
hai, sore semua. aku datang lagi nih. membawa bacaan kesukaan kalian.
Selamat Membaca, ya!
...***...
Namun lagi-lagi, belum juga Rania memutar knop pintu dan membukanya, Khanif kembali memanggilnya.
"Rania."
Dengan tanpa minat untuk berbalik, akhirnya Rania tetap juga memilih berbalik karena kesopanan.
"Ia pak."
"Rania, jangan lupa tutup pintunya rapat."
Sekali lagi Rania melongo mendengar perkataan Khanif. Apa Khanif sengaja ingin membuatnya kesal? Pikirnya dalam hati. Hanya gara-gara ini, Khanif memanggilnya.
"Bapak tenang saja, meski pintu ruangan bapak tidak tertutup rapat, saya tidak mungkin terus menempelkan telinga saya disini," kesal Rania.
Tentu saja Rania tidak ingin menguping pembicaraan Khanif jika ada karyawan yang mendatangi Khanif. Apa ia tidak mempunyai pekerjaan lain! Selain menguping pembicaraan Khanif? Khanif ada-ada saja, jika mengiranya seperti itu.
"Jangan salah paham terus, Rania. Itu tidak baik. Saya hanya tidak ingin mendengar omelan kamu."
Rania pergi, ia akan benar-benar naik darah jika terus tinggal disini. Disisi lain, Khanif tersenyum. Ia seperti tidak mengenali dirinya lagi saat bersama Rania. Dulu, ia begitu dingin pada bawahannya. Namun sepertinya, kini es dihatinya perlahan mulai mencair saat bersama Rania.
...***...
Siang harinya, saat Rania hendak meninggalkan meja kerjanya, ia melihat Khanif keluar dari ruangannya. Rania pun lantas menghentikan langkah kakinya. Sungguh, saat ini ia tidak ingin satu lift dengan Khanif. Namun, Khanif yang sudah terlanjur melihatnya jadi tidak sempat menghindar. Ia pun tetap melajukan langkah kakinya itu. Ia tidak ingin Khanif berpikir macam-macam padanya.
"Siang pak," sapa Rania sopan sambil berdiri disamping Khanif menunggu lift terbuka.
"Siang," balas Khanif singkat dan jelas.
Mereka berdua pun masuk kedalam lift kaca. Sepanjang jalan menuju lantai bawah, tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Entah, seakan mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai di lantai bawah pun mereka masih bungkam tanpa kata-kata. Karyawan lain yang melihat mereka pun tampak heran.
Ada yang menduga dari beberapa karyawan itu, Rania pasti telah mendapat teguran dari Khanif, sehingga Khanif tidak terlalu mengajak Rania berbicara walau sedikit saat mereka berpisah. Ada juga yang menduga kalau khanif kembali bersikap dingin lagi pada karyawan yang paling dekat dengannya. Pikiran yang terlintas dibenak mereka, membuat para karyawan yang memang mempunyai iri hati semakin menjerit senang.
Namun semua tertepis saat Khanif menawarkan tumpangan pada Rania didepan pintu masuk perushaan. Khanif menurunkan kaca mobilnya, tanpa menoleh pada Rania, Khanif menawarkan tumpangan pada Rania.
__ADS_1
"Masuklah, saya akan mengantarmu ketempat tujuan kamu."
"Terima kasih pak, tapi saya sudah ada jemputan. Mungkin tidak lama lagi jemputan saya akan tiba."
Khanif mengangguk dan tanpa berbicara dua kali lagi, Khanif pergi meninggalkan Rania yang masih menunggu seseorang yang telah janjian dengannya untuk makan siang bersama. Tidak lama setelah kepergian Khanif, Lisa, seorang teman kantor yang juga masuk ke dalam kandidat pencalonan sekretaris Khanif datang menghampiri Rania.
Dengan tangan yang sengaja di lipat didada, Lisa semakin mendekati Rania. "Kenapa kamu ngga masuk ke dalam mobil pak Khanif?" tanya Lisa yang mempunyai keingintahuan yang tinggi.
"Aku sudah punya janji dengan seseorang yang akan menjemputku disini. Jadi aku tidak menerima tawaran pak Khanif."
"Emm, pantas saja. Coba aku lebih awal berada disini, pasti pak Khanif akan menawariku tumpangan juga," ujar Lisa pede.
"Dan kamu tidak akan menolaknya," tebak Rania tanpa melihat Lisa.
"Tentu saja, untuk apa aku menolaknya. Aku tidak sama seperti kamu yang berpura-pura menolaknya. Padahal dalam hati ada maunya. Kamu kira pak Khanif akan menawarimu tumpangan untuk kedua kalinya? Tentu saja tidak, Rania!" seru Lisa sombong.
