
Setelah mendapatkan kursinya, Zaky dan Rania mulai duduk. Saat Rania menoleh ke arah sampingnya, ia terkejut melihat seseorang yang dikenalnya. Tanpa sadar, ia pun mengucapkan namanya.
"Farah!"
Merasa namanya disebut, mau tak mau wanita yang sedang asik berbicara dengan teman nontonnya pun menoleh pada Rania.
"Oh, Rania. Kamu disini juga rupanya. Kamu datang sama siapa?"
"Aku sama teman," jawab Rania seadanya.
Namun Farah tidak percaya karena bisa saja Rania bohong kepadanya sebab tidak ingin ketahuan olehnya. Apalagi ia seperti mengetahui kalau teman yang Rania anggap ini pernah beberapa kali datang ke kantor hanya untuk bertemu Rania.
Farah katakan dalam hati, "impossible!" Bisa jadi Rania berbohong kepadanya karena tidak ingin ketahuan.
"Kamu sama siapa?" tanya Rania tiba-tiba membuat pikiran negatif Farah tantang Rania menjadi buyar seketika.
"Oh, itu. Aku sama teman juga," ujarnya dusta karena tidak ingin diketahui oleh Rania.
Bisa-bisa kalau Rania tahu, Rania akan mengatakannya pada Khanif. Jujur saja, ia juga mempunyai sebuah perasaan untuk Khanif. Meski saat ini ia telah mempunyai seorang pacar, tapi jika bisa mendapatkan yang lebih. Lebih baik dan lebih tampan kenapa tidak? Untuk itulah ia dengan sengaja berbohong. Lagi pula, pacarnya sedang membelikannya popcorn dan minuman, jadi pastinya pacarnya yang ia akui didepan Rania sebagai teman, tidak akan tahu.
"Aku kira sama ...."
"Sama pacar? Ngga lah," elak Farah meyakinkan.
Namun tanpa Farah ketahui, ucapannya barusan didengarkan oleh kekasihnya yang baru tiba. Namun kekasihnya itu tetap berpura-pura tidak tahu karena rasa cintanya yang mendalam pada Farah, mampu menutupi segalanya.
Akhirnya film pun dimulai. Baik Farah maupun Rania, tidak lagi saling bercakap karena keduanya kini telah fokus pada sebuah layar lebar yang menampilkan film yang sedang populer saat ini. Kedua wanita itu larut dalam suasana yang ada dalam film tersebut. Pop corn yang ada ditangan masing-masing pun tidak ketinggalan untuk menemani mereka dalam menonton film itu.
Zaky yang ada disamping Rania pun tidak terlalu fokus pada film didepannya karena sebenarnya ia mengajak Rania pergi menonton begitu untuk bisa lebih dekat dengan Rania dan juga agar Rania tahu kalau selama ini dirinya telah menyimpan sebuah rasa yang lebih dari sekedar seorang teman.
Zaky kadang-kadang melirik Rania yang biasa menampilkan raut wajah yang berbeda. Terkadang tersenyum, tertawa kecil dan terkadang terlihat sendu. Zaky yang mengatahui kalau hal ini terjadi gara-gara film yang mereka nonton pun kadang tersenyum lucu. Ia tidak menduga kalau Rania bisa se-serius ini dalam menonton film.
__ADS_1
Saat mengetahui hal itu, membuat hati Zaky menghangat. Betapa tidak, Rania saja bisa se-serius ini dalam menonton film apalagi serius dalam hubungannya kelak! Ah, memikirkan hal itu membuat Zaky malu. Belum apa-apa, ia sudah memikirkan jauh kedepannya.
Tanpa Zaky sadari karena ia tidak terlalu fokus pada film didepannya, ternyata filmnya telah usai baru saja. Rania yang hendak beranjak pun jadi heran saat Zaky tidak menujukkan tanda-tanda untuk keluar dari bioskop ini. Rania lantas mengibaskan tangannya didepan wajah Zaky dan berhasil.
Zaky jadi dibuat gelagapan oleh Rania. Ia merasa malu sekaligus karena telah kedapatan dalam melihat Rania. Namun semoga saja Rania tidak menyadari hal itu, rapalnya dalam hatinya.
"Ayo kita keluar," ujar Zaky.
