
Hai, aku datang lagi nih. Terima kasih banget sama @Nona M, @shanty, @Teti Indrawati dan @meng karena telah memberikan vote-nya pada cerita ini.
Oh, iya. Aku sudah membaca komen kalian semua. Yang meminta visual cerita ini, maaf banget ya belum sempat aku kasi karena jujur banget, saat ini aku sibuk sekali. ini pun aku sempatkan untuk up buat kalian. Iya, buat kalian.
Dan ada lagi yang mengomentari 'kenapa alurnya lambat sekali' ya sebenarnya, aku juga ngga mau buat alurnya jadi lambat, tapi tiap selesai menulis satu bab, pastikan katanya lebih dari 1 k. jadi aku buat beberapa part dalam satu kejadian. untuk itulah, cerita ini terkesan dengan alur yang lambat. namun meski begitu, semoga kalian tetap menyukai cerita ini.
Bagi yang ingin bertanya atau apalah, silahkan komen saja ya. kalau ada waktu, pasti aku bahas di bab selanjutnya.
Baiklah. Selamat Membaca, semuanya 🤗
...***...
Ia mengerutkan kening saat lawan bicara di ponselnya memanggil dirinya sayang. Tentu saja Rania terkejut. Ia tidak tahu siapa penelpon ini, dan lebih anehnya, memanggil Rania dengan sebutan seperti itu.
"Maaf, sepertinya Anda salah sambung," ujar Rania pelan.
Pasalnya, ia tidak mengenal dengan si penelpon ini. Meski suaranya sedikit familiar, tapi setidaknya saat menghubungi dirinya dengan nomor baru, dia seharusnya menyebutkan namanya bukan malah memanggilnya dengan kata sayang.
"Ini benar dengan nak Rania kan?" tanyanya memastikan.
Rania mengangguk. "Aduh! Kenapa mesti mengangguk, pasti orang ini tidak akan tahu," ujar Rania dalam hati saat menyadari tidakan anehnya ini.
Rania pun bersuara, "ya, saya Rania. Maaf kalau boleh tahu, Anda siapa?"
"Duh, nak Rania. Ini tante Adelin, mama Khanif. Masih ingat kan?"
"Oh tante. Maaf Rania ngga tahu kalau ini tante."
"Oh iya, gimana sarapannya kemarin, enak ngga?"
"Iya tan. Rasanya pengen nambah lagi," ujar Rania dengan terkekeh pelan.
"Kapan-kapan, tante akan buatkan sarapan yang beda lagi."
"Terima kasih, tan."
"Ini nomor tante yang satunya ya. Disimpan lagi, karena mulai sekarang, tante akan menghubungimu lewat nomer ini."
"Iya, tan."
"Oh, iya. Kamu udah dapat kabar dari anak tante?"
"Kabar?" Rania mengernyit heran. Ia tidak dapat kabar apapun dari Khanif bahkan sampai saat ini. Rania pun berkata, "tidak, tan. Memangnya ada kabar apa ya?"
__ADS_1
"Duh anak itu, sepertinya dia belum mengizinkan kamu pulang cepat sore ini," gerutu mama pada Khanif yang belum juga memberikan kabar kalau Rania bisa pulang cepat hari ini. Mama lalu melanjutkan perkataannya, "biar tante menghubunginya dulu. Nak Rania, nanti tante telepon lagi, ya."
"Tan," seru Rania mulai mengerti.
"Ada apa nak?"
"Kalau maksud tante kalau Rania bisa pulang cepat hari ini, Rania sudah tahu, tan. Tapi bukan pak Khanif yang mengatakannya pada Rania, melainkan manajer Rania yang memberitahukannya."
"Huft, syukurlah. Tante kira anak itu sudah lupa akan permintaan mamanya sendiri. Baiklah, nak Rania. Nanti sore siap-siap ya, tante akan menjemputmu di kantor. Lalu kita pergi shopping bareng di mall."
