Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 115. Jangan Mengambil Langkah Itu


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul delapan malam saat Rania pergi menghampiri Reyhan yang tengah bermain laptop disamping rumah. Entah, apa yang dilakukan Reyhan hingga sampai se-serius itu.


Saat Rania kian mendekat, Rania dapat dengan jelas apa yang tengah diperhatikan oleh kakaknya itu. Video, ya kakaknya tengah fokus pada video dirinya dengan Zaky.


Mungkin, kakaknya itu sudah ingin menghapusnya dari internet atau mungkin Reyhan ingin kembali sengaja membuatnya kesal seperti tadi dan berakhir dengan dihukum oleh mama. Tapi, kedua asumsi Rania hanya kemungkinan belaka. Ia tidak tahu pasti apa rencana kakaknya itu.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya - dengan pasti, Rania pun kian mendekati Reyhan. "Ehem!" Rania berdehem. Ia mencoba menyadarkan Reyhan kalau dirinya ada didekatnya.


Sebenarnya, Reyhan sudah dari tadi tahu kalau Rania tengah memperhatikannya dari tadi, namun ia terlalu sibuk jika untuk menoleh sebentar pada Rania.


"Ternyata video adek cukup populer juga," kata Reyhan seraya menujukkan hasil pencariannya terkait video Rania.


Hal itu sukses membuat Rania membulatkan matanya tak percaya. Ia bahkan sampai memajukan kepalanya- melihat dengan jelas angka penonton yang telah melihat videonya.


"Tidak mungkin!" katanya tidak percaya.


"Apa yang tidak mungkin di masa seperti ini," kata Reyhan lugas. "Sekarang kakak bisa langsung menghapusnya, tapi sebelum itu, kakak ingin pertanyaan kakak dijawab lebih dahulu."


"Pertanyaan yang mana?" tanya Rania pura-pura lupa. Padahal ia dengan jelas tahu pertanyaan Reyhan.


"Setiap detik adik menyangkalnya, maka setiap detik pula penonton video ini makin bertambah," kata Reyhan mengingatkan.


"Iya, iya deh," rajuk Rania. "Rania tidak memberikan jawab pada Zaky. Waktu itu Rania hanya minta pulang. Setelahnya, tidak ada lagi."


Ya, apa yang dikatakan Rania pada Reyhan benar. Saat itu, setelah Zaky melamarnya, ia meminta orang-orang didalam ruangan nonton menghentikan aksi merekam mereka. Baru setelahnya, ia mengajak Zaky untuk segera keluar dari bioskop.


Sesampainya mereka di halaman bioskop, Zaky menghentikan langkah kaki mereka dengan mengatakan, "bagaimana jawaban atas lamaranku? Aku tahu ini terlalu cepat bagimu, namun bagiku, waktu ini adalah waktu yang tepat."


Rania diam untuk sesaat. Lalu kemudian ia melihat Zaky yang memandangnya - menunggu jawaban.


"Bisa antar aku pulang?"


Tidak ingin membuat Rania menjauhinya, Zaky pun menganggukkan kepalanya. Suatu saat nanti ia pasti bisa mendapatkan jawaban yang pasti dari Rania, pikirannya kala itu.


"Hanya itu saja?" tanya Reyhan seakan tak percaya.


"Iya, kak. Nah Rania sudah mengatakannya. Sekarang kakak harus menghapusnya."


"Videonya sayang untuk dihapus," kata Reyhan kemudian membuat Rania melihatnya kesal. "Ok, ok. Kakak hanya bercanda," kekeh Reyhan kecil.


Reyhan pun mulai mengotak-atik laptopnya. Setelah mendapatkannya apa yang dicarinya, Reyhan lalu menghapus video Rania secara permanen dari internet. Sebenarnya mudah saja bagi Reyhan untuk menghapusnya saat ia pertama kali melihat video itu. Hanya saja, ia ingin mendengar penjelasan adiknya. Karena setelah mendengarnya tadi, ia tidak memiliki alasan lain lagi untuk terus mempertahankan video itu.


"Sudah, kakak sudah menghapusnya."


"Kakak memang yang terbaik."

__ADS_1


"Ya, kakak tahu."


"Terima kasih."


Akhirnya, Rania bisa tidur nyenyak malam ini. Ia tidak perlu lagi merasa terbayang-bayangi oleh video itu. Ia bahkan tertidur dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya sepanjang malam itu.


Seperti bintang yang selalu menemani bulan, maka seperti senyuman itu selalu menemani Rania sampai pagi menjelang. Namun, karena terlalu terlena dalam kenyamanan tidurnya, pagi ini, Rania malah terlambat bangun dan lebih parahnya lagi, Khanif bahkan mempercepat jadwal pertemuan mereka.


