Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 65. Kecemburuan Rania


__ADS_3

Ya, mereka adalah Khanif, lisa dan dua orang lainya yang tidak ia kenali


"Pasti mereka sedang mengadakan pertemuan kerja disini," pikir Rania dalam hati agar ia tidak salah paham terus. Rania menggelengkan kepalanya. Untuk apa ia salah paham pada hal yang bukan urusannya.


Rania pun kembali mengikuti langkah kaki papa dan mama yang sudah sedikit menjauh gara-gara dirinya yang melihat Khanif dan teman bisnisnya.


"Mau makan apa sayang?" tanya papa yang sudah melihat Rania telah membaca buku menu.


"Rania mau makan lobster panggang madu," ujar Rania sambil melirik sebentar ke arah Khanif yang sedang senyum diujung sana. Entah apa yang membuat Khanif sampai tersenyum.


Rania tersentak kaget saat mama menyentuh tangannya diatas meja.


"Yakin sayang?" tanya mama cemas. Pasalnya, Rania tidak biasanya memilih makanan secepat ini. Apalagi makanan yang dipesan Rania adalah makanan jenis seafood yang biasa dihindarinya.


Rania pun menjawab mantap, "iya, ma. Rania udah rindu sama makanan kesukaan Rania. Jadi, Rania mau memakannya kali ini. Lagi pula Rania sudah sangat lama tidak memakannya."


"Baiklah."


Papa pun memberitahu pelayan pesanan mereka.


Secara tidak sengaja, papa melihat Khanif sedang berbicara dengan seorang lelaki yang ia duga adalah rekan kerja Khanif sesaat setelah mengatakan pesanan mereka.


Disaat yang sama, secara kebetulan juga, Khanif menolehkan wajahnya ke arah lain. Mengetahui kalau yang dilihatnya adalah papa Rania, Khanif pun tersenyum sebentar lalu kembali lagi menolehkan wajahnya ke arah teman kerjanya saat Papa Rudy tidak melihatnya lagi.


Lisa yang duduk persis didekat Khanif pun juga ikut melihat arah pandangan Khanif. Ia dapat melihat, Rania yang bersama keluarganya sedang memainkan ponselnya.


Lisa tersentak saat Khanif memintanya untuk mengeluarkan dokumen perjanjian kerja sama. Dengan canggung-canggung, Lisa mengeluarkan dokumen perjanjian dari dalam tas kerja Khanif.


"Anda bisa melihat-lihatnya dulu," ujar Khanif seraya memberikan dokumen kerja sama mereka pada teman kerjanya.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit pergi dulu."


"Ya, tentu saja."


Teman kerja Khanif pun berdiri dan mengulurkan tangannya pada Khanif bermaksud untuk menjabatnya sebagai tanda kalau mereka sudah hampir sepakat.


"Semoga kerja sama kita akan bisa terlaksana."

__ADS_1


"Ya, tentu saja."


"Saya tidak akan menganggu waktu Anda lagi. Saya permisi."


Khanif menganggukkan kepalanya. Tidak lama setelah kepergian teman bisnisnya, Papa Rudy melambaikan pada Khanif agar Khanif mendekat. Lisa pun mengikuti langkah kaki Khanif mendekat ke arah keluarga Rania.


"Selama sore om, tante," sapa Khanif hangat.


Papa dan mama tersenyum menanggapi. Lalu papa pun menyuruh Khanif untuk diduduk makan disini bersama mereka. Karena tidak mempunyai kesibukan lagi, akhirnya Khanif dan Lisa duduk makan bersama keluarga Rania.


Sesaat pesanan mereka semua tiba, Mata Rania berbinar melihat hasil pesanannya yang memuaskan. Ia bahkan sempat membayangkan kalau dirinya ingin memesan seporsi lobster panggang madu itu lagi. Namun sesaat kemudian, ia menyadari kalau bukan hanya keluarganya saja yang ada di meja makan ini.


Melainkan ada Khanif dan juga Lisa yang saat ini duduk disamping kirinya. Tentu saja ia harus menjaga image-nya dari perempuan yang mungkin saja akan membicarakan tentang kebebasan makannya suatu saat nanti.


