
Dibalik pintu ruangan Khanif yang sedikit terbuka, seseorang mendengarkan percakapan mereka dengan tidak menyangka. Ia awalnya hendak ke ruangan Khanif untuk mengajak Khanif agar makan siang bersama dengannya. Namun belum juga ia memutar knop pintu, langkahnya terhenti saat ia mendengar nama yang ia kenal disebut. Ia seperti tidak terima kalau jadinya akan seperti ini.
Lisa yang baru dari kamar kecil pun mengernyit curiga saat ia melihat seorang wanita yang berdiri dipintu masuk ruangan Khanif. Lisa lantas berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara mendekati wanita yang tidak dikenalinya itu. Sesampainya Lisa didekatnya, Lisa memegang pundaknya hingga membuat wanita itu sukses terlonjak kaget.
"Kamu siapa?" tanya Lisa memicingkan matanya saat wanita itu telah berbalik padanya dengan mengusap-usap dadanya yang bergemuruh hebat.
Beberapa detik kemudian pun wanita itu pun memperkenalkan dirinya. "Saya Tasya, teman Khanif."
Tanpa bersikap sopan pada wanita yang juga tidak bersikap sopan sebelumnya, Lisa malah bertanya sambil melipat kedua tangannya didada. "Kamu udah punya janji?"
"Tidak. Tapi jika kamu mengabarkan kedatangan saya, pasti Khanif mau menemuiku," ujarnya seperti biasa 'percaya diri'.
Lisa yang tahu kalau wanita didepannya ini mempunyai kepercayaan diri yang tinggi pun, malah menyindirnya. "Hem, jangan bersikap percaya diri dulu. Belum tentu kan, pak Khanif mau menerima tamu yang tidak sopan ini."
Tasya dibuat geram oleh ucapan Lisa barusan.
"Ok, kita lihat saja. Jika Khanif mau menemuiku, pasti kamu akan mendapat batunya nanti," ucap Tasya dalam hati sambil tersenyum dipaksakan pada Lisa.
Tasya lalu menantang Lisa untuk memberitahu Khanif perihal kedatangannya ke sini, agar Lisa tahu betapa pentingnya Tasya bagi Khanif.
"Coba aja dulu. Siapa tau Khanif ingin bertemu denganku," tantang Tasya.
"Baiklah, kamu bisa menungguku disini," ujar Lisa tanpa menyuruh Tasya untuk ikut masuk ke dalam ruangan Khanif.
Lisa pun mengetuk pintu ruangan Khanif. Setelah mendengar suara dari dalam yang mengatakan masuk, Lisa pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Khanif.
"Ada apa?" tanya Khanif.
"Ada seorang wanita diluar ruangan bapak yang bernama Tasya meminta izin untuk masuk."
Mama yang mendengar Lisa mengatakan nama Tasya, segera beranjak menuju pintu masuk ruangan Khanif.
"Nak Tasya!" seru mama tidak menyangka akan bertemu Tasya disini.
Tasya yang membelakangi mama pada awalnya pun membalikkan badannya. Ia berpura-pura terkejut melihat mama ada didepannya saat ini.
"Tante! Tante ada disini rupanya."
__ADS_1
"Iya, nak Tasya. Kebetulan banget ya. Oh, iya. Mari masuk nak. Kita ngobrol didalam aja," ajak mama seraya mengambil tangan Tasya untuk mengikutinya masuk ke dalam.
Tasya yang bertatapan mata tanpa sengaja pada Lisa pun memberikan Lisa senyum mengejeknya. Ia hendak memberitahu Lisa dari tatapan mereka kalau, Lisa bukanlah apa-apa dibandingkan dirinya.
Lisa yang tahu arti senyum Tasya barusan pun tentu saja kesal. Ia bahkan mengepalkan kedua tangannya disisi tubuhnya.
"Pak, kalau begitu saya pamit keluar," ujar Lisa.
Khanif mengangguk. Seperginya Lisa, Tasya pun membuka suaranya.
"Maaf aku datang tiba-tiba ke kantormu, Khanif."
"Tak apa. Kamu bisa duduk di sofa sama mamaku. Kalian berbincang berdua saja karena aku masih mempunyai kerjaan lain."
"Iya, nak Tasya. Gih kita ke sofa aja. Kita berbincang disana."
Tasya mengangguk. Ia pun mengikuti langkah kaki mama. Sesampainya disana, Tasya duduk didekat mama dan mulai berbincang hangat dengan mama seolah Tasya sudah mengenal lama mama Khanif.
