
Tidak lama kemudian, lift khusus yang ia naiki telah sampai di lantai tempatnya bekerja selama seminggu percobaan. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari lift. Saat ia hendak mencapai meja kerjanya, lagi-lagi langkah kakinya terhenti saat ia mendengar sesorang memanggil namanya.
"Rania."
"Jangan buat aku menanyaimu lebih parah lagi ya!" ujarnya pelan dengan nada mengancam.
Rania pun berbalik. Ia begitu terkejut melihat siapa yang telah memanggilnya.
"Aduh, gawat ini," ujarnya dalam hati menggerutuki kecerobohannya karena terlalu menuruti kekesalannya tadi.
Rania lantas menutup mulutnya dan kembali berbalik menuju meja kerjanya secepat mungkin. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk mengatakan kata dengan nada mengancam seperti itu.
"Rania, kenapa kamu malah menjauh," tegurnya seketika membuat Rania berhenti berjalan.
Rania mendesah lega saat tau, ternyata orang yang telah memanggilnya tidak mendengarkan perkataannya. Tapi masih takut-takut, Rania kembali membalikkan badannya. Jujur saja, ia hanya ingin menyendiri saat ini. Tapi sepertinya keadaan tidak memungkinkan.
"Bu Rahayu," ujar Rania sambil tersenyum canggung.
"Bisa ikut saya sebentar?"
"Iya bu. Bisa."
Setelah menaruh barangnya, Rania pun mengikuti langkah kaki Rahayu menuju ruangannya. Sepanjang jalan, Rania nampak tenang. Ia seperti ingin mengembalikan ketenangannya seperti hari-hari yang telah lalu, saat dirinya masih belum masuk ke dalam kandidat pencalonan sekretaris.
Sebelum hari-harinya yang tenang mulai hilang, setiap pagi Rania selalu menikmati pagi-paginya. Bila di kata, setiap pagi ia dengan senang hati membuka jendela kamarnya yang bersampingan dengan taman bunga yang dirawatnya. Dengan begitu, ia menikmati angin sejuk yang tertiup masuk ke dalam kamar.
Senyuman hangat yang dapat mencarikan kedinginan seseorang pun selalu tersinggung di bibir merah mudanya. Ia begitu bersemangat kala pagi kembali menghampiri. Tidak ada hari yang dilewatinya tanpa tersenyum lebih dahulu. Baginya, hal itu sudah menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan.
"Rania ... Rania ...," panggil Rahayu membuat ketenangan pikiran Rania buyar.
__ADS_1
"Iya, bu."
Rania begitu terkejut saat dirinya telah sampai didalam ruangan Rahayu. Sungguh, ia tidak memperhatikan keadaan sepanjang jalan tadi. Ia hanya berkelana ke masa lalunya, memikirkan ketenangannya yang begitu menyenangkan. Namun sedetik kemudian, ia berpikir, mungkin dirinya sudah di kira sombong oleh karyawan lain yang tadi sempat menyapanya saat mereka berpapasan.
"Kamu kenapa?" tanya Rahayu saat melihat Rania diam saja. "Kamu sakit?" lanjutnya.
Rania menggeleng, lalu menjawab, "tidak bu."
Rahayu mengangguk, lalu memberikan Rania sebuah berkas yang masih tersegel.
"Ini berkas dari pak Khanif. Beliau tadi memberikan saya berkas itu untuk diberikannya padamu."
"Pak Khanif tadi sudah datang?" tanya Rania tidak menyangka.
"Ya, tapi jangan khawatir, pak Khanif tidak akan memarahimu karena keterlambatanmu ini. Saya dengar kalau tadi malam kamu kerumah pak Khanif untuk mengerjakan berkas kerjasama. Jadi, mungkin itulah alasan pak Khanif memaklumi keterlambatanmu."
Rania heran dan bertanya-tanya tentang Rahayu yang mengetahuinya pergi ke rumah Khanif semalam. Ia ingin menanyakan, tapi ia merasa itu sangatlah tidak sopan. Apalagi bisa saja Khanif sendiri yang mengatakan semuanya pada Rahayu.
"Sekretaris ke dua?"
