
"Aku baru mengetahui informasi itu pagi ini dari kakatua. Untuk itulah aku meminta lokasi lokakarya itu. Biar bagaimana pun, aku sebagai kakaknya takut kalau terjadi sesuatu dengan adikku, Rania," jelas Reyhan.
"Kamu jangan terlalu khawatir, aku sudah ada dijalan menuju lokasi lokakarya. Tidak lama lagi aku akan sampai disana."
"Hem. Terima kasih atas perhatianmu. Baiklah, aku juga sudah siap-siap ingin pergi ke sana," kata Reyhan bermaksud untuk menyudahi percakapan singkat mereka.
"Sama-sama."
Sesaat sambungan telepon mereka Khanif secepat mungkin melajukan mobilnya menuju ke lokasi lokakarya. Namun tetap dalam kehati-hatian dalam berkendara.
Setelah menempuh jarak yang jauh, akhirnya Khanif telah sampai disana dengan waktu yang singkat.
Saat mobilnya memasuki halaman vila yang terbentang luas, Khanif kian mempercepat laju mobilnya menuju parkiran.
Para karyawan divisi keuangan yang melihat Khanif datang sore ini pun menjadi terkejut dan kian terkejut saat Khanif datang menghampiri mereka dengan berlari-lari. Berlari seperti ada yang tengah mengejarnya.
Manajer keuangan yang melihat hal itu pun langsung bergegas pergi menghampiri Khanif.
"Sore, pak. Saya kira bapak tidak akan datang sore ini," ujarnya.
Namun Khanif tidak membalas perkataan itu, melainkan malah menanyakan keberadaan Rania.
"Mana Rania?"
"Rania? Dia belum menyelesaikan perlombaan mencari bendera kecil-nya, pak."
"Siapa teman kelompoknya?"
"David dan Dian, pak."
"Pasti mereka tidak lama lagi akan sam ...."
"Kita tidak perlu menunggu disini," potong Khanif cepat. "Berikan aku peta perjalanannya."
Manajer keuangan pun langsung saja memanggil seorang peserta lomba untuk memberikan Khanif peta yang telah dimintanya.
"Ini petanya, pak."
"Terima kasih."
Khanif pun melihat dan memperhatikan jalur-jalur perjalanannya yang kelompok Rania lewati.
Setelah beberapa saat memperhatikan, Khanif pun pergi meninggalkan semua orang yang masih kebingungan dengan perilaku Khanif yang aneh.
Hingga salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk memanggil Khanif. Biar bagaimana pun, mereka harus ikut membantu mencari Rania jika diperlukan. Persoalan penjelasannya, mereka tidak memperdulikan sebelum Rania dapat ditemukan.
__ADS_1
"Kalau bapak berkenan, kami akan ikut mencari Rania," kata salah seorang berbaju dongker.
"Kami juga pak. Kami ingin ikut mencari Rania."
Khanif melihat satu persatu karyawannya. Ia tersenyum karena tanpa menyuruh, mereka mau menawarkan diri.
"Terima kasih. Kalian bisa menyebar mencari Rania disekitaran vila, maupun perjalanan lomba kalian."
"Siap, pak."
Mereka semua pun mengikuti ucapan Khanif. Ada yang mencari sekitaran vila, ada yang mencari diperjalanan star lomba dan ada pula yang mencari di sekitaran jalan finis perlombaan, termaksud Khanif.
Mereka yang bersama Khanif tidak berani bertanya tentang pencarian Rania saat mereka tidak sengaja melihat wajah Khanif yang terlihat khawatir. Meski sangat penasaran, namun mereka tidak ingin menambah kekhawatiran atasan mereka ini.
Saat Khanif dan dua orang karyawannya hendak berbelok ke arah kanan, mereka melihat Dian yang berjalan mendekat.
"Dian," seru Khanif. "Dimana Rania?"
Dian heran. Ia bahkan tidak sadar telah menautkan kedua alisnya.
"Bukannya Rania udah sampai dari tadi, pak?"
"Kamu ngomong apa sih! Kalau Rania udah dari tadi sampai, kami tidak akan berada disini untuk mencarinya," ujar salah seorang di samping kiri Khanif.
"Apa!" pekik Dian tanpa sadar. "Dia udah dari tadi ninggalin kami," ujar Dian kemudian.
"Sendiri? Aku bersama David," ujar Dian. Dian lantas menolehkan wajahnya untuk menujukkan pada mereka kalau David tengah berjalan dibelakangnya. Namun saat ia telah menolehkan wajahnya ke belakang, ia tidak mendapati David dimana pun.
Lalu dengan nada suara yang pelan, Dian kembali berkata, "David tadi ada dibelakangku."