"Kebetulan sekali tan, Rania juga ada beberapa barang yang mau Rania beli disana."
"Baiklah. Setelah sholat ashar, tante akan datang menjemputmu, sayang. Assalamu'alaikum," ujar mama menyelesaikan pembicaraannya dengan Rania.
"Wa'alaikumsalam."
Mama Adelin pun menutup sambungan teleponnya dengan Rania. Mama merasa bahagia bisa bertambah dekat dengannya. Sedang Rania, entah mengapa ia lebih bersemangat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Ia bahkan hampir lupa dengan ajakan Zaky untuk makan siang bersama kalau Zaky tidak kembali menghubunginya lewat pesan wa.
Setelah semua kerjaan pagi ini selesai, Rania pun bersiap-siap pergi makan siang dengan Zaky. Saat dirinya hendak memasuki lift, lagi-lagi Rania dibuat terkejut dengan seseorang yang ada didalamnya.
Lelaki itu berdiri tegas dengan kedua tangannya berada didalam sakunya. Seperti kebiasaannya saat pikirannya sedang menerawang jauh. Pandangannya datar tanpa senyum sedikitpun hingga membuat Rania hanya terdiam ditempatnya berdiri.
"Kamu tidak jadi masuk?" tanyanya saat Rania tak kunjung melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.
"Ma ... mau kok, pak," ujarnya tergagap.
Setelah itu, Rania pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Lalu Khanif menekan tombol lift kembali. Rania pada awalnya masih saja canggung dengan keberadaan Khanif.
Namun mengingat pembicaraannya dengan mama Adelin pagi tadi, membuat Rania harus memberanikan dirinya. Meski pada awalnya ia berbasa-basi dulu dengan Khanif agar mereka mulai terbiasa.
"Emm pak, kenapa bapak tidak memakai lift kaca bapak saja. Jika menggunakan lift itu bukannya lebih baik. Bapak juga bisa sampai lebih cepat dari ini."
"Saat ini saya mau menggunakan lift ini. Kamu ada masalah atau apa selalu berkata seperti itu terus?" tanya Khanif sedikit menolehkan wajahnya.
Rania menelan saliva-nya tanpa sadar. Ya, Rania akui. Ia pernah mengatakan pertanyaan itu pada Khanif pada hari-hari yang telah lalu. Rania mengira Khanif sudah melupakannya, tapi nyatanya Khanif masih mengingatnya dengan betul.
Rania juga menduga kalau sepertinya atasannya ini sedang berada dalam mood yang buruk. Entahlah, apa penyebabnya. Namun Rania tidak ingin mengetahui hal tersebut. Karena bisa jadi hal itu malah akan membuat dirinya dan Khanif akan semakin menjauh.
Hingga Rania pun memilih diam sejenak. Setelah agak lama, Rania pun kembali membuka percakapan dengan Khanif. Biar bagaimana pun, Rania ingin tahu kebenarannya tentang ajakan mama Adelin tadi.
"Pak, boleh saya bertanya?" tanya Rania sambil menoleh pada Khanif yang masih saja tidak tersenyum.
"Hem, tanya saja," jawab Khanif tidak membalas menoleh pada Rania.
__ADS_1
"Kenapa bapak tidak menyampaikan langsung saja sama saya, kalau tante Adelin mengajak saya sore ini?"
Khanif diam sejenak. Apa ia harus jujur saja? Namun jika begitu, ia tidak ingin Rania beranggapan kalau dirinya lebih di prioritaskan dari karyawan lainnya.
"Oh, itu. Saya sibuk. Saya tidak punya waktu untuk mengatakannya padamu, jadi meminta managermu mengatakannya."
"Kenapa bapak tidak kirim lewat pesan singkat saja?"
