Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
102. Belum Saatnya


__ADS_3

Seperti perkataan Zaky, ia datang menjemput Rania dirumahnya. Bahkan ia datang lebih awal dari perkataannya dan berakhir dengan dirinya yang tengah berbincang hangat dengan papa Rania di ruangan tamu.


Meski awalnya Zaky merasa tidak enak dengan pandangan papa padanya, tapi ia tetap mencoba mencari percakapan yang tepat untuk mereka bincangkan.


Hingga Zaky menemukan topik yang tepat untuk menghilangkan rasa kecanggungan itu dengan mengangkat pembicaraan tentang pertandingan bola semalam. Pastinya, papa Rania juga menyukai pertandingan semalam yang disiarkan di televisi swasta.


Dugaan Zaky pun tepat. Bahkan kini kedua lelaki beda usia itu berbicara tentang pertandingan bola semalam yang begitu menegangkan menurut mereka. Namun percakapan tentang kegemaran itu terhenti begitu saja saat Rania telah memperlihatkan batang hidungnya didepan papa dan Zaky.


Rania yang tahu telah mengganggu percakapan papa dan Zaky pun jadi tersenyum jail pada mereka karena dirinya seperti sengaja menghentikan percakapan yang kian seru itu.


"Sepertinya percakapan papa dan Zaky serius sekali. Tapi pembicaraan ini sudah selesai karena Rania akan pergi sekarang," ujarnya membuat papa tidak punya pilihan lain.


Ya tentu saja. Karena papa tidak ingin kalau putri satu-satunya ini pulangnya nanti kelamaan gara-gara dirinya yang menahan Zaky untuk melanjutkan pembicaraan mereka tentang sepak bola semalam.


Bukannya ia yang sebagai orang tua tidak khawatir kalau anak gadisnya dibawa jalan-jalan dengan lelaki lain. Hanya saja, papa percaya pada Zaky karena sudah sangat lama papa mengenal Zaky. Mulai dari anak gadisnya itu kuliah sampai sekarang, papa sudah mengenal betul sifat Zaky. Untuk itulah, papa tidak khawatir lagi kalau Zaky lah yang mengajak anaknya jalan.


Papa pun berdiri dan ikut keluar melihat putrinya keluar dari rumah. "Hati-hati dijalan," ujar papa.


"Iya, om. Kami pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Zaky


"Pa, kami pergi dulu," pamit Rania.


Papa mengangguk. Rania pun masuk ke dalam mobil lalu duduk disamping Zaky. Baru setelah Rania memasang sabuk pengamannya, Zaky lalu melajukan mobilnya menuju bioskop tempat mereka ingin menonton film.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju bioskop, Zaky tetap diam. Hal itu pun sukses membuat Rania heran dibuatnya. Bukan karena Rania mempunyai keingintahuan yang tinggi, hanya saja Zaky tidak pernah diam sampai selama ini jika mereka sedang berada didalam mobil berdua. Pastinya ada saja topik pembicaraan yang mereka bicarakan.


Entahlah, ada apa dengan Zaky. Padahal mereka akan pergi menonton berdua. Apakah Zaky sebenarnya tidak ingin pergi menonton, tapi karena Zaky telah berjanji padanya, Zaky tidak membatalkannya? Atau Zaky sebenarnya mempunyai masalah hingga membuatnya mencari hiburan? Atau Zaky sedang banyak kerjaan hingga membuatnya diam sampai seperti ini?


Rania seperti seseorang yang mempunyai keingintahuan yang tinggi saja pada urusan pribadi seseorang.


Rania yang terlalu sibuk dengan dunianya terlonjak kaget saat Zaky menyadarkannya dengan cara menepuk lengannya. Rania lantas menoleh pada Zaky, lalu kemudian ia mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya. Ternyata mereka telah sampai di depan bioskop. Rania kemudian keluar dari mobil dan mengikuti Zaky masuk ke dalam bioskop.


"Zak," panggil Rania pelan saat mereka sudah selesai membeli tiket membuat Zaky yang ada didepannya menoleh.


"Ada apa?"


"Aku lihat dari tadi kamu hanya diam saja."


