
"Akhirnya, kamu sudah sadar cantik. Tidak sia-sia mereka membawamu ke sini."
Rania terkejut sekaligus takut melihat lelaki didepannya ini menatapnya tajam. Lelaki itu kian mendekat dan semakin membuat Rania ketakutan. Tanpa disangka, lelaki itu membuka penyumpal mulut Rania.
Rania yang sudah dari tadi ingin bertanya, akhirnya keinginannya itu tersampaikan juga. "Siapa kamu?" tanya Rania panik.
Tawa lelaki kepala plontos itu menggelegar memenuhi rumah tempat Rania disekap.
"Aku, kamu mau tahu siapa aku?"
Rania diam. Ia tidak ingin membuat kesalahan yang sama seperti tadi, saat Alex dengan sengaja membuat kudanya memekik hebat, lalu selanjutnya membuat dirinya ikut berlari.
Saat itu Rania mencengkeram erat-erat tali kekang kudanya. Meski sudah memegangnya erat, ia tetap juga terjatuh dari kuda.
"Aaa ...," teriaknya.
Sungguh, ini sakit sekali. Ia seperti ingin merasa pingsan saja. Rania lalu mendongkak melihat matahari yang kian meninggi. Ia tahu, pasti saat ini Davina dan Khanif tengah mencari-cari dirinya. Memikirkannya, membuat beberapa bulir air mata merembes keluar.
Isakannya kian keras saat ia juga merasakan sakit disekujur tubuhnya. Tapi ia bisa menduga kalau dirinya tidak mengalami patah tulang karena ia sadar, saat ia terjatuh dari kuda, ia terjatuh diantara semak-semak yang tinggi, hingga membuatnya jatuh tanpa terluka.
Rania pun mencoba bangun, namun ia merasa pusing seketika. "Aduh!" Rania memijit pelipisnya, berusaha agar rasa pusing yang menghinggapinya cepat menghilang.
Lama terbaring, akhirnya Rania berusaha untuk bangun. Walau kepalanya masih terasa pusing, ia tidak mau terus membiarkannya. Setelah dirasa siap, Rania pun perlahan berdiri. Namun ia segera terjatuh lagi karena merasakan pergelangan kakinya yang begitu ngilu. Ia sepertinya keseleo. Rania lantas memijit pelan kakinya yang terasa sakit itu.
Rania menghela nafas berat nan panjang, sepertinya dugaannya benar. Ia benar-benar keseleo. Air mata yang tadi sempat mengering, akhirnya kembali tumpah membasahi pipinya yang telah kotor. Ia terisak sambil memanggil papa, mama dan juga Reyhan.
"Cantik, jangan mengkhayal seperti itu," tegur lelaki itu membuat Rania tersadar akan lamunan sesaatnya.
Rania lalu memperhatikan sekelilingnya. Ia masih ingat jelas saat seorang lelaki yang juga berasal dari sini menarik paksa dirinya untuk mengikutinya ke sini. Namun karena terus memberontak, akhirnya Rania dibius dan dibawa kemari.
"Masih melamun?"
Lagi-lagi lelaki berkepala plontos itu mengganggu ketenangannya. Rania lantas membuang pandangan. Sampai kapan pun ia tidak sudi melihat lelaki didepannya.
"Untung saja kamu cantik, kalau tidak. Entahlah apa yang akan terjadi denganmu."
Mendengarnya berkata seperti itu, membuat Rania muak. Lalu sekali lagi ia membuang pandangannya kearah lain. Kali ini pandangannya tertuju pada beberapa bungkusan besar yang tidak jauh darinya. Ia melihat lekat-lekat bungkusan besar itu.
__ADS_1
"Kamu penasaran dengan isinya?" tanya lelaki berkepala plontos pada Rania. Namun Rania tidak menanggapinya.
"Isi dari bukusan besar itu adalah suatu barang yang berharga. Bisa menghasilkan banyak uang dan membuat ketenangan pada pemakainya."
Dari kata-katanya, Rania sudah menduga kalau semua isi bungkusan itu adalah narkoba. Mengetahuinya, Rania jadi bergetar hebat.
"Kamu takut? Jangan takut gadis manis, aku ada disini yang selalu siap melindungimu atau kamu mau mencobanya?"
"Jangan harap!" herdik Rania. "Tidak lama lagi akan ada orang yang mencari keberadaanku."
"Benarkah? Biar saja mereka mencarimu kemari, paling-paling mereka tidak bisa selamat dari anak buahku."
Saat Rania sibuk membalas perkataan lelaki itu, Reyhan dan lainnya sudah memulai aksi mereka untuk menyelamatkan Rania dan menangkap para bandar narkoba.
Reyhan, Elang dan Macau terus maju ke arah rumah ditengah hutan pinus ini. Sedangkan Kakatua mengambil tempat tidak jauh dari mereka untuk kemudian menjadi penembak jitu dari jarak jauh. Tidak lupa pula mereka telah memakai kamuflase untuk mempermantap penyamaran mereka.
