
Halo, vote hari baru sudah dimulai ya. Jangan lupa berikan Vote kalian ke cerita ini sebagai bentuk balasan buat aku ya.
Selamat Membaca.
...***...
"Baiklah, bisa kita mulai," ujar papa Rudy pada Khanif.
"Bisa," jawabnya mantap tanpa keraguan sedikitpun.
Perlahan tapi pasti, papa pun mengulurkan tangannya begitu pula dengan Khanif. Kedua laki-laki berbeda usia itu pun mulai mengucap kata ijab dan kabul untuk menyerahkan seorang putri yang telah diasuhnya sedari bayi dan untuk menerima seorang wanita yang kelak menjadi tempatnya untuk pulang.
Lalu papa tersenyum sebelum mengucapkan kata ijab.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Muh. Khanifan sya'ban bin Dani Ismawan dengan anak saya yang bernama Rania Dwi Syifa dengan maskawin berupa Mahar emas 99 gram, uang tunai 999.999 Riyal, saham 9 persen, Tunai.”
Setelah papa mengatakan ijabnya, Khanif langsung saja melanjutkan perkataan kabulnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Dwi Syifa binti Rudy Syam dengan maskawin berupa emas 99 gram, uang tunai 999.999 Riyal, saham 9 persen. Tunai karena Allah," ujar Khanif mengatakannya begitu lantang dan dengan satu tarikan napas aja. Papa bahkan tersenyum karenanya.
Lalu setelah itu, papa lantas menolehkan wajahnya pada kedua orang saksi nikah yang ada di dekatnya.
"Bagaimana para saksi?" tanya papa Rudy.
"Sah, sah, sah," ujar mereka serentak.
Semua orang yang ada disana pun sontak mengatakan Alhamdulillah. Setelahnya, acara kemudian dilanjutkan dengan doa.
---
Rania yang masih ada didalam kamar menunggu sang suami datang menjemputnya pun sempat menitihkan air matanya. Ia menangis bukan karena merasa sedih, melainkan ia menangis karena merasa bahagia.
Sungguh, ia sangat bahagia telah menjadi istri seorang lelaki yang bernama Khanif. Cinta masa smanya.
Dian dan Bella yang masih setia menemani Rania pun menjadi heran dibuatnya.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Bella.
"Iya, kamu kenapa? Kamu ngga papa kan?"
"Aku ngga apa-apa kok. Aku nangis gini karena merasa terharu," ujar Rania membuat Dian dan Bella tersenyum hangat.
__ADS_1
"Iya, yah. Alhamdulillah. Aku turut senang kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri," ujar Bella.
"Terima kasih. Semoga kalian bisa menyusul secepatnya," doa Rania pada dua orang sahabatnya ini.
"Aamiin." Sontak saja Dian mengaminkan dengan amin paling serius. Sedang Bella mengaminkan perkataan Rania dengan suara yang pelan.
Tidak lama setelah itu, Mama Dahlia pun datang untuk menjemput putri kesayangannya membawa Rania pergi ke tempat ijab kabul tadi diucapkan.
"Masya Allah, kamu sangat cantik sayang," ucap mama Dahlia untuk kesekian kalinya karena kagum akan kecantikan anaknya yang terpencar sempurna.
Meski Rania hanya di make up simpel saja, namun dengan jilbab yang kini telah jadi mahkotanya, membuat aura kecantikannya tetap terpancar keluar.
"Aku biasa aja, ma," ucap Rania yang merendahkan diri.
"Kamu sesuatu yang berbeda," ujar mama.
"Tante benar, kamu tuh cantik banget make hijab kayak gini," ujar Dian.
"Setuju. Kamu cantik banget tau, Ra. Masya Allah gitu. Aku penasaran gimana reaksi kak Khanif saat lihat kamu nanti," ujar Bella yang sudah tidak sabar melihat ekspresi wajah Khanif nantinya.
Apakah Khanif seperti wajah laki-laki yang sering ia nonton di drama? Terpesona dengan wanita impiannya. Ah, Bella sudah tidak sabar untuk melihat reaksi Khanif.
Lalu setelahnya, mama pun kembali mengatakan, "ayo sayang, kita keluar." Mama pun membawa Rania keluar dari kamarnya sambil menggandeng tangan Rania. Sedangkan Dian dan Bella sentiasa mengekor dibelakang Rania dan mama.
