Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 125. Berjodoh untuk saat ini saja


__ADS_3

Yang belum vote, vote cerita ini ya. biar aku tambah semangat updatenya. beri hadiah pun boleh 😁


...***...


Rania bergegas ke ruangan tamu untuk melihat siapa yang dimaksudkan oleh mamanya. Sesampainya Rania di ruangan tamu, berapa terkejutnya ia saat melihat seseorang yang coba ia hindari.


"Zaky!" pekik Rania tanpa sadar.


Tamu yang tidak lain adalah Zaky sontak memalingkan wajahnya ke arah Rania yang begitu terkejut melihat keberadaannya berada dirumah ini.


"Rania, pagi," sapanya seraya tersenyum hangat.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku ingin mengantarmu ke kantor."


Reyhan yang sadar akan situasi pun segera pamit dari ruang tamu untuk memberikan Zaky dan Rania waktu bercakap bersama.


"Tidak usah, Zak. Kak Rey bisa anterin aku, kok," tolaknya halus.


"Ngga papa kok, tadi aku udah izin sama Reyhan."


Rania meremas jarinya, sungguh ia belum siap untuk bercakap lama dengan Zaky. Apalagi saat dalam perjalanan ke kantor, pastinya Zaky mencoba mengorek sebab ia menolaknya.


Ah, Rania tidak ingin itu terjadi. Meski sudah beberapa kali bertemu, tapi Rania masih belum siap untuk bercakap lama dengannya.


"Sayang, yuk sarapan dulu. Ajak nak Zaky juga," panggil mama.


"I ... iya, ma," jawab Rania. "Emm, kita sarapan dulu kalau gitu," ajak Rania.


"Ngga usah, Ra. Aku udah sarapan sebelum kesini. Kamu aja gih sarapan sana. Nanti kalau udah selesai aku akan mengantarmu pergi."


"Baiklah," ujar Rania sebelum berlalu dari hadapan Zaky.


***


"Loh! Nak Zaky mana?"


"Katanya, dia sudah sarapan sebelum kesini. Jadi dia ngga ikut sarapan bareng kita."


"Kalau gitu, kamu cepet makan, ngga enak buat nak Zaky menunggu lama."

__ADS_1


"Iya, ma," jawab Rania. "Oh, iya. Kak Rey mana, ma?"


"Biasa, olahraga dulu."


Mereka makan dalam keheningan. Hanya suara dentingan sendok yang tidak sengaja beradu dengan piring  yang terdengar didalam ruangan makan yang didominasi oleh warna putih hijau itu. Begitulah yang biasanya terjadi saat papa dan juga Reyhan sibuk dengan dunia kerja mereka.


Hari saat Reyhan ada pun tetap sama, sebab Reyhan biasanya lebih memilih berolahraga lebih dahulu ketimbang sarapan bersama mereka. Itu pun kebetulan saja kalau Reyhan dapat sarapan bersama mereka.


"Ma, Rania udah selesai."


"Hem, kamu berangkat kerja aja, biar mama yang bereskan meja makan ini."


"Kalau begitu Rania berangkat kerja dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah sarapan, Rania tidak lantas pergi ke ruang tamu. Ia kembali ke kamar untuk mengambil tas dan juga ponselnya yang ia simpan diatas meja belajarnya saat masih sma. Baru setelah mengambilnya, Rania bergegas menemui Zaky.


"Maaf, aku kelamaan."


"Tak apa. Shif kerjaku belum dimulai, jadi tidak masalah. Kamu mau berangkat sekarang?"


"Iya."


Saat mereka baru saja keluar dari rumah Rania, disaat bersamaan, terlihat sebuah mobil suv putih masuk ke dalam halaman rumah Rania. Rania tertegun, namun tidak bagi Zaky.


Terlihat Khanif keluar dari mobilnya dengan senyuman yang terlihat diwajahnya. Ia belum menyadari kalau Zaky dan Rania berada disana. Ia lantas berlari kecil menuju rumah Rania. Senyumannya hilang saat ia melihat wanita yang ingin dijemputnya berdiri disamping lelaki yang bisa dikatakan menjadi saingannya.


Apa ia harus berbalik? Tentu saja tidak. Khanif bukanlah seseorang lelaki yang mudah menyerah dalam mencapai tujuannya. Sudah cukup waktu itu ia mengalah karena tidak tahu persis hubungan Zaky dan Rania. Dan ... kini ia akan memperjuangkan apa yang seharusnya ia lakukan dari dulu.


