
Halo selamat pagi, aku datang lagi nih. selamat membaca ya 🤗
...***...
Hari-hari Rania berjalan seperti seperti biasanya. Ia bahagia Khanif selalu ada disampingnya disaat ia kesusahan. Namun, semua anggapan Rania pada Khanif berubah pada hari yang paling ditunggu oleh seorang siswa kelas tiga sma. Ya, hari itu adalah hari kelulusan Khanif.
Pada hari itu, Rania memberikan diri untuk menyatakan semua perasaannya pada Khanif. Jujur, Rania sudah tidak bisa lagi menyimpan rasa yang telah disembunyikannya sejak lama. Apalagi saat tahu kalau khanif tidak akan satu sekolah lagi dengannya.
Dengan berbekal keberanian, Rania menuliskan surat pada Khanif yang berisikan kalau dirinya menunggu Khanif di taman belakang sekolah. Dalam hati, ia berharap Khanif akan datang menemuinya.
Ia sudah harap-harap cemas menanti kedatangan Khanif. Bahkan banyak pertanyaan sudah mampir di pikirannya tadi. Seperti, apakah Khanif membaca suratnya? apakah Khanif akan datang? Dan masih banyak lagi yang tidak bisa Rania dijabarkan.
Sudah hampir dua jam lamanya Rania berada di taman belakang sekolah. Ia menanti dengan sabar dan selalu meyakinkan dalam hati kalau Khanif akan datang meski mungkin kedatangan Khanif terlambat. Namun hingga hari beranjak siang, Khanif tidak menampakkan tanda-tanda akan datang menemuinya. Dengan lesu, ia beranjak meninggalkan taman belakang sekolah.
Saat dalam perjalanan pulang, Rania berhenti sejenak melihat Khanif tengah berbicara dengan Tasya. Tentu saja Rania sedih melihatnya. Apalagi ia malah sibuk menunggu seseorang yang tidak mendatanginya. Namun mau bagaimana lagi, ia tidak boleh memaksakan kehendaknya pada orang lain agar mengikuti keinginannya. Ia pun lebih memilih menjauh dari sana dan bergegas pulang kerumah. Mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah.
Tanpa Rania sadari, sebenarnya Khanif telah membaca suratnya dan melihat Rania menunggunya di taman belakang sekolah. Tanpa Rania ketahui juga, Khanif sudah berada disana cukup lama, selama Rania menunggunya. Hanya saja Khanif tidak ingin menemuinya. Ia hanya ingin melihat Rania dari jauh saja.
Entahlah, ia sepertinya tidak ingin mendengarkan perkataan Rania yang akan dikatakan padanya setelah ia membaca surat Rania yang bertuliskan 'Assalamualaikum kak Khanif, maaf mengganggu. Saya Rania, adik kelas kakak sekaligus anak anggota osis. Kakak sudah ingat? Aku harap kakak telah mengingatku.'
Saat itu Rania tersenyum melihat kata demi kata ia tuliskan untuk Khanif. Lalu kemudian, ia pun kembali melanjutkan torehannya di kertas putih itu. 'Dari awal saya bertemu kakak, kakak sudah sangat baik pada saya. Bahkan, saat tidak ada orang yang mau peduli sama saya, kakak secara terang-terangan memperdulikan saya. Saya senang dapat mengenal kakak dan membuat saya kagum. Untuk itu, saya sangat ingin berterima kasih pada kakak. Sebagai tulisan terakhir, saya harap kakak mau datang menemui saya di taman belakang sekolah setelah acara pelulusan kakak berakhir.
Salam hangat dari Rania.'
Rania mengakhiri tulisannya dengan hati berbunga-bunga. Namun berbeda dengan tanggapan Khanif. Ia seperti tidak terlalu peduli pada apa yang Rania tuliskan kepadanya.
Khanif baru melangkah kakinya pergi dari sana saat ia melihat Rania beranjak dari tempat duduknya. Namun saat dalam perjalanan meninggalkan taman belakang sekolah, Tasya melihatnya dan menghampiri dirinya. Tidak ingin Rania melihatnya berada disana dan tidak ingin Tasya mengetahui niatnya, ia pun mengajak Tasya pergi ke dekat parkiran sekolah.
Disana ia sempat melihat Rania melihat kearahanya. Namun lagi-lagi Khanif tidak ingin menyapa Rania. Ia membiarkan Rania pergi meninggalkannya karena ia sendiri pun mempunyai rencana tersendiri kedepannya.
