
Rania bangun terlalu pagi. Ia yang belum bisa menjalankan sholat subuh pun berlalu naik ke lantai teratas. Disana, ia mulai meregangkan otot-ototnya.
Meski udara masih sangat dingin, Rania tidak memperdulikan itu. Karena, saat ia mulai berolahraga, matahari mulai menampilkan dirinya. Sinarnya begitu menghangatkannya ditengah dirinya yang kedinginan.
Embun pagi yang semula menutupi pandangannya dari pohon-pohon kini mulai hilang. Kicauan burung pun saling bersahut-sahutan. Ia merasa damai berada disini. Tapi, kedamaian itu tidak bertahan lama.
Rania menoleh saat Khanif memanggil dirinya, Rania mencebik. Ia masih tidak bisa melupakan kata-kata Khanif yang mengatakan dirinya sebagai bunglon betina. Namun, Rania memang bersalah saat itu karena ia lah yang lebih dulu memulai memanggil Khanif sebagai bunglon awalnya.
Rania jadi teringat akan sebuah kata-kata kalau wanita selalu benar. Jika menelisik lebih dalam, Rania bisa mengatakan kalau dirinya lah yang salah kemarin sore. Sebab, bagaimana bisa ia pergi berjalan-jalan menikmati suasana kota ini sementara Khanif dan Davina tengah bekerja keras untuk segera menyelesaikan masalah disini Rania menghela nafas berat nan panjang, ia sadar telah salah. Rania lalu membalikkan keseluruhan badannya dan mengatakan, "maaf!"
Khanif mengernyit heran, ia lalu memanggil "Rania!" sambil mengibaskan-ngibas tangannya didepan wajah Rania.
"Hem, saya mau minta maaf soal kemarin. Tidak seharusnya saja keluar jalan-jalan, sementara bapak dan Davina tengah bekerja disini untuk menyelesaikan masalah ini."
Khanif tersenyum, ia pun berjalan kepinggiran pagar dan membalikkan badan saat telah sampai disana. Ia lalu bersandar sambil menatap Rania yang telah membalikkan dirinya juga saat ia berjalan tadi.
"Akhirnya kamu sadar juga," ujar Khanif diselingi senyuman kecil.
"Jika bapak tidak mengizinkan saya pergi, saya pun tidak ingin pergi. Jadi, semua ini berasal dari bapak sendiri," ujar Rania ikut-ikutan bersandar seperti yang dilakukan Khanif.
"Melihat kamu begitu bersemangat saya tidak tega merusak rencana kamu, namun mengetahui pekerjaan ini mendesak, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya hanya bisa membuat kamu kecewa dan mendatangi saya, lalu mengatakan saya adalah bunglon."
Rania tiba-tiba tertawa, ia tanpa sadar sudah mengatakan Khanif adalah salah satu penghuni kebun binatang.
"Maaf, saya juga terbawa emosi. Tapi, hewan itu cocok dengan bapak karena biasa tiba-tiba berubah pikiran."
"Emm ... sepertinya cocok. Namun kamu juga cocok menjadi hewan itu."
Setelahnya, Rania dan Khanif sama-sama tertawa. Sungguh pagi yang dingin berubah menjadi pagi yang hangat bagi mereka.
"Sesuai janjiku, saya akan membawa kalian berjalan-jalan setelah masalah ini selesai."
Rania menanggapinya dengan tersenyum. Lalu sedetik kemudian, ia kembali mengatakan, "saya sudah mendengar bapak mengatakan itu. Bagaimana kalau bapak mengatakan hal yang lain?" bujuk Rania.
"Saat ini saya tidak bisa berjanji. Tapi, kalau vila telah selesai dibangun dan diresmikan, saya akan membawamu ikut serta lagi."
Senyuman Rania kian mengembang. Jika lelaki yang ada dihadapannya ini adalah Rey, Rania pasti akan berlari ke arahnya dan memberikannya hadiah sebuah kecupan di pipi.
__ADS_1
"Kenapa pipi mu memerah?"
"Hah! Apa ... Apa?" Rania lantas memegang pipinya, ia begitu terkejut saat Khanif sepertinya tau apa yang hinggap di pikirannya saat ini.
"Saya bercanda." Khanif terkekeh. Ia merasa lucu melihat tingkah Rania yang diluar dugaan itu.
"Sudahlah, saya rasa bapak mulai jadi bunglon lagi."
Rania pun berlalu tinggalkan Khanif dan memulai kembali kegiatan olahraganya. Khanif pun tidak tinggal diam, ia juga ikut Rania berolahraga. Namun baru beberapa menit, Khanif menghentikan olahraganya.