Ia tidak tau bagaimana reaksi Khanif saat melihat perubahannya yang datang secara tiba-tiba ini.
Apakah Khanif akan mengomentarinya atau malah tidak dapat berkata apa-apa karena terpesona. Ah, disaat deg-degan seperti, Rania masih saja memikirkan segala kemungkinan yang terjadi nanti.
Perlahan tadi pasti, dari jarak kurang lebih sembilan meter, Rania dapat dengan jelas melihat sosok lelaki tampan dengan pakaian tuxedo mewah sedang melihatnya. Namun tidak tidak dapat mengartikan pandang Khanif padanya.
Apa Khanif suka dengan penampilan barunya ini?
Rania terus saja bertanya-tanya dalam hati. Berbeda dengan Khanif yang kini sudah terpesona akan wanita cantik yang tengah berjalan mendekat padanya.
Sungguh, Khanif merasa takjub melihat Rania. Ia seperti melihat seorang bidadari yang berasal dari bumi.
Apakah dia seorang bidadari? tanyanya dalam hati seakan tidak percaya kalau wanita yang memakai hijab itu adalah Rania, istri masa depannya.
Bahkan sesampainya Rania dekatnya, Khanif masih saja berdiri mematung dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari Rania.
Mama Adelin yang mengetahui hal itu pun segera mendekat pada Khanif dan sengaja menyenggol lengannya dan sengaja berdehem untuk menyadarkan Khanif dari lamunan indahnya.
__ADS_1
Khanif tersadar. Hal yang pertama kali ia rasakan adalah rasa malu. Malu karena sudah tertangkap basah melihat Rania sedari tadi tanpa berkedip. Ah iya, Khanif tidak berkedip sejak ia melihat kedatangan Rania.
Rania yang tau kalau sedari tadi pandang Khanif tidak pernah berpaling darinya membuat ia bersemu merah. Ia begitu malu di tatap sedemikian rupa oleh Khanif. Meski sudah sah menjadi sepasang suami istri, namun hari ini adalah hari pertama mereka bertemu setelah beberapa hari di pingit oleh mama.
Sesaat jarak diantara mereka tinggal beberapa meter lagi, papa lantas berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Rania.
"Pa," ujar Rania pelan yang direspon dengan sebuah senyuman dari papa.
"Ayo, sayang," ujar papa kemudian sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya bersama anak gadisnya yang kini telah menjadi tanggung jawab orang lain.
Tentu saja Khanif dengan sigap berdiri saat Rania telah ada didekatnya. Ia seperti pangeran dari negeri dongeng yang siap menjemput putri untuknya.
Sesampainya papa didekat Khanif, papa lantas mengatakan sebuah kata-kata yang membuat hati Rania menghangat.
"Papa harap kamu membahagiakan putri papa satu-satunya sepertinya papa membahagiakannya," ujar papa sebelum menyerahkan Rania pada Khanif.
Khanif dengan tersenyum, lalu menjawabnya, "Khanif janji. Khanif akan membahagiakan Rania seperti papa."
"Papa percaya padamu."
Papa pun memberikan Rania pada Khanif. Lalu kedua pengantin baru itu pun berjalan ke tempat yang telah di hias sedemikian cantiknya untuk menyambut para tamu yang hadir di pernikahan mereka.
Para tamu yang hadir dalam acara ini pun turut bahagia melihat pasangan baru didepan mereka semua.
Lalu secara bergantian, mereka memberikan selamat pada Khanif dan Rania.
Ada yang mengatakan, "selamat menempuh hidup baru."
Ada juga yang mengatakan, "semoga langgeng ya, sampai kakek nenek dan segera diberikan momongan,"
Dan ada pula yang mengatakan, "Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin. Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan."
Tentu saja Khanif dan Rania mengaminkan kata-kata baik dari mereka, tamu undangan, baik keluarga maupun teman-teman dekat mereka yang hadir di acara pagi hari ini.
Lalu sejam telah berlalu, para tamu undangan pun berangsur-angsur meninggalkan acara nikah ini. Tidak terkecuali teman-teman mereka yang memang sengaja datang untuk melihat akad nikah Khanif dan Rania saja.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Khanif saat melihat Rania yang tidak nyaman untuk duduk disampingnya.
...To be continued...
Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin
__ADS_1
...By Siska C...