
Sesampainya Khanif dan Rania di tempat penjemputan, Rania melihat Khanif terlihat tersenyum entah pada siapa. Rania lantas mengikuti arah pandangan Khanif. Sesaat kemudian, pandangannya terkunci pada sosok wanita yang terlihat cantik dari sisi manapun. Ia putih nan memiliki tubuh bak gitar spanyol.
Rania gonta-ganti menolehkan wajahnya pada wanita itu dan Khanif. Ia bisa dengan jelas melihatnya, wanita itu juga ikut tersenyum. Begitu pula dengan Khanif yang tidak pernah menghilangkan senyuman di wajahnya saat wanita itu semakin mendekati mereka.
"Siapa dia?" tanyanya dalam hati yang begitu penasaran. Karena sibuk dengan pemikiran sendiri, Rania bahkan tidak sadar kalau perempuan yang diakuinya cantik itu telah berdiri didepan mereka saat ini.
"Selamat siang, pak. Miss Rania," sapanya dengan senyuman yang tidak pernah pudar.
Rania lalu melihat Khanif dengan pandangan heran.
"Selamat siang, Davina," sapa balik Khanif.
Rania kian penasaran akan sosok wanita bernama Davina ini. Namun, rasa penasarannya ini segera hilang saat Shanum memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan saya Davina , asisten kedua pak Khanif," ujarnya sambil menyodorkan tangannya hendak bersalaman dengan Rania.
"Saya Rania. Panggil saja Rania."
"Senang berkenalan dengan Anda."
Setelah perkenalan singkat itu, Davina pun mengajak mereka pergi ke mobil yang telah disediakan.
Selama perjalanan menuju tempat menginap, Rania menggerutu dalam hati dan ia juga tetap diam sepanjang jalan karena begitu kesal pada Khanif yang ternyata sudah menugaskan Davina sebelumya untuk memesan penginapan dan menyewa mobil yang akan membawa mereka pergi kemanapun selama berada di kota M ini.
Ia tidak begitu mengerti dengan pemikiran Khanif. Di awal ia bekerja sebagai sekretaris pengganti, Khanif begitu kekuh membuatnya mencari informasi tentang kota yang sedang mereka datangi ini. Ditambah dengan pemesanan tempat menginap serta kendaraan yang akan mereka gunakan.
Rania bahkan bersusah payah mencari tempat menginap yang sesuai dengan keinginan Khanif dan kendaraannya pun begitu. Tapi, apa ini? Beberapa jam sebelum mereka berangkat, Khanif dengan seenak hatinya membatalkan semua hasil kerja kerasnya. Ia bahkan sampai rela duduk berjam-jam untuk mencarinya. Apa Khanif tidak memikirkan itu?
Ya, ia tau kalau khanif memang adalah atasannya yang harus ia turuti perkataannya. Rania terima hal itu. Namun, yang Rania tidak terima adalah saat Khanif tidak juga memberikan dirinya penjelasan akan alasan pembatalan itu. Apakah itu salah? Jika ya, maka Rania akan mengatakan benar. Karena bagaimana pun ia akan tetap menunggu penjelasan dari Khanif.
Setelah lama tenggelam dalam pemikirannya sendiri, ia bahkan tidak sadar kalau mobil yang membawa mereka telah memasuki tempat penginapan yang sudah dipesan. Ia baru sadar saat Khanif menyuruhnya keluar dari mobil.
"Maaf, apa pak?" tanya Rania yang tidak terlalu mendengarkan perkataan Khanif karena sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Kita sudah sampai."
__ADS_1
"Oh." Seketika Rania celigak-celiguk melihat sekelilingnya. Benar saja, mereka telah sampai ditempat tujuan. Rania pun keluar dari mobil mengikuti Khanif dan Davina yang sudah lebih dahulu keluar.
"Silakan ikut saya," ujar Davina berjalan duluan diikuti Khanif dan Rania.
Davina langsung berjalan menuju resepsionis dan mengambil kartu penginapan. Setelahnya, ia kembali mengajak Khanif dan Rania untuk mengikutinya.
Sesampainya mereka dikamar masing-masing, Rania segera beristirahat. Namun, mendengar kalau Khanif ternyata pergi dengan Davina untuk membahas pekerjaan yang terjadi di kota M ini. Membuat Rania seperti kehilangan minat untuk beristirahat. Seperti matanya tidak ingin terpejam walau sebentar kala mengingat mereka pergi berdua dan meninggalnya seorang diri.
Rania bersungut kesal. Ia bahkan tidak sadar kalau sudah mengembuskan nafas panjang nan kasar. Jika Rania mengatakan kalau dirinya cemburu, tentu saja ia akan katakan tidak. Namun, Kata 'tidak' itulah yang ada di pikiran Rania saat ini.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan 'lain di mulut, lain di hati' Siapa yang tau hati orang? Tentu saja tidak ada, kecuali Dia.