__ADS_1
Beberapa hari telah berlalu. Khanif telah lulus dari sekolahnya. Tentu saja dengan nilai yang tertinggi. Ia mampu meraihnya berkat kerja keras dan ketekunannya dalam belajar. Disertai dukungan dan doa yang selalu ia panjatkan dan kedua orang tuanya.
Saat ini, ia tengah berada diruangan kepala sekolah hendak mengesahkan ijazah yang selama ini diperjuangkannya bersama teman-temannya yang lain. Saat dirinya baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah, ia tidak sengaja berpapasan dengan Rania.
Mereka berdua sama-sama terkejut.
"Maaf," ujar mereka sama-sama.
Kecanggungan sempat terjadi diantara mereka, namun hal itu hanya sesaat karena Rania bergegas masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
Entah, Rania mempunyai urusan apa di ruangan kepala sekolah sampai membuat Khanif menunggunya lama didepan ruangan. Ya, Khanif rasa hari inilah hari yang ia tunggu saat dirinya di masa lalu mempunyai rencana tersendiri. Jujur, ia tidak ingin membuat Rania malu. Untuk itulah, ia baru mengatakannya sekarang.
Khanif menyinggungkan senyum kecil sebelum sempat di lihat oleh Rania yang baru keluar dari ruangan kepala sekolah. Khanif pun berdiri mendekati Rania.
"Bisa ikut saya sebentar?" ujar Khanif penuh harap agar Rania mau mengikutinya.
Rania mengangguk. Ia pun mengikuti langkah kaki Khanif yang entah dimana Khanif akan membawanya. Setelah lama berjalan, Rania tertegun. Ia baru tersadar, ternyata Khanif membawanya ke taman belakang sekolah.
Rania mengangguk seraya tersenyum canggung.
"Kenapa kakak membawa saya ke taman ini?"
"Saya mau minta maaf padamu karena tidak datang menemuimu waktu itu, meski saya telah membaca suratmu."
Rania lagi-lagi tertegun, ia tidak menyangka ternyata Khanif telah membaca surat darinya. "Tidak apa-apa kak. Surat itu tidak begitu penting lagi. Oh iya, kenapa kakak memanggilku datang kesini," ujar Rania mengalihkan pembicaraan.
Khanif menatap lurus ke depan. Setelah lama menimbang, akhirnya Khanif mulai mengatakan apa yang hendak ia beritahukan pada Rania selama ini.
"Maaf. Saya mau minta maaf."
__ADS_1
Rania menyela ucapan Khanif, "maaf untuk apa kakak?"
"Maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu."
Rania ingin menanggapi, namun secepat mungkin Khanif melanjutkan ucapannya, "saya sudah bisa menebaknya dari isi suratmu. Namun maaf, saya hanya menganggapmu sebagai adik kelas saja, tidak lebih."
Mata Rania berkaca-kaca mendengar ungkapan isi hati Khanif padanya. Dengan suara serak, ia mulai bersuara untuk menanggapi ucapan Khanif, "apa karena saya gendut dan saya kurang cantik?"
"Tidak, saya bukalah orang yang memandang orang lain dengan penilaian fisik."
"Terus, kenapa kakak menolakku?"
"Masa depanmu dan masa depanku masih panjang. Saya hanya tidak ingin terikat pada hubungan apapun. Lagipula kamu juga pasti punya cita-cita yang kelak ingin kamu capai. Begitupula dengan saya. Saat ini saya ini fokus pada cita-cita saya dulu."
"Kakak dan saya bisa menjalaninya pelan-pelan," kekuh Rania pada pendapatnya.
Khanif tersenyum. Ia lalu menoleh pada Rania dan langsung menatap ke manik matanya.
"Tidak semudah seperti yang kamu katakan. Saya hanya ingin memberikan saran. Jangan pernah membuang masa depanmu, hanya untuk hal yang sesaat saja," ujar Khanif bermaksud pada pacaran ala anak remaja.
Kini Rania tidak dapat menahan air matanya lagi. Perasaannya benar-benar hancur. Namun apa yang dikatakan Khanif benar. Ia tidak dapat menyangkal hal itu. Lalu perlahan, ia melihat sebuah tangan terulur dihadapannya dengan sapu tangan genggamnya.
"Hapuslah air matamu. Saya akan pergi sekarang."
Setelah Rania menerima sapu tangan Khanif, Khanif pergi meninggalkan Rania yang kian merasa sedih.
...To be continued ...
Kalau kalian berada diposisi Rania, bagaimana perasaan kalian?
__ADS_1
Semoga yang like dan komen diberikan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲
...By Siska C...