Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 44. Aksi Penyelamatan Rania


__ADS_3

spesial hari ini, aku yg dua bab ya!


Selamat membaca 🤗


...***...


"Aku harus segera lapor pada bos," ujar seorang lelaki yang melihat Elang.


Merasa ada yang memperhatikannya, Elang seketika menoleh - mencari asal dari insting-nya yang tajam. Matanya menangkap sosok yang mulai menjauh itu.


"Gawat!" seru Elang.


Seorang dari kelompok itu lalu berlari dari sana untuk segera melaporkan kejadian pada bosnya. Melihatnya, Elang langsung berlari mengejarnya. Usaha pun tidak menghianati dirinya. Karena dengan mudah ia bisa mendapatkan lelaki yang pantas dipanggilnya adik itu.


"Jangan bergerak!" ujarnya sambil mengaitkan tangannya di leher remaja itu agar dia tidak berani macam-macam. "Angkat tangan!" lanjutnya kemudian.


Lagi-lagi, ramaja itu menuruti ucapan Elang. Elang lantas membawanya menjauh dari sana. Setelah dirasa cukup jauh, Elang mengikat kaki remaja itu ke sebuah pohon dan menyumpal mulutnya agar remaja itu tidak dapat menghubungi teman-temannya.


"Semakin kamu diam, maka kamu akan semakin selamat. Begitu pula sebaliknya. Aku tau, kamu bukalah orang yang bodoh yang tidak dapat mengerti perkataanku barusan," ujar Elang tajam.


Remaja yang sudah tidak dapat berbuat apa-apa itu hanya bisa mengikuti perintah Elang. Baru setelah Elang pergi, remaja itu baru akan memulai rencana melepaskan dirinya. Merasa remaja didepannya tidak berkutik lagi, Elang segera berlalu dari sana menuju tempat Reyhan dan lainnya yang tengah menunggu informasi darinya.


Sebenarnya, Elang sangat mudah memberikan informasi pada mereka dengan memakai alat yang terpasang di telinganya, saat ia berada disekitar Rania tadi. Namun, sekali lagi ia tidak ingin mengambil resiko besar karena bisa saja ada seseorang yang menjaga pintu dimana Rania disekap dengan mudah mendengar suaranya. Tentu saja ia tidak ingin rencana mereka terbongkar karena kesalahan kecil darinya.


Elang lalu dari sana dan berjalan cepat namun tetap dalam kehati-hatian. Ia tidak ingin kecolongan untuk yang kedua kalinya. Meski ia sudah dekat dari tempat persembunyian mereka, Elang tidak sedikitpun meninggalkan rasa waspadanya. Barulah ia sampai di tempat tunggu mereka, Elang dapat bernafas lega.


Elang pun berjalan mendekat. "Lapor, kapten."


"Diterima."


"Setelah saya mengintainya, mereka semua berjumlah delapan orang dan seorang perempuan yang kala itu berbicara dengan Anda. Saya juga sempat masuk ditempat perempuan itu disekap. Disana ada banyak bungkusan berisi narkoba."


Mendengar kalau Rania disekap disana, membuat darah Reyhan seperti mendidih. Namun, ia tidak ingin gegabah. Akan ada kalanya ia dapat membebaskan Rania dan menangkap pada komplotan itu bagaimana pun caranya. Khanif yang juga mendengar kalau Rania disekap, sikapnya seperti Reyhan. Tentu saja ia marah, tapi ia bisa menahannya agar mereka bisa mencapai kesuksesan.


"Bagaimana keadaan disana?" tanya Reyhan kemudian.


"Mereka cukup waspada dengan keadaan sekitar. Satu persatu dari mereka dilengkapi dengan alat penembak jitu."


"Mereka lawan yang sepadan?"


"Sepertinya tidak, kapten. Karena saya dengan mudah masuk ke dalam markas mereka."


"Baiklah, kita berempat dan ditambah kawan baru bisa mengalahkan mereka. Siapkan senjata dan keperluan lainnya lalu kita harus segera menyerang markas mereka sebelum malam tiba."

__ADS_1


Mereka semua kompak mengatakan, "siap!" Meski dengan suara kecil.


Reyhan lalu beralih pada Khanif.


"Tugasmu saat ini hanya mengikuti kami dari belakang."


Khanif mengangguk. Walau ia tidak mendapatkan tugas yang penting seperti yang lainnya, Khanif masih dapat merasa bersyukur.


"Saya setuju."


Elang yang telah dari sana pun menggambar sebuah peta lengkap dengan titik-titik penting dari rumah ditengah hutan pinus itu. Tidak lupa pula Elang menggambar letak orang-orang yang menjaga markas dan tempat Rania disekap.


Setelah semua selesai, mereka pun berangkat menuju tempat Rania disekap dengan berbekal peta yang di buat oleh Elang yang sangat detail itu.


Lagi-lagi, Elang dan Macau berjalan duluan, memastikan keadaan didepan tetap aman. Kakatua tetap dibelakang untuk menghindari hal-hal yang mencurigakan. Sedangkan Khanif dan Reyhan senantiasa berada ditengah namun mata tetap mengawasi keadaan sekitar.


