Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 63. Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

"Mama!" ujar Khanif terkejut.


Mama lalu mendatangi Khanif semakin dekat. Ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku anaknya yang selalu seperti ini setelah makan malam dengan wanita pilihannya.


"Anak nakal, bukannya mama udah pernah bilang sebelumnya, kalau kebiasaan burukmu itu harus dihilangkan," gerutu mama. "Bagaimana hubungan kalian bisa lebih berlanjut, kalau kamu aja seperti ini. Berbicara seperlunya, diam terus selama pertemuan dan masih banyak minusnya lagi, seperti tadi. Kenapa bukan kamu yang anterin nak Tasya pulang? Kalau ada apa-apanya dijalan gimana? Mama mau bilang apa sama mama dia?"


"Mama ngga usah khawatir soal itu. Khanif sudah mengaturnya. Bukannya mama lihat sendiri siapa yang mengantarnya pulang?"


Mama memijit pelipisnya, sampai kapan anaknya ini akan sadar betapa pentingnya mengantar wanita pulang setelah mengajaknya dinner bersama. Lagi-lagi mama menghembuskan nafas kasar saat tahu kalau anaknya sama sekali tidak merubah kebiasaannya ini. Bahkan Khanif terkesan cuek seperti biasanya. Ia tidak memiliki tanda-tanda tertarik pada wanita pilihan mama malam ini.


"Mama udah lelah cariin kamu pasangan kalau kamu ngga mau ikutin saran mama."


"Bukannya Khanif emang ngga mau ma."


"Selalu saja bilang begini. Kapan mama bisa punya mantu kalau kamu nolak terus."


"Ma, Khanif mohon, ini adalah yang terakhir. Khanif tidak suka cara mama seperti ini. Ini sama saja memberikan mereka harapan yang tidak jelas."


Untuk kesekian kalinya, Khanif mengatakan beberapa kata itu, namun mama juga untuk kesekian kalinya seperti tidak mendengar perkataan anaknya. Bahkan mama kembali memberikan Khanif kuliah malam.


"Tidak, sebelum kamu mampu tidak membuat mama khawatir lagi akan masa depanmu."


"Ma, Khanif adalah laki-laki. Khanif bisa mencarinya sendiri."


"Mau sampai kapan kamu tidak mau mendengarkan saran mama."


"Khanif dengar, tapi untuk melanjutkannya, maaf Khanif tidak mau."


"Pokoknya mama tidak akan berhenti sampai kamu memperkenalkan seorang wanita pada mama."


Setelah mengatakannya, mama pun berlalu meninggalkan Khanif. Khanif mengusap wajahnya. Sungguh, ia benar-benar lelah malam ini dan malam-malam yang telah berlalu.


Selalu seperti ini. Mama diam-diam menjadi mata-mata dadakan kalau khanif mengikuti ucapan mama untuk mengajak makan malam wanita pilihannya.


Selalu seperti ini, berakhir dengan Khanif yang memilih meminta tolong pada supir rumah untuk mengantarkan setiap wanita pulang kerumahnya setelah dinner bersama. Bukannya ia tidak ingin, hanya saja, hal itu adalah kebiasaannya. Jika sudah seperti itu, itu tandanya ia tidak tertarik pada wanita yang dikenalkan mama padanya dan tidak ingin terlibat pada hubungan jangka panjang.


***


Sementara itu, keluarga Rania telah beranjak dari tempat duduknya. Saat hendak membayar tagihan makanan mereka, kasir itu menolaknya dengan mengatakan, "makanan bapak sekeluarga tidak perlu dibayar."


Tentu saja hal itu membuat papa terkejut. "maaf, tapi kami tetap harus membayarnya sebelum tahu siapa yang membayarkan makanan kami."


"Beliau adalah pak Khanif, pemilik restoran ini. Pak Khanif bilang kalau beliau mengenal Anda sekeluarga."


Papa mengangguk. Ia pun kembali memasukkan kartu atm nya di dompet kembali. "Katakan padanya, terima kasih."

__ADS_1


"Iya, pak. Nanti saya sampaikan. Terima kasih atas kunjungan Anda sekeluarga."


Keluarga Rania pun keluar dari restoran Khanif yang baru mereka ketahui. Baru saja mereka semua melangkah keluar, tiba-tiba papa menghentikan langkah kakinya. Papa lalu memanggil nama seorang wanita yang hampir seumuran dengannya.


"Adelin!" panggil papa.


Mama Adelin yang tidak lain adalah mama Khanif pun menolehkan wajahnya kepada lelaki paruh baya yang tadi memanggilnya.


"Rudy?" tanyanya memastikan. Pasalnya, ini sudah terlalu lama saat mereka masih berteman di bangku sekolah sma.


Papa mengangguk lalu melangkahkan kakinya mendekat. Saat sudah sampai didekat mama Adelin, Papa Rudy menjawab, "ya, aku Rudy." Papa pun mengulurkan tangannya. "Lama tidak bertemu."


