
Rania pun berlalu dari hadapan Khanif. Saat dirinya hendak mencapai pintu, Khanif kembali memanggil dirinya. Rania lantas membalikkan badannya. Tanpa mendekat, ia bertanya, "apa bapak punya keperluan lain?"
"Ya, sepertinya." Khanif diam sejenak. Rania menunggu dengan cemas. Lalu beberapa detik kemudian, Khanif pun mulai bersuara kembali.
"Kalau kopi buatanmu enak, buatkan saya tiap hari di jam seperti ini dan bawakan saya kesini juga."
"Semoga kopi buatanku tidak enak," gumam Rania sangat pelan.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?"
Rania langsung saja menepisnya dengan melambaikan-lambaikan tangannya didepan dada. Tentu saja ia tidak ingin Khanif mendengarkan gumamnya tadi.
"Saya akan mengikuti sesuai perintah bapak," ujarnya sambil tersenyum penuh arti.
"Hem, kamu boleh pergi."
Seperginya Rania dari ruangannya, Khanif cepat-cepat berdiri dari kursi duduknya dan lagi-lagi ia berdiri memandang keluar sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan sebuah senyuman yang terukir di wajahnya yang tampan.
Ia menghela napas lega. Entah mengapa ia merasa lebih lega dari biasanya. Apa karena Rania mau membuatkan kopi untuknya atau ia senang karena Rania tidak menjaga jarak pada dirinya karena berita hangat tentang dirinya dan Davina pagi ini? Antara dua pertanyaan itu, Khanif merasa lebih lega dipertanyaan keduanya.
Ia tidak menyangka Rania tidak bersikap canggung padanya tadi setelah berita itu. Khanif menduga pasti Rania juga telah membacanya. Tapi, sepertinya Rania tidak terlalu memusingkan hal itu. Untunglah, Khanif menghela nafas lega.
Namun baru saja rasa senang menghampirinya, tiba-tiba ia berdiri tegang, senyuman di wajahnya lenyap. Ia baru sadar arti akan kecuekan Rania.
Apa karena Rania hanya mengganggap bahwa mereka benar-benar hanya sebatas pada atasan dan bawahan saja? Apa perasaan Rania waktu sma dulu telah berubah? Jika seperti itu, sepertinya Khanif tidak memiliki harapan lagi.
Dengan lesu, ia pun kembali ke meja kerjanya. Kembali mengerjakan tugas yang berada disana dengan ditemani oleh secangkir kopi buatan Rania.
Tidak lama kemudian, Khanif mendonggakkan kepalanya saat mendengar pintu ruangannya diketuk. Ia pun mengesampingkan dokumennya dulu dan mengatakan 'masuk' padanya.
"Pagi, pak," sapa Abi. Lelaki yang bertugas dalam menjaga keamanan dan informasi perusahaannya.
"Duduklah."
"Bagaimana hasil penyelidikanmu? Apa kamu sudah mendapatkan siapa yang telah menyebarkan berita pagi ini?"
"Maaf pak. Saya sudah melacaknya. Namun sepertinya saya belum bisa melacak orang yang menyebar berita itu."
__ADS_1
"Bukannya kamu ahli dalam bidang ini?"
"Maaf, pak. Tapi sepertinya dugaan saya kalau orang yang menyebar berita bapak adalah orang yang ahli dalam bidang saya juga. Jadi saya minta waktu lebih lagi."
"Baiklah. Saya berikan kamu waktu dua hari lagi. Jika dalam dua hari ini kamu belum juga menemukannya, kamu tahu apa konsekuensinya kan?"
"Iya pak. Saya siap diturunkan dari jabatan saya."
Khanif mengangguk. "Kamu boleh pergi sekarang."
Abi pun pergi dari hadapan Khanif. Khanif memijit pelipisnya. Ia tidak ingin kalau berita ini terus tersebar. Meski ia sudah dapat mengendalikan mulut pada karyawannya, tapi ia tidak bisa mengendalikan mulut orang lain. Apalagi jika orang tersebut adalah saingan dalam dunia bisnisnya.
Khanif pun mengambil kopi buatan Rania untuk menenangkan pikirannya yang gelisah dan meneguknya sedikit. "Emm, enak. Persis dugaanku," ujar Khanif sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Seperti perkataannya pada Rania tadi, Khanif pun mengambil ponselnya dan mengirimkan Rania pesan lewat whatsapp. Ia pun mulai mengetikkan pesan untuk Rania, 'mulai besok buatkan aku kopi'. Begitulah kata-kata yang Khanif tuliskan. Singkat, padat dan jelas.