"Iya. Saya belum sempat menjelaskannya padamu. Jadi begini, diperusaahaan ini, pak Khanif memiliki dua sekretaris. Satu sekretaris utama seperti yang saat ini kamu dan kedua teman kamu lakukan. Satunya sekretaris pendamping. Dia akan memulai bertugas saat diantara kalian bertiga telah terpilih. Kerjanya saat ini pun hanya menghendel jam kerja pak Khanif yang tiba-tiba berubah, seperti tadi malam."
Rania manggut-manggut mendengar penjelasan Rahayu.
"Baiklah, saya rasa sudah memberitahumu. Mungkin tidak lama lagi pak Khanif akan tiba. Sebaiknya saya tidak menahanmu lebih lama lagi."
"Iya bu. Kalau begitu saya permisi."
Rania pun berlalu dari hadapan Rahayu. Berbeda dengan jalan yang tadi ia lalui bersama Rahayu, kini Rania berjalan ke arah lift kaca. Jalan tercepat yang bisa membuatnya langsung sampai di lantai duapuluh satu tanpa hambatan. Sesampainya Rania disana, ia pun menekan kata kunci yang telah Khanif beritahukan padanya untuk lift kaca. Setelah lift terbuka, Rania sempat kaget melihat Khanif juga berada disana.
__ADS_1
Entah mengapa hari-hari belakangan ini, Rania juga rajin terkejut. Apalagi saat tau orang yang membuatnya terkejut selalu dengan orang yang sama, yakni Khanif. Lelaki yang kini membuatnya berdiri terdiam dengan pandangan mata terkunci pada pandangan mata Khanif juga.
"Masuklah," suruh Khanif saat Rania hanya memandangnya saja.
"Iya pak," ujar Rania baru tersadar.
Mau tidak mau, Rania pun masuk kedalam lift kaca, berduaan dengan Khanif didalam sana. Tapi Rania tentu merasa tenang karena Khanif lah yang saat ini sedang bersamanya, apalagi lift ini tembus pandang yang bisa dilihat oleh hampir semua karyawan. Namun, berduaan dengan Khanif juga didalam sana, pasti membuat semua wanita yang menaruh hati pada Khanif akan cemburu buta padanya.
Ia bisa mengatakan cemburu buta seperti itu, karena jujur ia tidak mempunyai hubungan yang spesial dengan Khanif seperti anggapan mereka, saat ia pertama kali naik lift kaca dengan Khanif.
Tiba-tiba saja, Rania mengembuskan nafasnya kasar dan menundukkan kepalanya kala memikirkan anggapan yang tidak berdasar itu. Bukan tanpa sebab ia memikirkan hal tersebut. Tapi karena sudah jelas sekali, ia mengetahui berita tersebut saat tanpa sengaja ia melihat percakapan diantara teman-teman kantornya yang mengatakan kalau dirinya sudah sangat spesial dimata Khanif.
Jangan tanya dimana ia mendapatkan berita tersebut, kalau ternyata ia juga berada di grup aplikasi online yang sama dengan teman-teman lainnya. Secepat ia membaca berita tidak benar itu, secepat itu pula Rania mengubah nama panggilnya di beranda media sosialnya yang berwarna hijau.
Ia tidak ingin teman-temannya yang belum mengenal dirinya menjadi tidak enak hati padanya suatu saat nanti, saat tanpa sengaja mereka bertemu dengannya dikemudian hari sebagai sekretaris Khanif.
"Apa?" Rania begitu terkejut, ketika menyadari pernyataan yang tiba-tiba terlintas dipikirannya barusan. Menurutnya ini aneh! Oh bukan aneh melainkan sangat aneh lagi menurutnya. Bagaimana tidak, baru beberapa jam saja berlalu, ia pernah menegaskan kalau dirinya tidak akan pernah menjadi sekretaris Khanif, tapi beberapa menit kemudian ia sudah membantahnya, kalau ia akan menjadi sekretaris Khanif nanti. Bukannya ini aneh?
Pikirannya yang dulu dan yang sekarang sudah bertolak belakang. Ia pun menggelengkan kepalanya, mencoba menepis pemikiran yang ingin dibuangnya jauh-jauh.
"Kamu kenapa?" tanya Khanif khawatir, tetapi Rania tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Kamu tidak apa-apa?" ulang Khanif.
"Aku ...."
...To be continued...
Ada apa dengan Rania?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote dan komen ya.
...By Siska C...