
Setelah lama mengudara di atas awan. Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi, tidak lama lagi akan mendarat. Selama waktu itu, Rania melihat keluar jendela. Ia melihat awan-awan yang berombak-ombak seperti telah mengetahui tempatnya masing-masing.
Tidak lupa pula ia melihat keindahan alam dibawah sana. Ia dapat melihat gunung-gunung yang tinggi yang terlihat kecil dari tempatnya berada. Hutan hijau yang belum terjamah oleh tangan-tangan manusia itu masih terlihat indah dimata Rania.
Ah sungguh indah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Rania bahkan tidak bisa berkata apa-apa melihat keindahan alam yang begitu mengangumkan dari dalam burung besi ini.
Ia sampai tidak memperdulikan panggilan Reyhan padanya. Untung saja kakaknya tahu kebiasaannya ini. Jadi, Reyhan membantu Rania memasangkan sabuk pengamannya karena tinggal berapa menit lagi, mereka akan tiba di bumi. Rania tahu ini salah. Namun selama ia bersama kakaknya, ia akan tenang menikmati keindahan alam ini.
Pesawat mendarat dengan lancar dan selamat. Segera setelah penumpang pesawat keluar semua, mereka pun ikut keluar dari sana.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga."
Reyhan melihat adiknya heran. Ia heran karena Rania berubah begitu banyak sejak menjadi sekretaris sementara Khanif.
Rania menoleh dan bertanya dengan nada heran, "kakak kenapa?"
"Kakak rasa, kakak tidak mengenalmu."
"Gara-gara Rania mengatakan rasa syukur, begitu."
Reyhan mengangguk.
"Jadi, mulai saat ini, Rania akan semakin meningkatkan sisi religius dalam diri Rania. Rania akan mulai melakukannya dari hal-hal yang Rania bisa dulu. Seperti mengucapkan syukur."
Reyhan tersenyum menanggapinya. "Ayo," ajaknya kemudian.
Mereka pun langsung terus ke tempat pengambilan barang bawaan setelah turun dari bus yang mengantar mereka dari pesawat. Sesampainya mereka disana, mereka menunggu beberapa menit sebelum melihat koper mereka.
"Pasti mama sudah tiba sama papa," ujar Rania.
"Pastinya."
Reyhan pun mengambil koper mereka.
"Kak, biar Rania bawa koper Rania sendiri."
"Dengan keadaan yang seperti itu?"
Rania melihat kakinya dan mengangguk ragu.
"Biar kakak saja. Agar kamu bisa cepat masuk kantor."
"Baiklah."
Mereka pun pergi dari sana. Jangan kira Reyhan akan mengikuti perkataan Rania untuk ikut menarik kopernya. Tentu saja tidak ia katakan, karena saat ini Rania tengah memakai tongkat ketiak atau lebih dikenal dengan nama kruk untuk membantunya berjalan sempurna.
"Hampir saja kakak kecolongan."
Rania menoleh pada Reyhan. "Kenapa?"
"Lihat, jalanmu saja sudah susah, mau narik koper sendiri lagi. Bisa-bisa nanti kakak dimarahin papa."
__ADS_1
"Biar, biar kak Reyhan sekali-kali dimarahi." Rania terkikik geli sambil menutup bibirnya dengan satu tangannya yang bebas.
"Anak nakal. Melihat penderitaan kakaknya malah tertawa."
Rania kian tertawa melihat kekesalan kakaknya.
"Maaf ... maaf Rania bercanda kak."
Reyhan pun ikut tersenyum melihat Rania. Adiknya yang dulu masih kecil ini ternyata walau sudah besar masih saja membuatnya kesal. Namun meski begitu, ia tidak mempermasalahkannya karena ia tahu kalau Rania hanya bercanda saja.
"Pasti mama dan papa tidak sabar lagi, hingga mereka sudah ada tepat dipintu penjemputan."
Sesuai tebakan Rania, dari arah penjemputan, mereka dapat melihat mama dan papa tengah melambaikan tangan pada mereka yang sedang berjalan kian mendekat.
Melihat Rania yang memakai kruk,
Papa dan mama jadi khawatir terhadap putri mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya mama setelah mereka sampai.
"Oh, ini? Rania keseleo ma."
Papa langsung beralih melihat Reyhan. Reyhan yang dilihat pun terpaksa berdusta sedikit. Ia tidak ingin adiknya maupun atasan adiknya kena masalah ini. Apalagi jika papa sampai mengetahui kalau Rania sudah disekap oleh sekelompok orang yang menyembunyikan narkoba.
"Rania keseleo saat turun dari berkuda. Adik tidak hati-hati."
Papa beralih melihat Rania. "Mulai saat ini, jangan pernah naik kuda lagi. Titik!"
"Pa ...."