Memikirkan Khanif yang saat ini pasti sudah tertawa bahagia dengan Davina, membuat Rania kian kesal. Bagaimana tidak, sudah hampir dua jam mereka meninggalkan dirinya sendiri didalam ruangan ini. Namun tidak ada tanda-tanda kalau mereka akan datang.
Sungguh, Rania tidak bisa bersabar lagi. Saat ini ia harus bertindak dengan pergi keluar untuk mencari mereka. Oh tidak, pergi keluar untuk memata-matai mereka. Memikirkan rencana gilanya, membuat Rania tersenyum misterius.
Setelah berganti pakaian yang agak santai, Rania pun keluar dari kamar. Saat ia hendak masuk ke dalam Lift, ia begitu terkejut melihat orang yang tidak ingin lagi ia lihatnya lagi. Bahkan belum juga ada beberapa jam, ia sudah dipertemukan dengannya lagi. Baru saja ia ingin menghindar, seseorang itu sudah memanggil namanya.
"Rania."
Rania tersenyum. Mau tak mau, ia pun masuk ke dalam lift. Lagi pula ia tidak perlu takut karena didalam lift tidak hanya ada mereka berdua.
"Kamu mau kemana?"
Sebagai makhluk sosial, Rania sepertinya tidak bisa menekankan untuk tidak mengajak Alex berbicara walau berbicara singkat saja. Apalagi nada bicara dan gelagat Alex terlihat sopan. Mau tidak mau, Rania harus menanggapinya.
"Saya mau ke restoran," ujarnya yang masih tidak mengubah panggilannya.
"Emm, berati kita sama. Aku juga mau ke sana."
Seketika Rania menoleh. Ia mencari kesungguhan di mata Alex. Namun ia tidak mendapati kebohongan disana. Rania pun menanggapinya dengan senyuman tipis. Sesudahnya, Rania tidak lagi mendengarkan perkataan Alex. Entahlah, mungkin Alex sudah tau posisi mereka sedang berada dimana.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di lantai pertama. Rania bergegas keluar diikuti oleh Alex dari belakang. Semakin Alex mencoba mengejarnya, semakin Rania berusaha menghindarinya.
Saat memasuki restoran hotel, Rania celigak-celiguk mencari keberadaan Khanif. Namun, seberapapun ia mencari, ia tidak juga menemukan keberadaan mereka. Mengetahui hal itu, sukses membuat Rania menghela nafas berat.
__ADS_1
Ia tidak menyangka, usahanya ini berakhir dengan kekecewaan lagi. Rania murung, kala Khanif tidak memperhatikannya lagi.
"Lain di hati, lain di mulut," gumam Rania. Rania masih ingat jelas saat Khanif datang menjemputnya. Ia juga mendengar dengan jelas perkataan Khanif pada papanya. Namun apa ini? Khanif sepertinya memang sengaja membuatnya terlantar seperti ini.
"Huft!"
Rania lantas mengambil tempat duduk secara acak. Ia tidak ingin lagi mencari tempat duduk yang bisa membuatnya santai. Baru saja Rania mendudukkan dirinya, Alex sudah berada dibelakangnya seraya berkata, "boleh aku duduk disini?"
Karena kesal, Rania menjawabnya garang, "tidak boleh. Disinikan masih banyak tempat duduk lain. Kamu duduk disana saja."
"Kamu lagi kesal sama lelaki yang duduk disampingmu saat di pesawat tadi?"
Rania menoleh pada Alex yang sudah duduk disampingnya. Ia menatap Alex tajam.
"Dia yang buat aku kesal? Mimpi kamu."
Tanpa mendapat persetujuan dari Rania, Alex mengambil tempat duduk didepan Rania. Ia lalu menanggapi ucapan Rania, "hem iya. Aku tadi melihat dia sedang berjalan dengan seorang wanita. Wanita itu cantik, seperti kamu."
"Mata kamu bermasalah? Cantik yang mana? Orang pas-pasan begini dibilang cantik. Heran aku."
Alex tertawa. Ia pun berkata, "aku suka dengan elakkan mu. Jarang aku mengenal wanita seperti kamu. Dipuji malah membuat dirinya rendah hati."
"Jika kamu masih berbicara ngawur, enyah saja dari harapanku."
Baru saja Alex ingin menanggapi, seketika ia merasa lidahnya kelu saat ia tidak sengaja melihat sebuah tatapan tajam yang terarah padanya di pintu masuk restoran.
...To be continued ...
Rencana aku mau up besok 3 bab, tapi jika vote-nya udah sampai 15 lagi ya. sistemnya yang kayak minggu lalu.
Yang tidak tau cara vote-nya, kalian bisa melihat akhir cerita ada tulisan vote seperti gambar dibawah ini .
Kalian klik aja vote itu. lalu beri dukungan. udah itu selesai deh. ok selamat mencoba
__ADS_1
Semoga yang like/komen/komentar, diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki, aamiin 🤲
...By Siska C ...