
"Tasya! Jaga ucapanmu!" Khanif refleks berdiri. Kini ia tidak tahan lagi dengan ucapan Tasya. Hal itu pun sukses membuat Tasya terdiam. Ia terkejut melihat reaksi Khanif yang baru pertama kali ia lihat.
"Kalau kamu masih ingin hubungan kita baik-baik saja, saya harap kamu bisa keluar dari ruangan saya sekarang," tutur Khanif.
"Khanif, aku ...."
"Aku bisa memakluminya, jadi sekarang kamu bisa keluar dari ruangan ini."
"Khanif ...."
"Aku bilang keluar," ujar Khanif.
Tanpa bisa membela diri lagi, Tasya melenggang keluar dari ruangan Khanif.
"Ini semua gara-gara Rania," tuduhnya. "Jika saja tadi dia tidak datang, pasti aku dan Khanif jadi pergi malam ini dan pastinya, Khanif tidak akan marah seperti tadi. Dia memang wanita perusak suasana," keluhnya kemudian. Tasya pun pergi dari kantor Khanif dengan perasaan kesal pada Rania.
...***...
Hari berlalu begitu saja. Matahari yang tadinya terik kini mulai kembali ke perpaduan. Langit yang tadinya berwarna biru muda kini mulai tergantikan dengan warna yang biru malam yang indah. Bintang-bintang pun mulai menampakkan diri bersama bulan yang siap menemani.
Disuatu ruangan yang sepi, terlihat lampu yang biasanya telah redup, kini masih bersinar menerangi seseorang yang masih saja sibuk memeriksa beberapa dokumen yang masih berada diatas meja kerjanya. Lelaki tampan itu terus saja bekerja tanpa menghiraukan kalau masih ada hari esok untuk beberapa dokumen itu.
Ia terus saja fokus pada pemeriksaan dokumen yang harus segera ia selesaikan agar rencana kerja yang telah disusun oleh tim departemen perusahaannya bisa segera dijalankan. Lelah? Tentu saja ia telah rasakan. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah sekian lama berkutik pada tumpukan dokumen dari beberapa divisi, akhirnya Khanif telah selesai memeriksanya. Ia bahkan sudah bisa merenggangkan tubuhnya yang terasa sakit akibat duduk yang terlalu lama.
"Alhamdulillah," ujarnya seraya merenggangkan tangannya dengan menaikkan tangannya ke atas kepala. merenggangkannya ke kanan dan ke kiri. "Akhirnya selesai juga," katanya kemudian yang melegakan.
Khanif pun merapikan letak dokumen diatas meja kerjanya. Setelah semuanya selesai, Khanif dengan senyuman lega dan langkah kaki yang ringan berlalu keluar dari ruangannya yang telah menjadi saksi bisu dalam kerja kerasnya hingga sukses seperti saat ini.
Khanif baru saja tiba di lobi saat dirinya tidak sengaja melihat sebuah siluet seseorang yang baru saja keluar dari perusahaan. Ia mengernyit heran. Ia sepertinya mengenal sosok yang baru keluar itu. Khanif lantas mempercepat langkah kakinya untuk membuktikan kalau dugaannya itu benar.
Benar saja. Dugaannya itu benar. Khanif pun berlari menghampirinya seraya seraya memanggil namanya, "Rania!"
Ya, sosok yang dilihat oleh Khanif adalah Rania. Merasa namanya dipanggil, Rania sontak membalikkan badannya.
"Pak Khanif!" ujarnya tidak menyangka. "Bapak baru pulang?"
"Hem. Kamu baru pulang juga?"
Rania menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lalu, apa yang kamu lakukan disini?"
"Saya kelupaan dompet saya di laci meja kerja. Jadi saya datang mengambilnya kembali."
"Tidak baik kalau kamu balik kembali ke kantor hanya untuk mengambil itu. Kenapa tidak besok saja kamu mengambilnya?"
"Oh itu, kebetulan saja, pak. Kebetulan saya mau keluar beli makanan, ya sekalian saja saya ambil," jelasnya sambil tersenyum. "Dekat kok dari sini, makanya saya kemari."
__ADS_1
"Kamu naik apa kemari?"
"Naik motor," jawab Rania singkat.
"Kamu pulangnya ikut saya saja. Simpan saja motormu disini."
"Eh, saya ngga papa kok, pak. Lagian ini baru jam setengah sembilan kok, pak. Jadi masih aman buat saya," katanya membanggakan diri.
"Ya, itu versi keamanan buat kamu. Tapi buat saya, keamanan berkendara roda dua untuk wanita seperti kamu tidak àman lagi," terang Khanif mencoba menepis kekhawatirannya. "Sudah, jangan buat alasan lagi. Simpan saja motormu disini dan kamu ikut dengan saya! Saya akan mengantarmu pulang."
Keputusan Khanif sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat lagi meski Rania menolaknya. Lagi pula harusnya Rania merasa senang karena ada lelaki selain papa dan Reyhan yang memperhatikan keselamatannya lebih dahulu.
