
"Ih, bener loh! Ini lihat!" ujarnya sambil memperlihatkan sebuah foto. Seketika Rania membekap mulutnya tidak percaya. "Tidak mungkin ini editan, kan!"
"Mungkin ada orang yang sengaja memfoto mereka saat berpelukan seperti itu," bela Rania pada akhirnya yang melihat bagaimana terlihat mesrahnya Khanif memeluk Davina.
Dian pun ikut mengibaskan tangannya didepan wajah Rania, seraya berkata, "kamu jangan jadi korban sinetron dong, kayak aku."
"Atau mungkin saat ini Davina hendak jatuh dan ditangkap oleh pak Khanif," belanya lagi yang sebenarnya tidak ingin mengatahui kebenaran yang mungkin dikatakan oleh Dian padanya.
"Mana ada, lihat lantainya, ngga ada tanda-tanda basah tuh. Hingga bisa membuat mbak Davina terpeleset."
"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi. Aku masih banyak kerjaan," ujar Rania sengaja menghidari pembicaraan yang terkait dengan Khanif dan Davina.
Lagi pula apa untungnya ia dalam membicarakan kehidupan orang lain? Tentu saja tidak ada. Ia bahkan sudah repot mengurusi dirinya sendiri, haruskah ia menambah beban tak berguna untuk mengurusi hidup orang lain lagi? Tentu saja jawabannya sudah tepat 'tidak'.
"Hem, sama aku juga. Baiklah, selamat bekerja."
Dian pun kembali bekerja, menyelesaikan tugas yang telah diberikan manajer keuangan padanya.
Sedangkan Rania ikut tenggelam dalam dunia kerjanya juga. Namun ada yang aneh dengannya. Yakni, Rania tidak terlalu fokus pada kerjaannya saat ini.
Meski pandangannya terarah pada komputer yang berisi angka-angka, namun otak dan pikirannya malah terarah pada hal lain.
Ia sebenarnya telah berusaha membuat dirinya fokus pada kerjaan didepannya ini, tapi tetap saja ia merasa terganggu dengan berita yang baru didengarnya tadi.
Apalagi berita itu menyangkut tentang Khanif dan Davina yang baru-baru ini dekat dengannya karena kepergian mereka ke kota M.
Ia seperti bekerja tapi pikirannya berada ditempat lain. Ia seperti mengetik, tapi tangannya tidak terarah pada tombol-tombol keyboard.
Tidak ingin bertambah tidak fokus, Rania lantas berdiri tadi tempat duduknya dan memilih mencari suasana yang dapat membangkitkan semangatnya dalam bekerja. Mungkin ia bisa pergi ke pantry dan membuat kopi disana, pikirnya kemudian.
Dian yang melihat Rania berdiri pun menegur Rania. "Kamu mau kemana?" tanyanya seraya mendorong kursi kerjanya sedikit kebelakang.
__ADS_1
"Aku ingin ke pantry untuk membuat kopi. Kamu mau?" tawarnya.
"Hem ... boleh juga. " Dian lalu mengangguk-anggukan kepalanya, "terima kasih sebelumnya."
"Sama-sama. Tak perlu sungkan," ujar Rania diselingi senyumannya.
Rania pun beranjak dari sana. Saat Rania hendak mencapai pintu, Dian kembali memanggilnya, hingga membuat ia kembali menolehkan wajahnya.
"Ra, gulanya dikit aja ya."
Sebagai jawaban, Rania pun menganggukan kepalanya tanda setuju. Baru setelahnya, ia bergegas menuju pantry.
Sesampainya disana, sudah ada beberapa karyawan yang juga sedang menyeduh kopi. Melihatnya, Rania lantas melangkah pelan agar tidak menganggu mereka yang sebahagian ada yang bercerita sambil mengaduk kopinya.
"Eh, kamu udah baca dan lihat ngga berita pagi ini?" tanya seseorang berbaju peach.
"Udah dong. Ngga nyangka banget ya, ternyata mereka punya hubungan yang lebih. Padahal kan, kalau dilihat mereka seperti tidak ada hubungan dan tiba-tiba aja dalam semalam hubungan mereka terbuka begitu saja. Aku rasa mereka ngga cocok sama sekali. Pak Khanif tuh cocoknya sama aku," ujar salah satunya lagi yang membanggakan diri.
"Alah, kalau kamu mah, malah ngga cocok lagi. Mending sama mbak Davina."
"Ngga lah, aku lihat dari pandangan aku sendiri, ngga ada sangkut pautnya dengan perasaanku."
