Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 48. Masa kecil Rania


__ADS_3

Disinilah Rania berada ditempat tidur rumah sakit tentara. Meski sudah puluhan kali menolak ajakan Reyhan yang ingin membawanya ke rumah sakit ini, Rania tetap saja kalah. Namun, ia tahu pasti apa penyebab Reyhan begitu tegas padanya, jika menyangkut soal dirinya yang terluka.


Ya, Rania ingat betul bagaimana Reyhan bisa bersikap begitu posesif kalau dirinya berada dikeadaan seperti ini.


Ingatan Rania melayang pada kejadian di sore hari depan rumahnya bertahun-tahun lalu.


Kala itu, Rania kecil melihat kakaknya, Reyhan baru saja pulang dari bermain bola bersama teman-temannya. Rania pun sangat senang mengetahui kedatangan Reyhan. Rania lalu menghampiri Reyhan yang masih saja menendang-nendang bolanya masuk kedalam pekarangan rumah.


"Kak Rey," panggil Rania sambil melambaikan tangannya.


Reyhan awalnya tersenyum karena Rania menyambut kedatangannya. Namun, mengingat bagaimana mama dan papa memperlakukan mereka berbeda, seketika senyuman diwajah Reyhan berubah jadi cebikan - wajah kesal.


Ia kesal pada Rania kecil yang selalu dituruti kata-katanya dari pada dirinya. Ya, ia tahu apapun yang ia ingin beli, pasti tetap dibelikan juga oleh mama dan papa. Tapi, ia seperti tidak ingin punya saingan lain dalam hal seperti itu. Ia hanya ingin, hanya dirinya seorang yang mampu membuat mama, papa menuruti keinginannya.


Kesal dengan Rania kecil yang telah merebut keinginannya itu dan berjalan sambil tersenyum padanya, Reyhan mempunyai niat untuk menjahili adiknya.


"Kakak," panggil Rania sekali lagi setelah ia semakin dekat dengan Reyhan.


"Rania," balas Reyhan memanggil. "Sini." Sambil melambaikan tangannya.


Rania dengan senang hati menghampiri Reyhan. Sesampainya Rania didekatnya, Reyhan pun memulai rencananya untuk menjahili Rania.


"Kamu bisa tolongin kakak, tidak?"


Rania kecil menganggukan kepalanya senang. Pasalnya, baru kali ini Reyhan meminta tolong padanya. Akan sangat merugikan dirinya kalau ia menolak permintaan tolong kakaknya.


"Tolong kakak dengan kembalikan bola ini ke gudang, bisa?"


"Bisa, sini berikan pada Rania." Rania mengulurkan tangannya pada Reyhan bermaksud untuk menerima bola dari Reyhan.


"Terima kasih."


Lagi-lagi Rania tersenyum yang membuat gigi atasnya yang telah ompong terlihat. Melihat hal itu, Reyhan sempat tertawa kecil. Namun, ia segera tersadar akan rencana awalnya.


Rania lalu menerima bola Reyhan dan hendak menaruhnya ke gudang belakang rumah. Saat ia baru saja seperempat jalan, tiba-tiba Reyhan berseru, "Rania, ada cicak di bola."


Tentu saja Rania terlonjak kaget. Ia pun membuang bola tersebut ke sembarang arah dan segera berlari menjauh dari sana. Saat sisa sedikit lagi ia sampai ke dekat Reyhan, tanpa disangka, kakinya terkatuk sesuatu hingga membuatnya tersungkur dibebatuan kecil depan rumahnya.


Reyhan sempat tertawa melihat Rania begitu terkejut. Tapi, semua berubah saat Rania terjatuh. Rania mulai menangis keras seraya mengatakan hal-hal yang membuat Reyhan tersadar akan kejahilannya pada Rania yang sudah sangat keterlaluan.

__ADS_1


"Aaa ... kak Reyhan jahat. Kak Reyhan jahat. Rania benci kak Reyhan. Huaa ... mama, papa, kak Reyhan nakal."  Tangis Rania yang kian terdengar pilu.


Sungguh, Reyhan tidak bermaksud untuk membuat Rania mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untuk didengarnya seperti itu. Ia hanya ingin menjahilinya saja tanpa membuat Rania terluka sampai seperti ini. Ia bahkan tidak menduga kalau Rania akan terjatuh.


Nafas Reyhan tertahan. Ia pun segera berlari membantu Rania segera berdiri.


"Adik, maaf. Kakak tidak sengaja."


"Aaa ... kak Rey bohong. Rania benci kak Rey. Mama ... papa," teriaknya sambil terus menagis. Bahkan kini tangisannya sudah berganti dengan sesegukan.


Tidak lama kemudian, papa dan mama berlari menghampiri Rania yang memegang lututnya yang telah mengeluarkan darah segar.


"Ya Allah," pekik mama. "Sayang kenapa bisa sampai berdarah begini?" tanya mama.


"Mama, kak Rey jahat," adunya. Rania pun kembali menangis.


