
Dua hari telah berlalu. Kini Rania telah sembuh dari keseleo kakinya, meskipun jalannya harus ia pelankan. Rania pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor karena papa dan mama telah mengizinkannya.
Walau telah diizinkan, sebenarnya perjuangan Rania untuk mendapatkan izin itu tidaklah mudah. Ia melakukan semua perintah mama dan papa agar kakinya cepat sembuh. Mulai dari tidak memberi makan ikan koi-nya dulu karena papa bisa menggantikannya, sampai Rania dilarang oleh mama memperhatikan bunga-bunganya karena mama pun bisa mengatasinya.
Selama dua hari belakangan ini, Rania tetap berada didalam kamarnya jika bukan saat kumpul keluarga, sarapan, maupun makan keluarga. Namun hal itu tidak lagi membuatnya bosan karena ia telah mendapatkan pernyataan kalau dirinya sudah bisa bekerja lagi.
Jadi, disinilah Rania berada. Didepan bangunan kokoh yang berlantai-lantai, tempatnya bekerja saat ini. Ia pun perlahan masuk ke dalam tempat kerjanya itu. Para karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya pun menyapanya dan menanyakan kabarnya. Dengan tersenyum, Rania menjawab kalau dirinya sudah baik-baik saja dan sudah bisa bekerja lagi.
Namun baru saja ia tersenyum begitu tulus, senyumannya kini telah berganti dengan senyuman simpul terpaksa saat Lisa menghampirinya dan mengatakan, "aku kira kamu akan terus berada dirumah dan melupakan pekerjaanmu disini."
Dengan tegas Rania mengatakan, "tentu saja tidak, aku bahkan sudah rindu dengan pekerjaanku dari jauh-jauh hari. Namun ada pula lelaki yang dengan keras melarangku untuk masuk kerja. Dia pasti takut aku kenapa-napa. Huft, sangat sulit meyakinkannya kalau aku sudah baik-baik saja."
Dengan keingintahuannya lagi, akhirnya Lisa bertanya, "siapa?"
"Siapa? Tentu saja kamu tahu. Bukannya baru-baru ini aku dan dia habis makan di sebuah restoran!" ujar Rania sambil menatap tepat di manik mata Lisa penuh percaya diri.
Mengetahui siapa yang dimaksudkan oleh Rania, membuat Lisa seketika menjadi kesal dan cemberut, lalu sedetik berikutnya, Lisa pun berlalu meninggalkannya.
Lisa bahkan menghentak-hentakkan kakinya tanpa sadar. Melihat hal itu, membuat Rania tersenyum lucu. Ternyata Lisa masih saja seperti anak kecil yang suka marah tanpa jelas.
__ADS_1
Rania yang telah ditinggalkan pun tersenyum puas penuh kemenangan saat tahu kalau sekali lagi ia sudah membuat perempuan aneh itu bungkam dengan caranya sendiri.
Padahal yang ia maksud adalah kakaknya, Reyhan yang hari itu makan bersama keluarganya di sebuah restoran. Karena hanya kakaknya, Reyhan lah yang bisa memaksa Rania untuk tidak masuk kerja dulu. Tapi sepertinya Lisa berbeda pendapat dengannya. Ia mengira kalau lelaki lain yang telah memaksa Rania untuk tidak masuk kerja.
Meski Rania tahu kalau Lisa tidak pernah melihat mereka, namun Rania tidak ingin membenarkan kekeliruan yang ada dipikirkan Lisa. Toh, bukan dirinya yang salah. Salahkan saja Lisa yang mengambil kesimpulan dan langsung pergi tanpa bertanya lebih spesifik.
Mengetahui hal itu, tentu saja Rania merasa aneh dan lucu saat tahu siapa yang ada di dalam pikiran Lisa. Ada-ada saja, memangnya hanya dia lelaki satu-satunya yang ada didunia ini, pikir Rania.
Lisa seakan berpikir kalau hanya Khanif lah yang hanya berputar-putar didalam lingkungan kehidupan mereka berdua. Padahal, dilingkungan kehidupan mereka, pastinya masih banyak orang yang akan selalu berputar dan menetap - lalu pergi tanpa jejak ataupun kembali menjadi sosok lain seperti kejadian yang dialaminya baru-baru ini.
