Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 111. Aku Tidak Sengaja


__ADS_3

Entah mengapa tiba-tiba saja Khanif merasa penasaran dengan seseorang yang telah mengetuk pintu ruangannya. Ia bahkan telah menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan tatapan yang tidak lepas dari pintu masuk.


Tanpa Khanif sadari, ia tersenyum begitu melihat wanita yang tengah melangkah masuk ke dalam ruangannya. Ia bahkan tidak bisa memungkiri bahwa ia telah terperangkap dalam pandangannya sendiri. Andai saja ia tidak mempertimbangkannya lebih lama, ia pasti sudah merasa bahagia saat ini. Tapi, kata andai pun kini sudah tidak berguna lagi.


"Pak, ini dokumen keuangan yang bapak minta," ujar Rania yang telah sampai dihadapan Khanif. Namun Khanif masih tak bergeming, hingga membuat Rania harus memanggilnya lagi. "Pak."


"Hem, ya. Kamu bisa menaruh dokumennya disini."


"Iya, pak," katanya. Rania lantas memberikannya pada Khanif. Namun setelah memberikannya, ia tak kunjung pergi dari hadapan Khanif.


"Ada lagi?"


"Emm, ini brownies untuk bapak. Saya tadi membelinya, sekalian memberikannya buat bapak juga. Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih saya."


"Benarkah?" Khanif memajukan dirinya dengan tangannya yang berpangku di dahu. "Kedengarannya tidak seperti itu."


"Tentu saja seperti itu. Kalau bapak tidak menolong saya, pasti saya akan telat ke kantor."


"Buat aku, ada tidak?" ujar Davina. Rania dan Khanif lantas menoleh. Mereka mendapati Davina tengah berjalan masuk.


"Davina," kata Khanif.


"Pantas saja ketukan pintuku tidak dengar, ternyata Rania ada disini. Jadi jangan salahkan aku, kalau aku langsung masuk saja."


Rania tersenyum canggung karena perkataan Davina.


"Ada apa?"


"Em, ini. Aku membawa dokumen penjualan bulan ini."


"Saya pamit undur diri," kata Rania.


"Hem. Terima kasih, browniesnya. Nanti saya memakannya."


Setelah Rania pergi, Khanif hanya menaruh brownies pemberian Rania, lalu kembali melihat Davina.


"Kakak rasa, kamu datang kesini bukan cuma untuk memberikan dokumen ini." tebak Khanif.

__ADS_1


"Kakak memang yang paling mengerti aku," ujarnya dengan senyuman yang mengambang lebar.


"Katakan saja, kalau kakak bisa bantu, nanti kakak bantu."


"Tentu saja kakak bisa. Bagi kakak ini adalah hal mudah. Apalagi mengingat kakak ..."


"Tunggu-tunggu." Khanif menghentikan perkataan Davina dengan pandangan mencurigakan. Ia tahu, pasti permintaan Davina ini bukalah permintaan main-main. "Mendengar caramu berbicara, seperti memuji kakak. Kakak pastikan permintaan ini penting sekali."


Davina tersenyum, ia tahu kalau Khanif mengerti dirinya.


"Katakanlah, sebelum kakak berubah pikiran."


"Davina mau ambil cuti seminggu."


"Tidak bisa diundur dulu, saat ini kakak lagi sibuk-sibuknya dan butuh bantuan kamu."


Davina menggelengkan kepalanya. "Aunty Tia mau Davina ikut."


"Baiklah. Buatkan kakak surat resminya dan berikan pada Rahayu, nanti. Salam sama Aunty, ya."


"Hem, nanti Davina akan sampaikan sama Aunty. terima kasih kakak. Baiklah, Davina mau kembali bekerja."


"Oh iya, karena kakak sudah berbaik hati mengizinkan Davina, maka Davina punya hadiah khusus buat kakak. Tapi tunggu Davina pulang dulu."


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"No no no. Ini hadiah khusus jadi Davina pilih hari yang khusus juga."


"Sekarang atau nanti kan sama saja, kamu akan memberikannya sama kakak saja kan."


"Sudah, ah. Pokoknya kakak tunggu saja. Oh iya, jangan lupa browniesnya dimakan. Sayang loh, kalau cuma dijadikan pajangan saja. Nanti usaha Rania membawakan kakak jadi sia-sia," ujar Davina sedikit terkikik geli. "Sepertinya Davina sudah banyak bicara. Kakak kerja lagi, Davina pamit. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, ingat salam sama Aunty," ujar Khanif membuat Davina mengangguk nan tersenyum.