Khanif yang sudah tau kalau David sebenarnya telah mempunyai niat tidak baik pun secepat mungkin berkata pada mereka.
"Fandi, Aldo. Kalian antar Dian kembali ke vila."
"Tapi, pak."
"Tak apa. Kalian segera menghubungi saya kalau Rania sudah berada disana."
"Siap, pak."
Dua lelaki yang bersama Khanif bernama Fandi dan Aldo pun mengantar Dian kembali ke vila. Sedangkan Khanif kembali memulai pencariannya pada Rania. Ia pun mempercepat langkah kakinya seraya memanggil-manggil nama Rania.
Namun seberapa keras suaranya dan langkah kakinya dalam mencari Rania, Rania seakan hilang bak ditelan bumi.
Suara Khanif bahkan hampir parau dibuatnya. Namun Rania belum juga menyahut, manggil namanya atau sekedar berkata 'aku ada disini'.
__ADS_1
Merasa Rania tidak ada dijalan yang telah dilewati oleh Dian, Khanif pun kembali melihat peta yang masih ada ditangannya. Ia melihat apakah ada jalan lainnya sekitaran sini yang memungkinkan Rania melewati jalan tersebut hingga membuatnya tersesat.
Setelah melihat ada satu jalur yang berbeda, Khanif kembali lagi di pertigaan jalan - dimana ia bertemu tanpa sengaja dengan Dian tadi.
Ia kini telah berlari menuju jalan terpencil itu. Sambil berlari, sesekali ia memanggil nama Rania lagi. Meski suaranya hampir parau, Khanif tidak peduli lagi. Ia harus segera menemukan Rania sebelum hari kian gelap.
"Rania ... Rania, kamu ada dimana?" panggil Khanif dengan tangan yang ia dekatkan dengan bibirnya, agar suaranya bisa sedikit terdengar keras.
"Rania!" panggilnya kemudian sebelum ia terbatuk-batuk dibuatnya.
Ia menghela napas panjang nan berat. Meski lelah, ia tidak akan menyerah untuk menemukan keberadaan Rania.
Khanif pun kian masuk ke dalam jalan terpencil itu seraya memanggil-manggil nama Rania. Hingga akhirnya usahanya itu telah membuahkan hasil yang diinginkannya. Namun ada yang aneh dengan suara itu.
Ia seperti mendengar suara dua orang yang saling bercakap-cakap. Satu seperti terdengar meminta maaf dan satunya lagi terdengar dengan nada marah nan mengancam.
Khanif pun tidak lagi memanggil nama Rania karena kini ia akan mendekat ke sumber suara dengan penuh kehati-hatian. Agar ia bisa melihat siapa dua orang yang saling bercakap itu dan tentu saja ia tidak ingin ketahuan dengan seseorang yang bersuara dengan nada mengancam itu.
Meski dalam pikirannya dua orang dengan suara samar-samar itu adalah Rania dan David, namun Khanif masih belum percaya sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Lagi pula Khanif sengaja tidak ingin menyadarkan mereka kalau mereka sudah ditemukan olehnya, karena ia hanya ingin memastikan sesuatu. Memastikan kalau David tidak akan berbuat apa-apa pada Rania.
Sesaat dugaan Khanif benar, Khanif pun bersembunyi di sebuah batang pohon yang besar sambil melihat Rania dan David yang masih bercakap tak biasa.
Khanif sengaja tidak menampakkan dirinya karena ia sengaja menunggu sejenak di balik pohon besar itu untuk menemukan waktu yang tepat untuk menyelamatkan Rania.
Namun semuanya jadi tak terkendali saat matanya tidak sengaja melihat sebuah pisau berada di genggaman tangan kiri David. Tentu saja ia terkejut.
Mau tidak mau, Khanif pun keluar dari tempat persembunyiannya karena ia tidak ingin Rania mendapat apa-apa dari David tapi sebelum itu, ia sudah lebih dahulu mengirim pesan keberadaan dirinya pada sang manajer keuangan sebelum ia menampakkan diri didepan David dan Rania.
"Letakkan pisaumu David," seru Khanif.
Rania dan David sontak melihat Khanif yang berjalan mendekat.
Rania tentu saja tersenyum senang, berbeda dengan David yang tersenyum misterius.
"Baguslah kamu datang," ujarnya meremehkan. "Aku tidak perlu repot-repot lagi menyusun rencana untukmu."
"Letakkan pisaumu David," seru Khanif sekali lagi. Biar bagaimana pun, ia ingin sedikit mengukur waktu sebelum para karyawannya dapat menemukan keberadaan mereka disini.
"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" katanya menantang.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...