Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 187. Kejutan Buat Khanif


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa?" tanya Khanif saat melihat Rania yang tidak nyaman untuk duduk disampingnya.


"A ... apa?"


"Kamu kenapa?" tanya Khanif yang kini tidak mengikutkan kata sayangnya lagi hingga membuat Rania dengan leluasa menjawab pertanyaannya kembali.


"Aku tidak apa-apa."


"Kalau kamu lelah katakan saja, ya."


"Iya."


"Kamu terlihat sangat cantik dengan hijabmu," ujar Khanif pelan nan tiba-tiba, hingga membuat Rania menolehkan wajahnya kepada Khanif.


Sungguh, Rania tidak menyangka Khanif akan mengatakan hal itu saat mereka masih berada di tempat acara.


Khanif yang merasa kalau Rania tengah melihatnya, sontak saja memalingkan wajahnya juga.


"Terima kasih," katanya pelan - penuh ketulusan. "Aku tidak menyangka di pernikahan kita ini, aku mendapat sebuah kejutan besar darimu."


"Aku merubah diri karena kemauanku sendiri," ujar Rania sengaja untuk menyembunyikan pipinya yang mulai memerah nan memanas karena pujian Khanif sebelumnya.


"Tak apa, baik itu karena kemauanmu sendiri, maupun karena jilbab yang ku berikan menyentuh hatimu, semuanya sama saja kan. Kamu tetap saja terlihat mempesona."


"Sstt, disini banyak orang," seru Rania pelan takut didengar oleh orang-orang.


"Tak apa, toh kita sudah resmi juga."


"Tapi ... tapi ....,"


Ah, Rania ingin sekali mengatakan, kalau aku malu. Namun perkataan itu hanya menjadi angin lalu di pikirannya saja.


***


Tanpa terasa, dua jam telah berlalu. Pernikahan Khanif dan Rania berjalan dengan khidmat. Bahkan mereka  selalu tersenyum pada tamu-tamu yang memberikan mereka selamat dan doa langgeng pernikahan. Mereka tentu saja turut mengaminkan perkataan mereka dan berterima kasih karena telah mengucapkan kata-kata yang baik untuk mereka berdua.


Selain itu, mereka juga membalas jabatan tangan dari para tamu dan juga berfoto bersama jika para tamu undangan ataupun keluarga dan teman-teman mereka memintanya.


Semua itu berjalan baik dan lancar. Bahkan sesekali Khanif terlihat mengajak Rania berbicara, hingga membuat beberapa kali pipi Rania bersemu merah.


"Duh pengantin baru ini, tidak menyadari kedatangan kami," seru Dean yang baru tiba siang ini.


"Kak Dean."


"Selamat ya adik Rania. Coba saja kakak lebih cepat dari dia." Tunjuk Dean pada Khanif. "Pasti saat ini kakak-lah yang akan duduk di sampingmu," ujar Dean membuat Rania tertawa pelan.


"Enak saja," sewot Khanif. "Kalau mau beri selamat, cepat gih. Jangan disini dan menggoda istriku,"


"Duh, ada yang marah nih," ujar Dean mendapat pelototan mata dari Khanif.

__ADS_1


"Iya, iya, maaf. Aku sengaja kok," katanya sengaja. "Baiklah. Aku cuma bercanda saja. Aku cuma mau bilang, semoga pernikahan kalian ini langgeng dan mudah-mudahan Allah memberkahi kalian, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kalian berdua pada kebaikan."


Sontak saja Rania dan Khanif mengaminkan perkataan Dean barusan. Jarang-jarangkan Dean bisa seserius ini?


"Oh, iya aku lupa sesuatu," ujar Dean.


"Hem, apa?" tanya Khanif.


Dean lantas semakin memajukan dirinya diantara Khanif dan Rania.


"Semoga juga aku bisa cepat-cepat mendapatkan keponakan dari kalian. Malam ini juga bisa, kok," katanya sambil terkikik geli.


Lihat, Dean sudah kembali ke sifat jailnya!


Belum juga Dean menjauh, ia sudah lebih dahulu mendapat jitakan dari Khanif.


"Sakit tau Khanif," adu Dean seraya menggosok-gosok kepalanya yang sebenarnya tidak merasakan sakit.


"Kamu jangan buat istriku jadi canggung begini," ujar Khanif membuat Dean mengalihkan pandangannya pada Rania.