Saat mereka semakin dekat, tanpa sengaja Khanif menginjak ranting pohon dan dedaunan kering yang telah jatuh di tanah yang malah menimbulkan suara yang berisik. Membuat seseorang dari komplotan penjahat itu waspada.


"Siapa disana?" seru salah seorang penjaga rumah ditengah hutan itu.


Mereka semua langsung saling berpandangan. Macau yang dapat menirukan suara kicauan burung pun, melakukan aksinya. Ia menirukan suara burung yang ada hutan pinus ini agar para penjahat itu tidak sadar kalau sebenarnya mereka tengah diintai sejak tadi.


Reyhan lalu memberikan Aba-abanya untuk segera berpencar. Elang ke arah kiri, Macau arah kanan, sedangkan Kakatua bersamanya dengan Khanif. Mereka pun melakukan aksinya.


"Ada apa? Kamu mendengar hal yang mencurigakan?"


"Tidak, tidak apa-apa. Itu hanya suara burung."


"Kamu tidak salah dengarkan?"


"Tentu saja tidak. Kamu kira aku sudah tuli!" herdiknya. Lelaki berambut ikal itu lantas meninggalkan temannya yang tadi.


Macau yang melihat interaksi singkat itu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk semakin dekat. Namun langkahnya terhenti saat tanpa sengaja matanya mengkap sosok yang berlari menuju rumah ditengah hutan itu.


Macau lantas menekan tombol penyambung mereka di telinganya.


"Macau disini. Lapor, saya melihat seorang lelaki dari arah jam dua berlari menuju rumah didepan dengan sangat tergesa-gesa."


Elang terlonjak kaget. Ia tau siapa lelaki itu.


"Dia adalah salah satu dari mereka. Dia tadi sempat melihat saya, tapi saya sempat menahannya disebuah pohon besar disekitar sini. Saya tidak menyangka, kalau dia akan lolos."


Mengetahui bahaya didepan yang semakin mengancam, Reyhan langsung ikut berlari mengejar lelaki yang dilihat Macau dan yang dimaksud oleh Elang.

__ADS_1


Reyhan berlari dengan langkah-langkah lebarnya, meski ada beberapa penghalang didepannya, penghalang itu tidaklah membuat ia memelankan laju larinya. Usahanya lagi-lagi tidak sia-sia. Ia dapat dengan mudah meringkus lelaki yang pastinya akan membocorkan keberadaan mereka.


Reyhan dan lelaki remaja itu berguling-guling diantara semak-semak yang ada. Mereka baru terhenti saat Badan Reyhan terkatuk sesuatu yang keras membuat Reyhan meringis, namun ia masih dapat menahannya. Sedangkan lelaki remaja itu, tak kalah meringisnya.


Tahu kalau ringisan lelaki remaja yang ada di dekatnya ini dapat membuat mereka ketahuan, Reyhan secepat kilat mengambil sebuah kain dari saku celananya dan membekap mulut lelaki remaja itu.


Sekali lagi lelaki remaja itu tidak dapat berkutik apa-apa lagi saat Reyhan kembali mengikatnya disebuah batang pohon. Tidak seperti tadi ia diam saja saat Elang menangkapnya, kini lelaki remaja itu memberontak untuk melepaskan diri dari kungkungan Reyhan.


"Diam!" bentak Reyhan membuat nyali lelaki remaja itu menciut. "Jangan berbuat macam-macam kalau kamu masih ingin menikmati masa mudamu!" ancam Reyhan yang sebenarnya hanya di mulut saja. Ia mengatakan hal tersebut agar lelaki remaja didepannya ini bisa diam dan bekerja sama dengan mereka.


"Bagus."


Khanif pun berjalan mendekati mereka.


"Khanif."


Khanif yang mendengar Reyhan menyebut namanya, lantas menoleh padanya.


"Saya punya tugas yang penting untukmu."


"Menjaga lelaki ini!" tebak Khanif. Reyhan mengangguk. "Serahkan sama saya."


"Terima kasih."


Sebelum meninggalkan Khanif seorang diri, Reyhan memberikan Khanif pisau lipatnya untuk berjaga-jaga dari musuh.


"Baiklah, saya pergi dulu."


Reyhan pun meninggakan Khanif seorang diri bersama penjahat remaja itu.


"Semoga sukses," ujar Khanif melihat Reyhan yang mulai menjauh.


Sementara mereka berlima tengah berusaha menyelamatkan Rania, Rania yang berada didalam rumah tengah hutan itu mulai tersadar. Perlahan ia mulai membuka matanya.


"Akhirnya, kamu sudah sadar cantik. Tidak sia-sia mereka membawamu ke sini."


Rania terkejut sekaligus takut melihat mata lelaki didepannya ini menatapnya tajam.


"Siapa kamu?" tanya Rania panik.


...To be continued...


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Like, vote dan komen.

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2