Huft, sepertinya ia sekali lagi harus membuat Rania kesal padanya. Sungguh, ia tidak berniat sekali pun, namun saat ini ia tidak bisa terus menjawab pertanyaan Rania disaat kepalanya berdenyut nyeri.
"Nanti Kapan-kapan saya menjawabnya. Saya pusing ini. Tolong jangan buat saya tambah pusing lagi," ujar Khanif memijit pelipisnya dan menghela nafas panjang nan berat.
Sungguh ia benar-benar pusing dengan masalah Davina. Bukan pusing karena masalahnya belum kelar. Hanya saja, orang yang mengirimkan berita palsu di grup kantor, sepertinya lebih licik dari yang ia pikirkan dan bahkan lebih pintar dalam menyembunyikan dirinya. Namun biar bagaimana pun, Khanif akan tetap berusaha menemukannya meski Khanif harus berusaha lebih keras lagi.
Rania yang mendengar suara Khanif pun tertegun. Ia tidak menyangka Khanif akan mengatakan hal itu padanya. Bisa saja kan, Khanif memilih kata-kata yang lebih baik. Rania tertunduk. Ia lebih memilih untuk diam. Jika diam bisa membuatnya tenang dan tidak mendapat masalah, maka Rania akan melakukannya.
Ia juga sudah tidak ingin lagi menganggu Khanif selama mereka berada didalam lift. Ia takut pada akhirnya kalau dirinya sampai harus mendengarkan suara Khanif yang bisa saja membuat matanya berkaca-kaca. Sungguh, Rania tidak ingin hal itu terjadi.
Pintu lift terbuka. Rania pun keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pada Khanif. Namun saat Rania sudah keluar dari lift, langkah kakinya terhenti saat Khanif mengatakan kata, "maaf."
Khanif mengatakannya dengan penuh rasa penyesalan. Rania yang mendengarnya dengan jelas, sontak saja membalikkan badannya. Belum juga Rania menanyakan alasan Khanif mengatakan empat huruf itu, pintu lift sudah lebih dahulu tertutup. Meninggalkan Rania yang dilanda keheranan.
Rania bergerak cepat. Ia ingin mendengar penjelasan Khanif dengan menekan tombol lift beberapa kali. Tapi nihil, sebanyak apapun Rania menekannya, pintu lift nya sudah tidak berada dilantai yang sama lagi dengannya.
Rania lantas mendongkak kepalanya melihat angka yang terpampang diatas lift. Ia ingin mengetahui lantai yang dituju oleh Khanif.
Setelah mendapatkannya, Rania berlari ke tangga darurat. Biar bagaimana pun, ia ingin mengetahui alasan Khanif meminta maaf padanya. Meski ia sudah bisa menduga, tapi Rania ingin mendengar sendiri dari bibir Khanif.
Sesampainya di lantai tempat lift Khanif berhenti, Rania membuka pintu yang menghubungkan antara tangga darurat dan ruangan yang disinggahi Khanif. Sungguh, sejak kakinya sembuh, ini lah pertama kalinya Rania bersikeras menggunakan kakinya ini.
Tanpa menormalkan pernapasannya, Rania langsung saja membuka pintu penghubung. Rania lantas mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Khanif. Saat manik matanya menangkap sosok lelaki berkemeja putih, Rania lantas berteriak memanggil namanya.
"Pak Khanif!"
Sontak semua orang yang mendengar suara Rania, langsung saja melihat ke arahnya dengan pandangan heran. Sedang Rania, ia refleks menutup mulutnya dengan satu tangannya yang bebas.
"Maaf, sepertinya saya salah lantai," ujarnya menahan malu.
Rania lantas berbalik, hendak kembali ke tujuan awalnya. Yakni, bertemu dengan Zaky yang mungkin sudah menunggunya dibawah. Saat Rania sudah melangkahkan kakinya untuk pergi, langkah Rania terhenti karena ada seseorang yang memanggil namanya.
"Rania!"
...To be continued...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan, kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...