Rania pun tersenyum malu-malu dibelakang Khanif yang sudah lebih dahulu berjalan ke arah mobilnya. Ia tidak menyangka, ia masih akan bertemu Khanif di kantor. Pasalnya, ia mengira kalau Khanif sudah pulang dari tadi.
"Emm, kenapa bapak baru pulang?" tanya Rania setelah Khanif melajukan mobilnya menuju rumah Rania.
"Kamu ingat sore tadi kamu membawakan saya apa?"
"Ya. Itu cuma dokumen dari divisi keuangan."
"Cuma, katamu?"
"Ya, mau apa lagi. Bukannya itu sudah tanggung jawab, bapak!"
"Ah, sudahlah. Biar bagaimana pun kamu tidak akan mengerti," kata Khanif.
"Tunggu, tunggu. Jadi maksud bapak gara-gara saya memberikan dokumen itu, bapak harus lembur sampai malam?" tanya Rania tidak percaya akan perkataannya sendiri.
"Huh, Baiklah lain kali saya akan membawakan setumpuk dokumen di meja kerja bapak, biar bapak bisa pulang pada pagi hari berikutnya," ujar Rania mulai kesal.
Bagaimana tidak, Rania hanya membawakan Khanif satu dokumen saja, namun Khanif mengatakan kalau gara-gara itu Khanif bahkan harus lembur. Disaat Rania tengah kesal, tiba-tiba saja Khanif tertawa.
"Kenapa bapak malah tertawa?"
"Tidak tau mengapa, saya senang saja membuatmu kesal," kekeh Khanif.
"Bapak kira saya bahan lelucon, apa?"
"Tentu saja tidak," ujar Khanif seraya melirik Rania sekilas. Ia ingin lihat bagaimana ekspresi wajah Rania saat ini. "Maaf, saya hanya bercanda."
"Bercandaan bapak kelewatan!" ujar Rania tiba-tiba saja menangis hingga membuat Khanif merasa bersalah.
Khanif lantas menepikan mobilnya. "Ra, maaf saya hanya bercanda. Kamu berhenti menangis ya."
"Tidak, saya tidak mau."
Khanif makin bingung. Ia tidak menduga kalau candaannya kali ini sudah keterlaluan.
"Bagaimana kalau saya belikan es krim di toko seberang?" tawar Khanif, sekiranya bisa membuat Rania tenang.
__ADS_1
Rania lantas melihat sebuah Mini market seberang jalan, lalu kembali melihat Khanif.
"Bapak, mau belikan saya es krim?" tanya Rania seraya menghapus air matanya seperti anak kecil.
"Kalau itu bisa membuatmu tenang, maka saya akan belikan."
"Baiklah, kalau begitu bapak pergi sekarang!" katanya setengah memerintah.
Khanif mengangguk. Ia lantas melepaskan sabuk pengamannya dan bergegas pergi membelikan Rania es krim sebagai permintaan maafnya. Namun belum juga Khanif menyebrang jalan, Rania kembali memanggilnya lengkap dengan lambaian tangan. Khanif lantas mendekat ke jendela mobil Rania.
"Ada apa?" tanya Khanif.
"Saya mau es krim mochi."
"Mochi?"
"He'em. Mo ... chi," ujar Rania mengeja nama es krim yang ia inginkan.
"Baiklah. Ada lagi?"
"Emm, no no no."
"Baiklah. Saya akan segera kembali."
Khanif pun kembali melanjutkan langkah kakinya pergi ke mini market. Langkah kaki yang terarah dengan tubuh tegap nan tinggi lagi tampan itu membuat sebagian pengunjung yang kebanyakan para remaja yang mulai beranjak dewasa itu melihat Khanif dengan pandangan kagum. Para remaja itu seperti mimpi tanpa tidur dapat melihat pangeran yang sering mereka baca dalam dongeng saat mereka kecil.
Para remaja yang sedang duduk santai menikmati makanan dan minuman mereka didepan mini market itu pun sontak bergumam, "oppa!" Saat Khanif melewati mereka.
Khanif tentu saja mendengarnya dengan sangat jelas, namun ia mengabaikannya karena pesanan Rania lebih penting dari pada menanggapi perkataan para remaja itu.
Saat ia masuk ke dalam, Khanif langsung pergi mengambil es krim pesanan Rania. Karena Khanif tadi tidak menanyakan rasa es krim mochi diinginkan Rania, Khanif malah mengambil semua rasa yang ada di lemari pendingin itu.
Setelah membayarnya, Khanif segera menuju ke mobilnya kembali tanpa menghiraukan ocehan kekaguman para remaja itu.
"Ini pesanan kamu, saya harap ini bisa menjadi permintaan maaf saya," ujar Khanif seraya memberikan pesanan Rania.
"Saya tidak minat lagi," kata Rania membuat Khanif mengernyit heran.
Baru saja beberapa menit Khanif meninggalkan Rania, Rania sudah berubah mood lagi! Bahkan ini jauh lebih parah dari pada tadi!
"Kamu kenapa?"
Rania menoleh. "Bapak yang kenapa!"
"Hah?"
...To be continued...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...