Rania yang saat itu baru saja men-save hasil kerjanya, jadi menoleh pada ponselnya yang berbunyi khusus. Bunyi yang menandakan kalau ada pesan masuk di apliksi hijaunya. Ia lalu membukanya ponselnya. Ia mengernyit heran saat melihat pesan dari Khanif.
"Sepertinya aku punya tugas tambahan."
Dian yang tidak sengaja mendengar perkataan Rania, jadi mendongkak kepalanya ke arah Rania.
Tentu saja Rania tiba-tiba gugup dalam menjawabnya, "oh, itu ... itu .... Tidak ada apa-apa," elak Rania.
Ia tidak ingin memberitahukan Dian tentang tugas tambahannya, bukan karena ia tidak mempercayai Dian. Hanya saja, hal ini menyangkut dirinya dan Khanif yang notebenenya adalah atasan mereka.
Apa nanti kata Dian kalau ternyata Khanif-lah yang memberikannya tugas tambahan! Untuk itulah, Rania memilih diam dan menghindarinya. Rania pun kembali mengambil sebuah dokumen lainnya untuk ia input kedalam komputer.
Rania kini sudah mulai fokus. Sehingga saat jam makan siang tiba, ia tidak menyadarinya. Dian yang hendak pergi, jadi heran saat melihat Rania masih fokus dengan komputer didepannya. Ia pun dengan sigap menyadarkannya. Kalau tidak, mungkin Rania akan ketinggalan makan siangnya.
"Kamu mau makan di cafetaria?" tanya Dian. Rania menggelengkan kepalanya lalu mengangkat sebuah tas kecil yang berisi kotak makan siangnya.
"Kebiasaan."
"Baru-baru juga kok. Baiklah aku pergi dulu. Selamat menikmati makan siangmu."
"Hem, kamu juga."
__ADS_1
Rania pun beranjak dari tempat duduknya menuju rooftop kantor. Sesampainya disana, ia langsung mengambil tempat duduk yang mempunyai payung besar ditengahnya.
"Ah, ini baru namanya menikmati makanan," ujarnya dengan senyuman yang mengambang.
Rania lantas mengeluarkan kotak makan siangnya dan minuman botol dari tas kecilnya. Sambil membuka kotak makan siangnya, ia menghirup aroma yang sangat enak di indera penciumannya itu. "Emm, enak!" serunya.
Tiba-tiba dari arah belakangnya, ada seseorang yang membuat Rania terkejut. "Sepertinya makan siangmu enak."
Rania lantas menolehkan wajahnya pada sesosok itu.
"Pak Khanif! Apa yang bapak lakukan disini?" tanya Rania tak percaya Khanif juga ada disini.
"Kamu tidak lihat?" ujar Khanif seraya mengangkat satu tangannya yang tengah memegang sebuah cup makanan siap saji dan tangan lainnya memegang sebuah botol mineral.
"Bapak mau makan siang disini juga?" tanya Rania tanpa sadar.
Khanif mengangguk. "Boleh saya ikut makan disini, bersamamu?" tanya Khanif meminta persetujuan.
Pasalnya, ia tidak ingin jika Rania sampai tidak menikmati makan siangnya gara-gara canggung padanya.
Setelah mendapat persetujuan Rania dengan Rania yang menganggukan kepalanya, Khanif pun menarik sebuah kursi duduk berselang satu kursi kosong disamping Rania.
"Bapak sering makan siang dengan makanan instan itu?"
"Emm, lumayan," jawab Khanif ambigu.
"Bukannya bapak tahu kalau makanan itu tidak baik bagi kesehatan jika terus menerus di konsumsi?"
"Tantu saja tahu," jawab Khanif cuek. Ia pun membuka penutup cup dan mulai mengaduk-aduk bumbunya agar menjadi rata.
Belum sempat Khanif memakannya, Khanif dibuat heran dengan Rania yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Khanif lantas mendongkak melihat Rania dengan pandangan heran.
"Kamu kenapa?"
...To be continued...
Apa keperluan Rania pada Khanif ya? Ada yang bisa nebak ngga? Kalau ada tulis di kolom komentar ya. Jika ada yang benar, namanya akan aku tulis di bab selanjutnya.
__ADS_1
...By Siska C...