya pada Khanif, apakah mereka sudah sampai atau tidak.


"Kita sudah sampai, ma chérie."


"Jadi aku sudah bisa membuka penutup mata ini?"


"Bisa, tapi biar kakak saja yang membukanya."


Khanif pun pergi ke belakang Rania dan secara perlahan-lahan, ia mulai membuka kain putih yang menutup mata Rania.


"Jangan buka mata dulu, ya. Setelah kakak bilang buka, kamu baru bisa membukanya."


"Emm, baiklah."


Kain penutup itu terbuka. Namun Khanif belum menyuruh Rania membuka matanya.


"Udah bisa kak?"


"Tunggu sebentar lagi."


Lalu beberapa detik kemudian, Khanif pun mengatakan, "bukalah."


Rania yang sudah sangat penasaran sontak saja membuka matanya secara perlahan-lahan.


Hal yang pertama ia rasakan saat membuka matanya yaitu silau. Ia silau akan cahaya matahari sore ini yang masih bersinar menghangatkan bumi.



"Kak ini ...."


Rania merasa speechless. Bahkan kini matanya telah berkaca-kaca.


"Kamu pernah dengarkan kalau kakak pernah katakan kalau tempat ini kakak ingin menghadiahkannya pada seseorang," ujar Khanif membuat Rania menganggukkan kepalanya tanda membenarkan ucapan Khanif.


"Kamu adalah seseorang itu. Seseorang yang ingin kakak beri hadiah."


"Tapi ini, ini terlalu mewah untuk sebuah hadiah."


"Asalkan itu kamu, kakak menganggap ini sepadan."


Rania tersenyum. Ia lalu memeluk Khanif dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.


"Sama-sama, ma chérie," ujar Khanif seraya mengelus-elus kepala Rania. Setelah agak lama berada di posisi saling berpelukan, akhirnya Khanif kembali berkata, "ayo kita masuk di dalamnya."


"Iya, kak."


Mereka pun melangkahkan kaki masuk ke dalam kubah penginapan kaca itu atau lebih tepatnya terlihat seperti rumah iglo - rumah yang biasa orang katakan dengan nama rumah eskimo.


"Kita akan tidur malam ini disini."


"Dengan kaca tembus pendang seperti ini?" tanya Rania rada-rada tidak percaya. Bagaimana jika ada yang mengintip mereka nantinya?


Khanif yang sepertinya tau apa yang sedang dipikirkan oleh Rania hanya mampu tersenyum kecil.


"Tidak, ma chérie."

__ADS_1


Khanif lalu menujukkan sebuah tombol pada Rania.


"Lihat tombol putih ini. Tombol putih ini berfungsi untuk merubah warna kaca menjadi tidak transparan lagi."


Khanif langsung saja mencontohkannya dengan menekan tombol putih itu. Lalu tidak sampai semenit, perlahan-lahan warna kaca yang tadinya bening berubah menjadi hijau hingga suasana didalam kubah penginapan kaca itu terasa menyegarkan.


Lalu sedetik kemudian, beberapa helai kain berwarna cream mulai menutupi tempat tidur yang akan mereka tempati malam ini.


"Ini ... ini ...."


"Kakak sengaja menambahkannya agar kamu lebih percaya lagi kalau kita menginap disini, kita akan merasa aman juga," jelas Khanif. "Masih ada yang ingin kakak tunjukkan."


Khanif pun membawa Rania mengelilingi rumah berbentuk iglo ini. Mulai dari ruangan tamu sampai kamar mandi dan fasilitas lainnya.


"Rumah sekecil ini sudah ada ruang tamu dan kamar kecilnya?" tanya Rania masih tidak percaya.


"Iya, ma chérie. Bagaimana, apa kamu suka dengan hadiahnya?"


"Hem. Sangat suka sekali. Aku tidak menduga kalau tempat ini untuk aku. Aku kira dulu kakak ingin menghadiahkan tempat ini untuk seseorang seperti kata kakak saat itu. Waktu itu pun aku sempat berkata dalam hati kalau orang yang akan mendapatkan tempat ini adalah orang yang beruntung."


"Dan orang yang beruntung itu adalah kamu."


"Itu semua karena kakak. Terima kasih  kak. Aku tidak tau harus menghadiahkan kakak apa lagi. Sepertinya hadiah yang aku berikan pun pastinya tidak akan bisa tertandingi dengan hadiah kakak ini"


"Ma chérie, dengan kamu terus menemani kakak sampai tua adalah sebuah hadiah yang lebih berarti daripada hadiah ini."


Rania terharu. Ia tanpa sadar menitihkan air mata kebahagiaan didepan Khanif.


"Pasti," katanya serak.


Khanif pun menarik Rania ke dalam pelukannya sekali lagi.


"Terima kasih, ma chérie. Terima kasih."


...To be continued...


Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin


...By Siska C...


NOTE SEKEDAR INFO


Aku udah selesaikan cerita ini sampai tamat loh. Mau bukti? lihat foto di bawah ini, ya.



Nah benerkan udah ada bab 198,199, sama 200.


Jadi gini, Aku bisa langsung saja memposting ke-3 bab itu hari ini juga. tapi ada tapi nya loh! Kalian harus memberikan Hadiah.


Ngga harus sih, sebenarnya. bagi yang mau aja, tapi kalau gitu aku update nya akan semakin lama karena rencana aku mau up tiga bab itu jika hadiahnya udah mencapai 30470.


Nah kan di gambar di bawah ini di lingkaran warna biru



masih 20470 tuh, masih kurang 10000, kan ya. Jadi, kalian bantu membantu lah dalam memberikan hadiah. biar update nya cepat juga.


kalau hari ini udah bisa mencapai angka hadiah 30470, maka aku up hari ini juga deh.


selamat mencoba, ya. Yang ngga Tata cara pemberian hadiah, bisa lihat bab 188 awal. disana bisa kalian lihat.


Baiklah. sampai jumpa di tiga bab terakhir dan Ekstra bab insya Allah. by by.

__ADS_1


__ADS_2