Rania pun melangkah keluar lebih dahulu disusul dengan Zaky dibelakangnya.
"Apa kamu menikmati filmnya?" tanya Zaky saat mereka terus berjalan ke parkiran mobil.
"Hem. Tentu saja."
"Lain kali aku akan mengajakmu lagi."
Rania hanya tersenyum menaggapi. Biar bagaimana pun, ia tidak boleh membiasakan dirinya untuk keluar malam terus. Jika Zaky mengajaknya siang atau sore pada hari minggu, kemungkinan Rania akan menerima ajakannya itu.
Setibanya Zaky di rumah Rania, ia pun keluar dari mobilnya untuk membukakan Rania pintu.
"Terima kasih untuk malam ini," ujar Rania.
"Sama-sama. Baiklah, aku pergi dulu. Selamat bermimpi indah."
Rania mengangguk. Rania pun berlalu masuk kedalam rumahnya. Melihat Rania sudah hilang dibalik pintu, Zaky kembali melajukan mobilnya ke arah rumahnya sendiri. Sepanjang jalan, Zaky terus saja tersenyum. Ia mengingat bagaimana malamnya ia habiskan menonton film dengan Rania. Wanita yang sangat sulit ia dapatkan hatinya.
Zaky terus saja senyum-senyum meski ia telah sampai dirumahnya. Bunda yang memang menunggu kepulangan Zaky didepan tv menjadi heran saat melihat tingkah yang tidak biasa dari anak sulungnya itu. Zaky yang sadar kalau bunda memperhatikannya, seketika menjadi kikuk. Ia lantas pergi ke dekat bunda dan sekali lagi mengambil tangannya untuk dicium.
Yah, inilah kebiasaannya dirinya. Mencium tangan orang tua sebelum dan sesudah pergi adalah kewajiban yang tidak dapat ia tinggalkan. Apalagi Zaky sangat menghormati orang tua tunggal yang telah membesarkannya dengan susah payah.
"Assalamu'alaikum, bunda."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Gimana jalannya?" tanya bunda langsung saat Zaky bergabung bersamanya duduk di depan televisi.
"Alhamdulillah, lancar bunda," ujarnya berseri-seri.
Bunda tentu saja dapat melihatnya. Hatinya sebagai ibu tahu kalau anaknya ini mempunyai perasaan lebih pada wanita yang diajaknya pergi menonton malam ini.
"Jadi gimana kelanjutan hubungan kalian?"
Zaky langsung menoleh pada sang bunda. "Kami hanya sebatas teman saja, bunda."
"Ngga ada niatan buat merubah batasan itu?"
Zaky tersenyum lembut nan malu-malu. Tentu saja ia tahu apa maksud bundanya. Tapi sebagai anak lelaki yang belum pernah sedekat ini dengan perempuan, ia takut jika harus melangkah maju sedikit. Malam ini mengajak Rania nonton bersama pun, ia memberanikan dirinya. Ia bahkan membuat persiapan selama berhari-hari.
"Zaky mau, tapi Zaky tidak tahu Rania mau apa tidak karena selama ini kami hanya berteman saja."
Bunda lalu menganggam tangan Zaky. "Dulu bunda dan ayah juga begitu. Kami menjalani pendekatan selama sebulan, kalau dibilang sekarang sama seperti ta'aruf. Bunda dan ayah pun setuju untuk melanjutkan hubungan kami sampai ke jenjang pernikahan." Bunda diam sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "tidak baik bagi seorang lelaki sering dekat dengan seorang perempuan tanpa ada niatan untuk melangkah maju. Kamu udah dewasa, jadi bunda harap kamu mau memikirnya lebih lagi."
"Iya, bunda. Zaky janji."
"Hem. Pergilah istirahat, besok kamu masuk pagi kan?"
"Iya, bun. Kalau gitu, Zaky ke kamar dulu."
Zaky akan memikirkan perkataan bundanya. Siapa tahu selama ini Rania hanya menganggapnya sebagai teman saja karena sebenarnya Rania ingin mempunyai hubungan yang serius (pernikahan) dari pada hanya menjadi pacar yang belum jelas status kedepannya, seperti yang ia ketahui selama ini.
"Mungkin saja," gumam Zaky.
...To be continued...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...