Zaky yang tahu apa yang ada dipikirkan Rania tentang dirinya pun segera menepisnya, "aku tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir dan nikmati saja nonton film ini. Sayang kalau kita lewatkan."


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," ujar Zaky menghentikan langkah kakinya hingga membuat Rania juga mengikutinya.


"Tak apa. Ayo, sepertinya sudah mulai main," ajak Rania.


***


Bagi Khanif, ia merasa hari berlalu sangat lama. Padahal, ia pergi ke kota M belum cukup beberapa hari tapi ia sudah merasa kalau dirinya sudah berhari-hari berada disini. Entahlah, ia juga tidak tahu mengapa hal seperti ini terjadi padanya. Waktu dulu pun ia tidak pernah merasakan hal seperti ini saat dirinya berada disini. Tapi sekarang, sepertinya ia merasa aneh saja.

__ADS_1


Khanif semakin bingung. Ia bahkan sudah mencoba mencari tahu apa penyebabnya, tapi lagi-lagi hal itu semakin membuat dirinya bertambah bingung saja. Bahkan ia sekarang menjadi pusing dan sepertinya ia harus mencari suasana yang membuat hatinya dapat melupakan perasaan aneh itu.


Ia lalu bergegas menuju mobilnya setelah ia tadi memberitahu Tama kalau dirinya ingin pergi sejenak. Ia pun melajukan mobilnya menuju tempat yang pernah didatanginya bersama Rania. Mengingat satu nama itu, ia baru menyadari sesuatu. Ia kini tahu apa penyebabnya. Namun saat dirinya mengetahuinya, ia mencoba menepis pemikiran aneh yang sempat terlintas dipikirannya itu.


Menurutnya, ia tidak pantas memikirkan seorang wanita yang belum halal baginya. Mungkin jika sejenak terlintas di pikiran, hal itu adalah hal yang wajar karena memang hal itu sifat alamiah manusia. Tapi jika terus-menerus memikirkannya, ia rasa - ia telah melakukan hal yang bertentangan dengan hatinya.


Khanif pun membuka kaca mobilnya, membiarkan angin dingin masuk kedalam lalu menikmati laju mobil yang mungkin bisa membuatnya merasa santai. Ia kemudian memutar musik agar ia tidak lagi memikirkan Rania. Wanita yang sudah menganggu pemikirannya tadi - yang lama ia sadari.


Sesampainya Khanif di tempat yang pernah ia datangi bersama Rania, Khanif lantas memarkirkan mobilnya dan bergegas keluar menuju tempat duduk yang baru dibuat oleh warga sekitar.


Disana, sudah ada banyak orang yang duduk nikmati suasana sore hari bersama keluarga ataupun orang tersayang ditambah dengan makanan serta minuman yang dijual oleh pedagang kaki lima dan warung disekitarnya. Lengkap sudah kebahagiaan hidup ini.


Namun berbeda dengan Khanif. Ia seperti orang yang hilang ditengah banyaknya orang disini. Khanif terlihat menyedihkan diantara banyak pasangan keluarga yang ada disana.


Ia seperti lelaki yang tidak laku jika dibandingkan beberapa lelaki yang sudah berumahtangga yang seumuran dengannya. Meski begitu, Khanif tidak mempedulikannya. Ia tetap mengambil tempat duduk yang bisa melihat bangunan vila-nya di kejauhan sambil menikmati makanan dan minuman yang barusan ia pesan.


Sambil menikmati makanannya, Khanif sesekali memainkan ponselnya. Awalnya ia menikmatinya dengan perasaan santai. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja wajahnya berubah jadi pucat saat ia melihat sebuah video singkat yang dikirimkan lewat pesan aplikasi online berwarna hijau dari nomor yang tidak dikenal.


Sungguh Khanif tidak ingin mempercayai video yang telah dikirim oleh orang lain itu. Namun melihat siapa orang yang ada didalam video tersebut, membuat Khanif yakin kalau itu adalah dirinya.


Dia yang telah membuat Khanif diam-diam memperhatikannya. Namun, melihat hal yang tidak ingin dilihatnya membuat Khanif jadi tidak berselera menghabiskan makannya. Sungguh ia menyesal telah membuka media sosialnya disaat seperti ini.


...To be continued...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2