Sepeninggal Davina, Khanif tidak lantas memeriksa laporannya lagi. Ia terus saja melihat kotak berisi brownies pemberian Rania. Bagaimana tidak, pada awalnya ia ingin kembali fokus. Namun, kata-kata Davina terus saja terngiang-ngiang ditelinganya. Kata-kata yang mengatakan 'usaha Rania jadi sia-sia'.


Akhirnya, Khanif pun menyingkirkan dokumen didepannya dan membawa kotak berisi brownies didepannya. Harum menggoda selera, itulah yang pertama kali Khanif hirup saat membuka kotak brownies. Sepertinya kata Davina benar, ia tidak boleh menyia-nyiakan makanan seenak ini. Apalagi ia baru sadar kalau dirinya belum makan dari pagi tadi. Sepertinya ia harus berterima kasih pada Rania. Khanif pun mulai menikmati browniesnya dengan tenang.

__ADS_1


***


Setelah sekian lama bergelut dalam laporan, pada akhirnya Khanif sudah selesai memeriksa semuanya. Ia melihat jam yang melingkar pergelangan tangannya. Jam yang menujukkan waktu pulang sebentar lagi. Khanif lalu membereskan berkas di mejanya. Sesaat kemudian, ia memanggil Farah datang keruangannya untuk membawakan semua berkas ke devisi masing-masing.


Akhirnya, ia bisa sedikit merentangkan dan merilekskan tubuhnya. Khanif lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan menuju rooftop kantor. Saat Khanif baru saja membuka pintu rooftop, Khanif memicingkan matanya saat dirinya melihat Rania ada disana. Dia berdiri menghadap matahari yang sudah condong ke ufuk timur.


Melihatnya, Khanif tersenyum kecil. Ia lalu berjalan pelan mendekati Rania. Ia berjalan perlahan karena tidak ingin membuat Rania terkejut. Apalagi pandangan Rania masih terpaku pada bola besar yang bersinar keemasan.


Saat Khanif sudah dekat dengan Rania, ia berdehem untuk menyadarkannya. Namun naas, Khanif tidak tahu kalau Rania sedang memegang sebuah minuman. Jadi saat Rania berbalik, minuman yang sedang dipegang oleh Rania, tumpah ke bajunya.


"Astagfirullah," ujar Rania terkejut dengan refleks menutup bibirnya sesaat setelah mengatakannya. Begitu pula dengan Khanif. Ia tidak menyangka hal yang dihindarinya malah tetap terjadi juga.


"Aduh! Maaf pak, saya tidak sengaja. Saya tidak tahu kalau bapak ada dibelakang saya."


Khanif melihat bajunya yang sudah berubah menjadi warna coklat. "Tak apa, ini bukan salahmu sepenuhnya."


Rania memandang Khanif tidak enak. Sungguh, ia tidak sengaja dan tidak tahu kalau Khanif berdiri dekat dengannya.


"Biar saya bersihkan baju bapak."


"Eh, tidak usah."


"Tapi, pak." Sungguh Rania tidak enak berada di situasi seperti ini. Ia seperti orang yang tidak tahu bertanggung jawab saja.


"Saya pergi dulu." Khanif pun berbalik meninggalkan Rania yang masih terpaku memandanginya hingga menghilang dari balik pintu.


"Ceroboh!" Rania mengatai dirinya sendiri seraya mengetuk kepalanya kecil. Bagaimana tidak, orang yang telah dibuatnya setengah basah tadi bukalah orang yang punya jabatan biasa sepertinya, melainkan orang yang mempunyai perushaan tempatnya bekerja.


Untung saja Khanif mengerti. Kalau tidak, nama Rania di perusahaan ini pastinya hanya akan menjadi sebuah kenangan yang memalukan.


Yah, ia juga tahu. Bukan hanya pada Khanif saja ia merasa bersalah kalau telah membuat kesalahan. Namun, pada sesama karyawan juga. Ia tahu akan hal itu. Tapi, setidaknya, kecemasannya sedikit berkurang jika berhadapan dengan mereka dibandingkan dengan Khanif.


Rania dengan lesu berujar, "sudahlah, semua sudah terjadi." Setelahnya, ia pun melangkahkan kakinya kembali ke ruangan kerjanya. Sore ini benar-benar membuatnya merasa bersalah.


Saat Rania telah sampai di ruangannya, ponselnya berbunyi yang menandakan kalau ada sebuah pesan yang masuk. Ia lantas mengambil ponselnya dari laci meja yang tidak tertutup rapat. Sesaat setelah membacanya, ia seperti menyesal saja.


...To be continued...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2