"Ah, iya, yah. Maaf ya, dik Rania. Mulut aku memang susah di kontrolnya jika sudah menyangkut soal Khanif," katanya disertai cengengesan dirinya.


Sedang Rania hanya dapat menganggukkan kepalanya pelan tanda mengiyakan.


"Sudah sana pergi. Jangan terus disini. Bagaimana kalau kamu mau cepat nyusul, kalau kamu sengaja berlama-lama disini."


"Ah, iya. Kamu benar juga. Baiklah, aku pergi dulu. Kalian berbahagialah dan jangan lupa pesanku yang terakhir itu harus dijalankan."


"Eh, iya, iya. Pak suami. Baiklah aku usah mau pergi ini."


Setelahnya mengatakannya, Dean benar-benar pergi meninggalkan rasa canggung yang tertinggal pada Khanif dan Rania.


Hingga tiba-tiba saja Khanif sengaja berdehem untuk menormalkan sikapnya pada Rania.


"Dia ... dia memang anaknya seperti itu. Apa yang terlintas di pikirannya, akan dia akan katakan begitu saja."


"Tak apa. Aku mengerti."


"Syukurlah kalau begitu."


---


Setengah jam kemudian, acara perjamuan yang diadakan pagi hari sampai siang itu pun akhirnya selesai juga.


Mama Dahlia lantas membawa Khanif dan Rania kembali ke kamar Rania untuk beristirahat sebelum melakukan acara resepsi yang akan diadakan pada malam harinya di salah satu hotel milik Khanif.


"Kalian istirahat saja dulu. Pasti kalian lelah telah menjamu para tamu yang hadir," ujar mama Dahlia.


"Iya, ma," ujar Khanif dan Rania hampir bersamaan.

__ADS_1


"Kalau kalian mau menyegarkan diri, silakan saja. Biar kalian bisa bersemangat lagi nantinya. Baiklah. Kalau begitu mama keluar. Kalau ada yang kalian butuhkan, panggil mama saja, ya."


"Iya, ma."


Mama Dahlia pun keluar dari kamar Rania. Kamar yang telah disulap menjadi kamar pengantin untuk mereka berdua.


Keadaan yang semula biasa saja, tiba-tiba terasa canggung begitu mama keluar dari rumah. Entah mengapa, suasana didalam kamar itu seketika berubah menjadi aneh bagi mereka berdua.


Padahal, mereka berdua sudah sering berada di ruangan yang sama. Seperti jika Rania membawakan Khanif berkas kerjanya atau pun berkas dari semua divisi perusahaan.


Namun apa ini? Mereka yang sudah terbiasa berdua didalam ruangan Khanif, malah terlihat canggung dan bahkan menjadi salah tingkah berada didalam kamar Rania hanya berdua saja.


Tidak, Rania tidak dapat terus berada didalam suasana yang canggung ini. Untuk itu pun, Rania memberanikan diri dalam memecah keheningan yang terjadi setelah sekian lama tanpa suara.


"Emm, kakak mau membersihkan diri lebih dahulu atau bagaimana?" tanya Rania.


"I ... iya, atau kamu duluan saja," kata Khanif. "Aish, kenapa bisa nada suara yang keluar jadi seperti itu?" runtuk Khanif dalam hati.


"Aku bisa menunggu. Kakak saja yang lebih dahulu membersihkan diri."


"Baiklah, kalau begitu."


Khanif lalu masuk ke dalam kamar kecil yang memang ada didalam kamar Rania.


Namun belum juga ada beberapa detik, ia kembali keluar dan membuat Rania mengernyit heran.


"Ada apa kak?"


"Aku lupa ambil baju ganti," katanya sambil tersenyum canggung.


"Oh," respon Rania.


"Oh, saja?"


"Iya, lalu kakak mau apa?"


"Tidak ada." Khanif lalu berjalan cepat ke samping tempat tidur untuk mengambil kemeja putih dan celana panjang hitam yang telah disediakan oleh mama Dahlia.


Setelahnya, Khanif pun kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian, Khanif telah selesai bersih-bersih diri. Ia lalu keluar dari kamar mandi.


Rania yang tidak sengaja menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, lantas menjadi gugup seketika saat tanpa sengaja matanya dan mata Khanif bersitatap.


"Mau bersih-bersih juga?" tanya Khanif.


"I ... iya," jawab Rania gugup.


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin


...By Siska C...


__ADS_2