Melihat Rania kecil yang sudah sesegukan, papa segera menggendong Rania untuk menenangkannya. Sedangkan Reyhan kecil terus saja tertunduk. Ia takut menatap mata mama dan papa.


Mama lantas memegang tangan Reyhan dan mereka semua pun masuk ke dalam rumah.


Papa yang masih menggendong Rania segera membawanya ke kamarnya sendiri. Baru setelah itu, papa menelpon dokter kenalannya untuk datang memeriksa keadaan Rania. Rania kecil masih saja menangis sesaat dokter kenalan papa tiba. Bahkan sewaktu diperiksa pun Rania masih saja menangis. Ia begitu takut melihat lututnya yang berdarah ditambah rasa perih yang ia rasakan.


"Anak Anda sekarang sudah tidak apa-apa. Tapi agar lututnya segera sembuh, Anda harus menjaganya baik-baik. Ia tidak boleh berjalan-jalan dulu."


"Iya dok. Saya akan mengingatnya," ujar mama.


"Baiklah, ini resep obat yang saya anjurkan untuk diminumnya. Anda bisa menemukannya di apotek terdekat." Dokter itu lalu memberikan resep obat Rania pada papa.


"Terima kasih sudah datang kemari dok," ujar papa.


"Sama-sama pak. Kalau begitu saya permisi."


Papa pun mengantar dokter itu keluar. Sementara mama tetap berada disisi Rania yang sudah terlelap ke alam mimpi. Mama mengelus-ngelus rambut Rania saat papa memanggilnya.


"Ma," panggil papa. Mama menoleh. "Bisa ikut papa sebentar." Mama mengangguk.


Mama pun beranjak dari sisi Rania dan mengikuti langkah papa keluar dari kamar. Tak lupa pula papa mengajak serta Reyhan ke ruangan keluarga untuk mengetahui awal mula kejadian yang membuat Rania menangis.


Rania kecil yang terbangun, lantas  mengikuti mereka dengan langkah kaki yang tertatih-tatih menahan rasa perih di lututnya. Sesampainya Rania didekat ruangan keluarga, Rania bersembunyi di balik dinding untuk mendengarkan percakapan mama dan papanya yang sedang meminta penjelasan dari Reyhan.

__ADS_1


Rania dengan jelas mendengarkan saat Reyhan berkata, "maaf, ini semua salah Reyhan, ma, pa. Reyhan sudah menakuti adik sampai adik terjatuh. Reyhan hanya bermaksud ingin menakutinya saja, tapi tidak sampai menyakiti adik."


Rania mendengarkannya tanpa berniat untuk menampakkan dirinya. Ia bahkan masih mendengar kata 'maaf' dari Reyhan saat ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengarkan mama berkata, "mama percaya. Mama percaya, kamu tidak akan menyakiti adik. Karena mama tahu, kamu pun sayang sama adik, bahkan mungkin melebihi papa dan mama."


Rania kesal. Mama sangat mempercayai Reyhan daripada melihat dirinya yang kesakitan. Rasa kesal Rania kecil kian menjadi saat papa juga ikut-ikutan mengatakan, "papa juga percaya pada kakak."


Setelah mendengarnya, Rania pun masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Disana, Rania tidur telentang untuk melampiaskan rasa kesalnya.


Sesaat kemudian, Rania mendengar pintu kamarnya diketuk. Namun, ia tidak punya niatan untuk membukanya. Biarlah, ia menyendiri saat ini.


Malam harinya, melihat tidak ada tanda-tanda kalau pintu kamar Rania akan terbuka, papa pun mengambil kunci cadangannya untuk masuk mengecek keadaan Rania. Setelah terbuka, perlahan-lahan papa menghampiri Rania yang damai didalam tidurnya. Mama yang baru saja masuk menggelengkan kepalanya.


"Masih saja tidur, padahal ini waktunya makan malam."


"Tak apa. Dia mungkin ingin istirahat yang lebih."


"Tapi dia belum minum obatnya. Kapan bisa sembuh kalau gitu."


Tidak lama kemudian, perlahan Rania membuka matanya perlahan. Ia dapat melihat mama dengan nampan makanan ditangannya, lalu beralih melihat papa yang sudah duduk didekatnya.


"Sayang, akhirnya kamu bangun juga."


Mama lalu mendekati Rania. "Makan dulu ya. Baru minum obat."


Rania menggeleng, ia pun membalikkan dirinya ke arah lain.


"Sayang makan dulu ya. Biar papa suapin, bagaimana?" bujuk papa.


Rania yang memang sudah kelaparan, akhirnya menerima bujukan dari sang papa.


"Anak pintar," ujar papa setelah Rania kembali berbalik pada mereka.


Papa pun memperbaiki cara duduk Rania dengan bersandar ke kepala ranjang dan mulai menyuapi Rania makanan, lalu terakhir memberikannya obat dari resep dokter.


...To be continued ...


Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2