"Kenapa bapak berhenti?" tanya Rania penasaran.
"Saya kurang puas berolahraga disini. Saya mau berlari saja dibawah sana."
"Saya ikut."
Khanif mengangguk. Rania pun mengikuti langkah kaki Khanif yang memulai menuruni tangga menuju depan penginapan. Sesampainya mereka didepan penginapan, Khanif dan Rania mulai berlari-lari kecil.
Saat perjalanan mereka baru beberapa menit berlalu, tiba-tiba Rania teringat pada Davina. Ia pun menoleh pada Khanif dengan masih berlari-lari kecil mengimbangi gerak lari Khanif.
Khanif menoleh. "Hem, kenapa?" Dengan alis kanannya terangkat.
"Davina kemana? Saya belum melihatnya pagi ini."
"Kemarin malam, dia sudah meninggalkan penginapan karena saya punya tugas baru untuknya."
"Hah!" Rania menghentikan lari-lari kecilnya. "Kenapa bapak baru bilang sekarang?"
Kini Khanif ikut berhenti juga. Ia pun menjawab pertanyaan Rania. "Saya kira dia berpamitan padamu. Mengingat kalian yang sudah sangat dekat."
"Bapak mengelak lagi," sungut Rania seperti anak kecil.
Ekspresi Rania yang seperti itu, malah membuat Khanif tertawa sampai Rania dibuat heran karenanya.
"Kenapa bapak tertawa, ada yang lucu?"
"Kamu yang lucu. Sungguh kamu memang seekor bunglon juga. Kamu suka berubah-ubah tanpa alasan yang jelas."
__ADS_1
"Sudahlah, saya selalu kalah kalau berhadapan dengan bapak," ujar Rania sebelum berlari meninggalkan Khanif.
"Hei tunggu!"
Rania berbalik kebelakang dengan tetap berlari kecil. "Kejar kalau bisa," tentangnya.
Merasa tertantang, Khanif mempercepat laju larinya. Sedangkan Rania kini telah kembali berbalik ke posisi sebelumya. Ia bahkan sudah tidak berlari kecil lagi. Ia berlari dengan langkah-langkah besar, berusaha untuk menjaga jarak dengan Khanif.
Khanif tidak tinggal diam. Ia kian mempercepat langkah kakinya, mencoba mengikis jarak diantara mereka. Saat Khanif hampir saja membuat jarak mereka semakin dekat, di kejauhan, Khanif melihat sekolompok tentara yang kemarin telah mereka lewati. Khanif tau, cepat atau lambat, mereka akan bertemu dengan kelompok berbaju loreng itu.
Khanif dapat mendengar Rania meneriaki nama 'Rey' saat Rania sudah jauh didepannya. Bahkan hampir mencapai sekelompok orang terlatih itu. Khanif bungkam, sepertinya ia tidak dapat menghindarinya lagi.
Khanif memperlambat langkah kakinya seraya berkata, "saya sengaja membawamu berlari-lari pagi ini sebagai tanda maafku kemarin," gumam Khanif.
Didepan, Khanif dengan jelas melihat Rania sudah sampai di antara tentara itu dan dengan jelas pula Khanif dapat melihat senyum Rania yang merekah. Dari jarak yang jauh, Khanif juga dapat mendengarkan pemimpin para tentara yang tidak lain adalah Reyhan, menghentikan langkah kaki para anggotanya dan mengalihkan perhatian mereka pada jenis olahraga lain.
Saat jarak di antara mereka semakin terkikis, Khanif dapat mendengarkan percakapan Reyhan dan Rania meski Khanif harus menajamkan indra pendengarannya.
"Kak Rey. Maaf, kemarin sore Rania tidak bisa pergi sama kak Rey."
Khanif dapat melihat tangan Reyhan mengacak-acak rambut Rania seraya berkata, "tak apa. Kalau ada waktu lagi. Kakak akan mengajakmu jalan-jalan."
"Bener?"
Reyhan mengangguk sebagai jawaban.
"Tidak salah, Rania sayang kakak."
"Anak nakal. Tentu saja harus sayang."
Awalnya Khanif tidak ingin mendekati mereka agar Rania lebih leluasa bercakap dengan Reyhan. Namun, sepertinya hal itu bukanlah ide yang bagus karena bisa-bisa Rania menjadi salah satu penghalang bagi mereka yang bersemangat untuk berolahraga. Khanif pun mempercepat langkah kakinya.
...To be continued...
Yuk, dukung ceritaku dengan memberikan like 👍 komentar 💬 vote, bisa juga memberikan hadiah 📦
...By Siska C...
__ADS_1