Khanif lantas mendekati mereka dengan senyuman tipis yang tampak diwajahnya yang rupawan.


"Assalamualaikum," salamnya.


"Wa'alaikumussalam. Apa yang bapak lakukan disini?"


"Saya ingin menjemputmu untuk berangkat kerja bersama mengingat motormu ditinggal di kantor. Tapi sepertinya Zaky datang, pastinya ingin mengantarmu ke kantor. "


"Iya, bapak benar."


"Ya, kebetulan sekali," ujar Zaky. "Sepertinya kami berjodoh."

__ADS_1


Bukannya Khanif malah terdiam nan kecewa, namun Khanif malah tanpa sadar terkekeh kecil mendengar perkataan Zaky yang mencoba mematahkan semangatnya itu dengan mengatakan kalau Rania dan dirinya berjodoh.


Khanif jelas tau apa maksud Zaky saat Zaky berkata seperti itu. Tentu saja Zaky ingin membuatnya jauh dari Rania. Tapi, ia tidak akan dengan mudahnya menjauh lagi dari Rania sebab, mulai hari ini, ia akan mengerahkan semua kemampuannya untuk mendapatkan hati Rania. Apalagi ia kini tau bagaimana arti dirinya di kehidupan Rania setelah kejadian semalam. Ah, betapa gembiranya hati Khanif.


"Hem, ya. Kalian sepertinya berjodoh untuk saat ini." Khanif membenarkan, namun Khanif menganggap kalau perkataan Zaky hanya berlaku pada menit itu juga. Jadi, ia tidak ingin berkomentar lebih jauh lagi. "Baiklah. Kalau begitu saya duluan," pamit Khanif kemudian.


Khanif pun kembali berbalik ke mobilnya. Ia melajukan mobilnya tanpa menunggu Zaky ikut melajukan mobilnya juga.


Takdir membawa mereka bertemu lagi. Kini, karena jalan yang lenggang, membuat mereka berpapasan di lampu merah. Mengetahui hal itu, Khanif lalu menurunkan kaca mobilnya. Tepat disamping kanannya yang dipisahkan antara mobilnya dan mobil Zaky, Khanif dengan jelas melihat Rania duduk manis disamping Zaky. 


Namun hal itu tidak berlangsung lama karena lampu yang tadinya berwarna merah kini telah berganti menjadi warna hijau yang menandakan kalau mereka sudah bisa jalan, Khanif lantas menoleh sebentar untuk melempar senyum pada Rania sebelum ia kembali melajukan mobilnya menuju kantor.


Rania mengernyit heran. Ia heran dengan perilaku Khanif pagi ini. Alasannya, Rania ingat dengan jelas bagaimana ia kesal pada Khanif dan pagi ini, ia mendapati Khanif selalu saja tersenyum jika pandangan mereka bertemu.


Apa setelah mengantarnya pulang semalam kepala Khanif tidak sengaja terbentur dengan suatu benda yang keras hingga membuat pagi ini Khanif bersikap aneh? Pikir Rania. Memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi, membuat Rania tanpa sadar menggelengkan kepalanya. Ia pusing memikirkan keanehan Khanif.


Zaky yang melihat Rania menggelengkan kepalanya lantas menegurnya, "kamu sakit, Ra?"


"Engga kok, kak," jawab Rania menenangkan. "Aku hanya ingin menggerakkan kepala saja, biar saat kerja nanti ngga kaku," kilahnya kemudian disertai senyumnya agar membuat Zaky percaya akan ucapannya barusan.


Bukannya Rania seakan ingin membohongi Zaky, hanya saja, jika ia memberitahukan kebenarannya, Zaky pasti akan berpikir yang tidak-tidak dengannya.


"Oh iya, Ra. Kamu punya janji nonton sama siapa akhir pekan ini?"


"A' apa?" tanya Rania karena tidak memperhatikan ucapan Zaky.


"Kamu punya janji nonton sama siapa akhir pekan ini?" ulang Zaky.


"Oh itu, aku pergi dengan pak Khanif," jelas Rania. Namun kemudian ia cepat-cepat menambahkan. "Tapi, kakak jangan salah paham. Kami pergi nonton bersama karena kami mendapat penawaran menarik dari tempat kami makan siang."


"Aku tahu tempatnya. Sebenarnya aku juga ingin mengajakmu kesana. Tapi sebelum itu, kamu sudah menolaknya," kekeh Zaky.


"Ah, ya. Jadi kakak akan pergi nonton juga?"


"Tidak."


"Kenapa?"


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2