Saat mereka semakin dekat, Reyhan lalu berlari cepat ke salah satu penjahat untuk membuatnya tumbang. Hal itu sukses ia lakukan dengan akhir yang membuat lelaki bertato disekujur tangan itu pingsan. Ia pun menarik lelaki bertato itu ke salah satu dinding untuk disembunyikannya dari temannya yang lain.
Begitulah pula Elang dan Macau. Mereka dengan mudah meringkus penjahat lainnya. Namun tanpa disangka, ada yang melihat aksi mereka. Dia adalah lelaki yang berbaju hitam. Lelaki berbaju hitam itu mengarahkan senapannya ke arah Macau.
Kakatua yang selalu siaga dari jarak jauh pun selangkah lebih dahulu dari lelaki berbaju hitam. Belum juga, lelaki berbaju hitam itu menumbangkan Macau, dia sudah lebih dahulu tumbang karena sniper Kakatua yang terarah pada pahanya.
"Kacau," serunya saat ia melihat keadaan diluar dari cela-cela pintu.
Lelaki berkepala plontos itu ini kembali ke dekat Rania. "Ternyata dugaanmu benar. Dengar, orang yang akan menolongmu sudah ada diluar dan telah menumbangkan semua anak buahku. Tapi, jangan senang dulu karena aku tidak ingin kalah begitu cepat."
Tahu apa yang dimaksud oleh lelaki itu, Rania berontak ingin melepaskan diri. Namun tetap, usahanya sia-sia saja. Lelaki itu pun berjalan cepat mendekat pada Rania. Ia pun melepaskan ikatan kaki Rania dan kembali menyumpal mulut Rania. Rania teriak-teriak minta dilepaskan.
"Sstt ... diam saja menikmati permainan seru ini."
Rania terus saja meronta saat lelaki itu membuatnya berdiri.
"Diam!" herdiknya lagi. "Jangan buat kesabaranku habis. Kamu tidak ingin kan sesuatu yang tidak baik terjadi padamu!" ancamnya.
Mau tidak mau Rania mengikuti kemauan lelaki yang sudah membawanya berjalan keluar dari rumah tempatnya disekap dengan sebuah pistol terarah pada kepalanya.
Reyhan, Macau dan Elang yang sudah melumpuhkan semua anak buah dari lelaki berkepala plontos itu, tiba-tiba saja terkejut saat lelaki itu keluar dari rumah dengan membawa Rania sebagai tawanan.
__ADS_1
"Kalau kalian masih sayang pada nyawanya, kalian harus menurunkan senjata kalian."
Perlahan mereka semua menurunkan senjata mereka sesuai permintaan lelaki itu.
"Bagus, sekarang mundur. Beri jalan padaku."
Reyhan memberikan isyarat tangan agar Macau dan Elang mundur sesuai perkataan lelaki itu. Khanif yang baru tiba membelalakkan matanya melihat Rania ditawan seperti itu.
"Apa yang kalian lakukan," teriak Khanif.
Rania dan lainnya menoleh ke sumber suara.
"Wah, ternyata ada seorang lagi." Lelaki itu tersenyum meremehkan. Ia lalu beralih pada Reyhan. "Apakah masih ada yang lain?" tanya lelaki itu.
"Seperti yang kamu lihat, kami sudah berada disini."
Lelaki itu mencari kesungguhan dimata Reyhan. Khanif yang tahu akan rencana Reyhan pun kini bisa sedikit tenang. Khanif lalu membantu Reyhan melakukan aksi sandiwaranya. Sedangkan Kakatua yang terus mengawasi mereka dari jarak jauh, masih mencari waktu dan kondisi yang tepat sebelum ia menumbangkan lelaki itu.
Awalnya Kakatua sudah ingin melajukan aksinya tadi, namun ia sadar lelaki itu keluar rumah tidak seorang diri, melainkan Rania ikut bersamanya. Hal itu sukses membuat Kakatua mencari tempat dan waktu yang tepat agar sasarannya tidak meleset.
Kakatua masih dapat mendengar dengan jelas mereka berusaha mengulur waktu dan membuat posisi lelaki itu pas, agar Kakatua dapat menjalankan aksinya.
Setelah lama menunggu, akhirnya kesempatan itu tiba saat Reyhan dengan sengaja memancing lelaki itu untuk sedikit lebih mundur dari posisinya semula, agar posisi yang diinginkan oleh Kakatua sudah tepat untuk mengarahkan snipernya.
"Menyerahlah! Kami janji akan melepaskanmu, kalau kamu mau melepaskannya."
"Kamu kira aku anak kecil yang mudah tergoda akan sebuah permen, hah!"
Lelaki itu mundur sesuai prediksi Reyhan. Kini Reyhan hendak maju kearah lelaki itu untuk mengalihkan pistol yang terarah dikepala Rania menjadi terarah padanya. Lagi-lagi dugaannya benar. Sekarang pistol itu telah terarah padanya.
Kakatua yang selalu sigap pun tidak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Kakatua lalu menarik pelatuknya dan melunculah sebuah peluru dari sniper yang terarah pada lelaki itu.
"Aaa ...," teriak Rania.
"Rania!" panggil Khanif dan Reyhan bersamaan dengan tangan terulur kedepan.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, aamiin. 🤲
...By Siska C...