Meski Rania sebenarnya tidak boleh berpikiran seperti itu, tetap saja ia harus memikirkan image-nya dalam jangka panjang. Ia tidak ingin karena kecerobohannya saat ini akan berdampak besar pada dirinya dimasa mendatang.


Tentu saja, pembicaraan orang, siapa yang bisa jaga!


Rania pun memakan lobster-nya secara perlahan hingga membuat papa heran melihatnya. Pasalnya, jika sudah bertemu dengan makanan kesukaan Rania, Rania pasti tidak akan tanggung-tanggung dalam memakannya ataupun memesannya lagi jika suka.


Melihat cara makan Rania yang seperti menikmati makan itu, papa pun berkata, "sayang, mau papa pesankan lagi?" tanya papa membuat Rania mendongkak melihatnya. Dengan pelan, Rania menggelengkan kepalanya.


Apa steak disini terlalu alot? Pikir Rania sesaat. Namun saat melihat pesanan mama yang sama dengan Lisa, Rania yakin kalau Lisa pasti sengaja. Memikirkan kemungkinan itu, secara tidak sadar membuat Rania memotong lobster-nya secara kasar hingga membuat piring sajinya berbunyi nyaring.


Mama yang ada di samping kanannya pun menyenggol lengannya. Rania menoleh pada mama. Ia lantas tersenyum kecil untuk menutupi rasa kekesalannya itu.


"Dasar perempuan pencari kesempatan!" ujar Rania dalam hati.


Rania pun memakan makanannya hingga tandas, begitu pula dengan keluarganya dan dua orang lain yang duduk bersama mereka. Mereka semua duduk bersantai sambil berbincang dulu.


"Reyhan kemana, om?" tanya Khanif saat tidak mendapati Reyhan bersama mereka.


"Reyhan udah kembali ke kota M. Baru ini, kami habis mengantarnya pergi."


"Saya tidak menduga kalau Reyhan akan pergi secepat ini."


"Ya."

__ADS_1


Tiba-tiba mama menyisip dalam pembicaraan mereka.


"Pasti nak Khanif pernah menduga kalau anak tante, Rania dan Reyhan itu bukan kakak - adik."


Khanif tersenyum menanggapi. Ia terlalu malu untuk mengatakannya.


"Tante pun begitu. Melihat mereka dekat seperti kertas dan pena membuat tante heran. Bahkan papa dan anak saling memperebutkan anak gadis tante," ujar mama tanpa sungkan.


Sedangkan Rania langsung merasa malu karena ucapan mama barusan.


"Ma, udah ah," bisik Rania.


Mama menoleh pada Rania. Ia cemberut, padahal masih banyak yang mama ingin ceritakan pada Khanif. Tapi anak gadisnya ini makin menganggam tangannya sebagai tanda agar mamanya berhenti berbicara soal keluarga mereka yang unik.


"Tante benar, Khanif tidak pernah menduganya."


Mama langsung sumringan mengetahui jawaban Khanif.


"Ah, senangnya mengetahui nak Khanif mempunyai pemikiran seperti itu," ujar mama dalam hati.


Makan sore tanpa rencana itu pun berjalan hingga semua orang sudah puas bercakap-cakap. Lisa tentu saja sangat senang karena ia tadi dapat memanasi Rania. Apalagi saat ia tadi tidak sengaja melihat Rania seperti ingin meremukkan kulit lobster yang keras itu dengan garpunya. Dalam hati kecilnya, Lisa tersenyum penuh kemenangan.


Mereka pun berpisah di area parkir restoran.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya papa.


"Iya pa, Rania tidak apa-apa." Rania diam sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "lain kali kita makan disana lagi."


"Iya. Sayang."


Papa pun menambah laju mobilnya menuju rumah. Sedangkan Khanif tidak langsung menuju ke kantornya kembali, melainkan melajukan mobilnya ke arah lain hingga membuat Lisa bertanya, "kita mau kemana, pak?"


Khanif diam, seperti tidak mendengarkan pertanyaan Lisa karena terlalu sibuk mengemudi dan sibuk dalam pemikirannya saat ini. Ia sungguh tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Rania bahkan dengan mama dan papanya. Khanif seperti merasa kalau pertemuan tadi akan berdampak pada masa depannya. Namun ia tidak tahu, apakah itu hal baik atau tidak.


...To be continued...


Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2