"Pertemuan kita dipercepat, kita akan kesana jam 08:30. Bersiaplah," kata Khanif dalam pesan singkatnya.


Tentu saja Rania kaget bukan main saat mengetahuinya. Apalagi saat Khanif kembali mengirimkan pesan singkat lagi yang mengatakan kalau dirinya akan dijemput dalam tiga puluh menit kemudian. Bagaimana Rania tidak panik disaat dirinya belum bersiap-siap, Khanif malah begitu gencar mengirimkannya pesan singkat dalam waktu berdekatan!


Ditengah kepanikannya, Rania terkejut saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Mau tak mau ia memandang horor pada pintu bercat putih didepannya. Tentu saja, selama dirinya bekerja, baru pagi ini pintu itu terlihat menakutkan. Bahkan disaat dirinya belum bersih-bersih.


"Gawat!" kata Rania.


"Sayang, ini mama."


Dengan pasti, Rania lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu.


"Mama," katanya sambil cengegesan.


"Loh, kamu belum siap-siap?" tanya mama kaget pada apa yang dilihatnya.


"Ini baru Rania mau siap-siap."


"Apa!" pekik Rania tanpa sadar.


"Udah, jangan buat mama jadi tuli," kata mama mengingatkan. "Cepat, jangan buat nak Khanif menunggu."


Dengan lesu Rania pun menjawab, "baik, ma."


Setelah memberitahu Rania, mama pun kembali ke ruangan tamu.


"Maaf ya, nak Khanif. Udah buat nak Khanif nunggu lama."


Khanif tersenyum. "Ngga papa, tan. Ini juga salah Khanif."


"Kalau begitu, tante tinggal dulu ya. Tante mau ke dapur dulu."


"Iya, tan."


Mama pun pergi meninggalkan Khanif seorang diri. Belum lama mama pergi, terlihat Reyhan yang telah selesai olahraga pagi masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," salamnya.

__ADS_1


Tentu saja Khanif yang ada disana menjawabnya, "Waalaikumsalam."


"Khanif! Apa yang kamu lakukan disini sepagi ini?"


"Itu, aku ingin menjemput Rania."


"Aku tahu, tapi tidak sepagi ini."


"Maaf, itu karena perjanjian yang aku buat dengan perusahaan yang akan kami datangi dipercepat."


"Apa-apaan mereka, apa mereka tidak tahu waktu," omel Reyhan. Pasalnya, hal ini menyangkut persoalan adiknya.


Khanif tahu, pasti Reyhan mengatakannya karena Reyhan sangat sayang pada adiknya.


"Ada baiknya kamu yang memberitahu kakekmu agar tidak merubah jadwal dengan terburu-baru."


"Apa? Kakek?" kata Reyhan.


"Hem, ya. Perusahaan yang akan kami datangi adalah perusahaan milik keluargamu."


"Pantas saja. Pasti kakek sengaja melakukannya karena kakek ingin tahu seberapa besar keinginanmu dalam bekerja sama dengannya. Kamu tahu, kamu bukalah orang pertama yang dibuat seperti ini sama kakek. Jika kamu bisa melewatinya, kakek pasti akan langsung menyetujui kerja sama kalian," kata Reyhan.


"Semoga saja."


"Oh iya, ini rahasia antara kita," kata Reyhan tiba-tiba. "Jika kamu ingin bekerja sama dengan kakek. Sebaiknya kamu tidak mengambil langkah kerjasama dengan kerjasama kekeluargaan."


Khanif mengangguk.


"Baiklah, semoga sukses," kata Reyhan. "Aku ke dalam dulu."


Setelah Reyhan pergi, Khanif kembali memikirkan kata-kata Reyhan. Pada awalnya ia memang ingin memanfaatkan hubungan kekeluargaan ini. Hanya saja, cara itu bukalah cara yang profesional dalam kerja.


Untuk itulah, malam sebelumnya ia menghubungi Farah agar dirinyalah yang menemani Khanif ke perusahaan kakek Rania. Namun, setelah menghubunginya, Khanif mendapat kabar yang tidak baik. Yakni, Farah tidak dapat menemaninya karena jatuh sakit.


Khanif pun ingin Davina menemaninya, namun mengingat Davina yang tengah bersama bibinya, membuat Khanif mengurungkan niatnya itu dan kembali pada niat awalnya, yaitu meminta Rania menemaninya saja. Walhasil, hal itu membuat Rania menjadi super sibuk pagi ini.


"Maaf membuat bapak menunggu lama," ujar Rania yang sudah siap untuk berangkat kerja.


"Tak masalah, ayo!" ajak Khanif.


Saat Khanif baru saja berdiri, tiba-tiba terdengar seruan mama dari dalam rumah, "tunggu!"


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2