Rania baru ingat, kalau sifat papa sama seperti sifat kakaknya. Oh tidak, malah Reyhan yang menuruni sifat papanya ini. Jadi Rania tidak kaget saat Reyhan begitu posesif padanya.
"Baiklah. Tapi kalau Rania udah sembuh, Rania ingin belajar cara menungganginya," ujar Rania disertai senyuman yang manis.
Lagi-lagi papa persis seperti Reyhan. Ia tidak dapat menolak permintaan Rania yang terbilang manis itu.
"Papa izinkan kalau kakakmu yang mengajarimu."
"Hah! Rania mau pakai jasa pengajar aja. Bisa-bisa kalau sama kak Rey harus nunggu kak Rey pindah kesini lagi. Entah kapan hal itu akan terlaksana."
"Kalau begitu tidak ada acara naik kuda-an."
"Aaa ... papa, baiklah dari pada tidak sama sekali."
Mama dan Reyhan tersenyum. Akhirnya papa memenangkan sesi ini dari Rania.
"Baiklah ayo kita pulang."
Papa lalu beralih pada Reyhan. Papa memberinya kode agar Reyhan mengambil kruk Rania. Rania tentu saja terkejut saat Reyhan mengambil kruk-nya.
"Loh, loh. Kruk Rania."
__ADS_1
"Tidak dibutuhkan lagi," ujar papa seraya mengangkat Rania ke dalam pelukannya.
Rania tentu saja malu. Apalagi ia sudah besar, tapi masih digendong oleh papanya.
"Pa, Rania bisa jalan kok," bujuk Rania.
"Udah ikuti papa aja," komen Reyhan yang sebenarnya tahu mengapa Rania mengatakan demikian.
Bagimana tidak, saat ini hampir semua pasang mata tertuju pada anak dan papa itu. Dimata mereka jelas ada yang menujukkan kalau mereka kagum akan rasa sayang bapak itu pada putrinya. Namun ada pula yang nyinyir, akan kehangan putri dan papanya itu.
Meski begitu, keluarga kecil itu tidak mempermasalahkannya karena orang mempunyai pendapat sendiri. Mulut dan pemikiran sendiri. Hanya saja, pastilah mereka akan mendapatkan keadilannya sendiri.
Sementara Rania sibuk menyembunyikan wajahnya didada papa, Khanif sibuk memandangi pemandangan dari dalam ruangannya. Lagi-lagi ia berdiri terdiam disana. Bahkan, saat Davina masuk bersama Lisa, Khanif tidak menyadarinya.
"Pak," panggil Davina mencoba menyadarkan Khanif.
Khanif berbalik, ia melihat Davina dan Lisa, sekretaris yang akan membantunya selama seminggu kedepan ini. Ya, minggu ini adalah giliran Lisa. Wanita yang memiliki keingintahuan yang tinggi dan seorang wanita yang pernah menuduhnya berkata beda diucapkan dan dihati. Untung saja waktu itu Rania bisa membuatnya bungkam sebelum kata-kata yang membuat telinga Rania sakit.
"Silakan duduk."
Davina dan Lisa pun duduk didepan meja Khanif.
"Ada apa?"
"Saya mengantar nona Lisa untuk memulai pekerjaannya sebagai sekretaris sementara Anda."
"Iya. Saya sudah tahu."
"Kalau begitu, saya tidak akan mengganggu Anda lagi."
Davina dan Lisa pun keluar dari ruangan Khanif. Namun, belum sempat Lisa benar-benar keluar dari ruangan Khanif, Khanif kembali memanggilnya. Mau tidak mau, Davina pun keluar sendiri.
"Iya pak."
Seperti pertama kali ia bertemu dengan Rania seminggu yang lalu, kini Khanif kembali mengulang pertanyaanya lagi.
"Apa jadwal saya selama seminggu kedepan?" tanya Khanif langsung.
Tentu saja Lisa terkejut karena ia tidak mengetahui pertanyaan Khanif akan membahas soal jadwalnya. Apalagi ia belum mengetahui jadwal Khanif.
"Emm pak. Jadwal bapak belum saya persiapkan."
"Loh kok gitu. Bukannya Rahayu sudah mengatakan padamu, apa tugasmu selama seminggu kedepan ini?"
"Maaf pak, saya ... saya kelupaan."
Khanif memijit pelipisnya. "Keluar, pergi temui Davina dan minta jadwalku padanya. Lalu kembali lagi kesini."
Dengan takut-takut, Lisa pun keluar dari ruangan Khanif setelah sebelumnya ia tadi memberi hormat. Lisa yang sudah keluar dari ruangan Khanif pun mengomel, "dasar mau menang sendiri. Jika ingin menjatuhkanku, tidak akan semudah itu Davina."
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C ...