Rania tersenyum tak nyaman karena perkataan Lisa barusan. Jujur, ia memang tidak ada niatan untuk menumpang di mobil Khanif, karena ia memang sedang menunggu jemputannya yang tidak lain adalah Zaky. Zaky mengajak Rania untuk makan siang bersama disalah satu restoran yang biasa mereka datangi. Untuk itulah ia memang melakukan tindakan yang benar dengan menolak halus ajakan Khanif.
Apa itu masih bisa dibilang pura-pura menolak? Jika ya. Anggap saja begitu. Karena Rania juga tidak bisa menghentikan apa yang terlintas dipikirkan semua orang tentang dirinya. Ia juga terlalu malas untuk meladeni Lisa dengan membuktikan perkataannya. Jika saja Lisa akan mempercayai perkataannya, pasti Rania akan senang hati mengatakannya. Tapi dengan sifat Lisa yang selalu iri jika melihat orang lain bahagia, Lisa tidak akan percaya pada perkataannya.
Rania lantas menoleh pada Lisa. Secepatnya, ia harus membungkam mulut wanita yang tidak bisa menjaga perasaan wanita lain ini.
Seperti dugaannya, kini Lisa tidak bisa berkata apa-apa lagi padanya. Lisa bahkan mencebik tidak suka, lalu pergi meninggalkan Rania begitu saja.
"Ternyata sangat mudah membuatnya menjauh," gumam Rania.
Sungguh, Rania tidak mempunyai niatan awal untuk mengatakan hal tersebut pada Lisa. Ia hanya ingin Lisa diam, selagi dirinya menunggu Zaky. Namun nyatanya Lisa yang memang terkenal suka mencampuri urusan orang lain pun tidak ingin diam. Jadi, satu cara, Rania harus membuat Lisa sadar diri.
Baru saja Lisa pergi, Rania sudah melihat mobil Zaky memasuki halaman kantor. Senyumnya mengambang, ia tidak perlu lagi membuat alasan lain untuk menutup mulut yang tidak suka melihatnya bahagia.
Zaky menghentikan mobilnya tepat dihadapan Rania. Ia lalu keluar untuk membukakan pintu mobil buat Rania.
"Silahkan masuk, tuan putri."
Rania tersenyum, lalu menjawab, "terima kasih."
Setelah Rania masuk, Zaky pun kembali ke pintu masuknya juga.
"Maaf membuatmu menunggumu lama, tadi tiba-tiba aku ada pasien," ujar Zaky saat Rania sudah mengambil tempat duduk disampingnya.
__ADS_1
"Tak apa, aku ngerti kok. Jadi, kita bisa berangkat sekarang?"
"Seperti maumu, tuan putri."
Rania tertawa, kala menyadari ternyata Zaky memanggilnya dengan sebutan tuan putri.
"Kenapa?" tanya Zaky sambil menoleh sebentar pada Rania.
"Tolong jangan memanggilku tuan putri lagi."
"Kenapa, itu panggilan khusus ku padamu."
"Aku akan menerima kamu memanggilku apa, tapi selain itu."
"Baiklah, nanti aku akan memikirkan panggilkan khusus buat mu lagi."
Zaky pun kembali menambah laju mobilnya menuju restoran yang biasa mereka datangi. Sesampainya mereka disana, Zaky kembali membukakan pintu mobil buat Rania. Namun, tidak ada panggilan embel-embel tuan putri lagi. Karena Rania tadi sudah mengatakannya dan Zaky juga tidak ingin membuat Rania kehilangan minat makan karena ia memaksakan kehendaknya sendiri.
"Kamu ingin makan apa?" tanya Zaky setelah mereka berada di meja yang telah dipesannya.
"Emm kali ini aku ingin mencoba makan chicken steak saus enoki. Sama minumnya, ice lemon tea."
"Anda?" tanya pelayan resto.
"Saya juga pesan itu."
"Baik, mohon tunggu sebentar."
Rania dan Zaky bersamaan menganggukan kepala. Tak lama setelah kepergian pelayan wanita itu, dari arah belakang ada sesosok lelaki yang mengenali Rania.
Lantas lelaki itu memanggil Rania, "Rania."
Rania lantas menoleh ke belakang. Ia begitu terkejut melihat sosok lelaki yang saat ini semakin berjalan mendekat padanya.
...To be continued....
Yuk komen dan like, biar aku tambah semangat update-nya 😊
...By Siska C ...
__ADS_1