Rania lantas menggelengkan kepalanya mencoba menepis pemikiran yang sempat hinggap itu. Ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju lift. Tempat berbentuk kotak yang akan membawanya dan membawa karyawan lainnya menuju ruangan masing-masing.
Saat Rania tinggal sedikit lagi mencapai pintu lift, ia menjadi heran saat melihat Lisa tiba-tiba keluar lift yang sebelumnya Lisa sudah lama berada didalamnya. Rania yang awalnya tidak ingin penasaran, menjadi penasaran saat Lisa terlihat begitu bersemangat dengan jalan yang dipercepat melewatinya dengan senyuman yang memperlihatkan giginya.
Bodoh! Sudah tahu siapa orang yang dimaksudkan Lisa, ia masih saja membalikkan badannya. Pastinya Lisa akan menganggap dirinya cemburu ataupun iri karena sudah dekat dengan lelaki yang telah disalah pahami oleh Lisa tadi. Kalau bisa menebak lagi, pasti kepala Lisa sudah dipenuhi dengan satu nama. Siapa lagi kalau bukan Khanif.
Rania tertegun saat manik matanya bertatapan langsung dengan manik mata Khanif. Rania pun cepat-cepat memutuskan kontak mata duluan dengan cara menundukkan pandangannya.
Huft, Rania membuang nafas kasar saat kembali membalikkan dirinya ke arah lift. Ia tidak ingin lagi melihat tingkah kecentilan Lisa yang sengaja dibuat-buat.
__ADS_1
Rania kemudian melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda gara-gara aksi konyolnya tadi. Saat ia sudah masuk ke dalam lift, Rania pun menekan tombol yang akan membawanya menuju lantai tempatnya bekerja.
Saat pintu lift sudah hampir tertutup, Rania tertawa tertahan melihat Lisa yang buru-buru untuk kembali ke lift seraya tangan yang terulur ke arahnya seperti hendak mengatakan, "tunggu aku!" Namun semua telat, pintu sudah tertutup rapat bagi Lisa. Rania pun sudah tidak bisa apa-apa lagi.
Lagi pula di dalam lift ini sudah banyak orang yang ada di didalamnya. Apalagi ditambah dirinya. Pastinya keadaan didalam lift akan bertambah sesak. Namun jauh sebelumnya, Rania sebenarnya ingin menghentikan pintu lift tertutup untuk Lisa.
Hanya saja, seseorang dibelakangnya tadi mengatakan kalau dirinya tidak perlu menunggu Lisa lagi karena Lisa sendirilah yang keluar dari lift dan Lisa bisa menunggu lift selanjutnya. Jadi, mau tidak mau Rania mengabaikan Lisa yang sempat memandang tidak menyangka ke arahnya.
Lift karyawan naik menuju ke ruangan masing-masing karyawan. Rania sampai beberapa menit setelahnya karena banyak karyawan yang keluar dilantai yang berbeda. Saat Rania baru saja sampai di lantai tempatnya bekerja.
Ia pun secara perlahan keluar dari lift. Namun saat dirinya berjalan perlahan, dari arah belakangnya, ada seseorang yang berjalan keluar dengan tergesa-gesa hingga membuat dirinya tersenggol dan hampir jatuh jika saja tidak ada sebuah tangan kokoh yang menahannya.
Rania tentu saja terkejut, apalagi kakinya belum sembuh total. Apa jadinya kalau ia terjatuh tadi? Bisa-bisa ia mengambil cuti lagi atau lebih parahnya, ia bisa saja dikeluarkan dari tempat kerja karena sengaja membuat dirinya tersenggol.
Rania tersadar saat orang yang menolongnya bertanya, "kamu tidak apa-apa?"
Rania mendonggakkan kepalanya melihat sosok yang telah menolongnya itu. Dengan canggung, Rania melepaskan dirinya dari sosok lelaki yang telah menolongnya itu.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C ...