Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 6. Kekhawatiran Papa Rudy


__ADS_3

Saat Rania baru pulang dari latihan, Rania terkejut saat melihat sosok pria paruh baya yang sedang berdiri dihadapannya saat ini. Bibirnya seketika kelu untuk memanggil sosok paruh baya itu. Namun meski begitu, Rania tetap saja mengucapkannya, "papa!"


Lelaki paruh baya yang tadi disebutkan oleh Rania, secepat mungkin berjalan mendekat pada Rania. Sesampainya didekat Rania, papa mengelus sayang kepala putri yang masih dianggapnya kecil itu.


"Papa kan sudah bilang, sayang. Kamu tidak usah masuk ke dalam organisasi itu. Apalagi sampai datang sore kesini. Tau tidak, papa ini khawatir."


Rania tersenyum. Ia lalu dengan tenang menyampaikan kata-kata yang telah disiapkannya sejak lama. Ia pun mengajak papa ke tempat duduk yang ada disekitar sana. Setelah sampai, Rania dan papa duduk bersampingan dengan tangan yang Rania genggam.


"Rania sangat mengerti apa yang papa rasakan. Tapi, apa Rania tidak bisa mewujudkan impian kecil Rania ini. Rania tau, Rania ngga bakalan pantas mengikutinya kalau melihat dari penampilan Rania ini, tapi ini Rania, pa. Bukan orang lain yang akan menerima saja pendapat orang lain dengan mudah."


"Anak nakal. Papa hanya tidak ingin kamu sakit. Lihat, selama kamu mengikutinya, badanmu sudah turun drastis. Papa hanya ingin kamu hidup dalam kedamaian dan menikmati masa remajamu."


Rania mengangguk, ia melihat papa dengan pandangan lembut dan tersenyum hangat saat papa begitu sangat mengkhawatirkan dirinya. "Rania tau maksud papa melarang Rania untuk ikut. Rania berterima kasih sekali sama papa karena papa udah merhatiin Rania sampai sejauh ini. Tapi pa, kalau Rania tidak memulainya sekarang, kapan lagi Rania punya waktu yang baik untuk membuktikan bakat Rania? Lagi pula, kakak senior Rania mendukung Rania juga kok! Bahkan dia yang merekomendasikan Rania untuk ikut. Jadi, papa ngga usah khawatir lagi. Percaya deh sama Rania," ujar Rania menenangkan.


Tidak jauh dari sana, Khanif yang baru datang dengan motor ninja-nya melihat sosok Rania dengan seorang pria paruh baya yang tidak dikenalnya. Ia lantas mendekati mereka - hendak mengetahui siapakah pria yang duduk begitu dekat dengan Rania.


"Assalamualaikum," ucap Khanif begitu sopan.


"Kak Khanif, waalaikumsalam." Rania tersenyum. Ia pun memperkenalkan papanya pada Khanif. "Pa, dia kak Khanif. Orang yang sudah menolong Rania."


"Saya Khanif, om. Kakak kelas Rania," ujar Khanif menyalami tangan Papa Rudy.


"Terima kasih sudah baik pada anak saya."


"Saya tidak punya alasan untuk tidak baik pada anak om."


Papa Rudy tersenyum. Ia begitu suka pada perwatakan Khanif yang sopan dan tanpa memandang fisik.


"Emm, kalau gitu Khanif ke dalam dulu om, Rania. Khanif mau melihat yang lain dulu."


Rania mengiyakan, begitu pula papa Rudy yang kian bangga pada Khanif.


"Sekarang papa bisa percaya pada Rania, kan? Lihat, dia kak Khanif yang dulu Rania ceritakan."


"Papa percaya, tapi ada baiknya jangan terlalu menaruh kepercayaan pada orang lain karena bisa jadi suatu saat nanti kamu kecewa melebihi kepercayaanmu padanya. Maksud papa, perlakukan dia bisa saja," saran papa. "Sekarang ayo pulang," lanjutnya.


Rania mengangguk sebagai jawaban. Namun, apakah dirinya juga bisa membuat perasaannya itu jadi biasa saja? Entahlah, untuk saat ini Rania hanya ingin menikmatinya saja dan untuk kedepannya, ia akan memikirkannya lebih jauh.


...***...


Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian hari itu. Kini tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Yakni hari pentas kesenian yang diadakan oleh organisasi siswa intra sekolah. Rania yang menjadi salah satu penari pun sudah bersiap dari tadi dibelakang panggung. Namun, ia tetap terlihat gugup karena akan tampil didepan umum sebagai salah satu pusat perhatian. Jujur saja, tampil di banyak pasang mata yang melihatnya adalah hal yang pertama baginya dan mungkin akan menjadi yang terakhir baginya kalau respon yang ia dapatkan berbeda dengan pemikirannya semula.


Saat Rania tengah melamun, Khanif datang melihat persiapan para penari. Sangking gugupnya, Rania bahkan tidak sadar kalau Khanif tengah berjalan ke arahnya.


"Ehem!" Khanif berdehem, mencoba menyadarkan Rania akan kehadirannya.

__ADS_1


Rania mendongak. Ia melihat Khanif sedang tersenyum ke arahnya. Lalu dengan suara yang pelan, ia memanggil Khanif, "kak Khanif, maaf saya tidak sadar kalau kakak ada disini."


Khanif melangkah semakin dekat dan duduk di kursi kosong samping Rania.


"Kamu gugup?" tanya Khanif.


"Sedikit kak."


Rasa keingintahuan yang tinggi, membuat Khanif semakin tertarik. Ia pun kembali lanjut bertanya, "saya punya satu trik agak kegugupanmu dapat menghilang. Kamu mau?"


Rania menganggukan kepalanya tanda mengiyakan. Khanif pun mulai memberitahu Rania dan sekalian mencontohkannya juga. Rania yang memang gadis yang mudah paham, dengan mudah mengerti maksud Khanif.


Rania pun mengikuti instruksi Khanif dengan mulai menarik napas panjang, lalu mengembuskannya lewat mulutnya. Ia melakukannya sebanyak tiga kali. Benar saja, setelah melakukan kata-kata Khanif, perlahan kegugupan Rania berangsur menghilang meski belum sepenuhnya. Tapi ia yakin, jika ia melakukannya lagi, pastinya rasa kegugupan itu hilang.


Tidak lama kemudian, terdengarlah pembawa acara yang mengatakan kalau penampilan selanjutnya adalah penari dari anggota osis. Mendengarnya membuat Rania kian gugup. Namun secepatnya ia sadar. Ia kembali melakukan apa yang tadi Khanif katakan. Khanif yang melihatnya pun tersenyum.


"Semangat, sukses buat kamu," ujarnya sebelum meninggalkan Rania.


Rania mengangguk. Ia pun berdiri dan bergegas berkumpul dengan penari lainnya. Perlahan, dibelakang panggung para penari telah menyusun formasi mereka. Rania yang memang terakhir muncul, sempat membuat semua orang terkejut.


Rania memperhatikan perubahan itu. Apalagi dengan terang-terang saat dirinya melihat beberapa dari tamu undangan yang tersenyum mengejek padanya. Rania awalnya sempat merasa kecewa. Namun melihat Khanif yang duduk disalah satu kursi tamu, membuat Rania yakin kalau dirinya bisa menunjukkan bakatnya juga, seperti teman lainnya.


Seperti yang ia yakinkan pada dirinya sendiri, Rania dan kelompok menarinya sukses mendapatkan tepukan tangan yang meriah. Bahkan ia juga sempat menangkap siulan dari para tamu yang ada.


Semua berjalan seperti kemauannya. Meski tadi ia sempat kecewa diawal, namun hal tersebut tidak membuat dirinya kecewa berkepanjangan.


Rania balas tersenyum. "Terima kasih kak. Rania ngga bakalan sampai percaya diri seperti ini kalau kakak tidak memberikan Rania solusi."


"Hem, saya begitu gembira mendengarnya. Baiklah saya pergi dulu karena masih banyak hal lain yang harus saya lakukan."


"Iya kak. Terima kasih."


"Hem."


Sepeninggal Khanif, teman menari Rania menghampirinya. Dia Desi, remaja kelas dua yang juga menyimpan rasa pada Khanif.


"Ehem," dehem Desi membuat Rania terkejut.


"Kak."


Desi melipat tangannya bersedekap dada. Ia melihat Rania dari atas kebawah seperti tengah menilainya. Rania yang tidak menyukai cara Desi melihatnya pun angkat bicara.