"Ya, sudah sangat lama," ujar Mama Adelin seraya menjabat tangan Papa Rudy, lelaki yang pernah singgah di hatinya.


Merasa ada yang memperhatikan interaksi mereka, Mama Adeli lalu mengedarkan pandangannya  kebelakang Papa Rudy. Tebakannya benar karena saat ini, Mama Dahlia, Reyhan dan Rania sedang melihat mereka.


Mengetahui sosok gadis cantik yang sangat dikenalnya, Mama Adelin pun berujar, "gadis itu anak kamu, Ru?"


"Iya, dia anak gadis aku."


"Pas sekali," ujar mama Adelia penuh kegirangan dengan tangan terkatup didepan dada, seakan senang akan hubungan yang baru diketahuinya ini.


"Maksudmu?"


"Oh! Maksudku." Mama Adelia jadi gelagapan. Ia pun mencari pembicaraan lain agar Papa Rudy tidak menanyakan maksudnya lagi.


Tidak lama setelah mama mengatakannya, Khanif yang baru menyusul mamanya, jadi heran melihat papa Rania sangat mengenal mamanya. Khanif lalu memanggil mamanya, "ma!"


"Oh Khanif, sini nak," panggil mama disertai lambaian tangan agar Khanif segera mendekat.


"Perkenalkan dia anakku, Khanif."


"Aku sudah mengenalnya, nak Khanif adalah atasan anakku di kantornya."


Khanif tersenyum kecil.


"Oh, iya. Terima kasih untuk malam ini, nak Khanif."


"Sama-sama, om."


Mendengar panggilan yang sepertinya terdengar akrab itu, Mama tersenyum misterius.


"Baiklah, kami pergi dulu," ujar Papa Rudy mengakhiri pertemuan singkat mereka.


Diperjalanan pulang, mama terus saja diam meski papa telah mengajaknya berbicara berkali-kali. Rania dan Reyhan pun tidak dapat mencampuri urusan kedua orang tuanya itu karena jika mereka mencampurinya, mereka akan bersikap tidak sopan. Dan karena mereka tahu, kalau papa pasti mempunyai solusinya sendiri.

__ADS_1


Papa tahu jelas mengapa mama memilih mendiamkannya seperti ini. Apalagi kalau tidak pertemuan tidak sengajanya dengan mama Khanif. Papa tahu, mama cemburu. Namun, mengetahui hal tersebut, hati papa bersorak kegirangan. Karena dengan begitu, papa tahu kalau perasaan mama padanya tidak pernah berubah meski mereka telah bersama selama tigapuluh tahun lebih.


Untuk meredam kediaman istrinya, papa pun berniat membuat istrinya bermanja lagi meski anak mereka mungkin akan menertawakan aksi kekanak-kanakan ini. Biarlah, toh memang papa merasa masih muda jika bersama mama. Soal anak, papa bisa melupakannya sejenak.


"Mama sayang," panggil papa masih tidak mendapat jawaban dari mama.


Lalu tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalanya. Biarlah anak mereka menganggapnya sebagai papa yang super lebay.


"Mama tahu, mama makin cantik kalau sedang mendiamkan papa seperti ini," ujar papa masih terus fokus melajukan mobilnya menuju rumah.


Mama menoleh, ia menatap papa dengan pandangan kesal. Mama lalu bertolak pinggang dan memiringkan tubuhnya ke arah papa.


"Jadi mama jelek kalau mama bicara terus, gitu?"


"Itu beda lagi sayang. Kalau kamu bicara, maka cantiknya bertambah berpuluh-puluh lipat."


"Marah plus kesal dan diam, bisa jadi berjuta-juta cantik gitu?" gerutu mama.


"Tidak, mama tetap cantik disetiap keadaan."


"Sudah, simpan gombalanmu itu pada yang lain."


Papa tersenyum kecil. Ia lalu mempunyai ide jail di kepalanya sejenak.


"Ah ya, mama benar. Papa akan menyimpannya untuk yang lain juga."


"Au, sakit ma." Seketika Papa Rudy mengaduh sakit saat mama dengan sengaja mencubit pahanya.


"Itu untuk orang yang tidak mengenal umurnya sudah berapa!"


Sementara kursi penumpang, Reyhan dan Rania tertawa cekikitan melihat papa dan mama yang seperti anak seusia mereka. Mendengar suara tawa anak-anaknya, seketika mama sadar akan keberadaan mereka. Mama malu, sungguh. Ia terlihat seperti anak kecil saja padahal anak sudah berapa.


"Papa bercanda. Sampai kapan pun, mama tetap nomor satu dihati papa."


"Nomor satu dari belakang," sungut mama terlanjur kesal.


"Emm, bisa juga kalau mama mau."


"Papa ...." teriak mama diselingi cubitan di paha papa dan tawa dari anak-anak mereka.


Tiba-tiba papa menghentikan laju mobilnya.


"Pa?"


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2