"Sudahlah, sampai kapan pun mereka ngga bakalan cocok untuk disandingkan."
"Kalau aku sih pilih Rania."
Rania yang tidak jauh dari mereka pun tertegun saat mendengar namanya disebut oleh mereka. Ia awalnya ingin segera pergi dari sana, saat mereka mulai membicarakan Khanif dan Davina.
Sungguh, ia tidak mau mendengarkan tentang dua nama itu lagi karena ia pastinya akan bertambah tidak fokus nantinya dalam bekerja. Tapi apa boleh buat, ia telah berjanji pada Dian untuk membuatkan dirinya kopi.
Apalagi tadi Dian sempat berterima kasih padanya. Masa hanya gara-gara tidak ingin mendengar dua nama itu, ia tidak membuatkan dirinya kopi dan Dian. Sungguh aneh, jika ia datang dalam waktu yang lama, tapi tidak ada secangkir kopi pun ditangannya.
__ADS_1
Rania pun mulai meracik sendiru kopinya dan kopi pesanan Dian tanpa memperdulikan omongan orang lain lagi. Ia terus saja membuat kopi, hingga kopinya dan kopi pesanan Dian telah siap.
Baru saja ia hendak melangkah pergi, langkah kakinya tertahan oleh dua orang wanita yang tadi saling berbicara.
"Eh, Rania. Kamu ada disini rupanya."
Rania menoleh pada mereka dan mengangguk canggung.
"Bagaimana pendapatmu tentang pembicaraan kami tadi? Aku yakin kamu mendengarnya juga," ujar wanita berbaju peach, sambil menyilangkan tangannya didepan dadanya.
Rania bergumam tidak jelas, "emm ...." Ia lalu kemudian melanjutkan apa yang terlintas dipikirannya saat ini. "Sepertinya urusan itu bukalah urusan aku. Karena aku tahu apa yang baik untuk diceritakan dan apa yang harus disembunyikan. Aku rasa kalian sudah besar, untuk apa mengurusi suatu hal yang tidak penting. Biar bagaimana pun juga itu urusan mereka. Mau benar atau tidaknya, semua tergantung mereka. Lagipula cocok atau tidaknya, bukan kita yang harus memilih karena yang akan menjalaninya adalah mereka berdua.
Rania lalu diam sejenak untuk melihat ekspresi mereka terhadap perkataannya. Baru kemudian ia pun kembalo melanjutkannya lagi, "lihat! Baru pembicaraan singkat seperti itu saja sudah hampir membuat kalian tidak sependapat satu sama lain. Apalagi jika pembicaraan kalian tetap berlanjut. Bisa-bisa hal itu membuat hubungan kalian jadi tidak baik dan bisa berakhir dengan ego kalian masing-masing. Sudahlah, sepertinya aku telah banyak bicara. Maaf kalau dalam perkataanku tadi ada yang membuat kalian tidak enak. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk melukai hati kalian. Aku hanya ingin mengatakan, tidak baik untuk mengurusi hidup orang lain, sementara hidup kita sendiri, kita kesampingkan. Baiklah aku pergi," ujarnya panjang lebar berharap mereka mengerti dan tidak lagi membicarakan hidup orang lain dan malah fokus memperbaiki diri masing-masing.
Rania pun berlalu dari sana dengan dua orang wanita itu tertegun mendengar ucapan Rania. Ya, Rania benar. Hidup mereka saja sudah rumit, tapi mereka masih menambah kerumitan dengan menceritakan hidup orang lain.
"Maaf, aku tadi duluan memancing pembicaraan ini," ujar wanita berbaju peach.
"Aku pun sama, aku juga minta maaf karena malah menambah minyak di api-mu."
Kedua wanita itu pun saling tertawa kecil karena mengetahui kekeliruan mereka tadi hampir sama yakni membuat mereka tidak saling berbicara satu sama lain.
Kedua wanita itu pun saling berpelukan untuk membuat hubungan mereka kembali dekat. Biar bagaimana pun mereka masih membutuhkan satu sama lain nantinya. Cepat atau lambat, pasti semua akan terjadi.
Sebelum keluar dari pantry, Rania menolehkan wajahnya kembali ke arah kedua wanita itu. Ia tersenyum saat mengetahui kalau keduanya menerima perkataannya dengan baik. Rania pun kembali melihat ke arah depan dan mulai melangkahkan kakinya lagi.
Sesaat ia pun memutar knop pintu. Pintu pun terbuka, namun Rania terkejut dengan apa yang dilihatnya.
...To be continued ...
Siapa kira-kira yang dilihat oleh Rania ya?
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...