"Ada apa kak?"


"Tidak ada. Hanya saja aku heran, apa yang membuat kak Khanif sampai sedekat itu padamu. Padahal jika dibandingkan, aku lebih dari pada kamu," ujar Desi bermaksud pada wajah dan fisiknya.

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah belakang, Tasya datang menghampiri mereka dengan senyum mengejek ke arah Rania.


"Apa yang kamu katakan, Des. Jangan salah paham padanya. Khanif hanya mendekati Rania karena dia kasihan padanya," ujar Tasya membuat hati Rania seperti tertusuk pisau yang tumpul.


Rania seperti terluka namun tak berdarah. Sebagai gantinya, air mata yang sedari tadi coba ditahannya kini mengalir melewati pipinya. Secepat air matanya merembes keluar, Secepat itu pula Rania menghapusnya. Ia lalu pergi meninggalkan kedua wanita yang tidak bisa menjaga perasaan wanita lain itu.


"Kalau ingin menyadarkan Rania, kamu ngga usah mencoba membandingkan kamu dengannya. Lihat, tanpa aku mengatakan hal omong kosong seperti kamu, dia sudah pergi dari sini," ujar Tasya dengan kesombongannya yang meruah.


"Sepertinya aku harus belajar banyak sama kak Tasya."


"Tidak perlu, aku tidak ingin menularkan kepintaranku ini yang nantinya malah akan berbalik melawanku." Tasya lalu memegang dagu Desi dan menggoyangkan pelan seraya melanjutkan perkataannya, "jangan kira saya tidak tau kalau kamu juga mempunyai perasaan yang lebih pada Khanif!"


"Ka ... kak Tasya ngomong apa sih." Dengan berdusta, Desi tersenyum hambar.


"Jangan pernah lagi bersikap rendahan didepanku!" ujar Tasya sebelum meninggalkan Desi yang terpaku diam nan menahan kekesalannya.


Rania yang berlalu dari ruang tunggu pergi mengambil barang-barangnya di ruangan osis. Baru setelahnya, Rania bergegas pulang kerumah mengingat tugasnya juga telah selesai ia kerjakan.


Saat dirinya berjalan menuju tempat pemberhentian angkutan umum, sebuah motor berwarna merah menghampiri dirinya. Dari warnanya saja Rania sudah tau kalau pengendara yang berhenti didepannya ini adalah Khanif.


"Rania," panggil Khanif. "Naiklah, saya akan mengantarmu pulang."


Rania sempat menolak, namun karena keinginan Khanif yang tulus, membuat Rania tak kuasa menolaknya lagi. Ia pun menganggukan kepalanya sebagai bentuk persetujuan akan ajakan Khanif padanya. Sebelum Rania makin dekat dengannya, Khanif sempat melihat sinar keraguan di mata Rania.


Ia yang lalu mengetahui sinar keraguan itu pun angkat bicara, "kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu bisa membuat tasmu menjadi pembatas diantara kita," ujar Khanif setelah Rania sudah ada didekatnya.


Rania mengangguk lalu tersenyum. Ia pun mulai naik ke atas motor Khanif yang sebelumnya dirinya telah meletakkan tas sampingnya diantara dirinya dan Khanif.


"Sekali lagi terima kasih kak."


"Sama-sama. Oh iya, kamu bisa berpegangan pada tasku kalau kamu mau."


"Iya kak." Dengan malu-malu, Rania mengikuti saran Khanif. Tentu saja karena ia tidak ingin mengambil resiko yang lebih.


Khanif pun mengantar Rania ke rumahnya. Selama perjalanan pulang, tidak ada percakapan diantara mereka. Bahkan Rania sempat heran karena Khanif membawanya pulang kerumah tanpa meminta petunjuk alamat darinya. Namun setelah Khanif memberitahunya, ia pun hanya mampu tersenyum menanggapi.


"Saya melihat biodata kamu di osis, jadi saya tau alamat kamu."


"Hem, terima kasih atas tumpangan yang kakak berikan."


"Sama-sama. Baiklah saya pergi dulu."


...To be continued ...


Apa seorang ketua osis harus mengetahui alamat anggotanya, ya?

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya 🤗


...By Siska C...


__ADS_2