Padahal jika dikata, Tasya baru beberapa hari ini mengenal mama Khanif, jika saja mama dari Tasya tidak membawanya ke acara reuni teman kelas masa sma dulu.
"Nak Tasya. Ada perlu apa datang kemari?"
"Oalah itu. Tante juga datang kemari untuk ajakin anak tante makan siang bareng."
"Wah, kebetulan dong tan. Gimana kalau kita makan bareng aja," ajak Tasya antusias.
Tentu saja Tasya antusiasnya bukan kepalang. Siapa coba yang tidak suka mendapat 'beli satu gratis satu'. Sudah dapat hati mama, pasti tidak lama lagi Tasya juga bisa mendapatkan hati Khanif. Mengetahui hal itu, membuat Tasya tersenyum senang secara diam-diam.
Mama yang sempat berpikir tadi pun menjawab dengan penuh tidak minat.
"Bisa juga nak Tasya."
Pasalnya, mama datang kesini memang untuk mengajak anaknya makan siang bersama. Tapi bukan berdua saja, melainkan mama juga akan mengajak serta Rania untuk ikut makan siang bersama mereka.
Namun apa ini? Bagai mimpi di siang bolong, Tasya datang dan menghancurkan rencana mama dengan sangat cepat. Bukannya mama menganggap Tasya sebagai perempuan perusak rencana orang. Hanya saja, mama tidak suka kalau rencana yang telah disusunnya sedemikian rupa jadi rusak hanya dengan beberapa kata-kata dari Tasya.
Sebenarnya mama hendak mengatakan yang sebenarnya pada Tasya, kalau mama telah mempunyai rencana lain. Tapi melihat ekspresi wajah yang Tasya tampilkan, membuat mama tidak kuasa untuk menolak ajaknnya. Mau tidak mau pun mama menerima ajakan itu.
__ADS_1
Toh, mama pikir ia masih mempunyai hari-hari berikutnya yang akan datang. Ia juga bebas bisa datang kapan saja kesini. Siapa yang bisa melarang wanita paruh baya yang berstatus pemilik perusahaan ini datang ke sini sampai keinginannya tercapai? Tentu saja tidak ada. Kecuali Khanif yang mungkin akan bosan melihatnya, jika terus datang ke sini dan menganggu kerjaannya.
"Tinggal beberapa menit lagi tan," ujar Tasya bermaksud pada jam istirahat kantor dengan melihat jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya yang putih bersih.
"Iya nak. Tunggu disini, tante samperin Khanif dulu."
Mama pun beranjak dari tempat duduknya. Mengetahui mama yang mendekat kepadanya, membuat Khanif mendonggakkan kepalanya melihat mama.
"Mama, ada perlu apa?"
"Masih lama? Ini udah mau jam istirahat loh!"
"Dikit lagi ma." Khanif kembali melihat lembaran yang tengah diperiksanya. Lalu kemudian, ia kembali mendonggakkan kepalanya, "kalau mama mau, mama bisa duluan. Nanti share lok aja. Setelah urusan Khanif selesai, Khanif akan nyusul kok."
"Ngga ada share lok-an. Pokoknya kamu harus ikut mama makan siang tepat waktu meski kerjaan kamu masih ada."
"Ma ... baiklah, Khanif usahakan."
"Jangan diusahakan sayang, tapi dilakukan. Emang kamu ngga mau melihat mama senang?"
"Tentu saja mau."
"Baiklah, tepat jam istirahat, kita pergi makan siang bareng."
"Iya ma. Kalau gitu, Khanif lanjut kerja lagi."
Mama mengangguk. Ia pun kembali pada Tasya berbincang-bincang.
Sesaat setelah jam istirahat karyawan tiba, Khanif membereskan semua berkas-berkas yang berserakan diatas mejanya. Lalu dengan langkah pelan, ia menghampiri mama.
"Ma, ayo pergi. Udah masuk jam makan siang ini."
Mama dan Tasya pun berdiri dari tempat duduknya. Lalu mereka pun berjalan keluar dari ruangan Khanif. Selanjutnya, mereka berjalan menuju lift kaca. Lift yang di khsusukan untuk Khanif dan keluarganya saja. Namun, mengingat Tasya ikut dengan mamanya, Tasya pun juga ikut masuk ke dalam lift kaca itu.
Lift itu pun perlahan turun melewati satu lantai ke lantai satunya. Hingga lantai berikutnya, tanpa sengaja mata Khanif bertatapan dengan sepasang mata yang indah. Kedua pasang mata itu pun sama-sama terkejut. Namun belum sempat memutuskan kontak mata, lift sudah kembali turun.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...